Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 202


__ADS_3

“Astaga, Angel lihatlah anakmu sekarang, Angel,”


Adrian datang ke rumah Andrean dan Angel untuk bertemu anak-anak mereka, Adrian datang bersama istrinya, Adrina.


Begitu masuk rumah, Adrian dan Adrina dikejutkan dengan keadaan ruang tamu yang berantakan, dan yang berulah adalah Anzelia.


“Anzel, apa yang kamu lakukan, Sayang? Kenapa jadi berantakan begini? Mommy kalau melihat ini, bisa kesal, Zel,”


“Namanya juga anak kecil,” ujar Adrina pada suaminya.


“Ya anak kecil sih memang, cuma—“


“Kamu harus maklum, seperti tidak pernah melihat anak kecil bertingkah saja,”


Ada air di lantai, pasir warna warni berantakan, boneka kotor, intinya keadaan ruang tamu rumah Andrean dan Angel jauh dari kata rapi, tak seperti biasanya.


Angel datang dengan cepat, dan Ia terkejut melihat keadaan ruang tamunya. “Ya ampun, Zel, Mommy meninggalkanmu sebentar di sini karena mau ambil makanan untukmu,”


“Lihat kan, kelakuannya mirip siapa?”


“Kamu, dulu kamu juga begini kan?” Tanya Angel pada Adrian yang langsung menunjukkan ekspresi wajah tak terima.


“Enak saja, tidak lah, aku tidak begini kelakuannya,”

__ADS_1


“Halah pura-pura lupa ingatan,”


Andrean datang dan langsung bicara seperti itu.


“Ean, aku anak baik, anak pendiam, anak yang mudah diatur, sedangkan si kecil ini sebaliknya,”


“Kalau kamu pura-pura lupa ingatan, artinya kamu tidak mengakui Anzel sebagai keponakanmu, Ian,”


“Heh tidak-tidak, dia keponakanku, dan kami memang sama,”


Adrian secepat kilat langsung menggendong Anzelia. Ia akhirnya mengakui bahwa perangainya dengan Anzelia itu serupa, begitupun dengan Axelia.


“Akhirnya setuju kalau dibilang sama,”


“Ya sudah jangan heran bahwa ada anak kecil seperti Anzel, kamu sendiri saja begitu,” ujar Adrina dengan ketus.


“Ya tapi dia ini perempuan, Sayang, kenapa bara-bar sekali ya?”


“Jaga ucapanmu, Ian, didengar Ean dan Angel tidak enak,” bisik Adrina seraya menatap suaminya dengan tajam.


Angel dan Andrean justru tertawa. Mereka tidak sakit hati sama sekali. Karena mereka sendiri juga mengakui Anzelia anak perempuan yang perangainya seperti anak laki-laki.


“Lia cantik kemana? Kenapa wujudnya tidak terlihat?”

__ADS_1


“Ponakanmu yang perempuan itu sedang bermain basket dengan Lion, dan Daddy,” ujar Andrean menjawab pertanyaan adiknya.


“Wih main basket, hebat ya, keponakan siapa dulu. Biar cerewet dan tingkahnya suka memyebalkan tapi dia hebat,”


Adrian adalah Uncle yang supportive, tak akan sungkan memuji keponakannya. Mengingat Axelia adalah anak perempuan, sukanya juga bermain boneka barbie, lalu tiba-tiba sekarang Ia dengar Axelia sedang bermain basket, Ia langsung memuji karena menurutnya itu hebat.


“Sayang sekali kedatanganku tidak disambut oleh si cerewet itu,”


“Lia dan Lion sebentar lagi, Ian, ditunggu saja,” ucap Angel.


“Tentu, aku pasti akan menunggu mereka karena aku dan Drina datang ke sini karena merindukan mereka berdua termasuk yang satu ini,” kata Adrian seraya mencium pipi Anzelia berulang kali hingga anak itu merengek.


“Aaaa!”


“Oh jadi begitu? Tidak mau Uncle cium? Hmm?”


“Aaaa!”


“Kamu jelek, makanya dia tidak mau dicium,” ujar Adrina mengolok sang suami yang masih juga mencium pipi Anzelia padahal anak itu sudah merengek tadi.


“Tidak, Sayang, aku terlalu tampan tapi dia gengsi dicium oleh laki-laki tampan,”


Andrean berdecak dan wajahnya tanpa ekspresi. “Sudah tua, masih juga terlalu percaya diri dan itu menyebalkan. Tingkat kepercayaan dirimu yang tinggi itu suka menular ke Lia,”

__ADS_1


“Memang jadi manusia itu harus percaya diri, Ean,”


__ADS_2