Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 17


__ADS_3

Gesty pulang ke rumah setelah menginap di rumah temannya. Di rumah Ia masih belum bertemu dengan Angel, melainkan hanya Ayahnya yang saat ini tengah menyesap cerutu nya.


"Ayah, anak itu belum pulang juga?" Tanya Gesty setelah Ia mengambil air minum. Biasanya Ia menyuruh Angel setiap habis pergi dan merasa haus. Tapi saat ini Ia terpaksa mandiri. Hanya untuk sementara.


"Nanti dia pulang,"


Hanya sehari saja Angel meninggalkan rumah. Nanti Ia sudah bisa mengandalkan adiknya lagi.


"Oh, sudah sembuh memangnya?"


"Entah,"


Geno menghembuskan kumpulan asap dari mulutnya lalu menghisap lagi dengan begitu dalam.


Gesty memasuki kamarnya yang sangat berantakan. Dia memaki, biasanya kamar itu selalu rapih dan tertata baik. Tentu saja yang merapikan adalah Angel.


Gesty meletakkan handuk nya ke stand hanger lalu membereskan tempat tidur nya dan juga melipat selimut yang tergeletak di lantai.


"Sialan! Angel pasti sedang istirahat sekarang sementara aku harus membereskan ini semua,"


Tok


Tok


Tok


"Gesty,"


Suara Geno memanggil putrinya. "Iya, Ayah," Gesty menyahut namun belum membukakan pintu kamarnya.


Setelah kegiatannya selesai, Ia membuka pintu lalu menatap ayahnya seraya bertanya, "Kenapa?"


"Buatkan Ayah makanan. Ayah lapar,"


"Bukan kah ayah sudah makan di luar tadi?"


"Ayah belum keluar-keluar sejak pagi, menunggu kamu tidak kunjung pulang. Sekarang Ayah lapar. Buatkan makanan!" Titah Geno yang membuat Gesty mencebikkan bibirnya kesal.


"Ayah buat sendiri saja. Aku ingin menyapu dan mengepel lantai kamarku,"


"Astaga, Ayah lapar, Gesty,"


"Beli makan di luar," ujarnya tidak peduli lalu menutup pintu dan menguncinya.

__ADS_1


Geno mengetatkan rahangnya. Ia khawatir pada Gesty, oleh sebab itu Ia menunggui Gesty pulang sampai lupa makan. Sementara Gesty tampak tidak peduli padanya.


Akhirnya Geno melangkah menuju dapur. Ia mengambil rice bowl dari lemari pendingin lalu memasukkannya ke dalam microwave agar hangat.


Sembari menunggu makanan nya siap, Ia membuat hot lemon tea. Saat Ia akan menuang air panas ke dalam mug, tak sengaja air panas itu mengenai tangannya. Ia berdecak sembari mengibas tangannya yang terasa sangat panas.


"Ini semua karena Angel. Andai dia tidak sakit, aku tidak akan kesusahan seperti ini,"


******


Seperti perkataan Angel tadi, dokter memeriksanya sekali lagi sebelum benar-benar mengizinkannya pulang.


Ketika dokter memasuki ruangannya, ada Adrian dan Adrina yang menjenguk Angel. Mereka segera menyingkir agar dokter leluasa memeriksa kondisi Angel sementara Andrean selalu di sisi gadis itu.


"Bagaimana, Dokter? Apa aku benar-benar diizinkan pulang?" Tanya Angel dengan sorot penuh harap. Ia terbiasa bergerak, saat di rumah sakit tubuhnya hanya dibawa untuk berbaring. Ia juga merasa bosan di rumah sakit dan tidak ingin lama-lama menyusahkan Andrean yang Ia yakini akan terus mengunjungi nya. Hari ini saja Andrean datang lagi padahal sudah Ia pesan agar tidak perlu mengunjunginya di rumah sakit lagi. Tapi rupanya Andrean tidak mengindahkan ucapannya. Atau mungkin lelaki itu hanya menuruti perintah Ibu nya. Entahlah, yang jelas Angel merasa tidak enak hati karena terus-terusan menyusahkan keluarga mereka. Ia dirawat di rumah sakit saja tentu karena campur tangan Devan hingga Ia mendapat perawatan serta fasilitas yang sangat baik.


"Iya, tapi kamu tetap harus banyak istirahat. Jangan langsung beraktifitas terlalu berat ya,"


Senyum bahagia tergambar di wajah gadis itu. Ia mengangguk patuh. "Iya, Dokter. Terimakasih,"


"Kondisinya sudah jauh lebih baik, Dokter?"


Melihat kakaknya yang nampak khawatir pada Angel membuat Adrian tersenyum. Sepertinya Andrean serius dengan perjodohan yang dibuat kedua orangtua mereka.


Dokter mengangguk dengan senyumannya, "Iya, tidak perlu khawatir. Angel sudah membaik tapi vitamin harus tetap diminum dan jangan terlalu kelelahan,"


Adrian dan Adrina mendekati bangsal Angel. "Syukurlah kamu sudah bisa pulang. Kamu harus dengar kata dokter tadi, Angel."


"Iya, Adrina. Terimakasih ya sudah mau datang ke sini,"


"Beruntung kita datang sekarang 'kan? Coba kalau besok? Angel sudah tidak ada lagi di sini," ujar Adrian pada Adrina. Tidak sia-sia datang ke sini untuk memberikan dukungan pada Angel. Meskipun tadi ada masalah sedikit pada mobilnya yang tak sengaja bergesekan dengan mobil orang lain, lalu Ia dan Adrina sempat berdebat dulu, tapi akhirnya mereka mendapat kabar bahagia kalau Angel sudah diperbolehkan pulang.


*****


Andrean selesai memastikan Angel duduk di dalam mobilnya. Ia memutari mobil ingin memasuki kemudinya. Namun matanya menangkap mobil sang adik yang hanya berjarak dua mobil dari mobilnya.


"Adrian," panggil Andrean saat adiknya akan memasuki mobil sementara Adrina sudah masuk ke mobil lebih dulu.


"Ada apa dengan mobilmu?"


"Karena kakek tua,"


Setelah mengatakan itu, Adrian masuk mobil meninggalkan Andrean yang mengerinyit tak mengerti.

__ADS_1


"Kakek tua, siapa yang dia maksud?"


Angel menunggu Andrean tak kunjung masuk, akhirnya Ia membuka pintu mobil dan memanggil lelaki itu.


"Ada apa, Andrean?"


Andrean menggeleng kemudian segera membuka pintu mobil dan duduk di balik kemudinya.


"Tidak terjadi sesuatu 'kan?"


"Mobil Adrian sedikit rusak di bagian sampingnya,"


"Hah? Bagaimana bisa?"


"Karena kakek tua katanya," ujar Andrean meniru ucapan adiknya tadi. Sama seperti reaksi nya barusan, saat ini Angel juga nampak bingung.


"Karena kakek tua mobilnya jadi begitu," Angel menyimpulkan. Andrean mengedikkan bahunya, lalu menghidupkan mesin mobilnya lalu bergegas meninggalkan rumah sakit sementara Adrian sudah lebih dulu.


*******


Angel sudah meminta pada Andrean agar tidak mengantarkannya sampai di depan pintu. Sebab Ia tidak ingin Andrean melihat lagi perilaku Ayahnya yang bisa saja langsung diterimanya begitu pintu terbuka, berhubung Ayahnya itu sangat kesal ketika Ia harus dirawat di rumah sakit.


"Aku akan mengantarmu sampai di dalam. Aku juga akan membahas pernikahan kita,"


Angel mengulum bibirnya cemas. Rasanya Ia belum siap menerima respon dari ayah dan kakaknya ketika Andrean membicarakan pernikahan mereka.


"Apa tidak terlalu cepat, Andrean?" Tanya Angel pelan sembari melirik Andrean yang duduk di sampingnya.


Andrean menghentikan mobilnya ketika sudah tiba. Kemudian Ia menoleh pada Angel.


"Tidak, aku ingin menikahi mu secepatnya dan agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari, ayah dan kakak mu tentu harus tahu,"


Andrean terlalu malas berurusan dengan orang macam Geno dan Gesty. Mereka terlalu licik. Dan ketidak jujuran mereka mungkin saja dijadikan masalah besar oleh ayah dan kakak Angel.


"Iya, mereka harus tahu pernikahan ku,"


Andrean mengangguk pelan. Ia terlalu benci dengan Geno dan Gesty sampai sempat terpikirkan ingin menikahi Angel tanpa perlu mereka tahu lalu Ia membawa Angel pergi sejauh mungkin agar mereka tidak lagi mengganggu Angel dan kehidupan mereka nantinya.


"Turun," ujar Andrean sembari melepas seat belt Angel dan gadis itu langsung dibuat canggung. Setelahnya, Andrean keluar untuk membukakan pintu.


Andrean menggenggam tangan Angel yang terasa dingin. Ia tahu kecemasan gadis itu. Dan Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk menenangkan Angel. Hanya sedikit menghentak genggaman tangan mereka dengan anggukan pelan ke arah Angel, Ia harap Angel bisa siap untuk menerima risiko yang mungkin akan terjadi ketika ayahnya tahu mengenai rencana mereka, oh lebih tepatnya rencananya yang terbilang sangat cepat ini.


"Aku izin untuk menikahi kamu, anaknya. Seharusnya Ia senang,"

__ADS_1


Angel menggeleng, "Aku tidak yakin," gumamnya.


Andrean tak mengatakan apapun lagi. Ia melangkah mendekati rumah Angel bersama dengan Angel yang berjalan di sampingnya. Ia sangat yakin ingin menikahi gadis itu dan membawanya keluar dari setiap rasa sakit yang Ia terima selama ini. Bagaimana pun reaksi Geno nantinya, tidak akan mempengaruhi keputusannya. Ia akan keras kepala untuk kali ini. Ia tidak ingin teman masa kecilnya terus-terusan disakiti oleh ayah dan kakaknya sendiri. Jadi haruslah Geno yang mengalah, membiarkan putrinya menikah dengannya.


__ADS_2