
“Aku minta satu cokelatmu, Ris,”
“Satu ya? Tidak apa, tapi kalau lebih jangan,”
“Dasar kikir!”
“Biar! Masih bersyukur harusnya kalau aku bagi,”
Lovi menggelengkan kepalanya melihat perdebatan kecil antara Auristella dan Adrian yang kembali terjadi. Seperti biasa, Adrian yang suka mengejek adiknya dengan berbagai ejekan, sedangkan Auristella anak yang tak mudah menerima ejekan, biasanya akan membalas.
“Kalau aku kikir lalu kamu apa? Hmm? Kamu lebih kikir lagi! Aku minta parfum saja tidak boleh,”
“Parfum kesukaanku yang kamu minta itu tersisa sedikit dan aku belum membelinya lagi. Dan kamu sudah sering memintanya, masih mengatakan aku kikir? Benar-benar adik yang tak tahu diuntung kamu ya,”
“Seharusnya kapanpun aku minta, kamu berikan,”
“Tapi kalau tinggal sedikit dan aku belum membeli persediaan lagi, aku tidak mau,”
“Huh, kamu benar-benar,”
“Sudah-sudah hei, kenapa kalian berdebat terus?”
“Ian memancingku untuk kesal, Mommy,”
“Jangan saling menanggapi,”
Adrian dan Auristella langsung membungkam mulut mereka masing-masing. Auristella sedang menikmati cokelat yang jumlahnya banyak pemberian orangtua Revano sambil menonton televisi. Dan tiba-tiba Adrian datang kemudian langsung meminta cokelat.
“Kamu dapat cokelat sebanyak itu dari siapa?” Tanya Adrian seraya melirik paper bag yang ada di pangkuan adiknya.
“Temanku,”
“Iya siapa temanmu itu? Bukankah kamu punya teman yang lebih dari satu? Mana mungkin aku tahu siapa teman yang kamu maksud,”
“Ya intinya ini dari temanku, paham? Sudahlah jangan banyak tanya lagi,”
“Ya ampun padahal aku baru bertanya sekali,”
“Itu dari Revano, Ian. Sidah Mommy jawab ya, jadi jangan berisik lagi,” jawab Lovi yang duduk di delan kedua anaknya.
“Apa? Revano memberikanmu cokelat? Dalam rangka apa? Ulang tahunmu kan sudah lewat,”
“Entahlah, tiba-tiba saja dia datang lalu memberikan ini padaku. Dia bilang, ini dari orangtuanya yang baru saja pergi ke—-aku lupa kemana,”
“Dasar nenek tua,”
“Ish apa-apaan kamu?”
Auristella tidak terima ketika disebut nenek tua oleh kakak keduanya itu. Ia langsung memukul lengan Adrian dengan cukup keras hingga membuat Adrian meringis sambil mengusap lengannya.
“Aku bukan nenek tua!”
“Ya sudah nenek muda,”
“Tidak! Aku tidak mau dipanggil nenek karena aku masih muda!”
“Tapi kamu pelupa, seperti sudah tua kan?”
“Ya wajar kalau aku lupa, namanya juga manusia terkadang pernah lupa,”
“Pantas saja kamu tidak mau memberikan aku cokelat itu banyak-banyak, atau lebih dari satu. Ternyata karena itu dari Revano? Hmm?”
“Tidak, aku suka cokelat, siapapun yang memberikan aku cokelat, aku akan sangat bahagia dan siapapun yang memintanya akan aku beri tapi tidak banyak, ya cukup satu saja lah,”
Adrian menggelengkan kepalanya heran sambil berkata “Ini pasti karena yang memberikannya adalah Revano, makanya tidak mau berbagi banyak-banyak, memang apa istimewanya Revano?”
“Tidak ada, dia biasa saja,”
“Kenapa jadi membahas Revano?” Tanya Lovi pada kedua anaknya.
“Iya Ian tidak jelas ya, Mommy. Dia tiba-tiba membahas Revano,”
“Karena Revano memberikan cokelat ini untukmu,”
“Lalu apa masalahnya?”
“Dia semakin menunjukkan tanda-tanda ya?”
“Tanda-tanda apa?!” Auristella bertanya dengan nada ketus.
“Tanda-tanda bahwa dia menyukaimu,”
“Bukan tanda-tanda lagi, dia sudah memintaku untuk jadi kekasihnya,”
“Oh iya aku lupa. Lalu bagaimana?”
“Tidak ada kelanjutan, Ian! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia,”
“Hmm baiklah,”
Auristella fokus dengan layar datar di depannya, tanpa sadar tangan Adrian telah mengambil cokelat secara diam-diam di dalam paper bag yang ada di atas pangkuan Auristella. Lovi yang menyadari itu langsung menggelengkan kepalanya. Yang diambil Adrian juga tidak kira-kira.
“Ian, Auris juga diberikan makanan lain, coba lihatlah di lemari pendingin, ada cookies, ada yang lainnya pemberian Revano juga, daripada mengambil apa yang disuka adikmu, lebih baik ambil yang lainnya, Sayang,”
Auristella langsung menoleh pada Adrian. Ia melihat di tangan Adrian ada cokelat yang menurutnya banyak. Ia langsung merengek kesal sambil meninju lengan kakaknya itu.
“Ian kenapa kamu mencuri cokelatku! Sudah tahu aku menyukainya,”
Adrian terbahak dan langsung berlari menjauh dari Auristella yang merengek kesal. Kemudian Adrian langsung beranjak meninggalkan skfa yang Ia duduki.
“Ian! Jangan bawa lari cokelat punyaku!”
“Minta sedikit,”
“Sedikit apa?! Itu yang kamu ambil cukup banyak!”
“Tidak, adikku, Sayang. Ini sedikit,” bantah Adrian.
“IAN KEMBALIKAN COKELATKU SEKARANG JUGA ATAU AKU HANCURKAN KAMARMU YA SUPAYA KAMU TIDAK PUNYA TEMPAT ISTIRAHAT. IAN CEPAT KEMBALIKAN,”
“Apa kamu lupa di rumah ini, tidak hanya ada satu kamar, tapi banyak,” jawab Adrian sambil menjulurkan lidahnya. Adrian sudah bergegas ke lantai dua meninggalkan adiknya yang masih kesal di ruang keluarga, ditemani oleh Mommy nya.
“Mom, cokelatku diambil banyak, Mom,”
“Ya sudah, Sayang, tidak perlu sedih, itu maish banyak ‘kam?”
“Tapi jadi berkurang cokelatku, Mom,”
“Tentu akan berkurang karena kamu makan juga,”
__ADS_1
“Mommy, kenapa harus melahirkan anak yang memyebalkan seperti Ian? Memang tidak bisa dia dimaaukkan lagi ke dalam perut Mommy?”
Lovi tertawa mendengar ucapan Auristella. Ia tahu itu bercanda, terlampu kesal, Auristella sampai ingin kakak keduanya itu mausk lagi ke dalam perut Lovi.
“Harusnya dia tidak perlu dilahirkan, Mommy,”
Tawa Lovi semakin menjadi. Auristella kalau sudah kesal memang terkadang ucapannya tak kira-kira.
“Jamgan begitulah, Sayang. Biar bagaimanapun, dia kakakmu,”
“Tapi dia menyebalkan,”
********
“Nona Angel, ada kiriman bunga di depan pintu kafe letika aku akan membersihkan lantai luar kafe, tapi tidak ada nama pengirimnya,”
Angel yang sedang mengamati laporan keuangan di ruangannya langsung mengalihkan perhatian pada pegawai kafenya yang baru saja memberikan informasi.
Baru saja pegawainya itu mengetuk pintu di ruangannya, dan Ia tentu langsung mempersilahkan masuk. Ternyata informasi yang yang tidak baik lah yang Ia terima.
Pegawainya mengulurkan bunga tersenut kepadanya lalu pamit untuk keluar dari ruangan. Angel langsung berpikir keras setelah membaca rangkaian kalimat singkat di kertas yang sengaja diletakkan di dalam bunga tersebut.
-Untuk Angel, temanku yang sudah lama tidak berjumpa denganku-
“Ya ampun, sebenarnya siapa yang sudah mengirimkan bunga ini? Terhitung sudah dua kali aku mendapatkan kiriman bunga yang aku sendiri tidak tahu darimana asalnya,” gumam Angel.
Disaat kepalanya pening memikirkan pengirim bunga misterius itu, tiba-tiba ponselnya bergetar menampilkan panggilan masuk dari Andrean suaminya.
Tanpa menunggu waktu lama, Angel segera menerima panggilan dari suaminya itu. “Hai, Ean,”
“Hai, Sayang. Kita makan siang bersama ya? Aku akan datang ke kafemu, bagaimana?”
“Bisa, sekarang?”
“Tidak, mungkin sepuluh tahun lagi,”
“Hahahaha okay suamiku mulai menyebalkan,” ujar Angel karena mendengar jawaban asal Andrean.
“Ya tentu saja sekarang, Angel. Aku sudah lapar,”
“Iya aku tunggu,”
“Sampai jumpa nanti, Sayang,”
Angel langsung meletakkan ponselnya di atas meja usai panggilannya dan sang suami berakhir.
Ia memilih untuk membiarkan bunga yang sudah membuatnya bingung sekaligus cemas itu. Ia tidak mau ambil pusing. Ia putuskan untuk kembali fokus dengan kegiatannya sebelum Ia mendapat informasi tentang bunga itu.
*****
“Drina, di rumahmu ada tamu?”
“Ya, teman orangtuaku dan anaknya,”
“Hah? Apa mereka mau menjodohkan kalian?”
Adrina langsung berdecak mendnegar ucapan Adrian. Tanpa pikir panjang Adrina langsung mencubit lengan sahabatnya itu yang sudah memintanya untuk menjadi sahabat hidup juga.
“Kamu kenapa berpikir sejauh itu sih? Hah? Mereka hanya berkunjung kebetulan baru saja kembali dari luar,”
“Oh aku pikir kamu akan dijodohkan,”
“Tidak mungkin,”
“Kita jadi atau tidak ke mall?”
“Jadi,”
“Ya sudah daripada banyak bicara lebih baik pergi sekarang,” ujar Adrina pada Adrian yang sudah bisa menebak Adrina kedatangan tamu karena ada mobil asing di rumah Adrina.
“Adrina, kamu mau pergi kemana?”
Adrina hampir saja masuk ke dalam mobil usai pintunya dibuka oleh Adrian, namun tidak jadi karena ada yang bertanya pada Adrina dan itu tamunya, tepatnya anak dari orangtua Adrina.
“Kenapa dia bertanya begitu padamu, Drin?” Tanya Adrian sedikit berbisik, Adrina mengangkat kedua bahunya. Ia juga tidak tahu kenapa anak dari teman orangtuanya bertanya seperti itu.
“Aku akan pergi dengan Ian sahabatku, memang kenapa, Andrew?”
“Oh tidak apa, silahkan,”
“Ada pelru denganku?”
“Tidak, tadinya aku ingin mengajakmu pergi. Karena jujur saja aku merasa bosan mendengar pembicaraan orangtua kita,”
“Hmm tapi maaf aku sudah ada janji pergi dengan Ian. Lain kali saja ya?”
“Iya tidak apa, hati-hati,”
Adrina menganggukkan kepalanya lantas masuk ke dalam mobil, disusul oleh Adrian yang tak ada interaksi apapun dengan lelaki itu, alih-alih sekedar menatap pun tidak Ia lakukan apalagi menyapa.
“Ada apa dengan wajahmu, Ian?”
“Dia menyebalkan. Sudah tahu kamu mau pergi dengan aku, lalu kenapa dia masih coba-coba mengajak kamu untuk pergi?”
“Dia tidak tahu, dia hanya tahu aku akan pergi, tidak tahu pergi dengan siapa,”
“Oh benarkah? Atau dia mungkin sengaja membuat aku cemburu, Drina,”
“Astaga, kamu terlalu berprasangka buruk, Ian. Tidaklah, aku dan dia baru bertemu beberapa menit lalu bagaimana mungkin kamu berpikir seperti itu?”
“Ya mungkin dia menyukaimu, Adrina,”
“Tidak, kami baru bertemu, Ian,”
“Cinta pandangan pertama, kamu percaya?”
Adrina menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua bahu. “Entahlah, aku sendiri belum pernah merasakannya,”
“Mungkin dia yang merasakan itu tadi ketika pertama kali menatap kamu,”
“Ya ampun, padahal dia hanya ingin mengajakku pergi tapi pikiranmu terlalu jauh. Sudahlah tak perlu dibahas daripada suasana hatimu jadi buruk, lagipula dia tidak jadi juga mengajak aku pergi karena dia tahu aku akan pergi dengan kamu,”
********
“Angel, menurutku ayah sudah berubah jadi lebih baik ya? Apa kamu berpikir hal yang sama?”
Malam ini Andrean dan Angel menikmati sejuknya angin malam di balkon kamar mereka sambil ditemani dengan teh hangat dan juga cookies.
“Ya, aku juga berpikir seperti itu,”
__ADS_1
“Dan aku senang, Sayang. Ayah sepertinya mulai menyayangi kamu,”
“Ean, sebenarnya sejak dulu aku yakin bahwa ayah sudah menyayangi aku, tapi sikapnya saja yang mungkin membuatnya jadi terlihat jahat. Karena aku ini anaknya, aku yakin ayah menyayangi aku,”
Andrean tersenyum ketika istrinya selalu saja berpikiran positif. Disaat menerima perlakuan buruk dari ayah kanung, pasti sebagian besar anak menganggap bahwa ayah mereka jahat, ayah mereka tidak menyayangi mereka sebagai anak. Tapi itu tidak berlaku bagi Angel yang tetap menanam keyakinan si hatinya bahwa ayahnya menyayangi dirinya walaupun sikap atau perlakuan yang diterima Angel dari ayahnya tidaklah baik.
“Tapi kakakmu itu yang belum berubah, Sayang,”
Angel tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia sendiri juga tidak tahu kapan kakaknya itu akan berubah. Hingga kini Gesty masih berusaha mengusiknya.
“Tapi aku juga yakin kalau kakak menyayangi aku, walaupun aku ini bukan adik kandungnya,”
“Sayang, kamu benar-benar baik, selalu berusaha untuk berpikir positif. Aku berharap kakakmu menyusul ayah ya, sikapnya lebih baik lagi padamu, tidak banyak menuntut dan menghargai kamu, bukan hanya ingin menguasai apa yang kamu punya saja, misalnya uang,”
“Kalau uang dia mau, tapi kalau peduli pada ayah dan adiknya dia tidak mau. Aneh sekali manusia itu. Beruntungnya aku tidak pernah hidup satu tempat dengan dia. Aku tidak bisa membayangkan ketika kamu hidup bersamanya. Kamu pasti sangat tertekan,”
“Ya begitulah jalan hidupku, Ean. Tapi aku bersyukur, dengan apa yang pernah aku lewati sebelumnya, sekarang aku ada di titik ini,”
Andrean menggenggam tangan istrinya dengan lembut kemudian menciumnya singkat. Tiba-tiba Ia menarik tangan Angel mengisyaratkan Angel supaya bangkit.
“Aku sedang nyaman di tempatkus ekarang, Ean,” ujar Angel yang tak mau beranjak meninggalkan kursinya yang saat ini berhadapan dengan kursi dimana Andrean duduk namun mereka dipisahkan oleh meja.
“Sebentar saja,”
“Kamu kenapa menarik tanganku? Secara halus mengusir aku dari kursi ini ya,”
Andrean menggelengkan kepalanya dan tangannya tetap menarik lembut tangan Angel yang akhirnya mau tidak mau membuat Angel bangkit, lalu tiba-tiba Angel dibuat terduduk di atas pangkuan suaminya itu.
“Ean! Aku berat, kenapa kamu tiba-tiba menarik aku supaya duduk di pangkuan kamu,”
“Karena aku ingin memangku istriku, memang salah ya?”
“Tidak, tapi aku terkejut,”
Andrean mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang sang istri. Dan Ia menyandarkan kepalanya di lengan Angel yang duduk menyamping di atas pahanya.
“Andrean, apa kamu baik-baik saja? Kamu lelah? Ingin istirahat? Ya sudah kita masuk saja,” ujar Angel yang merasa bingung tiba-tiba suaminya meminta Ia untuk duduk di pangkuannya kemudian menyandarkan kepalanya di lengannya.
“Tidak,”
“Kamu hanya ingin bermanja saja ya?”
“Ya bisa dibilang seperti itu,”
Angel terkekeh lalu mengusap rahang suaminya itu. Dan Ia meninggalkan kecupan di puncak kepala Andrean.
“Silahkan, Ean, aku tidak akan melarangnya,”
“Terimakasih,”
“Ya, tapi kamu baik-baik saja bukan? Atau ada suatu hal yang sedang kamu pikirkan? Atau mungkin kamu kelelahan,”
“Tidak, Sayang. Aku tidak lelah, tapi kalau ada yang aku pikirkan memang benar,”
“Apa yang kamu pikirkan sekarang?”
“Tentang bunga itu. Kamu sudah dua kali menerima bunga misterius itu kan?”
“Ya, dan dua-duanya aku tidak tahu siapa yang mengirim,”
“Entah kenapa aku takut,”
“Huh? Kamu takut? Andrean yang aku kenal tidak pernah takut,”
“Takut dia melakukan sesuatu terhadap kamu, atau mungkin hubungan kita,”
Angel tersenyum lantas mengarahkan Andrean supaya mau menatap wajahnya. “Ean, selama kita saling bergenggaman tangan, sebanyak apapun pengganggu yang datang itu tidak akan berpengaruh apa-apa untuk hubungan kita,”
“Tapi tetap saja aku takut, Sayang,”
“Tidak pelru takut, pengganggu dalam hubungan itu sudah biasa. Tergantung bagaimana kita menghadapinya. Bisa jaga hati atau tidak,”
“Selain aku takut ada yang mengganggu hubungan kita, aku juga takut dia melakukan sesuatu padamu,”
“Kenapa kamu berpikir seperti itu?”
“Aku takut dia mencelakaimu,”
“Hei, itu tidak akan terjadi, kamu jangan khawatir, Ean. Lagipula selalu ada kamu yang menjaga aku,”
“Sayang, aku tidak setiap detik ada di samping kamu, aku tidak bisa menjamin tidak ada kesempatan satupun untuk orang jahat menyakiti kamu karena aku adalah manusia biasa dan orang-orang suruhanku yang aku tugaskan untuk menjaga kamu juga manusia biasa yang bisa lengah dalam menjaga kamu walaupun hanya lengah sedetik,”
“Tapu dia memberiku bunga, aku rasa dia tidak punya niat jahat, Ean,”
“Kita belum tau saja, Sayang,”
“Ya sudah kita berdoa saja, kamu tidak perlu mencemaskan apapun. Percaya Tuhan selalu menjaga kita,” ujar Angel seraya mengusap kedua sisi wajah suaminya.
“Angel, apa kamu punya pikiran yang sama denganku?”
“Apa itu?”
“Bisa jadi ini ulah kakakmu,”
“Hah? Ulah kakak? Maksudmu?”
“Ya, dia pernah menyuruh seorang laki-laki untuk melakukan interaksi fisik dengan kamu supaya aku cemburu, supaya hubungan kita berantakan. Bisa jadi ini juga bagian dari rencana dia,” ujar Andrean seraya menatap istrinya dengan sorot mata serius.
Angel langsung terdiam memikirkan ucapan suaminya. Apa benar kakaknya yang mengirimkan dua bunga misterius itu supaya Ia dan Andrean merasa tidak tenang, dan hubungan mereka ingin dibuat berantakan?
“Aku juga tidak tahu, Ean,”
“Kalau benar ini ulah kakakmu itu, aku benar-benar semakin membencinya. Entah apa maunya? Tidak bisa melihat orang bahagia kah?”
“Ean, kamu tenang dulu. Ini belum tentu ulah kakak,”
“Aku rasa ini ulah dia, supaya kita cemas, memikirkan sosok yang mengirimkan bunga itu, ditambah lagi dia mau hubungan kita tidak baik-baik saja,”
“Apa perlu aku tanya langsung pada kakak?”
“Kamu pikir semudah itu membuat dia mengakui semuanya, Sayang? Kamu tau bagaimana kakakmu itu kan? Ditambah lagi kita belum punya bukti. Kalau kejadian waktu itu, orang suruhannya sendiri yang jujur bahwa dia disuruh oleh Gesty untuk memeluk mencium kamu lalu Gesty memotretnya dan mengirimkannya kepadaku supaya aku cemburu dan kita bertengkar,”
“Kalau memang benar itu ulah kakak, kenapa kakak bisa sejahat itu ya, Ean?” Gumam Angel dengan sedih. Seolah tak pernah puas dengan setiap kesengsaraan yang diberikan untuk Angel, Gesty selalu berusaha untuk menambahnya terus.
“Entahlah, Sayang. Aku juga bingung kenapa ada manusia sejahat Gesty,”
“Aku bingung harus bersikap seperti apa pada kakak. Aku tidak bisa membencinya tapi aku juga lelah dengan semua yang dia lakukan kepadaku,”
“Dia iri dengan kamu, Angel. Apa yang kamu punya, apa yang ada di hidup kamu sekarang ingin dia miliki juga. Tuhan tidak akan tinggal diam, lihat saja apa yang akan dia terima nantinya,”
__ADS_1
Disaat mereka tengah menikmati malam sambil bicara empat mata, tiba-tiba ponsel Angel bergetar menampilkan pesan masuk dari kakaknya.
-Ayah sakit lagi dan perlu biaya. Kamu sebagai anak tidak mau peduli?-