
“Daddy benar-benar akan mengajak Adrina untuk berlibur juga?”
“Iya, Sayang. Orangtuanya jebetulan ada urusan pekerjaan di luar dan dia hanya bersama pekerja saja di rumah. Jadi Daddy sengaja mengajaknya juga,”
Angel dan Andrean memasuki kamar usai diajak bicara oleh Devan yang punya rencana ingin mengajak anak-anaknya pergi berlibur untuk beberapa hari di suatu pedesaan.
Dua hari lagi mereka akan berangkat untuk sejenak meninggalkan kesibukan yang setiap hari membelenggu mereka. Tak hanya Devan saja tapi Lovi pun antusias anak-anak mereka berlibur.
Tapi kali ini mereka ingin Adrina juga ikut. Karena orangtua Adrina sedang ada urusan pekerjaan di luar. Jujur rencana mengajak Adrina mengejutkan Angel. Baru juga Ia tahu fakta kalau Adrina menyukai suaminya, lalu ketika liburan bersama nanti Ia akan bertemu dengan Adrina, mereka akan ada waktu bersama, bahkan dengan Andrean juga. Angel sudah bisa membayangkan situasi tersebut dan jujur Ia belum siap.
“Kenapa, Sayang? Kamu keberatan ya?” Tanya Andrean seraya mengusap bahu istrinya yang sedang terdiam dengan sorot mata yang kosong.
“Oh—tidak, Ean. Aku tidak keberatan. Ini ‘kan aturannya Mommy Daddy. Mereka mengajak aku saja, aku sangat bersyukur,”
“Tentu lah mereka mengajak kamu karena kamu menantu mereka, istriku. Tidak mungkin hanya aku saja yang diajak sementara kamu tinggal di rumah. Dan lagipula ini liburan pertama kita sebagai suami istri, bersama Adrian juga Auris, ditambah lagi ada Adrina. Aku rasa, liburan kita kali ini akan akan sangat berbeda suasananya,”
“Maksudmu?”
“Ya, lebih hangat, lebih bahagia karena formasi lengkap. Aku seperti pindah ke masa lalu, dimana kita masih kecil dulu kalau tidak salah pernah juga ya liburan bersama seperti ini,”
“Iya aku ingat pernah diajak berlibur oleh Mommy Daddy saat aku masih kecil,”
“Kali ini kita liburan lagi, seperti mengulang momen yang sama tapi diwaktu yang berbeda, dan status kita juga sudah berbeda,”
Angel menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kalau saja Ia tidak mengetahui tentang perasaan Adrina untuk Andrean, mungkin Ia juga akan sangat bahagia dan sangat antusias untuk liburan kali ini. Karena setelah sekian lama Ia akan berlibur dengan teman-teman masa kecilnya.
Tapi tidak munafik Angel senang sekali diajak berlibur walaupun masih terbayang-bayang dengan apa yang diucapkan oleh Adrina.
“Sayang, kamu tidak keberatan ‘kan?”
“Iya, aku ‘kan sudah mengiyakan tadi, tidak mungkin aku berubah pikiran,”
“Ya barangkali saja, Sayang. Kalau memang kamu keberatan, kita bisa lain waktu saja liburannya,”
“Jangan, nanti Mommy dan Daddy sedih kalau salah satu dari kita ada yang tidak ikut,”
“Adrina juga lagi mau diajak bicara dulu, Sayang. Mau izin juga pada orangtuanya,”
“Jadi kalau mau berubah pikiran ya tidak apa-apa,”
“Tidak, aku senang diajak liburan dan aku tidak mau membuat Mommy dan Daddy kecewa,”
“Tapi, apa kamu keberatan kalau Adrina ikut?”
“Tidak,”
“Aku lihatnya begitu,”
“Kenapa kamu berpikir aku keberatan?”
“Karena begitu masuk kamar kamu bertanya soal keputusan Daddy yang mengajak Adrina,”
“Aku bertanya hanya untuk memastikan saja, Ean,”
“Aku pikir kamu keberatan,”
“Sejujurnya iya aku keberatan melihat wajah perempuan yang ternyata diam-diam menyukai suaminya. Walaupun Adrian sudah menegaskan itu masa lalu. Tapi apa benar hati Adrina sudah benar-benar tidak ada nama suamiku lagi?”
“Ya sudah kalau begitu sekarang aku akan mempersiapkan pakaian kita. Aku lagi kosong juga,”
“Kamu tidak jadi olahraga? Nanti semakin sore, Ean,”
“Tidak jadi, Sayang. Aku akan mempersiapkan perlengkapan kita untuk liburan, nanti kamu yang melakukannya sendirian,”
“Biar aku saja. Kamu ‘kan tidak tau apa yang diperlukan,”
“Ya kamu menjelaskannya padaku, Sayang. Biar aku tau dan aku siapkan. Kamu masih harus istirahat, jangan terlalu kelelahan,”
“Iya okay tapi aku bantu ya?”
“Untuk apa, Sayang? Biar aku sajalah,”
Andrean mengambil koper dan ransel. Menurutnya dua itu sudah cukup untuk pakaiannya bersama Angel. Kalaupun kurang, mereka bisa membelinya di tempat liburan nanti.
“Ean, apa koper itu cukup untuk semua keperluan kita? Bukankah kata Daddy pergi liburan tiga atau empat hari ya?”
“Kalau kurang bisa beli, Angel. Tidak perlu bawa banyak-banyak menurutku,”
“Bukankah kita akan ke wilayah yang kurang akses untuk belanja dan lain-lain ya? Kita mau berlibur ke pedesaan. Daddy bicara begitu ‘kan tadi?”
“Iya tapi kita bisa ke kotanya, Sayang,”
“Terlalu menghabiskan waktu,“
“Justru aku senang menghabiskan waktu. Apalagi bersama kamu ‘kan,”
Angel terkekeh mendengar suaminya bicara seperti itu. “Apa sih kamu? Mulutnya manis sekali,”
“Ya karena istrinya juga manis,”
“Aku ambil baju-bajunya ya, nanti tinggal kamu masukkan ke dalam koper. Saranku, kopernya jangan yang kecil seperti itu, yang ukurannya pas saja, Ean, sebentar aku ambilkan dulu,”
“Eh tidak-tidak, biar aku yang ambil. Kamu duduk saja,”
“Tapi kalau baju harus aku. Takutnya kamu bingung menentukan baju mana yang cocok untuk kita,”
Andrean diam sebentar untuk berpikir. Apa yang dikatakan oleh istrinya benar juga. Ia paling tidak bisa diandalkan kalau soal memilih sesuatu. Daripada salah pilih, tidak tepat dipakai liburan, atau tidak serasi, dan lain-lain, akhirnya Ia serahkan pada istrinya untuk urusan memilih.
“Ya sudah kamu ambil baju, aku ambil koper yang ukurannya lebih besar daripada ini. Lalu, aku akan menyusunnya di dalam koper. Kamu tidak perlu membantu aku,”
“Okay aku yang akan mengambil semua perlengkapan kita, tidak hanya baju, kamu bagian merapikannya di dalam koper, bagaimana?”
“Kenapa banyak tugasmu, Sayang?”
“Ya biar maksimal persiapan kita. Pembagian tugasnya juga sudah adil aku rasa. Kamu tinggal menata di dalam koper sedangkan aku yang mencari dan mengambil,”
“Ya sudah okay. Terimakasih ya sudah membantu aku,”
“Justru aku yang seharusnya mengucapkan terimakasih karena kamu mau turun tangan. Padahal aku bisa melakukannya sendiri. Aku ‘kan sudah sembuh,”
“Ya biar semakin sehat. Kita akan liburan, tidak snak ‘kan liburan tapi keadaan badan tidak sehat. Kita tidak bisa menikmati liburan kita, Sayang,”
“Iya kamu tenang saja. Aku akan benar-benar sehat,”
Sekarang Angel mengambil baju dulu di lemari semnetara Andrean mengambil koper yang ukurannya lebih besar, Ia kembalikan koper yang tadi ke tempatnya semula. Setelah itu Ia letakkan koper di atas permadani lembut tepat di bawah ranjang. Di sanalah Ia akan berkutat dengan pakaian, dan perlengkapan lainnya.
“Sayang, bawanya jangan terlalu banyak nanti kita beli saja di sana,”
“Tapi aku malas belanja baju di sana, takutnya jauh, Ean,”
“Aku malah ingin, Sayang. Biar ada waktu jalan-jalan dengan kamu, tidak hanya di satu tempat itu saja,”
__ADS_1
“Ya sudah aku bawa secukupnya saja, jangan kurang jangan lebih,”
“Kurang saja supaya aku ada alasan mengajak kamu pergi jalan-jalan,”
“Tinggal pergi tanpa alasan, Ean. Kamu mau pergi dengan istri sendiri jadi tidak perlu alasan. Kecuali kalau perginya dengan perempuan lain, kamu butuh alasan untuk menyampaikannya padaku,”
“Aku tidak aman melakukannya. Kenapa? Karena menyia-nyiakan kamu itu bentuk kebodohan,”
Angel tersenyum dan berharap Ia dan suaminya bisa terus saling mencintai, melengkapi satu sama lain dan tidak punya niat sedikitpun untuk menghancurkan rumah tangga dengan yang namanya pengkhianatan.
*****
Pagi ini Devan mengajak Jino sahabatnya lari pagi. Sekaligus ingin izin pada Jino untuk mengajak Adrina berlibur.
“Sudah lama kita tidak lari pagi begini ya, Dev,”
“Iya kau terlalu sibuk,”
“Hah? Aku tidak salah dengar, Dev? Kau yang terlalu sibuk. Ah kau suka memutar balikkan fakta ya,”
“Hahahah iya samalah, kita sama-sama sibuk aku mengakui itu,”
“Nah begitu lebih enak didengar daripada cuma aku saja yang dibilang sibuk padahal kamu juga sama sibuknya bahkan lebih sibuk,”
“Kau lebih sibuk sepertinya. Oh iya nanti malam jadi berangkat?”
“Jadi, kenapa memangnya?”
“Aku berencana untuk mengajak anakmu pergi liburan dengan anak-anakku. Diberi izin tidak?”
“Boleh, asal Adrina mau saja. Aku tidak melarang. Kalian ‘kan keluarga,”
“Wah terimakasih, semoga Adrina mau ikut. Nanti aku minta Lovi untuk bicara pada Sheva istrimu dan bicara langsung juga pada Adrina. Rencana berangkatnya dua hari lagi,”
“Iya boleh-boleh,”
“Kau percaya ‘kan padaku dan Lovi bisa menjaga Adrina?”
“Astaga, kau bicara apa, Devan? Ya jelas lah aku percaya. Aku dan Sheva itu tau kalian orang baik. Kalian menganggap kami sebagai keluarga, begitupun kami. Kalian bahkan menganggap anak kami itu anak kalian sendiri, dari kecil sudah bersama-sama. Jadi tidak ada alasan kami tidak percaya membiarkan kalian untuk liburan bersama Adrina,”
“Syukurlah aku lega mendengarnya. Okay jadi aku rencananya mau mengajak anak-anak itu ke pedesaan, sejenak meninggalkan kota yang ramai penuh kesibukan. Ya semoga saja mereka senang,”
“Wah Adrina pasti senang. Dia berlibur kemanapun tidak pernah menolak, selalu hatinya senang. Anakku bahagianya gampang untuk diciptakan. Tapi sebelumnya aku mau mengucapkan terimakasih dulu kamu sudah mengajak Adrina. Maaf kalau misal nanti Adrina merepotkan,”
Devan berdecak sambil menepuk bahu Jino yang berjalan di sebelahnya. “Jangan bicara begitu lah. Tidak ada istilah merepotkan. Kita di sana untuk bersenang-senang. Kamu jangan berpikir macam-macam. Anakmu tidak akan merepotkan. Lagipula Adrina ‘kan tidak bayi lagi. Apa-apa sudah bisa sendiri, tidak mesti disuapi. Kau berlebihan ah,”
“Ya aku takutnya anakkku itu merepotkanmu dan Lovi, oh iya Andrean ikut? Ah tentu ikutlah ya? Bersama istrinya,”
“Andrean dan Angel ikut. Jadi benar-benar liburan bersama nama kegiatannya,”
“Berangkat dari rumah jam berapa? Siang?”
“Pagi masih gelap. Biar masih segar,”
“Oh iya benar, terhindar dari macet juga. Tapi sebelumnya benar-benar dipersiapkan armadamu itu, jangan sampai mereka terlambat,”
Devan tertawa mendengar pesan Jino. Ia menganggukkan kepala dan menyimpan pesan itu baik-baik. Ia memang harus menyampaikan pada anak-anaknya bahwa tidak boleh ada acara terlambat bangun, dan semua keperluan sudah harus siap sebelum pagi.
******
-Bertemu di kantor. Ada yang mau aku bicarakan-
-Tentang?-
-Okay, Andrean-
Angel berdecak pelan membaca pesan dari Abraham lagi-Abraham lagi. Angel menggertakkan giginya kesal.
“Aku semakin penasaran! Apa sih yang mereka bahas. Siapa yang istimewa? Kenapa Andrean membalas pesan seperti itu?” Angel meletakkan ponsel suaminya dengan wajah merengut.
“Apa Ean lagi menyiapkan sesuatu untukku ya? Ah aku berusaha untuk berpikiran positif saja seharusnya. Jangan curiga yang tidak-tidak, nanti akhirnya merasa bersalah karena kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang aku pikirkan,”
“Sayang, aku sudah selesai menata baju,”
Angel langsung menoleh ke arah Andrean yang sejak tadi sibuk sendiri sampai tidak sadar kalau ponselnya barusan sedang dicek oleh istrinya.
“Iya,”
“Ini perlengkapan mandi, dan lain-lain bagaimana?”
“Ya disimpan di situ juga,”
Angel menunjuk sisi yang harus diisi dengan peralatan mandi mereka, seperti sikat gigi, sabun, pasta gigi, termasuk sisir, body lotion, sunscreen, dan produk perawatan wajahnya Angel dan Andrean.
Setelah itu Angel memastikan semua yang diperlukan sudah dibawa. Andrean langsung bertanya “Apalagi yang kurang?”
“Aku rasa sudah semua,”
“Okay, tas ransel ini isinya apa?”
“Kalau ini bisa dipakai untuk handuk kecil, ponsel, charger, obat-obatan,”
“Oh iya benar. Kamu pintar sekali ya,”
“Tidak, kamu berlebihan,”
“Jangan dibiasakan tidak percaya diri, Sayang. Kamu itu cantik, pintar, hebat, kuat! Jadi wajarlah kalau aku memuji kamu,”
“Iya terimakasih untuk pujiannya. Aku senang dipuji tapi aku juga malu karena aku tidak sebaik yang kamu pikirkan,”
“Kamu terlalu merendah, padahal apa yang aku katakan itu benar,”
“Ean, tidak mau cerita sesuatu padaku?”
Angel ingin mendorong koper hingga ke salah satu sudut kamar tepatnya di dekat sofa. Tapi langsung dilarang pleh Andrean.
“Biar aku saja, ini berat,”
“Tapi bisa didorong, Ean,”
“Tetap saja tidak boleh,”
Pikir Andrean biar cepat langsung saja Ia angkat. “Astaga, kamu kenapa mengangkatnya? Itu berat, Ean!” Ujar Angel.
“Aku ‘kan laki-laki, jadi kuat mengangkat itu. Anggap lah lagi gym. Kamu perempuan, bisa patah tulang kalau mengangkatnya,”
“Aku juga sebenarnya tidak ada niat untuk mengangkat, karena aku sadar diri aku tidak akan mampu. Aku hanya ingin mendorong tapi kamu larang,”
“Kamu tidak boleh kelelahan. Sekarang istirahatlah, terimakasih sudah bekerja sama denganku ya, kamu masih juga membantu aku padahal harusnya kamu istirahat,”
“Aku senang kita saling membantu. Jadi kamu tidak mau cerita padaku?”
__ADS_1
“Astaga, cerita apa, Sayang? Kenapa kamu bertanya seperti itu lagi? Aku bingung mau bercerita soal apa,”
“Ya bisa tentang hal apapun, terserah kamu yang terpenting ada cerita supaya suasana tidak hening,”
“Jadi maksudmu, aku disuruh jadi pembicara supaya suasana tidak hening?”
Angel tertawa tapi menganggukkan kepalanya. Ia senang kalau mendengar Andrean banyak bicara. Tapi kali ini ada maksud terselubung kenapa Ia menyuruh Andrean bercerita. Barangkali Andrean mau jujur tentang satu hal yang belum Ia ketahui misalnya yang ada kaitannya dengan Abraham.
Andrean tampak berpikir mencari topik yang menyenangkan untuk dibagi kepada istrinya, tapi Ia bingung. Ia tidak tahu harus menceritakan apa.
“Ayo cepat, kenapa kamu malah diam?”
“Aku bingung mau cerita apa, Sayang,”
Andrean menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia melakukan itu hanya karena bingung. Ia harus berbagi cerita apa pada istrinya itu.
“Tentang—misalnya kamu sedang mempersiapkan apa? Untuk siapa?”
“Oh maksudnya pekerjaan ya? Pekerjaan aku sejauh ini masih lancar. Lagi buka kesempatan untuk mereka yang mau menjadi guru jadi nanti anak-anak yang menggunakan aplikasi bisa mendengarkan materi secara langsung dari guru yang profesional. Kami membuka kesempatan untuk siapa yang mau menjadi bagian dari perusahaan. Biar jumlahnya benar-benar tercukupi. Semakin banyak yang menggunakan aplikasi, semakin banyak butuh guru,”
Angel menghela napas pelan. Jujur Ia sennag ketika Andrean terbuka soal pekerjaannya. Tapi yangs aat ini ingin Ia dnegarkan dari mulut Andrean konteksnya bukan tentang pekerjaan tapi kehidupan pribadi. Karena kalau yang Angel tangkap, Abraham itu bukan orang kepercayaan Andrean dalam hal pekerjaan. Walaupun pembahasan mereka mengarah pada sesuatu yang sedang mereka buat.
“Oh begitu, okay terus ada yang lain lagi?”
“Hmm tidak ada. Aku rasa itu sudah cukup aku ceritakan padamu,”
“Tentang kehidupan pribadi mungkin ada yang mau kamu ceritakan,”
“Tidak ada, Sayang. Kehidupanku yang begini-begini saja dari dulu sampai sekarang cuma bedanya sekarang lebih berwarna dan bahagia saja semenjak ada kamu,”
“Bukan itu yang aku maksud,”
“Lalu apa?”
Angel penasaran tapi Angel tidak mau bertanya langsung, hanya melemparkan kode-kode saja dan Andrean yang memang tingkat kepekaannya rendah tentu tidak akan mudah menafsirkan maunya Angel adalah terbuka soal siapa Abraham, soal apa yang sedang mereka buat, dan untuk siapa? Kenapa sepertinya itu ditujukan untuk orang yang istimewa sekali? Penjelasan tentang itulah yang Angel inginkan.
“Apa, Sayang? Aku bingung mau cerita apalagi. Ya sudah kalau begitu, kamu tanya saja apa yang menurut kamu penting untuk aku ceritakan, untuk aku bagi padaku,”
“Ya sudah berarti obrolan kita berakhir sampai di sini dulu,”
“Hmm? Tidak mau dengar aku cerita lagi?”
“Apa ceritaku sudah cukup?”
“Sudah,”
“Kenapa ketus begitu menjawabku, Sayang? Apa ada yang salah?”
“Kamu tidak jujur padaku, itu yang salah. Karena kamu tidak jujur aku jadi berpikir yang macam-macam,”
Kalimat itu keluar dari mulut Angel yang sejak tadi sudah gatal ingin Andrean tahu bahwa sebenarnya Angel sedang mencari jawaban atas rasa penasarannya.
Andrean langsung menghampiri kekasihnya di atas ranjang lalu Ia meraih kedua tangan Angel. “Maksudmu apa, Angel? Aku tidak jujur soal apa?”
Angel membuang napas kasar. Andrean pasti akan menuntut penjelasan lebih atas ucapannya barusan.
“Abraham itu siapa?“
Alis Andrean terangkat. Ia bingung Angel tahu darimana tentang Abraham dan Ia semakin bingung karena istrinya seperti mencurigai sesuatu dan ada hubungannya dengan Abraham.
“Jangan bilang, kamu curiga aku gay dengan Baraham ya?”
“Aku tidak berpikir ke arah sana! Obrolan kalian membuat aku jadi bertanya-tanya. Sebenarnya apa sih yang lagi kalian rencanakan?Kalian juga sering membahas perempuan yang kata kamu istimewa, Abraham juga beberapa kali mengolok kamu
tentang perempuan itu. Sebenarnya apa yang kalian rencanakan? Aku benar-benar bingung,”
“Astaga, kamu mencari tau sendiri? Sedalam itu?”
Andrean terperangah setelah tahu istrinya sudah bisa menebak ada sesuatu yang sedang Ia rencanakan bersama Abraham.
“Aku tidak sengaja membaca obrolan kalian di handphone,“
“Astaga, jadi ini yang membuat kamu penasaran dan kamu ingin aku terbuka untuk cerita semuanya padamu?”
“Iya, tapi kamu tidak peka-peka,”
“Jadi itu urusan pekerjaan saja sebenarnya, Sayang,”
“Lalu perempuan yang suka kalian bahas itu siapa?”
“Kamu, tentu saja,”
“Apa hubungannya dengan aku?”
“Ya apapun yang aku buat itu pada akhirnya untuk kamu ‘kan. Buat kamu senang,”
“Ya tapi—aku masih bingung. Yang kalian buat itu ‘kan hubungannya dengan kerjaan, lalu kenapa bawa-bawa aku? Kamu tidak berbohong padaku ‘kan, Ean?”
“Ya sudahlah jangan dibahas sekarang. Nanti saja dibahas,” ujar Andrean yang masih belum mau jujur tentang spa yang sebenarnya Ia rencanakan bersama Abraham.
“Jangan berpikiran negatif ya, Angel. Aku tidak macam-macam di luar sana. Kamu tenang saja,”
“Ya bagaimana aku tidak berpikiran negatif kalau aku beberapa kali liat kalian membahas perempuan istimewa, apa maksudnya? Aku jadi kepikiran terus,”
“Ya ampun, aku benar-benar minta maaf padamu, Sayang. Aku tidak ada niat untuk membuat kamu jadi kepikiran. Apa jangan-jangan karena ini kamu sakit ya?”
“Bisa jadi,”
Andrean diterpa rasa bersalah. Ia langsung merengkuh istrinya dengan hangat sambil terus melontarkan permintaan maaf.
“Aku minta maaf, Sayang. Aku tidak ada niat sedikitpun membuat kamu kepikiran apalagi sakit. Aku dan Abraham itu rekan kerja, dan kami memang sering membahas perempuan istimewa masing-masing. Perempuan istimewa aku adalah kamu tentu saja,”
“Jadi yang kalian persiapkan itu adalah project ya? Berhubungan dengan pekerjaan saja? Tidak lebih? Dan tidak ada perempuan lain ‘kan?”
Andrean terkekeh mendengar pertanyaan Angel yang mulai kedapatan cemburu. “Tidak ada perempuan lain yang kami bahas itu ya kamu. Perempuan istimewa yang kau maksud itu adalah kamu, Angel. Kenapa kamu malah berpikir kalau itu perempuan lain?”
“Ya karena aku—aku pikir begitu,”
“Mulai sekarang kalau ada yang mengganggu pikiran kamu, jangan sungkan untuk bicarakan padaku. Kalau kamu penasaran dengan sesuatu atau bahkan kamu curiga, sampaikan saja kepadaku biar aku jelaskan. Karena kalau kamu cuma diam, aku tidak tidak bisa membaca isi pikiran kamu, Sayang. Aku tidak tau apa yang sedang kamu pikirkan, apa yang sedang kamu curigai,”
“Aku ragu bertanya padamu karena aku takut kamu tersinggung. Aku sudah mengganggu ranah pribadi kamu. Seharusnya aku tidak membuka obrolan kaku dengan siapapun itu tapi aku penasaran makanya aku—“
“Tidak apa, kamu bebas mau memegang ponselku, memeriksa semua aplikasinya juga tidak masalah. Aku tidak keberatan sedikitpun. Tapi apapun yang kamu temukan di handphone aku, kamu bicarakan dulu padaku, jangan langsung curiga, jangan langsung menarik kesimpulan yang padahal kenyataannya tidak seperti apa yang kamu pikirkan,”
Angel menganggukkan kepalanya. Ia akan jadikan ini sebagai pelajaran. Penasaran boleh tapi jangan mencurigai sebelum tahu kebenarannya, dan jangan mengambil kesimpulan sendiri sebelum meminta penjelasan.
“Sebaiknya kalau ada yang membuat hati dan pikiranmu tidak tenang soal aku, langsung bahas dengan aku, jangan ditunda-tunda akhirnya kamu punya rasa curiga yang berkepanjangan,”
“Okay, aku minta maaf ya. Tidak seharusnya aku berpikiran negatif tentang kamu,”
“Tidak apa-apa, Angel. Kamu tidak salah, aku yang salah karena tidak peka kalau kamu itu butuh penjelasan,”
__ADS_1
“Ya bagaimana kamu mau peka kalau aku saja hanya memberikan kode yang kecil,”
“Maka dari itu lain kali langsung tanya saja padaku jangan melemparkan kode-kode yang sebenarnya aku tidak paham,”