
Andrean sedang fokus dengan buku yang dibacanya. Lelaki yang gemar membaca itu mengerinyit saat melihat sang istri mengganti bajunya. Ia tidak sadar kalau Angel masuk ke walk in closet tadi.
"Orangtua Adrina mengundang kita untuk makan malam di rumahnya,"
"Oh, kapan?"
"Jam delapan,"
Andrean melirik jam yang melekat di dindingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lima belas menit.
Andrean menatap sebentar istrinya yang mengenakan dress non formal berbahan lembut seperti warnanya juga. Angel membalas tatapan suaminya. Merasa diperhatikan, Angel jadi tidak percaya diri. Ia menilik penampilannya sendiri.
"Aneh ya? Apa aku ganti baju yang lain saja?"
"Tidak, itu bagus. Tapi lengannya kurang panjang. Apa tidak dingin nanti?"
Andrean jarang sekali mengomentari sesuatu. Tapi setelah menikah, entah kenapa Ia tidak begitu pasif lagi.
Entahlah, apa hanya pada istrinya saja atau pada orang lain juga begitu. Tapi Angel senang karena itu artinya sang suami peka terhadap hal-hal tentang dirinya.
"Musim semi ya. Baiklah, aku ambil cardigan dulu,"
Angel berjalan menuju ruangan yang tadi dikunjunginya sebentar untuk berganti pakaian. Ia menarik satu cardigan berwarna lilac. Warnanya senada. Dress berwarna lavender dan hanya memiliki lengan kurang lebih satu jengkal dari pundaknya.
"Ini dress yang diberikan Mommy,"
Ia mengatakan itu pada suaminya setelah selesai mengenakan cardigan. Andrean menatap istrinya lagi.
"Begitu lebih baik,"
Andrean tersenyum, "Terimakasih, Andrean,"
Angel berusaha menutupi kegugupannya hanya karena dipuji Andrean. Padahal lelaki dingin itu tidak mengatakan 'cantik' atau semacamnya tapi Ia tetap salah tingkah.
"Baju kamu sudah aku siapkan ya. Kamu tidak ada baju yang warnanya seperti ini?" Tanya Angel seraya menunjuk bajunya.
Andrean membuang wajahnya. Angel ada-ada saja. Sejak kapan Ia punya baju yang warnanya erat sekali dengan perempuan itu?
"Kalau kamu tanya Auris, pasti jawabannya ada. Tapi kalau kamu tanya aku, kamu tahu jawabannya,"
Angel terkekeh kecil. Salahnya juga yang ingin sekali pakaian mereka kali ini senada warnanya.
Andrean menutup bukunya lalu beranjak dari tepi ranjang. Ia melepas kacamata yang dipakainya.
"Aku ganti baju dulu,"
"Iya, aku tunggu di bawah ya. Sepertinya Mommy sudah siap,"
Andrean mengangguk, kemudian sosoknya hilang dibalik pintu penghubung antara walk in closet dan kamar.
******
"Ihhhh baju kita kenapa bisa sama?"
Auristella terkejut mendapati dress yang dikenakannya bisa sama dengan dress yang dipakai Angel juga.
Angel juga bingung. Melihat kedua putrinya yang saling menilik dress, Lovi terkekeh.
__ADS_1
"Mommy sengaja membelikan yang sama untuk kalian berdua,"
Angel dan Auristella sama-sama mengangguk pelan. Rupanya memang sudah sengaja disetting oleh Lovi agar mereka punya baju yang sama. Tapi mereka tidak menyangka kalau bisa bertepatan saat mengenakannya.
"Kalian benar-benar pas jadi adik dan kakak," ujar Lovi dengan senyum lebarnya.
"Bisa-bisanya pakai baju sama. Atau kalian sudah memiliki janji sebelumnya?"
Keduanya menggeleng kompak. Interaksi mereka saja masih kaku. Karena Auristella belum bisa sepenuhnya menerima kalau Sekarang Ia sudah punya kakak ipar.
"Tidak, Mom. Ini memang kebetulan," jawab Auristella.
Adrian datang mendekati mereka dengan celana cargo berwarna beige dan juga kaus berwarna putih dengan huruf kecil L dan V yang menyatu di dada kanannya.
"Woahhh kakak adik kompak sekali. Akhirnya ya, Auris. Kamu punya twins dalam berpakaian. Sekarang bukan hanya Mommy saja twins mu,"
Adrian menggoda adiknya seraya tertawa. Sementara sang adik hanya melirik nya sinis.
"Adrian, aku sudah cantik, sudah perfect lah intinya. Jangan cari masalah yang bisa membuat aku mengamuk ya," peringat nya pada sang kakak.
Adrian tahu adiknya itu ketus pada Angel, sama seperti Adrina, dan gadia-gadis lain yang dekat dengan kedua kakaknya. Jadi, Ia menggoda gadis itu ketika dilihatnya Angel serta Auristella mengenakan baju yang sama. Bedanya Auristella tanpa cardigan.
"Tapi serius, kamu cantik, Angel,"
Auristella menyipit pada kakaknya itu. Giginya bergemelutuk kesal. Yang adiknya itu Ia atau Angel?
"Aku lebih cantik," ujarnya angkuh seraya mengibas rambut.
"Hih,"
Auristella mendengus sebelum memiting kulit di lengan kakak keduanya itu hingga sang kakak mendesis sakit. Cubitan Auristella benar-benar luar biasa dari kecil sampai sekarang.
Angel tersenyum melihat perdebatan mereka. Keluarga suaminya benar-benar hangat. Ia sudah jarang melihat perdebatan antara kakak dan adik yang begitu khas.
Angel menghela napas pelan kemudian menunduk sejenak. Lagi-lagi Ia membandingkan interaksi antara Adrian bersama Auristella dengan dirinya dan sang kakak. Tidak pernah mereka seperti itu. Yang ada Gesty membentaknya, memarahinya apalagi kalau Ia tak memenuhi keinginannya. Bisa-bisa Gesty berlaku kasar. Bukan cubitan kecil seperti yang diberikan Auristella pada Adrian. Melainkan tamparan atau sentakan hingga Ia terjerembab.
Devan sudah siap juga dengan pakaian santainya karena hanya jalan beberapa meter, mereka sudah sampai.
Kemudian Andrean juga sudah siap dengan pakaian yang disiapkan Angel tadi. Ia mengenakan celana cargo juga karena baik Andrean maupun Adrian memang suka mengenakan celana model seperti itu. Andrean memakai kaus berwarna navy yang tentunya tak kalah mahal dengan outfit mereka semua.
"Kita naik mobil ya, Dad,"
"Dasar sinting. Jalan sedikit juga sampai. Untuk apa naik mobil? Manja sekali kamu!"
Adrian menatap adiknya kesal. Tidak sampai satu kilometer ke rumah Adrina. Sudah dikatakan, rumah mereka itu berhadapan hanya saja memang jaraknya tidak bisa dicapai dengan lima langkah. Tapi tetap saja terbilang dekat.
"Aku bercanda!"
"Halah memang kamu manja. Sedikit-sedikit minta naik mobil. Tidak hanya manja, kamu juga pemalas,"
"Berisik!"
"Sudah-sudah, kalau kalian berdebat terus, kapan kita jalan?"
Seperti biasa, Devan yang menjadi penengah. Tentu saja mereka langsung diam. Beda cerita kalau Lovi yang menengahi. Kurang ampuh untuk membuat mulut mereka bungkam.
******
__ADS_1
"Ayo, silahkan masuk. Woah senang sekali kalian bisa datang dengan formasi lengkap seperti ini,"
Jino dan istrinya menyambut kedatangan Devan, Istri, dan juga anak-anaknya.
Bahu Devan ditepuk pelan oleh Jino. "Ah kau jarang sekali datang ke sini. Sesibuk itu kah?"
Devan berdecak, "Kau sendiri jarang ke rumahku,"
Jino tertawa, kemudian membawa para tamunya ke taman rumah yang cukup luas. Taman itu hanya dihias dengan lampu berukuran kecil-kecil. Sederhana dan memang hanya disiapkan untuk dua keluarga saja.
"Bagaimana hari-harimu sebagai suami, Andrean? Lebih bahagia pasti ya?"
Andrean hanya mengangkat sudut bibirnya sekilas menanggapi pertanyaan teman Mommy nya di lingkungan rumah mereka itu sekaligus yang menjadi Mommy dari Adrina.
"Angel pandai mengurus suami,"
"Ah memang sudah ku duga," sahut Sheva saat Lovi bicara mengenai Angel.
"Andrean sudah, tinggal dua lagi tanggung jawab kami,"
"Hmm kalau aku memang hanya satu,"
Kedua Ibu itu sahut menyahut kemudian terkekeh. Lovi dan Sheva tentu sedang membicarakan anak mereka masing-masing yang statusnya belum seperti Andrean.
"Tidak ada keinginan seperti Andrean?"
Adrian mengangkat alisnya saat ditanya Sheva. Ia terkekeh kemudian menggeleng.
"Ingin, tapi belum ada jodohnya," kekehan Adrian terdengar ringan.
"Adrina duduk di sana saja,"
Adrina menuruti titah Mommy nya untuk duduk di samping Adrian. Sementara Sheva ingin di samping Lovi. Sama hal nya dengan Devan yang duduk di sebelah Jino.
Adrian sengaja mendorong siku Adrina yang ada di meja menggunakan lengannya.
Adrina berdecak dan menatapnya tajam. "Kalau kamu, tidak ada keinginan seperti Andrean?"
Adrian menirukan pertanyaan Sheva tadi dan Ia ajukan pada Adrina. Gadis itu tampak memutar bola matanya.
"Bukan urusanmu!"
"Kalau sudah ada jodoh, jangan lupa undang aku agar hadir di pesta pernikahan mu ya,"
Adrina tak menanggapi. Ia memilih untuk mengambil alat makan di depannya sementara Adrian mendengus karena merasa dihiraukan.
"Dia bicara seperti itu. Berarti apa yang dikatakan Andrean waktu itu tidaklah benar. Yeah, kami memang hanya sebatas sahabat,"
Adrina meraih gelas di dekat piringnya lalu meneguk isinya. Ia meneguk dengan perlahan dengan pikiran melanglang buana.
Masih tersimpan rapi di memorinya saat Andrean bicara mengenai Adrian yang besar kemungkinan memiliki harapan lebih terhadapnya agar mereka bisa lebih dari sekedar sahabat.
Pembahasan itu sampai saat ini mengganggu pikiran Adrina, dan jujur karena itulah semakin ke sini Ia semakin ketus pada Adrian. Selain untuk memastikan sendiri apakah yang dikatakan Andrean adalah sebuah kebenaran, Ia melakukan itu juga disebabkan oleh keinginan dirinya sendiri yang merasa perlu membangun pertahanan.
"Adrina, ayo dimakan. Jangan terlalu banyak minum,"
Adrina tersentak dari keterdiamannya ketika ditegur sang Ibu. Cepat-cepat Ia mengambil makanan lalu menyantapnya.
__ADS_1