Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 69


__ADS_3

“Oh hai, seperti biasa diantar suami lagi,”


Adera baru datang berteoatan dengan datangnya Angel yang diantar oleh Andrean menggunakan mobil.


Andrean ikut keluar dari mobil dan membalas sapa Adera dengan anggukan tipis. Adera tiba-tiba meraih tangan Angel.


“Bagaimana dengan tangan kamu? Sudah sembuh? Semoga dia tidak datang lagi ya ke sini. Aku benar-benar tidak senang dia datang apalagi menyakiti kamu. Kakakmu itu memang benar-benar keterlaluan,”


Angel membelalakkan kedua matanya mendengar ucapan Adera, kemudian Ia menatap suaminya yang memicingkan kecua mata ke arahnya.


Andrean mulai mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Andrean mulai tahu kalau ternyata tangan Angel yang sakit kemarin memang disebabkan oleh seseorang.


“Bye, aku masuk dulu ya,”


Adera langsung masuk kafe meninggalkan Andrean dan Angel yang sekarang gugup. Angel yakin suaminya sudah paham sekarang.


Andrean tidak bodoh. Setelah mendengar kata-kata Adera, pasti Andrean sudah tahu kalau sebenarnya tangan yang memerah kemarin itu bukan disebabkan oleh kaki kursi, melainkan tangan manusia yang disebut oleh Adera sebagai kakaknya Angel.


“Sayang, kamu ketahuan bohong sekarang. Kamu tidak jujur. Jadi tangan kamu itu sakit bukan karena kena kaki kursi ya. Tapi karena Gesty, benar ‘kan?”


Angel menundukkan kepalanya. Andrean sudah tahu kalau Ia berbohong. Sekarang Ia merasa bersalah sudah membohongi suaminya.


“Kenapa kamu bohong? Sudah berapa kali dia menghampiri kamu? Hmm?”


“Baru sekali, kemarin,”


“Oh benarkah? Apa aku bisa mempercayai kamu, Sayang?”


“Iya, aku serius. Baru sekali ketemu,”


“Apa yang dia lakukan padamu, Angel? Jawab jujur, dia menyakiti tanganmu, lalu apalagi?” Tanya Andrean sembari meraih wajah Angel dan menatap Angel dengan dalam. Ia meminta Angel untuk jujur. Dan Ia berharap tidak ada yang ditutupi lagi oleh Angel.


“Tidak ada. Dia mau bicara dengan aku, dan tidak sengaja menarik tanganku. Jadi ya…seperti kemarin. Tangaku merah, tapi tidak sakit, kamu tenang saja,” ujar Angel seraya tersenyum. Angel ingin suaminya tenang saja, tidak cemas dengan keadaannya lagi.


“Benarkah?”


Angel menganggukkan kepalanya dengan yakin. Andrean mengangkat salah satu alisnya kurang yakin.


“Astaga, aku serius, Ean. Kakak tidak menyakitiku. Kemarin hanya tidak sengaja saja menatik tanganku jadinya merah sedikit tapi sebenarnya tidak sakit. Dan dia tidak menyakiti aku sedikitpun,”


Andrean menganggukkan kepalanya. Lalu Ia mengusap puncak rambut istrinya dengan lembut tak lupa menyematkan satu kecupan di kening Angel.


“Okay, Sayang. Aku bernagkat bekerja, nanti kabari aku kalau kamu sudah mau pulang, dan jangan lupa beritahu aku kalau memang ada yang menyakiti kamu,”


“Iya, tenang,”


Angel segera melangkah masuk ke kafe, setelah Angel tidak terlihat lagi, barulah Andrean masuk ke dalam mobilnya. Sebelum Ia melajukan mobil, Andrean meraih ponselnya di saku.


“Mom, tau dimana keberadaan Gesty atau ayahnya?”


Andrean akan mengambil tindakan sekarang. Kalau dibiarkan, Gesty dan ayahnya bisa semakin kejam pada Angel. Seenaknya saja mereka datang mengusik hidup Angel disaat hidup Angel sekarang tenang dan bahagia bersamanya.


“Memang ada apa, Ean? Kamu ada perlu apa dengan mereka?”


“Aku harus bicara sama mereka secara langsung, Mom. Supaya mereka tidak mengganggu istriku lagi. Mereka sudah keterlaluan. Gesty baru saja menyakiti fisik Angel. Dia sampai datang ke tempat kerja Angel, dan menyakiti Angel. Sampai temannya Angels aja tau, artinya dia melakukan itu di depan unum. Selain sakit, pasti Angel juga maly, Mom. Aku kasihan padanya,”


Terdengar helaan napas pelan dari Lovi. Pantas saja Andrean menghubunginya lalu bertanya soal ayah dan juga kakak Angel. Ternyata memang ada maksud.


“Mommy rasa masih tinggal di rumah yang sama, coba kamu datang ke sana,”


“Okay, Mom. Terimakasih informasinya. Semoga mereka belum kemana-mana, maish tinggal di rumah yang sebelumnya,”


“Mau pindah kemana mereka? Rumah mereka hanya disitu yang Mommy tau,”


“Okay, aku akan langsung datang,”


Sambungan telepon mereka berakhir. Andrean langsung menyimpan ponsel ke dalam saku celananya setelah itu melajukan mobil ke rumah dimana Angel tinggal sebelum menjadi bagian dari hidupnya.


*******


“Kamu kalau bekerja, jangan cemberut. Jadi pekerjaan tidak bisa benar-benar dinikmati,”


Gesty merotasikan bola matanya mendnegar salah satu temannya bekerja menegur. Alasan dia tidak tersenyum tentu ada. Ia memang tidak bisa menikmati pekerjaan yang sedang Ia lakoni sekarang. Ia tidak terbiasa kerja, lebih biasa langsung menerima hasil. Tapi ayahnya malah memaksa Ia untuk bekerja.


“Ini senua gara-gara ayah. Aku akan disamakan omeh Angel sepertinya. Huh, tidak akan bisa! Angel adalah anak bodoh sialan! Sementara aku ini tidak pantas disama-samakan dengan dia. Masa aku diauruh kerja? Disuruh cari uang? Sementara ayah enak-enakan di rumah,” batin Gesty sambil mencuci alat pel dengan gerakan kasar dan itu mengundang perhatian temannya yang sedang mengepel.


“Hei Gesty, kamu kenapa sih? Kalau bekerja itu harus hati-hati, dan harus dengan perasaan. Jangan kasar, nanti ditegur baru tau rasa,”


“Kamu bisa diam tidak?! Aku tidak suka dengan orang yang terlalu banyak ikut campur! Terserah aku mau kerja bagaimana!”


Teman Gesty yang bernama Nara itu geleng-geleng kepala. Sungguh, Nara dibuat heran dengan pola pikir Gesty yang kelakuannya seperti seseorang yang tidak butuh pendapatan.


“Kamu itu oekerja di sini, jadi harus jaga sikap. Kamu butuh uang ‘kan? Sama, aku juga butuh. Jadi bekerja lah dengan baik, jaga sikap, jaangan seolah-olah kamu itu tidak butuh uang!”


Gesty mendengus dan kalau tidak ingat sekarang lagi dimana, Ia sudah pasti akan melempari Nara dengan alat pel yang sekarang ada di tangannya.


“Nara berisik! Aku membencimu,”


“Apa? Membenci aku? Helo, harusnya aku yang bicara seperti itu. Karena apa? Kamu memang pantas dibenci, pantas tidak disukai. Anak baru tapi kelakuannya seperti senior. Hei dengar ya, senior di sini saja tidak ada yang sesombong kamu. Mereka memperlakukan yang lebih baru dengan baik. Sementara kamu apa? Hati-hati, oranh yang seperti kamu, biasanya tidak lama kemudian akan dapat balasan,”


Inilah yang tidak akan Gesty dapatkan kalau di rumah. Kalau di rumah, Gesty mau marah-marah juga tidak masalah. Adiknya akan diam saja dan patuh akan semua kata-katanya. Sementara kalau di tempat kerja, Ia yang harus ada di posisi Angel, apalagi Ia baru masuk. Tapi sulit sekali karena Ia sudah terbiasa untuk bertingkahlaku seenaknya.


“Kamu pasti akan melaporkan aku kepada atasan kita ‘kan? Supaya aku dipecat,”


“Untuk apa aku laporan? Tanpa dilapor juga pasti akan ketahuan bagaimana jeleknya sikap kamu. Aku sarankan untuk diam saja di rumah daripada bekerja. Atau cari pekerjaan yang lain. Karena kalau kamu terlalu lama di sini, takutnya jadi racun untuk orang-orang yang serius mau mencari uang untuk keluarga,”


********


Andrean telah tiba di depan sebuah rumah dan tanoa menunggu waktu lama Ia keluar dari mobilnya untuk menemui dua orang yang benar-benar membuatnya geram karena kelakuan mereka terhadap Angel.


Andrean membuka pagar rumah, dan berjalan mendekati pintu. Ia ketuk beberapa kali pintu rumah itu dengan sopan namun tak ada jawaban.


“Halo permisi,”


Andrean tak hanya mengetuk saja tapi juga bersuara supaya orang di dalam keluar mau menemuinya.


“Tolong keluar sebentar, saya mau bicara,” ujar Andrean sekali lagi.

__ADS_1


Andrean terus mengetuk pintu sampai kemudian pintu itu dibuka oleh seorang laki-laki yang kebetulan memang salah satu dari incaran Andrean.


“Selamat pagi,”


“Oh Andrean, ada apa datang ke sini? Tidak bersama Angel?”


Andrean tersenyum miring mendengar pertanyaan ayahnya Angel yang saat ini mengedarkan pandangan memcari Angel.


“Untuk apa mencari Angel? Mau disakiti? Mau ditekan mentalnya? Mau dibuat menangis? Iya, Tuan?” Tanya Andrean dengan suara yang datar, dan wajah dingin ciri khasnya.


“Bicara apa kamu?”


“Saya minta, jangan ganggu istri saya lagi. Dalam bentuk apapun gangguan kalian, entah itu pesan, telepon, atau mendatangi Angel secara langsung, aku minta hentikan! Sudah cukup Angel mengabdi pada kalian, jangan tuntut dia untuk menjadi anak yang baik terus sementara kalian tidak pernah baik kepadanya, okay? Saya mohon sekali lagi, jangan usik istri saya. Dia punya hak untuk hidup bahagia, hidup tenang, dan kalau kalian tidak bisa memberikan itu untuknya, maka biarkan saya yang memberikannya,”


Andrean berusaha untuk tetap sopan. Supaya tidak terjadi adu mulut sekarang. Dan Ia masih menghargai lelaki di depannya ini karena dia adalah ayah dari istrinya.


“Saya tidak mau lagi kalian berbuat ulah, paham?”


“Hei, kamu bicara pada siapa sekarang? Hmm? Apa hak kamu untuk melarang daya? Angel anak saya! Kamu tidak berhak menjauhkan kami. Dan apa yang tadi kamu katakan? Berhenti menuntut dia jadi anak yang baik? Itu lewajiban dia sebagai anak!”


“Ya, dan apa Tuan lupa kewajiban Tuan apa kepada Angel? Hmm? Me jadi ayah yang baik ‘kan? Apa Tuan sudah melakukannya? Jangan hanya menuntut Angel, coba berkaca dulu. Cari tau dulu diri sendiri sudah baik atau belum kepada anak,”


“Sialan! Jaga mulutmu!”


Andrean langsung menghindar ketika ayahnya Angel akan mendaratkan satu pukulan di wajahnya. Setelah berhasil memghindar, Andrean tersenyum sinis.


“Diperingatkan baik-baik, malah seperti ini reaksi anda. Aku heran, kenapa ada manusia seperti anda di dunia ini. Anaknya sudah sangat menyayangi, sudah berusaha untuk menjadi anak yang baik, berusaha untuk tanggung jawab, tapi malah dibalas dengan kejahatan. Benar-benar ayah yang keterlaluan,”


Setelah bicara seperti itu, Andrean pamit pergi. Buang-buang waktu bertengkar dengan orang yang tidak bisa merasakan kasih sayang dan melihat tanggung jawab anak. Apa yang diterima dari anak tak pernah dihargai dengan rasa syukur. Yang ada justru menuntut lebih dan lebih.


“Andrean! Saya belum selesai bicara,”


“Tapi aku sudah, dan aku tidak mau membuang waktu terlalu lama di sini,” sahut Andrean sesaat sebelum Ia membuka pagar rumah dan keluar.


“Aku minta, jangan ganggu istriku lagi!”


Sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil, Andrean menyempatkan dirinya untuk berseru, mengingatkan ayahnya Angel zekali lagi. Andrean berharap kata-katanya tadi sampai juga ke telinga Gesty. Karena ayah dan anak itu sama saja. Benar-benar ingin membuat Angel gila karena tekanan yang mereka berikan.


“Angel pasti sudah laporan hal yang tidak-tidak pada suaminya. Anak itu memang kurang ajar. Bisa jadi dia juga yang menyuruh Andrean datang ke sini untuk bicara denganku,”


*******


“Adera, lain kalau kakak aku datang ke sini lagi, dan dia melakukan sesuatu, jangan katakan pada siapapun ya, apalagi suamiku,”


“Huh? Memang kenapa? Tidak boleh ya? Tapi ‘kan dia suamimu, dia berhak tau apa yang sudah dilakukan orang lain terhadapmu dengan rasa teganya,”


Angel menghembuskan napas kasar. Adera tidak tahu saja kalau Andrean sudah mulai kecewa dan bahkan mungkin bisa dibilang membenci Gesty maupun ayahnya. Kalau Andrean tahu perilaku mereka masih juga belum berubah, Angel khawatir Andrean semakin kecewa, semakin benci, dan semakin ingin Ia jaga jarak dengan ayah juga kakaknya.


“Intinya jangan cerita pada siapapun ya, tentang kejadian apapun yang aku alami di sini,”


“Kamu jangan terlalu sering menutupi. Nanti suamimu bisa kecewa, Angel. Biar saja dia tau, karena kamu ‘kan istrinya,”


“Iya tapi aku tidak mau—“


“Baiklah, akan aku turuti permintaan kamu,”


******


“Auris, nanti malam mau makan malam denganku tidak? Aku jemput, aku akan izin dulu dengan orangtuamu,”


Auristella mengerjapkan kedua matanya kaget mendnegar ajakan Revano. Sebentar, Revano yakin mau mengajaknya makan malam? Izin dengan orangtuanya? Beruntung orangtuanya sedang ada pekerjaan di luar megeri. Coba kalau ada, pagarnya bertambah. Kalau tidak ada Lovi dan Devan alias orangtuanya, otomatis lagar cuma Andrean dan juga Adrian. Kalau ada orangtua, artinya Revano harus melewati empat pagar sekaligus.


Tapi walaupun cuma dua pagar yang ada sekarang, tetap saja sulitnya tidak main-main. Andrean maupun Adrian tidak akan semudah itu mengizinkan Angel pergi dengan seorang laki-laki, yang belum lama dikenalnya, ditambah lagi malam hari.


“Hmm, tidak dulu ya. Karena Mommy dan Daddy lagi tidak ada di rumah,”


“Lalu yang di rumah siapa?”


“Kakak-kakak aku saja, Revano,”


“Ya sudah kalau begitu aku coba izin pada mereka, kira-kira kamu keberatan atau tidak?”


“Hah? Kamu serius? Berani memangnya?”


Revano terkekeh mendengar pertanyaan Auristella. Ia tentu saja berani. Memang apa yang harus Ia takuti? Ia hanya ingin izin mengajak Auristella makan berdua di luar. Kalau memang tidak mendapatkan izin, Ia tidak masalah.


“Kedua kakak ku semuanya galak, asal kamu tau,”


“Tidak masalah, aku tidak akan membawa kamu lari atau kabur. Jadi aku yakin mereka tidak akan segalak itu,”


“Tapi ‘kan kamu mau izin pada mereka, pasti mereka akan galak padamu. Karena mereka menganggap kamu sudah lancang mengajak aku pergi,”


“Aku hanya meminta izin, Auris. Kalau memang mereka tidak izinkan, ya tidak apa-apa,”


Auristella mengangkat salah satu alisnya. Revano kelihatan seberani itu mau datang ke rumah untuk minta izin supaya bisa pergi dengan Auristella. Tapi kalau seandainya tidak diizinkan, Revano kelihatannya menerima sekali. Entah nanti kalau sudah di rumahnya. Apa nyalinya akan sebesar sekarang? Apa hatinya seikhlas sekarang ketika mendapat penolakan dari Andrean dan Adrian.


“Benarkah? Kamu tidak akan kecewa?”


“Tidak, aku tidak akan kecewa,”


“Wah, untuk sekarang, aku acungi jempol untuk keneranian kamu. Tapi di rumahku nanti entah kamu akan sebesar ini nyalinya atau justru berubah jadi menciut,”


Revano tertawa mendengar Auristella yang meragukan nyalinya. Ia akan datang ke rumah Auristella sekaligus ingin mengenal bagaimana sosok keluarga Auristella. Kalau dari ceritanya Auristella, sepertinya Auristella ini begitu disayang oleh keluarganya.


“Hati-hati, kedua kakaku galak sekali. Seperti buaya kelaparan,”


“Mereka galak kalau adiknya disakiti ‘kan? Nah, aku tidak ada niat untuk membuat kamu terluka, atau tersakiti, Auris,”


Revano tersenyum menatap Auristella. Senyum yang tulus itu membuat Auristella langsung mengalihkan pandangannya.


********


Di pukul dua belas siang, Angel sudah bersiap untuk meninggalkan pekerjaannya sejenak. Perutnya sudah lapar, dan kerongkongannya juga kering. Ia butuh asupan makan dan minum sekarang.


Angel akan bergegas ke dapur untuk membersihkan tangannya sebelum mengambil bekal makan siang yang sudah Ia siapkan tadi pagi yaitu roti bakar.


Tapi tiba-tiba ada yang menghampirinya di dapur dan itu adalah Adera. Temannya itu membawa suatu informasi.

__ADS_1


“Ada suamimu, Angel,”


“Benarkah? Dia mencariku?”


“Iya, dia datang ke sini dan langsung mencari kamu,”


“Okay aku akan hampiri suamiku itu,”


“Ah senangnya didatangi suami pada saat jam makan siang,”


Angel terkekeh mendengar temannya itu menggodanya sambil menjawil dagunya. “Jangan begitu, kamu kalau mau, bisa juga minta untuk didatangi,”


“Suamiku sibuk,”


“Yang benar? Apa kamu yang tidak mau didatangi?”


“Tempat kerjanya jauh, kasian dia kalau harus menghampiri aku di sini. Nanti ‘kan sudah bertemu waktu pulang karena dia menjemput aku,”


“Oh iya, okay aku temui Andrean dulu ya,”


“Okay silahkan, tuan putri yang cantik,”


Angel terkekeh sebelum akhirnya berlalu keluar dari dapur untuk menghampiri suaminya yang duduk di salah satu kursi.


“Hai, tampan,”


Angel langsung menyapa suaminya itu setelah duduk di hadapan Andrean yang tengah menggulir layar ponsel.


Setelah istrinya memghampiri, Andrean tak lagi sibuk dengan ponsel. Andrean justru memadamkan ponselnya hingga layar gelap kemudian Ia menatap Angel sambil tersenyum.


“Bagaimana? Sejauh ini aman?”


“Aman, kenapa bertanya seperti itu?”


“Okay bagus, aku mau makan siang denganmu. Sekalian aku ingin tau apakah kakakny itu datang lagi ke sini atau justru tidak?”


Andrean mendekatkan kepalanya ke arah Angel yang spontan mundur. “Jangan begitu, Ean. Aku jadi gugup diinterogasi olehmu?”


“Kenapa kamu tidak mau aku mendekat? Aku ingin mencium bibirmu tadinya,”


“Hei, ini tempat umum, ingat! Dan di sini lah aku bekerja, Ean. Apa kata yang lain kalau kamu—“


“Ya masalahnya apa? Kamu dicium oleh suamimu sendiri, jadi aku rasa tak ada yang salah dengan itu,”


“Tapi tidak pantas lah. Ini ‘kan tempat aku bekerja,”


“Ya memang pantasnya kamu di rumah, bukan di sini, Angelku,” jawab Andrean dengan raut wajah malas menanggapi ucapan Angel. Karena Angel bekerja di sini, akhirnya ada saja batasan untuk mereka.


“Tadi kamu bilang, kamu mau makan siang bersamaku ya? Okay aku ambil roti punyaku dulu,”


“Sayang, aku juga bawa. ‘Kan kamu yang membekali aku ini. Tapi aku butuh minuman yang dingin. Enaknya menu apa, Sayang?”


“Hmm…terserah kamu. Nanti aku buatkan,”


“Minta tolong yang lain tidak bisa? Biar kamu tidak meninggalkan aku sendirian di sini,”


“Hanya sebentar saja,”


“Ya walaupun sebentar tapi aku inginnya kamu di sini saja,” ujar Andrean sambil mengusap dagu Angel dengan lembut.


“Aku saja yang membuatkannya untuknu, hanya sebentar. Kamu mau apa?”


Andrean mendengus kasar. Ia pikir istrinya akan diam di sini, dan minuman untuknya akan dibuatkan oleh karyawan yang lain tapi ternyata tidak.


“Jus mangga saja, ada tidak?”


“Ada-ada, tunggu sebentar ya,”


Andrean menganggukkan kepalanya membiarkan istrinya beranjak sebentar meninggalkan dirinya untuk membuatkan minuman.


Andrean mengamati sekitar. Sebenarnya suasana di sini tenang, menyenangkan, dan sepertinya hubungan antar karyawan juga bagus. Malah Andrean melihatnya Angel itu diperhatikan. Buktinya tadi ada yang menyapa Angel dan dirinya ketika Ia mengantar Angel. Dan teman Angel itu yang bercerita soal kejadian yang Angel alami sampai akhirnya Ia tidak punya alasan lagi untuk sabar, atau diam saja tanpa mendatangi kediaman Angel dan bicara langsung pada orang yang tidak pernah menghargai istrinya.


“Apa aku buatkan saja kafe untuk Angel ya? Supaya dia bekwrja di tempatnya sendiri, dan aku lebih mudah memastikannya aman. Aku akan memposisikan kafe itu di dekat kantorku, atau bahkan didekat rumah,”


Entah kenapa tiba-tiba Andrean kepikiran ingin membuatkan kafe supaya Istrinya tidak perlu lagi ke kafe ini. Kalau Angel punya kafe sendjri, oromatis bisa lebih bebas. Tidak harus bernagkat pagi-pagi, tidak harus kelelahan karena akan ada pegawai nantinya. Dan yang paling penting adalah, Andrean bisa memastikan Angel aman. Andrean akan meminta tolong orang untuk menjadi mata-mata Angel. Andrean akan mencari lokaso yang dekat dengan kantor atau rumah sebagai tempat dibuatnya kafe tersebut.


“Nah, ini minumannya sudah jadi,”


“Terimakasih, Angelku,”


“Iya sama-sama,”


“Itu minumanmu apa namanya?”


“Aku mau jus melon, kamu kalau mau coba punyaku boleh, silahkan,”


“Tidak, aku lebih ingin jus mangga,”


“Okay, ayo kita makan. Aku sebentar lagi harus kembali bekerja,”


Andrean menghembuskan napas pelan. Ini yang membuat Ia jadi semakin ingin membuatkan kafe untuk istrinya berkarir. Kalau di kafe sendiri, Angel bebas mau duduk berapa lama, mau datang kapan. Karena ada pegawai yang bisa menghandel. Tapi kalau bekerja di kafe milik orang lain, tentu Angel sebagai pegawai lah yang diandalkan.


Andrean menikmati roti bakar yang dibuat istrinya dengan lahap, begitupun Angel yang senang sekali melihat suaminya selalu saja kelihatan menikmati apapun yang Ia buat. Itu tanda bahwa Andrean menghargainya terlepas dari enak atau tidaknya makanan yang Ia buat.


“Maaf ya aku hanya bisa membekalimu roti bakar saja,”


“Tidak masalah, Sayang. Aku menyukainya,”


“Aku bangun siang tadi,”


“Ya karena aku juga,” jawab Andrean sambil mengangkat salah satu alisnya dan terkekeh pelan. Angel ******* bibirnya gugup. Diingatkan penyebab kesiangan, Angel jadi salah tingkah.


“Kita pulang ya habis ini,”


“Hah? Pulang? Tidak mungkinlah, Ean. Aku masih harus lanjut kerja sampai nanti sore. Kamu bisa memjemput aku atau tidak? Kalau tidak bisa, tidak masalah, Ean. Aku pulang sendiri saja nanti,”


“Pulang sendiri? Tidak akan aku biarkan, Angel. Aku khawatir, apalagi disaat kamu masih jadi incaran mereka,”

__ADS_1


__ADS_2