Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 195


__ADS_3

Dentingan sendok memenuhi ruang makan. Semalam Andrean berhasil memboyong keluarga kecil beserta baby sitter ke rumah megah yang baru dibangunnya.


Angel dan kedua anaknya tidur sangat lelap membuat Andrean bahagia. Sepertinya tempat tinggal mereka saat ini membawa kenyamanan tersendiri untuk mereka.


"Kalau aku bekerja di butik boleh?"


"Butik?"


"Ya, aku akan mendatangi rumah teman lamaku untuk meminta pekerjaan di butiknya,"


Andrean menggeleng tidak setuju. Ia meletakkan sendok dan garpunya lalu menatap angel dengan lurus.


"Kamu tidak perlu melakukan itu, Sayang."


"Tapi aku ingin bekerja, Ean."


"Uang suamimu----"


"Bukan masalah uang. Aku hanya ingin mendapatkan pengalaman," angel memotong ucapan suaminya. Ia tahu kalau Andrean akan kembali menyombongkan dirinya.


Andrean meneguk air minumnya dengan pelan. Sementara angel menunggu harap-harap cemas jawaban suaminya.


"Ean..."


"Aku akan menyiapkan butik untukmu. Kamu akan bekerja di butik itu sebagai pemilik bukan karyawan! karena aku benci bila istriku diperintah oleh orang lain, aku setuju kamu memiliki butik, berhubung kamu tidak aku izinkan memegang kafe lagi,” putusnya dengan tegas. Wajahnya datar ketika angel ingin menjawabnya.


"Butik itu milikmu, angel. Sehingga kamu bebas untuk menentukan jam kerjanya. Tujuanku melakukan ini karena aku tidak ingin waktumu untuk aku dan anak-anak kita menjadi berkurang,"


Angel menunduk berusaha berpikir jernih. Andrean melakukannya tanpa pikir panjang. Semudah itu membuat butik?


"Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak ingin keluarga kita menjadi kurang harmonis. Butik itu milikmu, jadi jangan pernah takut untuk meninggalkan pekerjaan demi aku, Lion, dan Lia,"


"Iya, aku akan..."


"Kamu milik kami. Bukan pekerjaan itu yang berkuasa atas kamu,"


"Iya, Sayang. Aku mengerti, tidak perlu diulang begitu. Kamu membuatku merinding," jawab angel dengan raut kesal yang menggemaskan.


Andrean menyelesaikan sarapannya. Lalu memundurkan kursinya untuk segera bangkit mengecup kedua kening anaknya.


Serry menunduk hormat saat andrean memberinya perintah seperti biasa. Selalu berkaitan dengan angel dan kedua anak kecil itu. Ia harus menjaga ketiga orang yang sangat berarti dalam hidup Andrean bersama dengan beberapa penjaga yang lain.


Angel mengantarkan Andrean sampai di basement. Ia mengalungkan kedua lengannya di leher Andrean lalu mengecup wajah lelaki itu.


"Hati-hati, ya. Dan terimakasih sudah mengizinkan aku untuk bekerja,"


Dengan kerlingan menawannya angel berhasil membuat Andrean tersenyum. Ia rela melakukan apapun demi hadirnya kebahagiaan angel seperti saat ini yang tergambar dengan jelas di wajah istrinya itu.


"Jangan lupakan semua pesanku. Mungkin besok atau lusa kamu sudah bisa bekerja,"


Angel tidak bisa menahan pekik bahagianya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau andrean akan dengan mudah memenuhi keinginannya. Ia rasa syarat dari Andrean tidaklah berat untuk Ia lakukan. Lagipula semua pekerjaan itu tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan keluarga kecilnya.


"Aku juga akan membuatkanmu restoran. Kamu suka makan, jadi aku anggap itu bisa dijadikan sebagai ide usaha, di kafe itu kamu terlalu sibuk semoga di restoran ini tidak ya, kamu suka makan jadi tidak salah kalau aku buatkan restoran kan?”


Kalimat terakhirnya membuat Andrean merajuk. Ia mendorong bahu suaminya yang kini tertawa lepas.


"Aku hanya mencairkan suasana, Sayang." ujar Andrean seraya meraih pinggang angel yang tadi sempat menjauh. Lelaki itu mengecup kening istrinya.


"Aku berangkat, ya. Hati-hati di rumah, jangan macam-macam dan jaga anakku!"


"Iya! mereka juga anakku. Tidak perlu kamu beri tahu, aku juga sudah mengerti tugasku sebagai Ibu,"


Angel bersedekap dada. Andrean menggeram gemas. Ia mendekatkan bibirnya ke wajah angel lalu meraih kulit putih mulus itu untuk digigitnya.


Angel menghapus rasa basah di wajahnya. Ia mendorong wajah Andrean yang masih melancarkan aksinya.


"Menggelikan! cepatlah kamu pergi. Jangan lama-lama bermain drama denganku,"


"Menggelikan tapi setiap malam selalu mencari ini,"


Telunjuk Andrean menunjuk bibirnya sendiri. Angel tak bisa lagi menahan semburat merah di wajahnya yang memaksa untuk timbul ke permukaan. Kebiasaannya akhir-akhir ini memang selalu ingin dicium oleh Andrean sampai Ia tertidur. Andrean kadang lelah.


Bagaimana tidak lelah? bila Ia berhenti sebentar mengecup wajah angel, maka istrinya itu akan bangun dan merengek layaknya anak kecil.


**********


"Aku akan mencari sayuran, Serry. Kamu bisa menjaga mereka di sana,"


Setelah menunjuk sebuah kursi berwarna perak yang bentuknya memanjang, angel beranjak pergi menelusuri rak-rak supermarket bersama dengan Netta asistennya yang lain.


Serry mendorong stroller kedua anak kembar yang diasuhnya ke arah kursi yang dimaksud angel. Hari ini adalah jadwal mereka untuk berbelanja bulanan. Angel adalah perempuan yang tidak mudah untuk menyerahkan segala tugas rumah tangga pada pelayannya.


Berbelanja kebutuhan bulanan adalah salah satu hal yang tidak pernah Ia lewatkan. Seperti biasa, Lovi akan membawa serta Serry dan Netta untuk ikut dengannya. Selain untuk membantu Ia dalam membawa segala belanjaan, angel rasa mereka juga perlu keluar sejenak dari rumah, melihat-lihat lingkungan di luar agar tidak jenuh bekerja.


"Netta, tinggi badanku benar-benar memalukan," keluhan angel membuat Netta tertawa. Mengerti akan ucapan yang keluar dari mulut angel, Netta langsung mengangkat tangannya untuk meraih sayuran hijau brokoli kesukaan Axelion.


"Aku tidak bisa membayangkan kalau kamu tidak ikut. Siapa yang menjadi penyambung tangan pendekku ini?"


Netta menggeleng pelan dengan tawa yang masih terdengar. Kelakar angel terasa menggelitik perutnya.


"Jangan lupa membeli wortel, Nona. Kesukaan Si bungsu jangan sampai dilupakan,"

__ADS_1


Angel menjentikkan jarinya seraya mengangguk. Sedari tadi otaknya sudah berpikir apa lagi yang kira-kira masih belum Ia ambil.


"Lia suka wortel baru-baru ini. Jadi aku belum terlalu ingat,"


Netta membenarkan. Pada saat bayi, anak bungsu itu bahkan sangat membenci sayuran berwarna oranye tersebut. Bila angel memberikannya wortel, maka axelia tidak segan untuk mengeluarkannya dari mulut. Dalam hal makanan, anak itu lebih pemilih dibandingkan dengan kakaknya.


Angel memastikan isi troli. Ia yakin kalau semuanya sudah Ia ambil. Dan sekarang angel berjalan ke arah kasir untuk membayarnya.


Khasiat tersenyum menyambut kartu dari tangan angel. Melihat penampilan sederhana perempuan di hadapannya, kasir tersebut tidak menyangka kalau di dalam dompet angel terdapat kartu yang biasa dimiliki oleh orang-orang yang sangat berada.


***********


"Kalian mau yang mana?"


Angel menunduk untuk menatap kedua anaknya di dalam stroller. Saat ini mereka sedang berada di depan sebuah lemari kaca toko donat yang tak jauh dari supermarket tempat mereka berbelanja tadi.


"Matcha, Mommy."


"Lia mau coklat,"


Walaupun mereka mengatakannya belum terlalu jelas, tapi angel mengerti. Ia langsung memesan donat pada pelayan sesuai keinginan anak-anaknya.


Setelah memberi tahu pesanannya untuk di makan di tempat, dan juga untuk dibawa pulang ke rumah, angel kembali membawa mereka untuk duduk di salah satu sudut toko. Angel memilih tempat yang tidak terlalu panas agar kedua anaknya nyaman. Hari yang mulai beranjak siang, menjadikan teriknya matahari sangat menyengat. Kedua anak nya itu akan merengek saat sinar matahari menusuk mata mereka.


"Tunggu sebentar ya Serry dan Netta. Pesananan kita sedang di siapkan," ucapnya ketika duduk di sebelah Netta. Sementara Serry langsung mendekat pada kedua anak angel.


"Ya, Nona." Netta menjawabnya.


Beberapa menit mereka lewati dalam diam. Sampai akhirnya beberapa piring kecil dan kotak besar berisi donat untuk pekerja lain di rumah pun tiba di meja mereka.


"Silakan, Nona."


"Angel?"


"Hm?"


Angel langsung menoleh terkejut saat pelayan lelaki itu memanggilnya. Ia mengernyit dalam.


"Hm maaf, Nona. Aku pikir, anda adalah temanku dulu,"


Angel masih diam tidak mengerti. Sampai akhirnya lelaki itu kembali berkata,


"Anda mirip dengan temanku yang bernama angel,"


"Namaku angel. Tapi aku tidak merasa memiliki teman seperti kamu,"


Mereka saling menatap. Pelayan tersebut tidak bisa lagi menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Tidak masalah. Tapi aku langsung berpikir tentang ucapanmu sambil mengingat-ingat masa laluku lagi,"


Angel mengatakannya dengan tawa kecil yang terdengar sangat akrab. Ia seperti sudah mengenal lama pelayan lelaki itu. Netta dan Sery menatap interaksi mereka aneh.


"Temanku menghilang sudah lama, Nona. Tidak mungkin kalau dia adalah anda,"


"Mungkin saja. Tapi jujur aku tidak ingat akan hal itu. Kalau memang benar, aku senang bisa bertemu dengan temanku,"


"Namaku Fifdy. Mungkin dengan mengetahui namaku, bisa membantu Anda dalam mengingat pertemanan kita. Aku berharap kalau temanku benar-benar telah kembali,"


Tangan mereka saling terjalin. Lelaki itu benar-benar memperkenalkan dirinya dengan senyum hangat. Ia merasa bahagia bisa bertemu dengan seorang perempuan berkelas tinggi yang sangat ramah dan mirip dengan teman lamanya. Semoga saja perempuan yang baru saja menjauhkan tangannya itu benar-benar angel, teman semasa remajanya yang sudah lama tak ada kabar.


"Sikap kalian sangat mirip. Membuat aku berharap kalau Anda memang teman lamaku,"


“Mungkin ya? Karena pekerjaanku dulu memang bekerja di restoran, kafe, toko, sebagai pelayan tapi jujur aku lupa denganmu,”


*********


Angel berjalan cepat ke arah jendela yang berada di kamar anak-anaknya. Di sana Ia melihat mobil Andrean yang baru keluar dari mansion. Gerbang pun ditutup oleh bagian keamanan, dan angel bisa menghela napas lega.


Ia kembali mendekati axelion dan axelia. Mereka tampak begitu cemas dalam tidurnya. Bibir mungil keduanya tampak meringis seolah menahan kesakitan.


Awalnya angel diam. Ia kira, axelion dan adiknya hanya sedang bermimpi. Namun ketika melihat keringat mulai mengaliri dahi mereka, angel tidak bisa lagi menahan rasa khawatirnya.


Perempuan itu langsung berusaha untuk membangunkan anak-anaknya.


"Lipn, bangun sayang! apa yang kamu rasakan?"


Si sulung itu terlihat lebih parah kondisinya dibandingkan dengan sang adik.


"SERRY! SERRY CEPAT KEMARI!" teriakan yang memekakkan telinga berhasil membuat beberapa pelayan menghampiri sumber suara.


"Dimana Serry?" tanya angel ketika tidak melihat keberadaan Serry diantara pelayan-pelayan tersebut.


"Saya di sini, Nona." suara Serry menghampiri mereka. Wanita itu tampak tersengal ketika memasuki kamar tersebut.


"Bantu aku untuk membawa mereka ke rumah sakit,"


Angel sudah menangis. Dan membawa Axelion dalam gendongannya. Ia terlampau panik sampai membentak Serry.


"Cepat bawa Lia!"


"Ba--baik, Nona."

__ADS_1


Netta yang tahu akan tugasnya pun langsung bergegas ke lemari. Ia akan mempersiapkan beberapa pakaian kedua anak itu yang mungkin diperlukan.


"Tidak perlu melakukan itu, Netta. Semoga mereka tidak menginap di rumah sakit. Kami hanya sebentar,"


Ucapan tegas angel mampu membuat Netta mengangguk patuh. Ia kembali memasukkan dua helai pakaian milik axelion dan juga adiknya ke dalam lemari.


"Aku akan menghubungi Tuan, Nona."


Angel langsung menggeleng ditengah rasa paniknya yang tak kunjung berhasil memasang alat untuk menggendong axelion.


"Tidak perlu. Maksudku nanti saja diberitahu,"


Setelah berhasil menggendong putra sulungnya dengan baik, angel langsung menuruni lantai atas mansion diikuti Serry di belakangnya. Pelayan yang kini merangkap sebagai baby sitter itu pun sama khawatirnya. Bila axelion dan axelia sakit, mereka tidak sampai membuat seluruh isi mansion panik seperti ini.


Di dalam mobil angel terus berdoa pada Tuhan. Terdengar gemelutuk gigi yang beradu dari mulut keduanya. Keringat dingin pun selalu membanjiri dahi mereka.


*********


"Apa aku baru saja bermimpi?" seru Daniel dengan riuhnya saat melihat kehadiran Andrean. Wajahnya berseri begitu melihat Andrean yang berjalan mendekatinya dengan raut datar.


Ketika sampai di sampingnya, Andrean langsung duduk.


"Hei, itu tempatku!"


Andrean tersenyum miring ketika salah satu temannya berlagak mengusir.


"Kau berani mengusir pemilik kelab ini?" tanya Andrean dengan pandangan menantang yang membuat siapa saja merinding.


Dirta tertawa ketika ucapannya dianggap serius oleh Andrean. Ia hanya mencairkan suasana.


Dirta menepuk bahu Andrean.


"Serius sekali kau ini. Aku hanya bergurau,"


Kalau suasana hati Devan sedang dalam kondisi baik, mungkin Ia akan dengan senang hati menimpali candaan tersebut.


"Berubah pikiran? katanya tidak mau hadir. Apakah sesi percintaan panas kau dengan angel sudah selesai?" tanya Daniel yang terdengar menyindir Andrean. Beberapa waktu yang lalu Andrean menolak undangannya tanpa basa-basi. Dan sekarang, kenapa Ia melihat batang hidung Andrean?


"Secepat itu berubah pikiran?"


Seolah belum puas menyudutkan lelaki dua anak itu, Daniel kembali bertanya.


"Sialan kau! bisa tidak mengungkit hal itu? aku muak mendengarnya,"


Ucapan andrean mau tak mau membuat semua teman-temannya tertawa. Sepertinya lelaki itu memang benar-benar tertutup dalam hal ini. Baiklah, mereka tidak akan memaksa Andrean untuk mengungkapkan alasan kehadirannya yang tiba-tiba seperti saat ini.


"Aku rasa kedatanganmu dilatar belakangi oleh rasa tidak puas atas pelayanan angel,"


Daniel kembali menggoda Lelaki yang wajahnya sedang kusut itu. Daniel mengedipkan matanya setelah menggambarkan sesuatu yang diucapkannya.


Ketika menyebut nama Istri Andrean, Daniel sengaja membuat mimik wajahnya seaneh mungkin. Tujuannya agar Andrean marah.


"Jangan menyebut istriku dengan pandangan menjijikan begitu, brengsek!”


Benar saja, Andrean memang selalu emosi bila Istrinya dijadikan bahan imajinasi atau candaan.


Tawa kembali memenuhi hingar bingar pesta tersebut. Seluruh pasang mata beralih fokus pada sekumpulan lelaki tampan dan tajir itu. Selain Daniel, Andrean, dan Dirta, masih banyak lagi sosok lelaki yang berhasil mencuri perhatian para gadis-gadis liar yang sedang berdansa mengikuti sentakan musik.


"Lihatlah mata mereka, Andrean. Tidak ingin mencoba salah satunya?"


Daniel mencoba memberikan penawaran. Ia yakin tanpa persetujuan dari semua gadis itu pun, mereka pasti mau bila harus menghabiskan satu malam dengan Andrean.


Sekarang, daniel akan mengetahui seberapa besar rasa cinta Andrean pada angel.


"Kau bekerja sama dengan mereka?"


Tebakan Andrean membuat Daniel tertawa. Tidak ada kerja sama sebenarnya. Kalaupun Andrean menginginkan mereka, tidak ada sedikitpun nominal yang akan diambilnya.


Daniel menginginkan bisnis halal, begitu katanya. Ketika mengatakan itu, mungkin dia melupakan segala perusahaan senjata api dan minuman anggur berkadar alkohol sangat tinggi yang telah dibangunnya.


"Kau berani menarik salah satu dari mereka?"


"WOW!! APA AKU TIDAK SALAH DENGAR?!"


"Ingatlah istrimu di rumah, Andrean."


"Si kembar tidak menginginkan Daddynya seperti ini,"


Bujuk rayu yang dikeluarkan teman-temannya membuat Andrean tersenyum. Kenapa mereka semua terlihat panik? memangnya kesalahan apa yang sebentar lagi akan Ia lakukan?


"Angel tidak akan marah kalau aku hanya sedikit nakal," dengan senyum miring, matanya menatap ke depan seolah membayangkan apa yang baru saja Ia ucapkan. Angel bukanlah perempuan yang terlalu mempermasalahkan hal kecil, bukan?


Hanya bersenang-senang sebentar malam ini tidak membuat angel menceraikannya. Andrean yakin akan hal itu.


"Sedikit nakal dalam porsimu itu berbeda. Kau having *** dengan mereka adalah perbuatan yang benar-benar nakal, Andrean!"


"Siapa yang mengatakan kalau aku akan Having *** dengan mereka, Bodoh?! Tenanglah, aku tidak akan bermain terlalu jauh!"


“Gila kau!”


“Bercanda, kalian pikir aku sebodoh itu?” Ujar Andrean dengan wajah datarnya.

__ADS_1


****************


__ADS_2