
“Andrean, kamu kenapa terburu-buru begitu? Ada apa sih?”
Adrian menegur Andrean yang menuruni tangga seperti orang yang sedang sikejar hantu. Bahkan ketika ditanyapun, Andrean tak memberikan jawaban. Entah karena terlalu fokus menuruni anak tangga atau memang Andrean sedang tak bisa diganggu bahkan hanya dengan pertanyaan kecil sekalipun.
Adrian dengan cepat menyusul kakaknya. Niat hati turun ke bawa untuk mengambil makanan dingan sebagai temannya bermain game, ternyata malah dipertemukan dengan Andrean keluar kamar dengan terburu-buru, menuruni tangga pun demikian hingga mengundang rasa penasaran Adrian.
“Dia kenapa sebenarnya? Kelihatan buru-buru sekali,”
Adrian masih terus menyusul langkah kaki kakaknya tak tidak ada santai sedikitpun. Andrean keluar dari rumah dan berjalan menuju pos keamanan rumah. Adrian tentunya semakin bertanya-tanya.
“Aduh, ada apa ini? Jangan-jangan Pak Jo buat kesalahan?” Tebak Adrian yang malah mengarah pada Pak Jo penjaga rumah. Kalau Pak Jo tidak buat kesalahan, tidak mungkin Andrean akan terburu-buru menghampirinya.
“Aku mau tanya sesuatu, tolong jawab jujur ya,” setelah berhadapan dengan Pak Jo, Andrean langsung membuka pembicaraan dengan permintaannya yang ingin Pak Jo jujur menjawab semua pertanyaan yang akan Ia lontarkan.
“Tadi Pak Jo yang terima kiriman untuk Angel?”
“Iya betul, saya yang terima,”
“Dari siapa?”
“Jadi ceritanya begini. Tadi ada yang mengantar kiriman untuk Angel. Saya tanya dari siapa, pengantarnya bilang kalau si pengirim mau identitasnya dirahasiakan. Saya mau kembalikan lagi karena saya khawatir dengan yang dikirim, tapi kurir pengantarnya sudah terlanjur pergi,” Pak Jo menjelaskan dengan sebenar-benarnya. Pak Jo yakin ada yang tidak beres makanya Andrean sampai mendatanginya di pos, dan Andrean bertanya soal asal usul kiriman yang Ia terima tadi.
“Benar Pak Jo tidak tau siapa yang mengirimkan itu untuk Angel?”
“Saya berani sumpah, tidak tau apa-apa, Andrean,”
Andrean memghembuskan napas kasar lalu menganggukkan kepalanya. Ia melihat Pak Jo jujur, terlihat dari sorot mata dan juga ekspresi wajahnya. Lagipula selama ini Andrean tidak pernah mendapati Pak Jo berbohong, Pak Jo juga orang yang baik buktinya dipertahankan oleh sang ayah bertahun-tahun untuk menjaga di kediaman mereka.
“Sebenarnya ada apa, Ean? Kenapa kamu bertanya soal tadi ke Pak Jo? Ada sesuatu yang tidak beres ya? Aku jadi curiga,”
“Iya sama, jantung saya juga degupnya sudah tidak normal lagi ini karena tiba-tiba didatangi Andrean dan ditanya soal paket,”
Andrean menepuk pelan bahu Pak Jo smabil meminta maaf karena sudah membuat Pak Jo khawatir.
“Aku tidak ada niat untuk memarahi Pak Jo. Aku hanya ingin tau sebenarnya siapa orang kurang aja yang mengirimkan paket tadi untuk Angel. Kata kamu tadi, ada yang tidak beres, Ian? Aku jawab ya, bukan tidak beres lagi, tapi ini sudah gila!”
Adrian terperangah medengar cerita dari kakaknya yang kelihatan sedang menahan emosinya sekarang. Pak Jo ikut penasaran seklaigus takut. Tapi bukan takut karena salah, melainkan takut melihat Andrean kelihatan emosi sekali saat ini, walaupun berusaha dibalur dengan wajah tanpa ekspresi, dan suara tanpa nada tinggi.
“Maksudnya bagaimana, Ean? Bisa jelaskan lebih detail lagi? Aku penasaran. Memang apa yang Angel terima tadi?”
“Bangkai!”
“Apa? Bangkai? Kamu serius?”
Tidak hanya Adrian, Pak Jo pun ikut kaget mendengar penjelasan Andrean tentang sesuatu yang diterima oleh Angel tadi dari orang yang identitasnya ingin disembunyikan saja.
“Ya Tuhan, saya minta maaf. Saya tidak tau apa-apa, Andrean,”
“Iya aku tau bukan salah Pak Jo. Terimakasih ya untuk informasinya. Aku masuk lagi ke dalam,” ujar Andrean seraya menepuk sekali bahunya. Kemudian melangkah masuk bersamaan dengan Adrian yang sebenarnya masih penasaran, masih ingin mendengar penjelasan lebih lanjut tapi melihat Andrean masih kalut, Adrian memilih bungkam.
“Ean, yang tenang ya,”
Hanya kalimat itu saja yang bisa Adrian lontarkan kepada kakak satu-satu ya itu. Ia tidak pandai menenangkan, tapi Ia merasa itu harus Ia lakukan dalam kondisi sekarang.
“Aku sudah tenang, tapi Angel masih belum baik-baik saja. Dia kaget sekali diberikan bangkai burung, Ian. Sampai menangis bahkan. Kasihan dia, aku benar-benar tidak tega melihat air matanya turun,”
“Astaga, jadi bangkai burung yang dia terima? Dia masih menangis?”
“Masih, aku dan Auris sudah menenangkannya tapi dia masih saja belum bisa tenang. Dia baru pertama kali ini mendapat teror dan terornya pun tidak tanggung-tanggung. Bangkai yang diberikan untuknya. Ekspektasi dia mungkin hadiah yang cantik, yang bagus, tapi begitu dibuka isinya adalah sesuatu yang menjijikan. Aku paham bagaimana perasaannya,”
Tiba di depan kamar Andrean Adrian mengusap punggung Andrean masih berusaha memberikan ketenangan untuk sang kakak.
“Sekarang kamu temani Angel ya. Semoga dia secepatnya tenang. Yakinkan dia bahwa semua baik-baik saja. Teror itu tidak ada artinya. Kita ‘kan sudah beberapa kali dapat teror baik itu dari saingan Daddy ataupun dari lingkungan kita sendiri, jadi reaksi kita mungkin tidak akan seperti Angel, nah sementara Angel baru pertama kalinya ini ‘kan, jadi pasti dia butuh waktu,”
“Aku yang sudah beberapa kali dapat teror, masih terkejut juga tadi, Ian. Tapi aku tidak bisa menunjukkan kepanikan itu. Karena aku harus menenangkan istriku sendiri,”
“Tepat! Langkah yang kamu ambil itu sudah snagat tepat, Ean. Aku memujimu,”
Andrean masuk ke kamarnya bertepatan dnegan keluarnya Auristella dari kamar sang kakak. Auristella mengisyaratkan Andrean untuk menemani Angel.
“Kamu ngapain di depan pintu kamar Ean?” Tanya Auristella setelah Andrean masuk ke dalam kamarnya.
“Aku kaget dengar berita itu. Kamu juga ada ya waktu kejadian?” Tanya Adrian yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Auristella.
“Lalu bagaimana reaksi kamu?”
“Ya pasti kaget lah, aku saja kaget sekali, apalagi Angel ya. Kita ‘kan sebelumnya sudah pernah diteror juga oleh saingan bisnis Daddy, kamu ingat tidak, Ian? Kita dikirimi ular yang tau-tau ada di depan rumah, dikirimi boneka berdarah, intinya kita sudah pernah lah liat yang seram-seram, nah aku tetap kaget ketika melihat kejadian tadi, apalagi Angel. Coba kamu bayangi jadi Angel,”
Adrian menganggukkan kepalanya. Ia sudah bisa memposisikan dirinya menjadi Angel. Pasti kejadian yang tadi benar-banar tidak pernah diduga oleh Angel, dan mungkin itu adalah kejadian terseram yang pernah Angel terima.
“Siapa sih yang suka lihat hal-hal aneh, seram, menjijikan? Tidak ada! Memang dasar orang tidak punya hati! Tidak punya kegiataan positif jadinya bikin dosa,”
“Tenang-tenang, jangan emosi,”
Adrian merangkul bahu adiknya sambil menepuk-nepuknya lembut. Adrian mencairkan suasana karena Auristella mulai terbawa perasaan.
“Ya bagaimana aku tidak emosi? Yang mancing ada saja,”
“Untungnya Angel tidak pingsan ya? Coba kalau pingsan,”
“Tapi dia menangis histeris tadi, Ian. Aku kasihan melihatnya. Dan Ean langsung menggendongnya ke kamar,”
“Ah sweetnya kakak kita itu ya. Andai aku—“
“Apa?! Kamu mau digendong juga? Sadar diri! Kamu itu berat!“
“Dengar dulu penjelasanku, ikan nemo,” ujar Adrian seraya mencengkram dagu adiknya karena gemas.
“Aku tadinya mau ambil makanan ringan untuk jadi temanku main game tapi karena liat Andrean cepat-cepat jalan turun tangga aku jadi penasaran. Dan akhirnya aku dapat jawaban setelah Andrean tanya ke Pak Jo soal kiriman tadi. Ternyata Pak Jo tidak tau apapun,”
“Iyalah, aku pun percaya Pak Jo. Oh iya, kebetulan Pak Jo berikan kotak itu ke aku, dan aku serahkan pada Angel. Kamu tau tidak, Angel antusias mendapatkan kiriman tadi. Mungkin yang ada dipikiran Angel adalah itu adalah kejutan yang istimewa untuknya tapi ternyata malah bikin dia ketakutan,”
******
“Angel, temani aku menonton siaran langsung sepak bola mau ‘kan?”
Andrean mengusap pipi Angel yang saat ini berbaring miring dan ketika Andrean perhatikan tatapannya kosong. Air mata baru kering, Angel sudah jauh lebih tenang, tapi malah melamun. Andrean tidak akan membiarkan istrinya mengingat kejadian tadi, jadi harus ada pengalihan dan Andrean pikir menonton sepak bola bukanlah pilihan yang buruk. Andrean berharap perhatian Angel bisa teralihkan.
“Sayang, mau ‘kan?”
“Hmm?”
Angel baru terbangun dari lamunan ketika Andrean memeluk Angel dari posisi belakang. Angel langsung menolehkan kepalanya menanggapi suaminya yang sedang menarik perhatiannya.
“Ayo temani aku menonton sepak bola,”
“Okay,”
“Tapi tonton ya, jangan cuma ditatap layar televisinya, sementara pikiran kamu kemana-mana,”
__ADS_1
“Iya,”
“Janji ya, Angel?”
“Iya, Sayang,”
“Hah? Apa? Sayang? Wah, ada keajaiban dunia. Sepertinya kamu belum pernah memanggilku dengan sebutan itu, Sayang,”
“Hahaha aku kelepasan. Kenapa? Kamu tidak suka ya?”
“Justru aku menyukainya. Masa aku saja yang bisa romantis? Padahal kamu ‘kan tau sendiri aku bagaimana. Sementara kamu belum pernah romantis panggilannya untuk aku?”
“Tapi Ean lebih menggemaskan, lebih tepat untuk kamu,”
“Ya sudah terserah kamu saja. Kamu boleh memanggilku dengan berbagai sebutan yang membuatmu nyaman,”
Andrean sudah siap di depan televisi memegang remotenya. Sebelum menyalakan televisi, Ia menoleh ke sebelahnya, dimana sang istri sudah berbaring terlentang tak lagi miring membelakanginya.
“Temani aku menonton ya? Okay?”
“Iya, ini aku sudah menatap televisi.”
“Tapi jangan ditatap saja,”
“Iya, Ean. Astaga, kamu kenapa cerewet sekali,”
Andrean terkekeh lalu mengecup pelipis istrinya sekilas, barulah menyalakan televisi dan mencari saluran yang menayangkan pertandingan selak bola. Kemarin Ia lihat ada iklannya. Tadi yang terbesit di kepala cuma pertandingan bola saja. Yang terpenting adalah membuat Angel teralihkan tidak teringat dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
Andrean akan menoleh ke sebelahnya untuk memastikan sang istri fokus menonton bukan memikirkan hal-hal lain termasuk teror tadi.
“Ean,”
“Hmm?”
“Aku bingung,”
“Bingung kenapa, Sayang?”
“Kenapa ya ada saja orang yang jahat padaku. Aku bingung, salahku dimana?”
“Ssttt, sudah-sudah, kamu jangan memikirkan apapun, aku ‘kan memintamu untuk fokus menonton, bukan memikirkan yang lain, okay?
Tolong pahami itu ya, Sayang,”
“Tapi aku bingung. Kenapa aku diteror padahal aku tidak merasa sudah melakukan sebuah kesalahan. Apa aku memang tidak menyadarinya saja ya? Tapi apa? Aku ingin tau kesalahan aku apa? Sayangnya bukan dibicarakan baik-baik, orang itu malah kirim yang aneh-aneh,” ujar Angel seraya meminat pangkal hidungnya.
“Fokus menonton, Angel,” bisik Andrean sambil mengusap pipi istrinya.
Andrean tidak memberikan kesempatan untuk Angel memikirkan apapun. Tujuannya mengajak Angel menonton supaya Angel tidak mengingat apapun.
*******
“Auris, mana kekasihmu itu? Dia datang kapan?”
“Astaga, siapa yang kamu bilang kekasihku, Ian?”
“Ya Revano lah,”
“Bukan! Dia bukan kekasihku. Dia itu temanku saja, kata siapa dia kekasihku? Hah? Kamu jangan mengarang bebas ya. Kamu bukan anak kecil lagi. Kamu sudah tua! Cukup waktu kecil saja kamu suka mengarang kalau lagi ditanya-tanya oleh Daddy dan Mommy. Dasar pembohong!”
Adrian langsung menutup mulut adiknya dengan jari telunjuk sambil Ia menatap Auristella dengan tajam.
pasti suka mengarang bebas, alias berbohong kalau ditanya Mom dan Dad,”
“Tidak! Itu hanya kamu karena kamu anak yang nakal. Sedangkan aku apa? Oh jelas aku anak yang baik, beda dengan kamu,”
“Ya lah terserah mau menilaiku bagaimana. Aku tidak peduli,”
Adrian sejujurnya tidak sabaran juga bertemu dengan teman Auristella yang bernama Revano ingin tahu bagaimana rupanya, bagaimana kesam pertama mereka setelah bertemu, bagaimana karakternya dari luar? Adrian benar-benar penasaran dengan hal itu.
Adrian melirik ke arah ponsel adiknya yang tiba-tiba berdenting dan ada pesan masuk dari Revano. Sayangnya Adrian belum sempat membaca karena Auristella terlanjur meraih ponselnya untuk Ia baca pesan dari Revano itu.
-Ya semoga saja aku tidak diusir seperti bayanganku ya. Karena katamu ‘kan, dua kakakmu galak-
Auristella tersenyum membaca pesan yang dikirimkan oleh Revano dan senyumnya Auristella itu membuat Adrian memicingkan kedua matanya menatap sang adik. Ia mulai curiga Auristella jatuh cinta, Ia tidak tahu kalau sebenarnya yang membuat Auristella tersenyum adalah pesan dari Revano.
“Apa yang membuat kamu tersenyum wahai, ikan nemo? Kenapa kamu keliatan bahagia sekali? Hm? Apa kamu sudah mendnegar pernyataan cinta dari Revano? Hanya dari pesan? Cuih, laki-laki macam apa dia? Sudah! Jangan dilanjut kedekatan kalian. Tidak baik menyatakan perasaan hanya lewat pesan singkat. Baiknya ya diutarakan langsung supaya tau sama tau,”
“Astaga, siapa sih yang menyatakan perasaan?”
“Ya dia lah. Maksud aku Revano,”
“Tidak! Dia tidak menyatakan perasaannya, Ian. Makanya kalau ngintip itu jangan setengah-setengah, akhirnya jadi salah paham ‘kan,”
Adrian mengangkat salah satu alisnya, tidak mau keliatan malu setelah salah menebak. “Memang apa yang dia katakan? Hmm?”
“Dia bilang semoga dia tidak diusir dari sini seperti apa yang dia bayangkan. Karena dia sudah tau kalau kamu dan Ean itu galak,”
“Bisa-bisanya dia berpikir akan diusir. Eh tapi bisa jadi juga sih, liat saja nanti. Kalau dia kurang ajar, tidak ada sopan santun, ya wajarlah kalau diusir,”
“Jangan, kasian anak orang, Ian,”
“Oh jadi sekarang sudah membela ya? Hmm?”
“Bukan membela, tapi ‘kan dia kasian kalau sampai diusir. Setidaknya suruh dia pergi baik-baik. Tapi aku yakin sih, kamu dan Ean tidak akan melakukannya karena kalian itu orang baik, ya walaupun posesif padaku,”
“Coba aku liat obrolan kalian kalau di chating bagaimana?”
“Kamu mau melihat? Yakin? Apa kamu tidak akan iri nanti?”
“Kenapa aku harus merasa iri? Hmm?”
“Ya barangkali saja kamu iri karena chat kamu dan Adrina belum tentu semanis chat aku dengan Revano,”
“Hahahaha sudah sombong rupanya. Astaga, jangan begitu, ikan nemo. Kamu belum apa-apa sudah sombong. Awas ya kalau sedih, larinya ke aku,”
Auristella menggigit lengan kakaknya hingga meringis kesakitan. Adrian langsung mendorong kepala adiknya dengan pelan.
“Beruntung ya aku tidak mendorongmu dengan kencang, aku masih ingat kalau kamu perempuan, dan kamu adikku,”
“Lagian kamu memancing emosiku saja,”
“Memangnya semanis apa sih chat kamu dengan Revano? Aku laporkan pada Daddy kalau—“
“Tidak-tidak, aku jamin tidak ada yang manis. Aku cuma bercanda saja, serius,” ujar Auristella seraya mengangkat ibu jari dan telunjuknya, Ia benar-benar menyatakan keseriusannya itu ekspresi wajah dan jari.
“Coba aku liat dulu chat kalian, aku ingin cari tau sendiri, tida percaya seratus persen demgan ucapan kamu,”
Auristella merengut dan langsung menjauhkan ponselnya ketika Adrian akan meraihnya. Adrian langsung tersenyum usil sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
“Kamu membohongi aku ‘kan, Ris?”
“Apa sih? Tidak! Aku serius. Aku tidak membohongi kamu. Memang benar, aku tidak ada obrolan yang manis dengan Revano,”
“Ya sudah aku mau liat sekarang. Kalau memang tidak ada yang manis, coba aku liat sekarang,”
“Ih kamu kenapa sih? Tidak eprcaya sekali padaku
“Nah artinya memang benar kamu bohong. Banyak pesan-pesan yang romantis di antara kalian berdua ya? Dan itu menggelikan tau?”
“Ya sudah ini-ini,”
Auristella langsung menyerahkan ponslenya dengan ketus. Ia tidak menyangka ponselnya akan dirazia oleh kakaknya.
Adrian tentu tidak membuang kesempatan sia-sia. Ia langsung membuka ruang obrolan antara adik satu-satunya itu dengan Revano yang katanya hanya teman biasa.
Adrian gulir sampai obrolan mereka yang paling awal dan ternyata tidak banyak, Auristella pun menanggapi seadanya. Adrian tersenyum puas mengetahui itu.
“Bagus, memang harusnya jadi perempuan itu jangan terlalu aktif, biar saja dia yang aktif, ‘kan dia laki-laki,”
“Aktif maksud kamu?”
“Ya terlalu menunjukkan kalau kamu tertarik sama dia, kamu tertarik banyak ngobrol sama dia yang sku maksud. Untungnya kamu tidak, pertahankan terus,” ujar Adrian seraya mengacungkan ibu jarinya memuji sang adik.
“Kalau aku perhatikan, kamu memang sewajarnya saja dengan teman laki-laki ya,”
“Jelas, aku ‘kan mau ada jual mahalnya,”
Adrian tertawa dan merasa gemas dengan Auristella yang menjawab ekspresi wajah jumawanya.
“Hahahaha bagus-bagus,”
Adrian mengembalikan ponsel yang ada di tangannya kepada sang pemilik. Auristella langsung bertanya untuk memastikan Ia ada di posisi yang aman.
“Bagaimana? Tidak ada yang macam-macam ‘kan di chat kami?”
“Iya, aku sudah mencari taunya dan aku memujimu,”
*******
“Syukurlah dia bisa tidur. Lebih baik tidur supaya tenang, tidak ingat dengan kejadian itu lagi,”
Andrean mengusap kening istrinya yang memejamkan mata dan deru napasnya tenang pertanda Angel benar-benar sudah tertidur pulas.
“Selamat tidur, Sayang,”
Andrean mengecup kening Angel dengan lembut kemudian bergegas ke balkon kamar sambil membawa ponsel genggamnya.
Andrean suduk di balkon memikirkan siapa sosok yang sudah meneror istrinya. Perasaannya tidak tenang sebelum tau siapa orangnya dan memberinya pelajaran.
“Kenapa ya ada saja yang membenci istriku? Padahal dia sebaik itu. Kenapa harus dia yang dapat teror itu? Siapa orang yang jahat itu?”
“Arghhh aku takut! Singkirkan itu!”
Andrean tersentak kaget ketika mendengar suara teriakan dari dalam kamar yang sumbernya dari Angel tentu saja. Andrean langsung menghampiri istrinya itu dengan berlari.
“Angel, ada apa? Kamu kenapa, Sayang?”
Angel terbangun dengan wajah panik dan keringat bercucuran. Padahal ketika Andrean meninggalkannya ke balkon, Angel baik-baik saja. Secepat itu Angel diserang mimpi buruk. Menurut Andrean istrinya mimpi buruk sampai berteriak dan bangun seperti itu.
“Sayang, kamu kenapa?”
“Aku ingat teror yang udah aku dapat itu, Ean. Tadi—tadi yang aku liat bangkai lagi. Aku takut, Ean. Tolong, aku takut,”
Angel langsung memeluk erat suaminya dan menangis di pelukan sang suami yang meringis tidak tega. Bagaimana bisa teror itu sampai ke mimpi Angel? Mau sampai kapan Angel akan dihantui dengan ingatan tentang teror itu? Ternyata membekas sekali di ingatan Angel.
“Sudah, tenang ya. Jangan ingat-ingat itu lagi, Sayang,”
“Aku juga tidak mau ingat itu, Ean. Tapi tiba-tiba itu datang ke mimpi aku,”
“Karena kamu memikirkan itu, Sayang. Kalau kamu tidak memikirkannya, tidak mungkin terbawa sampai ke mimpi,”
“Aku tidak memikirkannya,”
“Mulai sekarang jangan pernah mengingat teror itu lagi. Dan anggap itu tidak pernah terjadi, okay?”
“Tapi tidak bisa, Andrean. Aku ‘kan punya memori di kepala, dan kejadian itu juga baru jadi pasti susah untuk dilupakan,”
“Ya makanya aku tadi minta kamu untuk menonton sepak bola sebagai pengalihan. Begitu melihat kamu tidur, aku tenang sekali. Aku pikir kamu sudah baik-baik saja.
“Lebih baik kita turun, aku mau masak saja, biar aku tenang,”
“Ya sudah ayo aku temani,”
Andrean langsung menggenggam tangan Angel dan mereka berjalan bersamaan keluar dari kamar.
Andrean sangat setuju istrinya mau mencari kegiatan yang bisa menjadi pengalihan. Andrean menemani istrinya sampai di dapur.
“Mau masak apa, Angel?”
“Kamu mau apa?”
“Scrambled egg, Sayang,”
“Okay sekalian aku buat untuk makan malam deh,”
“Aku temani,”
“Tidak usah. Aku sendiri saja, lagipula akan dibantu oleh maid,”
“Ya tidak masalah, aku temani,”
“Kamu tidak ada kerjaan?“
Andrean terkekeh, jangan tanya kerjaannya apa. Kalau sudah di rumah kerjaan Andrean memang inginnya membersamai istrinya terus.
“Jadi aku boleh di ruang kerja? Berkutat dengan semua pekerjaan aku? Hmm?”
“Hmm tidak jadi, kamu di sini saja,”
“Tadi aku ditanya aku tidak ada kerjaan? Ya bisa saja aku bekerja di ruang kerja, nanti kalau aku sibuk, biasanya kamu menghampiri aku, menyuruh aku untuk istirahat. Sekarang giliran aku bersama kamu, tidak sibuk di ruang kerja, kamu malah maunya sendiri, tidak mau aku temani, artinya aku diusir supaya ke ruang kerja ya?”
“Tidak-tidak, kamu di sini saja,” Angel menatap sang suami dengan senyum cerianya, untuk membujuk supaya suaminya tidak kemana-mana.
“Ya sudah, aku mengikuti apa kata kamu saja. Kalau kamu tidak mau ditemani, aku akan aibuk di ruang kerja, tapi kalau—“
“Iya mau-mau, aku mau ditemani. Tapi jangan bosan ya,”
“Tidak akan, Sayang. Kamu tenang saja. Aku hidup bersama kamu saja tidak mau bosan apalagi sekedar menunggu kamu memasak,”
__ADS_1