Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 109


__ADS_3

“Aku juga bingung. Makanya aku bertanya padamu. Semuanya sudah Auris miliki ya? Jadi bingung mau belikan apa untuk dia,”


“Iya kamu benar. Dia sudah punya semuanya. Apa tiket berlibur saja dengan teman-temannya ya?”


“Oh iya itu bisa. Tapi Daddy Mommy kira-kira mengizinkan Auris pergi berlibur dnegan teman-temannya atau tidak?”


“Mereka selalu mengizinkan, Sayang. Asal ada yang menjaga, biasanya diikuti oleh orangnya Daddy,”


“Oh wow aku salut Daddy tidak pernah melepas penjagaannya terhadap Auris,”


“Itu pasti, Sayang. Ya namanya juga anak perempuan satu-satunya dan anak terakhir,”


“Ya sudah kita siapkan tiket berlibur dengan teman-teman dekatnya,”


“Revano diikutsertakan tidak?”


“Sayang, biasanya Daddy tidak mengizinkan Auris berlibur dengan teman-teman lawan jenisnya,”


“Nah sudah aku duga. Memang lebih baik perempuan semua. Menurutku lebih aman,”


“Iya, aku siapkan dulu kalau begitu,”


Andrean meraih ponselnya sementara Angel diam mengamati. Angel sedang memutar otak. Andrean mwmberikan tiket liburan, sementara Ia memberikan apa? Ia benar-benar bingung.


“Ean, menurutmu, aku berikan hadiah berupa apa ya?”


“Sayang, tidak usah dipikirkan. Tiket liburan ini dari kita berdua. Auris pasti sangat bahagia,”


“Tapi apa tidak kurang ya? Itu ‘kan tiket liburan dari kamu, kamu yang menyiapkannya bukan aku,”


“Sayang, ‘kan aku sudah bilang. Apa yang aku punya maka itu jadi punyamu juga. Apa yang aku lakukan bwrarti kamu ikut melakukannya. Nah sekarang aku lagi mempersiapkan tiket liburan untuk Auris dan teman-temannya, kamu juga otomatis ikut mempersiapkan,”


“Tapi aku tidak mempersiapkan apa-apa, Ean,”

__ADS_1


“Sayang, nama kamu ada di belakang namaku, jadi apapun yang aku lakukan kamu juga pasti ikut. Biar aku yang sibuk mengatur semuanya kamu tidak perlu,”


“Hmm, aku siapkan kue saja untuk Auris ya?”


“Astaga, kenapa kamu keras kepala? Kamu tidak perlu membuat apapun, hadiah darimu


sudah sekalian dengan hadiah dariku, Angel,”


“Tidak apa, aku justru senang membuat kue untuk Angel,”


“Tapi kamu bisa kelelahan, Sayang,”


“Siapa bilang? Aku tidak akan kelelahan kamu tenang saja ya. Ya kalau memang merasa lelah aku bisa istirahat,”


“Kamu yakin?”


“Iya, semoga Auris menyukai kue buatanku,”


“Pasti suka, semua masakan kamu itu lezat rasanya, Auris ‘kan sudah sering berkata seperti itu padamu,”


Angel menganggukkan kepalanya sambil mengangkat ibu jari.


“Tenang, aku tidak akan memaksa, kalau memang lelah aku akan istirahat lagipula bukan kue yang rumit,”


“Kamu mau membuat kue ulang tahun ‘kan?”


“Iya tapi aku tidak handal membuat yang rumit takutnya malah tidak berhasil. Jadi aku buat yang aku bisa saja, dan menurut aku tidak rumit,”


“Kamu sepertinya suka membuat kue ya, Sayang?”


”Iya aku senang,”


“Tidak mau turun ke bisnis kuliner, Sayang? Ya maksudku, kue atau roti itu,”

__ADS_1


“Hmm tidak, Ean. Aku belum percaya diri,”


“Memang kenapa? Semua itu ‘kan harus dicoba dulu baru tau hasilnya seperti apa,”


“Tapi aku belum percaya diri, Ean,”


Kalau Angel mengiyakan ingin memiliki usaha di bidang kuliner atau apapun itu, pasti Andrean akan langsung memikirkan itu lalu dipenuhi. Jadi Angel berikan jawaban yang sekiranya tidak membuat Andrean jadi berpikir bahwa Ia sangat tertari dengan dunia usaha walaupun sebenarnya seperti itu.


“Ya sudah, aku keluar ya?”


Andrean menganggukkan kepalanya. Dan Ia juga beranjak dari kursi sambil melipat laptopnya. “Kamu sudah selesai?” Tanya Angel pada suaminya.


“Iya, kebetulan sudah aku kerjakan,”


Mereka keluar dari ruang kerja dan tak sengaja dilihat oleh Adrian yang langsung menggoda mereka.


“Tidak di kamar saja bermesraannya? Hmm?”


“Bermesraan maksudmu? Kami baru membahas sesuat bukan bermesraan, Ian,”


“Oh aku pikir—“


“Mengarang bebas saja kamu ya,”


Adrian terkekeh mendengar ucapan Andrean. Ia juga mengangkat dua jarinya “okay maaf. Aku pikir kamu dan Angel sudah bosan bermesraan di kamar,”


“Supaya tau bosan atau tidaknya, lebih baik menikah dalam waktu dekat,”


“Ean jangan begitulah. Aku mau menikahi siaap? Hah?”


“Ya Adrina,”


“Kami belum membahas soal itu. Masih sebatas sahabat, doakan saja lah dia secepatnya buka hati untukku,”

__ADS_1


“Memang apa alasan dia belum buka hati? Dia belum bisa melupakan mantan kekasihnya atau gagaimana?”


“Tidak, dia mungkin terbiasa menganggap aku sahabat jadi kalau lebih dari itu sulit untuknya. Dia perlu belajar untuk membuka hati, menerima aku lebih dari sekedar sahabat.


__ADS_2