Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 173


__ADS_3

“Angel, pulanglah dengan Andrean. Kamu tidak boleh terlalu lelah. Ayah baik-baik saja di sini,”


“Aku ingin menginap di sini, tapi mengambil pakaian dulu,”


“Tidak-tidak, kamu tidak boleh menginap di sini. Kamu pulang saja dengan Andrean. Ayah tidak mau kamu kelelahan merawat ayah di sini,”


“Ayah jangan bicara seperti itu. Enmang sdah tugas seorang anak merawat orangtuanya sepagi bisa,”


“Tapi kamu lagi mengandung, pikirkan itu, Angel. Kamu jangan kelelahan. Kamu jangan terlalu lama di sini. Dengarkan kata-kata ayah, Angel. Pulang sekarang saja,”


“Apa aku perlu menghubungi Gesty supaya dia datang ke sini menemani Ayah?” Tanya Andrean pada Geno yang langsung menggelengkan kepalanya.


“Jangan, Andrean. Kamu tidak perlu menghubungi siapapun, ayah bisa sendiri di sini,”


“Maksudku biar ada yang mendampingi ayah,”


“Tidak perlu, akan sia-sia kalau kamu melakukannya karena dia memang tidak mau peduli pada ayah,”


“Kalian lebih baik pulang sekarang, jangan terlalu lama di sini apalagi Angel,”


“Aku akan datang lagi besok ya, Ayah?”


“Kapanpun kamu punya waktu luang kamu boleh temui ayah,” ujar Geno pada Angel.


“Terimakasih ya sudah datang ke sini merawat ayah,” ujar Geno pada anaknya.

__ADS_1


“Sama-sama, Ayah. Kalau begitu aku dan Ean pamit pulang,”


“Ya, hati-hati di jalan,”


Andrean dan Angel keluar dari ruang perawatan Geno. Mereka akan pulang ke rumah. Andrean mengeratkan genggaman Angel dan sedikit menariknya agar Angel tak menghalangi perawat yang sedang mendorong bangsal.


“Wanita di atas bangsal itu sepertinya akan melahirkan, Ean. Perutnya sudah besar sekali dan dia terlihat meringis sambil mengusap perutnya,”


“Iya, Sayang,”


“Nanti aku akan seperti itu, Ean,”


“Iya, tapi jangan khawatir ya, aku akan selalu mendampingi kamu,”


“Sepertinya wanita tadi mulai kesakitan. Jujur aku takut seperti itu juga,”


“Iya aku yakin bisa melewatinya, wanita di lair sana saja bisa, jadi aku juga harus bisa,”


Andrean tersenyum ketika Angel berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Andrean mengusap punggung tangan sang istri dengan punggung jarinya.


“Kamu kuat, kamu pasti bisa, aku akan selalu mendampingi kamu,”


“Terimakasih, Sayang,”


“Apa? Sayang? Tidak biasanya kamu memanggil aku sayang,”

__ADS_1


“Hahahaha memang tidak boleh? Kamu selama ini memanggil aku sayang, jadi sesekali aku ingin juga memanggil kamu dengan sebutan yang sama,”


Andrean membukakan pintu mobil untuk sang istri. Ia juga yang memasangkan sabuk pengaman di badan Angel.


“Terimakasih, Ean,”


“Ya, Angelku yang cantik,”


Andrean memutari mobil. Ia masuk ke dalam mobil, memasang sabuk pengamannya kemudian mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.


“Sayang, jadi Gesty benar-benar tidak pernah datang mengunjungi ayah selama ayah berada di rumah sakit?”


“Tidak pernah, Ean. Memang kenapa?”


“Apa Ayah dan Gesty ada masalah?”


“Aku rasa tidak, memang kakak seperti itu, kamu jangan heran,”


“Tapi dia anaknya apa dia tidak punya kasih sayang sedikitpun untuk ayahnya? Jangankan merawat, menjenguk saja tidak pernah. Ada anak setega itu kepada orangtuanya?”


“Biarlah itu menjadi urusan Kakak, Ean,”


“Kasihan ayahmu, punya dua anak tapi yang peduli dan kelihatannya benar-benar sayang hanya kamu,”


“Selagi ada aku, tidak apa-apa kakak tidak mau peduli pada ayah,”

__ADS_1


“Tapi kamu tidak keberatan diandalkan? Padahal posisinya kamu adalah seorang adik. Biasanya kakak yang diandalkan daripada adik,”


__ADS_2