Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 55


__ADS_3

“Pokoknya, setiap kalian berdua jalan, aku ikut ya,” ujar Auristella dengan lugas terhadap sepasang muda mudi di depannya saat ini.


Auristella mengganggu kebersamaan Adrian dan Adrina. Tadinya Adrian mau pergi berdua saja dengan Adrina, tapi sayang adiknya memaksa untuk ikut. Kalau dipikir-pikir kembaran beda rahimnya itu alias Adrina juga belum tentu mau pergi hanya berdua dengannya, jadi lebih baik mengajak Auristella. Kemunglinan besar Adrina mau diajak jalan berdua.


Adrian mulai selangkah lebih maju sekarang. Ia ingin mendapatkan respon positif dari Adrina teman masa kecilnya itu yang sejak kecil sudah lawan berdebat, bahkan sampai dewasa seperti sekarang mereka masih suka beradu mulut. Adrian akui, Ia nyaman dengan Adrina. Tapi bagaimana dengan Adrina? Adrian lihat, perempuan itu masih jual mahal sekali. Padahal yang Ia tahu punya pacar juga belum.


“Ya itu bagus, biar aku tidak menghadapi menyebalkannya kakakmu ini sendirian, Auris,”


“Semenyebalkannya aku, tetap aku paling tampan diantara teman-teman kamu yang lain,”


“Aku tidak rela kalian macam-macam sebelum waktunya!”


Adrian tertawa mendengar ucapan adiknya yang posesif itu. Tahu kalau Ia mulai berpikir ke arah jenjang pernikahan, Auristella masih belum rela ternyata.


Adrian sudah cukup matang dalam usia, materi, dan mental juga sebenarnya sudah. Semenyebalkan apapun dirinya, Ia sudah tahu apa itu tanggung jawab suami, hak suami, begitupun untuk istri. Ia juga tidak menutup mata dan telinga dari yang namanya ilmu tentang pernikahan dengan harapan nanti ketika Ia menikah, apa yang Ia dapat selama belum menikah itu bisa Ia gunakan ketika sudah menikah.


“Memang siapa yang mau macam-macam dengan Adrian, Ris? Tidak ada, aku kalau mau macam-macam ya liat orangnya dulu,”


“Hei kembaran beda rahim! Kamu pikir aku mau macam-macam sama kamu? Tidak! Maaf ya, aku bukan laki-laki brengsek. Ya kalau mau macam-macam, nikahi dulu lah minimal,”


“Ih jauh sekali pikiranmu, siapa yang mau menikah denganmu, Adrian?”


“Kamu memangnya tidak mau? Ah yang benar, nanti bisa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, hati-hati ya,”


“Ian terlalu percaya diri,” gumam Auristella dengan sinis. Dan itu mengundang tawa Adrina yang setuju.


“Dia pikir, dia sehebat apa bisa membuatku jatuh cinta?”


“Hati-hati dengan ucapan, benci bisa jadi cinta. Sudah sering dengar kisah yang seperti itu ‘kan?”


“Tutup mulutmu ya! Dasar menyebalkan,”


“Jangan terlalu galak, nanti—“


“Ian, aku ini manusia ya. Bukan nyamuk, bukan lumut, bukan pohon. Jadi tolong hargai aku, tolong!” Lugas Auristella supaya kakaknya itu tidak menggoda Adrina di depan matanya. Tahukah Adrian bahwa itu menggelikan? Adrian adalah tipe laki-laki banyak omong, menyebalkan kalau bersamanya, usil, suka berdebat tiba-tiba jadi bermulut manis.


“Salahku dimana wahai adik cantik? Aku salah terus di matamu,”


“Biasa menyebalkan kalau denganku, giliran di luar ternyata begini kelakuanmu? Huh?”


Adrian tertawa mendengar ucapan adiknya itu. Membiarkan Auristella ikut bersamanya dan Adrina memang keputusan yang salah, tapi kalau ada Auristella lumayan bisa merubah suasana menjadi sedikit ramai.


“Ini kita mau kemana?”


“Ya kemana saja terserah kalian berdua lah, aku ikut saja,” ujar Auristella menjawab pertanyaan Adrina dengan ketus. Ia ikut pergi saja sudah senang, mau kemana saja terserah Adrian ataupun Adrina.


“Ke mall, nyalon, atau belanja boleh. Aku temani kalian, sekalian aku traktir, oh ya jangan lupa makan ya. Kita yarus mengisi perut,”


“Okay kalau begitu,”


“Auris bagaimana? Setuju tidak?”


“Ya aku setuju,”


“Adikku itu jadi ekornya aku, Adrina. Jadi dia pasti setuju. Tadi dia bilang sendiri ketika dilarang Mommy untuk ikut. Dia bilang kalau dia itu ekor aku, jadi mau ikut kemana saja aku pergi, mau jadi ekor kalau aku mau pergi dengan orang lain yang jenis kelaminnya perempuan. Kalau laki-laki, tidak begitu,”


“Ya iyalah, untuk apa aku mengikutimu dan teman-temanmu kalau mereka laki-laki? Tidak penting,“


“Kalau perempuan penting?”


“Penting lah, Adrina. Kamu tau ‘kan kalau aku posesif, aku tidak mau kakakku—“


“Semua juga tau kamu posesif,” cibir Adrian pada adiknya yang sebenarnya baik, tapi kalau timbul sikap posesifnya benar-benar menyebalkan.


*******


“Ayah, aku tidak terima ya Andrean melarang aku untuk mengganggu Angel. Enak saja dia hidupnya. Dia sekarang banyak uang, apa-apa dicukupi oleh suaminya, tapi dia tidak memikirkan kita. Memang sialan anak itu,”


Hari ini ayahnya pulang, dan Gesty langsung menyambut ayahnya dengan amarah atas sikap penjagaan Andrean terhadap Angel yang Ia anggap sudah bahagia seklai hidupnya setelah menikah dengan Andrean, karena banyak uang, sudah dicukupi semuanya oleh Andrean. Gesty benci ketika Angel merasa bahagia sementara dirinya tidak.


“Uangmu sudah habis ya?”


“Ya, makanya aku minta pada ayah. Aku mau datang ke acara party yang dibuat temanku, Yah,”


Gesty mengulurkan tangannya meminta uang. Tak meminta pada adiknya, sekarang Gesty meminta pada ayahnya yang langsung berdecak sambil mendorong tangannya.

__ADS_1


“Ayah saja tidak ada uang. Mintalah pada Angel, dia yang banyak uang,”


“Tapi suaminya sudah mengancamku, Ayah. Dan aku takut dia melanjutkannya ke jalur hukum, kalau itu benar terjadi bagaimana?”


Gesty melihat ayahnya berkacak pinggang sambil menatapnya dengan santai, matanya masih lain karena sisa mabuk.


“Tidak mungkin, Andrean tidak akan mungkin melakukan itu. Dia tau kalau Angel menyayangi kita berdua, kalau Andrean macam-macam, Angel pasti juga tidak akan diam,”


Gesty berdecak pelan sambil menggaruk keningnya bimbang, menghubungi Angel atau tidak? Kalau Ia menghubungi, ada kemungkinan yang menjawab adalah Andrean lagi, lalu Ia kembali mendapat ancaman dari suami adiknya itu.


“Ayah, tapi aku takut. Ayah saja lah yang hubungi Angel. Aku tidak mau lagi bicara dengan suaminya, mendnegar ancaman darinya,”


Ketika melihat ayahnya meraih ponsel dari saku, Gesty tersenyum senang. Ia berharap ayahnya itu dapat tanggapan yang sesuai harapan dari Angel.


*****


“Jam berapa ini?”


“Empat sore,”


“Aku mau berenang,”


Angel mengerjapkan kedua matanya melihat sang suami yang baru saja membuka mata setelah kurang lebih tidur selama dua jam langsung duduk dan menyingkirkan selimut.


“Kamu yakin? Cuaca Turki saat ini dingin, Ean,”


“Tidak juga, lagipula aku kuat dingin,”


“Ya sudah, nanti jangan lupa bilas dengan air hangat ya,”


“Okay, kamu mau ikut berenang? Temani aku, biar aku tidak sendiri,”


“Hmm…tidak dulu ya. Aku takut nanti badanku kedinginan,”


Andrean menganggukkan kepalanya tidak mempermasalahkan istrinya yang tidak mau berenang sekarang.


“Ya sudah kalau negitu temani aku saja, bagaimana? Mau ‘kan, Sayang?”


“Aku duduk saja ya? Tidak ikut berenang boleh?”


Andrean mengulurkan tangannya ke arah Angel yang langsung disambut dengan baik oleh perempuan itu dengan hati yang bahagia.


Angel senang ketika dibutuhkan pleh suaminya meskipun untuk hal-hal kecil. Seperti saat ini Andrean minta ditemani berenang. Itu hal kecil tapi rasa senang yang timbul jadi luar biasa.


“Aku buang air kecil dulu boleh? Nanti aku menyusul ya,”


Sesaat sebelum Andrean membuka pintu kamar, Angel meminta kesempatan pada suaminya agar Ia pergi ke kamar mandi dulu. Andreqn menganggukkan kepalanya.


“Okay aku tunggu kamu,”


“Kamu pergi dulu ke kolam renang tidak apa-apa, nanti aku langsung ke sana,”


“Ya sudah kalau begitu,”


Andrean akhirnya pergi dari kamar, sementara istrinya menuntaskan desakan untuk buang air kecil. Tidak lama kemudian, Angel keluar dari kamar mandi bertepatan dering ponselnya yang mengganggu.


Angel akhirnya mengambil ponselnya di nakas dan Ia melihat bahwa ayahnya yang menghubungi dirinya saat ini.


“Halo, Ayah,”


Angel tentu langsung menerima panggilan dari ayahnya itu. Walaupun Ia sering dibuat sedih karena perilaku ayahnya, tapi ketika ayahnya menghubungi tidak mungkin Ia abaikan begitu saja.


“Bagaimana hari-harimu? Setelah menikah tidak pernah menghubungi ayah,”


Angel tersenyum tidak enak hati. Ia sungkan menghubungi. Takut mengganggu ayahnya, dan bisa membuat ayahnya itu marah.


Bukan berarti Ia sudah menjadi anak yang sombong.


“Maaf, Ayah,”


“Ayah minta uang. Ayah tidak ada uang sama sekali sekarang,”


“Ayah, sekarang aku tidak kerja, lagi liburan. Penghasilanku—“


“Gunakan penghasilan dari suamimu lah, apa susahnya? Dia tentu memberikan kamu banyak uang ‘kan? Jadi seharusnya kamu tidak keberatan untuk memberikannya pada ayah,”

__ADS_1


“Astaga, Ayah. Aku tidak enak, aku ingin memberikan uangku sendiri untuk ayah,”


“Tidak usah banyak bicara, Angel. Sekarang kirimkan uang itu. Ayah tunggu,”


Angel menghembuskan napas kasar. Tidak lama kemudian suara ayahnya berganti dengan suara sang kakak yang turut menekannya supaya segera memberikan uang.


“Heh! Aku tunggu uang itu sekarang. Kamu banyak uang, hidup bahagia, pikirkan kakak dan ayahmu di sini yang hidupnya tidak ada perubahan, tidak sama seperti kamu. Kamu tidak kekurangan apapun, jangan lupakan kami yang sering kekurangan. Cepat kirim uang sekarang!”


Setelah bicara seperti itu sambungan telepon mereka berakhir. Angel mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh begitu deras.


Setelah menikah Ia masih juga diganggu. Kalau meminta dengan cara baik tanpa memaksa, dan juga memahami keadaannya, Ia tidak masalah sedikitpun. Pasti Ia berikan. Tapi sekarang, uang penghasilannya saja belum Ia terima, lalu mereka memaksa supaya Ia memberikan uang dari Andrean. Ia merasa tidak punya hak atas itu.


“Apa aku izin pada Andrean menggunakan uangnya yang ada padaku? Tapi Andrean kesal pada mereka karena sudah tau bagaimana sikap mereka kepadaku, dan jujur aku juga malu keluargaku mengemis seperti ini,”


Disaat Angel sedang bimbang, ingin menuruti atau justru mengabaikan, ada pesan masuk dan itu dari ayahnya.


-Sudah dikirim? Ingat sekali lagi ya, hidupmu sekarang sudah bahagia tidak kekurangan apapun, sementara ayah dan kakakmu di sini menderita, kelaparan, tidak punya apapun-


Di kepala Angel sekarang sudah ada bayangan bagaimana keadaan dapur di rumahnya yang tidak ada bahan apapun untuk dimasak, dan mereka penunggu rumah merasa kelaparan.


Angel menelan salivanya dengan susah payah setelah membuang napas kasar. Kemudian Ia penuhi permintaan ayah dan kakaknya itu.


******


“Angel kemana? Katanya mau langsung menyusul, tapi tidak datang-datang? Apa ada sesuatu yang terjadi?”


Andrean langsung meninggalkan kolam renang dan ketika Ia mengenakan handuk, tiba-tiba yang Ia tunggu datang.


“Hai, kenapa lama?”


“Memang lama ya? Berapa jam kira-kira?”


“Tidak sampai berjam-jam juga, Sayang. Tapi menurutku lama,”


“Aku minta maaf ya,”


“Okay, tidak apa-apa. Aku cuma khawatir saja. Aku takut terjadi sesuatu padamu makanya kamu belum juga menghampiriku di sini. Ya sudah kamu duduk, sambil bermain handphone, aku akan berenang,”


Angel menganggukkan kepalanya dan segera duduk di kursi yang berada di tepi kolam. Suaminya sudah masuk lagi ke dalam kolam renang.


Angel mengamati dalam diam. Sesekali Ia akan tersenyum melihat lihainya Andrean di dalam air. Ia membandingkan dengan dirinya senidri yang kalau berenang lambat sekali. Gayanya pun itu-itu saja, sementara suaminya memperagakan beberapa gaya selama Ia menjadi pengamat.


*******


“Okay, uang sudah masuk. Aku mau party, Yah,”


“Buatkan ayah makanan dulu, jangan pergi sebelum ada makanan,”


Gesty membelalakkan kedua matanya mendengar titah sang ayah. Tidak bisa, Ia tidak bisa diandalkan seperti Angel, dan Ia juga tidak mau diandalkan. Ia ingin bebas, sekarang waktunya Ia ke bar kumpul bersama teman-temannya, bukan mengurusi orangtua.


“Tidak, ayah buat saja sendiri. Aku ingin senang-senang dengan temanku,”


“Heh! Kamu itu anakku, punya kewajiban untuk membantu orangtua kalau sedang dibutuhkan. Sekarang ayah butuh kamu untuk buat makanan. Sekarang cepat lakukan perintah ayah. Asal kamu tau, Ayah sudah lapar,”


“Aku tidak peduli, Yah. Silahkan lapar sendiri, buat makan sendiri, lalu makanlah sendiri juga. Tidak usah pikirkan aku karena aku akan senang-senang di luar,” ujar Gesty dengan sifat membangkang yang memang sudah mendarah daging.


Gesty langsung pergi setelah bicara seperti itu. Ia tidak peduli ketika ayahnya membutuhkan bantuan untuk dibuatkan makanan. Yang ada di kepalanya adalah, Ia harus secepat mungkin keluar dari rumah karena ada di rumah membosankan, apalagi di rumah Ia hanya sendiri dikala ayahnya pergi entah kemana. Taka da yang bisa Ia marahi lagi, tidak ada yang menjadi pelampiasan atas segala perasaan yang saat itu ada, karena yang biasanya menjadi pelampiasan sudah pergi sekarang. Pelampiasannya itu sudah hidup bahagia bersama suaminya.


“Anak kurang ajar. Dia tidak seperti Angel yang selalu patuh dengan apapun perintahku,”


*******


“Apalagi, Kak? Aku sudah menuruti permintaan ayah dan kakak. Tolong jangan ganggu aku lagi. Andrean tidak akan suka,”


“Ayahmu itu ya benar-benar menyusahkan. Bisa-bisanya dia menyuruhku untuk buat makanan. Dia pikir aku anak baik yang mau disuruh-suruh? Hah? Aku bukan kamu, anak bodoh!”


Angel menghembuskan napas kasar sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba pening. Penyebabnya tentu saja dua orang yang Ia anggap berharga dalam hidupnya, tapi mereka tidak menganggapnya demikian.


“Kak, kenapa kamu tega? Itu ayahmu sendiri! Dia hanya minta tolong dibuatkan makanan karena dia lapar, seharusnya kamu turuti. Orangtua harus diperlakukan dengan baik, Kak. Apalagi selama ini Ayah selalu baik pada kakak,”


“Lalu, itu berarti aku harus patuh, harus baik juga sama seperti kamu?”


“Ya, aku saja yang diperlakukan tidak baik terus-terusan oleh ayah dan kakak bisa bersikap baik ‘kan? Aku menyayangi kalian walaupun kalian tidak menyayangi aku. Kenapa kakak tidak bisa belajar itu dari aku?”


Gesty tertawa sinis mendengar ucapan Angel yang secara tidak langsung menyuruh Ia untuk menjadi seperti Angel. Mana bisa? Gesty tidak bisa sebaik itu walaupun dengan ayahnya sendiri.

__ADS_1


“Kita beda, Angel. Aku ya aku, kamu ya kamu! Jangan disamakan! Dan jangan sombong kamu ya! Kamu merasa paling baik di dunia ini?! Hah?! Kamu itu hanya anak bodoh, yang kebetulan saja hidupnya beruntung. Kamu dipungut oleh Andrean dan keluarganya yang kaya raya itu. Seharusnya yang ada di posisi kamu itu aku! Harusnya aku yang beruntung!”


__ADS_2