Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 100


__ADS_3

“Pelan-pelan, Angel,”


Andrean membantu Angel untuk naik ke dalam bus lagi. Sekarang saatnya mereka melanjutkan perjalanan kembali.


“Terimakasih,”


“Sama-sama,”


“Sekalian, mau aku bantu?” Andrean mengulurkan tangannya pada Auristella yang langsung menganggukkan kepalanya.


“Aku sudah tua ya? Naik tangga bus saja rasanya melelahkan,”


“Ya coba hitung sendiri usiamu,”


“Duh Ean jangan begitu, harusnya kamu yakinkan aku kalau aku masih muda,”


Andrean terkekeh mendengar adiknya menggerutu. Auristella sendiri yang berkata bahwa dirinya tua, Andrean hanya menyuruha diknya untuk menghitung sendiri usianya.


“Mau aku bantu juga?”


Setelah Angel dan Auristella, ada Adrina dan Adrian juga yang akan masuk melalui pintu belakang bus. Andrean juga menawarkan bantuan pada Adrina yang barangkali sama seperti adiknya yang merasa kakinya sedikit sakit ketika naik ke atas bus.


“Tidak usah, jangan. Biar aku saja,” ujar Adrian yang langsung naik lebih dulu, menyelak posisi Adrina.


“Okay kalau begitu,” ucap Andrean sebelum akhirnya menempati kursinya.


Adrian yang mengulurkan tangannya pada Adrina ketika hendak naik tangga bus tapi Adrina menggeleng.


“Kenapa sih nggak mau aku bantu?”


“Ya karena aku bisa sendiri,”


“Angel dan Auris saja dibantu, kenapa kamu tidak mau?”


“Ya tapi aku bukan wanita hamil dan aku juga tidak sakit kakinya. Jadi tidak perlu merepotkan kamu,”


“Siapa yang merepotkan? Aku tidak—“


“Hei sudah-sudah, jangan berdebat nanti kalian kalau sudah berumah tangga apa mau berdebat terus?”


Adrian dan Adrina langsung terkesiap mendengar teguran Auristella yang tak hanya menegur tapi juga memggoda sebenarnya.


“Kalian mau berumah tangga ‘kan?”


“Ris, diam. Jangan berisik,”

__ADS_1


“Duh yang suruh diam padahal dalam hati senang,” sindir Auristella yang langsung membuat Adrian bertindak. Ia berjalan mendekati Auristella dan memarik daun telinga Auristella.


“Arghh sakit, Ian! Ya ampun teganya kamu sebagai kakak. Belum juga menikah sudah melakukan kekerasan dalam hubungan kakak adik,”


“Biar saja. Kamu berisik jadi harus aku tarik telinganya,”


“Mommy, Daddy, Ian mulai—“


“Sudah, Auris. Kamu yang memulai perdebatan. Awalnya siapa yang menfgoda Ian dan Adrina? Hmm?”


“Ya—aku sih tapi mkan Ian menarik telingaku. Dia menyebalkan sekali, Mommy,”


“Ya sudah hentikan perdebatan kalian. Kita nikmati perjalanan, okay?”


“Okay, Mommy,”


******


“GESTY!”


“GESTY!”


Geno berteriak memanggil anaknya yang masih di kamar padahal hari ini seharusnya Gesty bekerja. Tapi belum keluar-keluar juga. Geno membuka pintu kamar Gesty dengan kasar dan menemukan Gesty di atas ranjang masih tertidur dibalut dnegan selimut.


“Astaga, Gesty! Bisa-bisanya kamu tidur?! Dimana otakmu? Hah?! Ini ‘kan hari kerja, harusnya kamu sudah kerja, cari uang yang benar!”


“Ayah mengeksploitasi anak dan itu tidak diizinkan! Ada peraturannya,”


“Hei, Ayah tidak mengeksploitasi kamu! Kamu itu sudah tidak dibawah unur lagi, memang seharusnya sudah bekerja cari uang sendiri. Angel saja saat suainya masih jauh dibawah kamu sudah membantu ibu dan neneknya mencari uang,”


“Mulai membandingkan aku dnegan Angel?! Hmm? Ya sudah hidups aja dnegan Angel sana. Asal Angel mau saja menerima ayahnya yang tidak ada guna!” Ujar Gesty dengan kejamnya sambil menutup seluruh badannya dengan selimut.


“Kenapa kamu tidak bekerja?!”


“Aku sudah dikeluarkan jadi sekarang aku tidak ada pekerjaan. Ayah bisa diam tidak? Jangan bertanya terus,”


“Astaga, baru juga bekerja, Gesty. Kenapa bis akamu dikeluarkan? Apa kamu membuat kesalahan? Lalu apa kesahalan yang sudah kamu perbuat?”


“Mereka saja yang bodoh mau menyia-nyiakan aku,”


“Hei! Tempat bekerja manapun tidak akan pernah merasa rugi mengeluarkan pekerja yang suka berulah seperti kamu! Banyak yang butuh pekerjaan dan kamu malah menyia-nyiakan pekerjaan yang sudah kamu dapatkan. Dadar bodoh!”


“Biar sajalah, aku lelah bekerja. Tinggal hidup dari Angel saja. Dia saja yang bekerja,”


“Astaga, dia sudah mulai dikendalikannpleh suaminya. Kamu yarus tau itu! Bisa jadi dia tidak mengirimkan uang lagi untuk kita,”

__ADS_1


“Ya sudah, ayah saja lah yang bekerja kenapa harus aku?”


“Kamu tega menyuruh ayahmu bekerja lagi disaat kamu sudah mamou untuk bekerja?! Iya?!”


“Aku lelah, ayah juga harus lelah kalau ayah mau makan,” ujar Gesty dengan kurang ajarnya. Dan itu memancing Geno untuk marah. Geno langsung menarik selimut yang digunakan oleh anaknya saat ini dan Ia tampar wajah Gesty yang masih berbaring di atas tempat tidur.


Gesty tertawa sinis mendapat tamparan dari ayahnya. Tangannya bergerak menghapus darah yang mengakir di sudut bibirnya. Gesty beranjak duduk lalu berteriak mengusir ayahnya supaya keluar dari kamarnya.


“Ayah keluar dari sini sekarang! Aku benci ayah!“


“Kamu semakin kurang ajar! Semakin keterlaluan. Anak tidak tau diri. Mau hidup enak tapi tidak mau kerja keras,”


“Aku sudah coba kerja keras tapi ternyata aku tidak mampu,”


“Kamu belum apa-apa sudah angkat tangan, ya bagaimana hidupmu mau enak? Nasibmu tidak akan berubah kalau bukan kamu sendiri yang berusaha untuk merubahnya,”


“Ayah stop membandingkan aku dengan Angel,”


“Ya memang kamu pantas dibandingkan, Gesty. Adikmu sendiri saja tidak bisa kamu contoh, dia jelas jauh lebih baik daripada kamu!”


“Ayah keluar dari kamarku sekarang! Aku tidak mau ayah di sini,”


“Cari kerja yang lain cepat! Ayah tidak mau kamu hidup santai-santai saja. Kita tudak boleh lagi mengandalkan Angel karena dia sudah di bawah kendali suaminya,”


“Ya jangan sampai itu terjadi. Kita bisa membuat Angel keluar dari kendali suaminya. Andrean tidak boleh kurang ajar seperti tu. Angel masih punya kita,”


“Ya itu kata kamu. Jangan mengandalkan Angels aja. Kalau dia benar-benar dibawah kendali suaminya, dia tidak kagi mau memberikan uang untuk kita bagaimana? Bisa mati kita,”


“Ya ayah saja yang kerja kenapa harus menyuruh aku?”


“Kamu yang kerja! Kamu harus berbakti pada orangtua,”


“Ayah, orangtua itu kalau masih kuat ya bekerja lah, jangan cuma merokok, pergi dari pagi sampai pagi, pergi entah kemana sampai jarang pulang, datang-datang hanys untuk marah. Itu orangtua yang tidak berguna,” ujar Gesty yang jelas menyindir ayahnya sendiri.


“Kurang ajar kamu! Jaga mulut kamu ya,”


“Apa yang aku katakan memang benar ‘kan, Yah? Sebagai orangtua, ayah itu tdiak bsia diandalkan, justru ayah yang mengandalkan anak. Ih benar-benar aneh. Baru kali ini aku menemukan orangtua yang tidak berguna, dan sayangnya itu ayahku sendiri. Malah menyuruh anaknya untuk bekerja padahal diri sendjri mampu untuk bekerja. Tapi malah menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting,”


“Kamu tahu apa tentang ayah, Gesty?!”


“Aku tau ayah, karena kita sudah tinggal lama. Dari dilu ayah memang tidak berguna! Pemalas! Tidak mau kerja!”


“Diam mulutmu!”


Geno akan menampar mulut anaknya lagi namun gagal karena Gesty menepis tangan ayahnya itu.

__ADS_1


“Aku bisa menjebak ayah dalam hukuman kalau ayah macam-macam padaku,”


__ADS_2