
Angel terbangun pukul empat pagi. Ia segera beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat giginya. Setelah itu, Ia bergegas ke dapur.
Ia terbiasa bangun langsung mencari pekerjaan rumah yang harus Ia selesaikan. Di rumahnya sendiri saja Ia tidak mau hidup tenang tanpa melakukan apapun. Apalagi di rumah suaminya.
Angel bergegas ke dapur. Matanya menatap penjuru dapur dengan takjub. Luas sekali ruang memasak di rumah suaminya. Berbagai perlengkapan tertata dengan sangat rapi. Ah wajar saja karena diurus bukan hanya dengan satu orang.
Ia bekerja dengan begitu hati-hati mengingat penghuni di rumah itu masih berada dalam mimpi masing-masing.
"ASTAGA! HEY!"
Angel hampir saja menjatuhkan pan yang sedang Ia pegang saat mendengar teriakan seseorang. Angel dengan cepat menoleh.
Ia menemukan Adrian dengan wajah kusut namun dipaksakan melotot karena terkejut mendapati seorang perempuan di dapur pagi-pagi seperti ini. Rambut Adrian acak-acakan dan Ia mengenakan baju tanpa lengan serta celana pendeknya.
"Angel?" Tanya Adrian menatap Angel dari atas sampai bawah.
"Adrian, ish kamu membuatku terkejut," Angel menggerutu seraya meletakkan pan di atas stove. Adrian membuatnya terkejut sekaligus takut. Ia pikir ada orang yang berniat jahat masuk ke dalam rumah dan mengincarnya yang kebetulan sedang sendirian di dapur.
Ah tapi kalau berniat melakukan sesuatu yang jahat, seharusnya tidak teriak melainkan langsung menyekap Angel sebelum Angel menyadari kehadirannya. Angel merasa bodoh dengan pemikirannya.
"Kamu pagi-pagi begini kenapa di dapur?"
"Masak, apa lagi?"
"Ck! Kenapa harus kamu? Ada maid yang bertugas memasak, ya layaknya chef. Jadi kamu tidak perlu khawatir Andrean kelaparan,"
"Ini bukan untuk Andrean saja,"
"Sudah, lebih baik kamu kembali ke kamar. Nanti Andrean menangis tidak menemukan istrinya di pagi pertama kalian,"
Angel menoleh pada Adrian dan menatapnya datar. Adrian terkekeh padanya.
Kemudian Adrian beranjak ke salah satu kabinet dapur untuk mengambil makanan ringan dan juga air di dalam lemari pendingin.
"Permisi, aku ingin mengambil telur,"
Angel meminta Adrian melipir sedikit dari lemari pendingin. Adrian menggeleng sembari meneguk air minumnya.
"Telur dan bahan-bahan masak ada di sana," ujar Adrian seraya menunjuk lemari pendingin yang ukurannya juga sangat besar di sudut lain dapur.
Angel mengangguk kemudian mendekati lemari pendingin berwarna dark silver itu. Ia lupa kalau rumah tempatnya tinggal saat ini benar-benar berbeda dengan rumahnya dimana lemari pendingin hanya satu yang artinya semua ada di sana.
"Kamu bangun karena lapar?"
Angel memang lebih mudah akrab dengan Adrian karena laki-laki itu juga tidak tertutup dan dingin seperti suaminya.
"Iya, kalau kamu bangun karena ingin memasak?"
"Ya, aku terbiasa bangun sangat pagi,"
"Aku yakin kalau Mommy tahu kamu memasak, pasti Mommy akan marah. Setelah memasak, jangan melakukan apapun, Angel. Nanti Mommy semakin marah,"
Angel tersenyum singkat. Ia mengeluarkan bahan-bahan masak yang sekiranya Ia perlukan.
__ADS_1
"Aku terbiasa melakukan semuanya sendiri,"
"Sekarang jangan lagi," tukas Adrian yabg tidak suka melihat Angel yang seharusnya masih istirahat malah memasak.
Adrian duduk di pantry yang tak jauh dari dapur. Ia mengunyah sembari memperhatikan Angel memasak.
"Aku akan di sini menemani kamu memasak. Asal kamu tahu, rumah ini horor,"
Angel menoleh cepat pada Adrian yang kini menahan tawanya.
"Serius?"
Adrian mengangguk cepat, "Iya, lain kali jangan sendirian kalau ke dapur apalagi masih pagi begini,"
"Kamu bercanda, Adrian. Aku tidak percaya,"
Meskipun Adrian mati-matian merubah wajahnya agar tidak terlihat jahil, tapi tetap saja Angel tahu bagaimana kembaran suaminya itulah.
"Terserah kalau kamu tidak percaya. Aku hanya memberi tahu. Kalaupun ingin memasak, paling tidak, minta temani Andrean,"
Angel terkekeh kecil. Ia tidak akan mungkin mengganggu tidur Andrean hanya untuk meminta ditemani memasak. Ia tidak semanja itu.
"Biar saja lah kalau ada hantu yang ingin menggangguku. Aku sudah pasrah,"
Adrian menggeleng heran. "Aneh," gumamnya menatap punggung Angel yang kini berjalan ke depan sink untuk mencuci semua bahan masakannya.
"Kamu kembali tidur saja,"
"Tidak, aku sudah tidak mengantuk lagi. Aku juga harus ke kampus pagi ini,"
"Nanti aku jadi orang pertama yang mencoba masakan kamu,"
"Iya, Adrian. Kamu duduk yang tenang saja,"
"Sebentar," Adrian berdiri dari duduknya. "Aku ingin mengambil ponsel di kamar,"
Adrian meninggalkan makanan ringan serta minumannya untuk sementara waktu.
Angel tak mengatakan apapun, Ia membiarkan lelaki itu melakukan apapun yang Ia inginkan sementara dirinya sudah mulai sibuk dengan perkakas dapur.
*****
Saat para maid bangun, mereka terkejut karena Angel sudah hampir selesai memasak.
"Ya ampun, Nona Angel. Kenapa memasak?"
"Kalian bangun terlalu siang," ujar Adrian menatap mereka dengan datar.
Sebenarnya apa yang dikatakan Adrian tidak sepenuhnya benar. Mereka memang terbiasa bangun pukul lima atau paling telat setengah enam. Hanya saja sepertinya Angel yang terlalu rajin turun ke dapur disaat waktu masih menunjukkan pukul empat dimana penghuni rumah belum bangun dari tidur mereka.
"Biar kami yang menyajikan di meja makan, Nona Angel. Terimakasih sudah memasak,"
Angel tersenyum mengangguk. Ia senang sekali merasa tenaganya dihargai.
__ADS_1
"Apa yang harus aku coba?"
"Ini, semuanya,"
Angel sudah menempatkan tiga menu dengan wadah berbeda tentu saja. Kemudian mendekatkan ketiganya ke arah Adrian yang sudah menatap lapar.
Adrian segera mencicipi masakan istri dari kembarannya itu. Ia berdecak saat lidahnya terasa sangat klop dengan masakan Angel.
"Lezat, Chef Angel! Kamu luar biasa,"
Angel terkekeh tak bisa menutupi rasa senangnya. Ia kira sulit untuk menyesuaikan selera keluarga suaminya. Tapi ternyata kalau dilihat dari reaksi Adrian, pikirannya tidak benar.
******
Usai memasak, Angel kembali ke kamarnya. Ia mencari-cari baju kotor sang suami untuk Ia cuci.
Ada walk in closet yang terhubung dengan kamar Andrean. Ia menemukan laundry bag di dekat salah satu almari. Ia melihat isinya. Hanya ada tiga kaus dan juga celana santai milik Andrean.
Ia membawanya ke ruang untuk melaundry yang tadi dicari-carinya. Ia mencuci pakaian miliknya dan juga Andrean. Rencananya, setelah ini kalau Andrean sudah bangun, Ia akan membereskan kamar, dan membantu maid untuk membersihkan istana besar milik keluarga suaminya itu.
******
Andrean mengerinyit saat pintu kamarnya diketuk. Ia membuka matanya perlahan. Lalu menatap gordyn kamarnya yang sudah dibuka hingga terang bumi masuk ke dalam kamarnya.
"Andrean,"
Andrean beranjak dari ranjang untum membuka pintu kamar yang diketuk oleh Lovi.
"Andrean,"
Andrean menekan tuas pintu. Lovi langsung menatapnya sebelum mengalihkan pandangannya ke dalam kamar Andrean.
"Dimana Angel? Ayo, kita sarapan bersama. Angel yang memasak semuanya. Astaga, anak itu,"
"Huh?"
Andrean nampak bingung. Jelas saja, Ia baru bangun jadi tidak tahu kemana Angel. Dan apa kata Mommynya tadi? Angel memasak? Kapan gadis itu bangun?
"Angel dimana, Sayang?"
"Aku baru bangun, Mom,"
"Astaga, pantas saja wajahmu masih kusut. Biasanya bangun lebih pagi dari ini,"
"Aku baru bisa tidur pukul dua malam,"
Lovi mengerjap beberapa saat. Kemudian senyum nya mengembang. Ia menjawil dagu putra sulungnya.
"Sibuk sekali ya sampai jam dua baru tidur? Sibuk apa?"
Alis Lovi naik turun menggoda anak sulungnya itu. Ia terkekeh saat melihat Andrean yang mengalihkan perhatiannya, tidak ingin menanggapi Mommynya.
"Panggil Angel. Kita sarapan bersama ya,"
__ADS_1
Lovi meninggalkan putranya menuju ruang makan. Karena terlalu lelah, Ia juga bangun sedikit kesiangan, tidak seperti biasanya. Ketika Ia turun ke dapur untuk melihat maid memasak, rupanya semua makanan sudah siap dan mereka semua mengatakan bahwa Angel yang memasak.