
Andrean mengerinyit bingung karena tiba-tiba saja Angel bicara mengenai hal itu di telepon. Padahal sebelumnya gadis itu sendiri yang mengatakan bahwa Ia ingin berhenti bekerja dan sepenuhnya menjalankan perannya sebagai seorang istri.
"Kenapa kamu merubah keputusan?"
"Engggh, aku--aku---"
Angel berpikir keras mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang suami.
Gesty bersedekap dada menunggu adiknya selesai bicara. Ia harus memastikan sendiri adiknya benar-benar menuruti keinginannya.
"Aku tidak ingin bosan di rumah. Tapi aku janji akan membagi waktu dengan baik,"
Angel menggigit bibirnya resah saat mendengar suaminya menghela napas panjang.
"Andrean..."
"Kita perlu bicarakan ini di rumah nanti,"
__ADS_1
Angel memejamkan matanya sejenak kemudian menunduk. Ia mengangguk pelan, Andrean mungkin ingin bicara lebih jelas padanya secara langsung, bukan melalui telepon seperti ini.
"Iya, Andrean. Maaf aku sudah mengganggu waktumu,"
Angel menutup panggilan. Kemudian menatap kakaknya yang sudah tidak sabaran menunggu jawabannya.
"Kak, Andrean belum bisa menyetujuinya sekarang. Kami akan bicara lagi di rumah,"
"Ck!"
Gesty berdecak kesal. Kalau Andrean belum mengizinkan sekarang, akan ada kemungkinan Andrean tidak mengizinkan Angel untuk bekerja usai mereka bicara di rumah.
Gesty menggeram kesal. Ia dibuat menunggu oleh Andrean. Gesty berdecih menatap adiknya tajam. Kemudian Ia bergegas meninggalkan Angel.
Angel menghela napas lega. Angel bersyukur Kakaknya pergi. Ia memutuskan untuk duduk terlebih dahulu sebelum pulang untuk menghilangkan ketakutannya.
Angel menghabiskan waktu lima belas menit di kursi taman sebelum akhirnya beranjak meninggalkan taman kampusnya itu.
__ADS_1
"Tiba-tiba aku rindu Ibu. Lebih baik sebelum pulang, aku ke makam Ibu dulu," gumamnya dengan antusias untuk meluapkan rasa rindunya dengan Lianne yang telah terkubur dengan tanah.
Terakhir Ia berkunjung ke makam Lianne adalah sebelum menikah. Ia ke sana untuk meminta izin pada Ibunya sebelum melangkah menuju pernikahan bersama Andrean. Selain untuk meminta izin, Angel memang sering ke makam Ibunya untuk berdoa sekaligus berbagi cerita kesehariannya. Meskipun sang Ibu tak bisa menanggapi ceritanya, tapi Ia merasa lega telah mengeluarkan semua keluh dan kesahnya pada wanita yang melahirkannya itu.
Angel tersenyum menatap makam Ibunya. Kemudian Ia merendahkan tubuhnya di samping makam. Ia mulai berdoa pada Tuhan untuk Ibunya.
"Ibu, bagaimana kabar mu hari ini? Aku harap selalu baik. Dan Ibu sudah tidak sakit lagi 'kan?"
Angel mulai mengajak sosok Ibunya yang sudah tak ada lagi di dunia ini untuk bicara.
"Aku merindukan Ibu. Aku rindu pelukan Ibu, usapan lembut yang Ibu berikan di kepalaku saat aku berbuat salah dan sebelum aku tidur. Aku rindu semangat yang selalu Ibu berikan padaku agar aku bisa meraih mimpi setinggi mungkin. Aku tidak pernah bosan mengatakan, terimakasih Ibu atas semua yang telah Ibu berikan padaku. Karena Ibu, aku bisa menjadi kuat seperti ini,"
Angel meraup oksigen sebanyak mungkin ketika cairan di hidungnya mulai penuh. Ia tidak pernah bisa menahan tangis ketika bertemu dengan Ibunya. Bukan Ia belum bisa melepas kepergian Ibunya, melainkan Ia hanya rindu. Ia rindu dengan kehadiran sosok malaikat cantik dalam hidupnya itu.
"Nama Ibu akan selalu ada dalam doaku. Yang tenang di sana. Tunggu aku ya, Ibu. Semoga kita berdua bisa kembali bertemu di tempat terindah. Dan bisa saling memeluk lagi, bersama Nenek juga,"
"Aku mencintaimu dan menyayangimu, Ibu."
__ADS_1
--------