
“Angel muntah di perjalanan, dia keliatan lemas jadi aku putuskan untuk tidak jadid atang ke acara reuni itu. Aku bawa pulang Angel,”
Andrean datang sambil menjelaskan dan ada ponsel yang sedang melekat di telinganya. Andrean sedang menunggu panggilannya mendapatkan tanggapan dari dokter keluarga.
“Apa? Angel muntah? Kenaoa bisa? Apa penyebabnya? Bukankah dari rumah Angel baik-baik saja, Ean?”
“Iya itu dia masalahnya. Angel sendiri juga bingung kenapa dia tiba-tiba mual. Akhirnya tadi aku menghentikan mobil di pinggir jalan karena Angel sudah benar-benar tidak tahan dengan rasa mualnya,”
“Ya Tuhan, Angel apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu bisa muntah seperti itu? Apa kamu keracunan makanan? Tapi ‘kan kamu tidak makaan sembarangan ya? Apa mungkin karena kamu belum benar-benar sehat,”
“Ya aku pikir juga begitu,” sambung Adrian setelah adiknya punyampendapat sendiri. Menurut Adrian, Angel belum seratus eprsen pulih kesehatannya pasca demam tinggi yang dialaminya.
“Apa karena aroma mobil Ean yang tidak enak? Tapi mobil kita tidak pernah ada yang bau ya karena rajin dibersihkan dan selalu harum. Kenapa—“
“Tidak-tidak, bukan karena mobil sebenarnya. Memang perutku ini aneh. Benar-benar aneh belakangan ini. Tapi kalian tenang saja. Aku sehat,”
“Kalau sehat tidak akan muntah, Angel,”
“Siapa yang muntah? Siapa yang sakit?”
Tiba-tiba Lovi bergabung di ruang keluarga. Ketika Ia hampir sampai di ruang keluarga Ia mendengar ada yang muntah. Ia jadi penasaran dan tentu langsung bertanya pada anak-anaknya yang saat ini sedang berkumpul.
“Angel, Mom. Dia muntah saat perjalanan tadi,”
“Astaga karena apa? Kenapa bisa muntah? Akhirnya kalian berdua tidak jadi datang ke acara itu?”
Angel dan Andrean kompak menggelengkan kepala mereka menjawab dengan jujur pertanyaan Lovi.
“Kenapa, Sayang?”
“Aku juga tidak tau, Mommy. Tiba-tiba perutku seperti ditekan ingin mengeluarkan semua isinya. Aku langsung minta Ean untuk berhentikan mobilnya karena aku benar-benar sudah tidak kuat menahannya. Begitu mobil berhenti aku langsung muntah, semuanya keluar dan setelahnya aku jadi lemas,”
“Ya Tuhan, sakit apa kamu, Angel? Makanya jangan kelelahan dulu, kamu harus banyak istirahat. Sakit yang kemarin demam sama kepala penjng itu mungkin belum selesai, lalu sekarang ditanbah dengan mual,”
“Mom, tapi sekarang sudah tidak mual, hanya tadi saja sekali,”
“Halo,”
Suasana langsung hening ketika Andrean berdiri dengan ponsle yang masih melekat di telinga dan Andrean sedikit menjauh dari ruang keluarga memberikan waktu untuk mereka yang masih di sana tetap mengobrol, dan Ia bisa bicara dengan tenang juga bersama dokter Rose.
“Ya sudah kamunistirahat di kamar. Itu Ean telpn dengan siapa sih? Bukannya diajak Istrinya ke kamar,”
“Telepon dokter, Mom. Padahal aku sudah bilang aku baik-baik saja tapi Andrean tetap mau memanggil dokter,”
“Nah itu ide bagus. Mommy setuju sekali,”
“Sama, aku juga setuju dan senang Ean panggil dokter,” ucap Adrian.
“Angel, kakakku itu khawatir dnegan kondisi kamu makanya dipanggilah dokter supaya dia bisa mengevek kondisi kamu yang sebenarnya. Ya semoga saja kamu tidak apa-apa ya, hanya karena kelelahan saja,” ujar Auristella.
Tidak lama Andrean bicara melakui sambungan telepon, Andrean langsung menghampiri Angel dan mengajaknpergi ke kamar untuk istirahat.
“Sudah dipanggil dokternya, Ean?” Tanya Lovi sebelum Andrean bergegas ke kamarnya.
“Sudah, Mom,”
“Ya sudah tunggu dokter datang periksa Angel baru kamu boleh tidur ya, Sayang,”
“Iya, Mom. Aku tidak akan membiarkan Angel sendkrian. Dia takur dokter. Dibawa ke rumah sakit saja menolak terus,”
Angel terkekeh mendengar sindiran suaminya yang ada di akhir kalimat. Kalau Ia maish bisa menahan rasa sakitnya, maka Ia tidak akan datang ke rumah sakit untuk mensmui donter dan diperiksa.
“Mommy, apa Mommy tidak curiga sesuatu?”
Auristella berbisik pada Lovi yang barus aja duduk di sebelah kiri Auristella lalu menyandarkan kepala di bahu anaknya itu.
__ADS_1
“Curiga apa, Sayang?”
“Serous Mommy tidak mencurigai sesuatu?”
“Mommy bisa baca pikiranmu,”
“Apa itu? Coba Mommy tebak,”
“Kita bicara bersama biar lebih seru, bagaimana, Mom?”
“Okay, Ian hitung dari satu sampai tiga. Mommy dan Auris akan sama-sama menyampaikan kecurigaan kami,”
“Okay aku mulai hitung ya. Satu—“
“Dua—-“
“Tiga—“
“Angel hamil,”
Lovi dan anak perempuannya melontarkan kecurigaan mereka secara bersamaan. Ternyata bukan hanya salah satu dari mereka berdua yang curiga kalau Angel hamil, tapi mereka berdua sama-sama curiga ke arah sana.
“Wow Mommy dan Auris hebat juga ya. Kenapa bisa bersamaan begitu? Waktu dan ucapannya kompak sekali,”
“Namanya juga Ibu dan anak pasti punya kemistri yang kuat lah, Ian,”
“Tapi sepertinya aku tidak pernah bicara kompak seperti itu dengan Mommy,”
“Nah berarti kemistri kamu dengan Mommy masih kurang. Aku yang paling kuat kemsitrinya. Hahaha, aku anak terakhir, anak perempuan lagi. Kamu anak keberapa? Yah pantas saja kemistri kurang kuat, karena anak kedua,”
“Ssstt Auris jangan mulai ya, Sayang. Kamu jangan menyebalkan begitu nanti giliran dibalas okeh kakakmu, pasti kamu tidak terima,”
“Nah betul itu, Mom. Terimakasih sudah membelaku ya, Mom,”
“Mommy membela anak yang benar, kalau yang salah tidak mau lah Mommy bela. Nanti malah merasa tinggi kalau salah tapi malah dibela. Nanti tidak bisa belajar dari kesalahan karena seringnya dibela,”
“Ian berisik!”
“Kenapa? kamu tidak senang aku dibela oleh Mommyku sendiri? Hmm? Hahaha makanya jangan menyebalkan. Aku dan Mommy itu kesmitrinya juga kuat, karena anak dan ibu. Tidak bisa dibilang kemistri tidak kuat hanya karena tidak pernah bicara berbarengan,”
“Tidak terima ya?”
“Sejak kapan ada aturan kalau tidak bisa ngomong kompak, tandanya kemistri antara anak dan ibu tidak kuat. Ah kamu bikin materi sendiri,”
“Sudah-sudah jangan dilanjut lagi perdebatannya,”
Lovi memarik daun telinga kedua anaknya yang malah tertawa karena telinga mereka ditarik oleh Lovi.
“Hahahaha aku malah geli bukan sakit, Mommy,”
“Malah kesenangan dia ditarik telinganya. Oh mau ditarik giginya biar lepas sekalian,”
“Ya jangan, Mommy. Kenapa Mommy kejam?”
“Ya karena kamu menyebalkan,”
“Sudahi perdebatan kalian paham atau tidak?”
“Paham, Mommy,”
“Ya sudah sekarang Mommy mau ke kamar Ean dan Angel untuk melihat keadaan Angel,”
“Dokter mungkin sebentar lagi akan datang,”
“Ya, Andrean sudah memanggilnya,”
__ADS_1
Lovi khawatir dengan kondisi Angel. Sekarang Ia ingin menghampiri Angel memastikan setelah sampai di kamar tak ada lagi yang namanya muntah.
“Iya, Mommy,”
Andrean segera membuka pintu kamarnya karena Lovi mengetuk. Ia tersenyum tipis menatap Lovi.
“Angel kemana?” Tanya Lovi setelah Ia tidak melihat keberadaan menantunya di ranjang.
“Apa Angel tidak istirahat?”
“Lagi di kamar mandi,”
“Mual lagi?”
“Tidak, Mom. Hanya buang air kecil,”
“Dokter sudah dihubungi?”
“Sudah, tinggal tunggu beliau datang saja. Memang ada apa, Mom?”
“Ya tidak apa-apa. Mommy ke sini untuk cari tau Angel muntah lagi atau tidak,”
“Tidak, Mom. Aku minta tolong doakan Angel supaya tidak kenapa-napa ya, Mom. Jujur aku takut sekali terjadi sesuatu pada Angel. Aku berharap Angel tidak sakit apa-apa, hanya sekedar kelelahan,”
“Entah kenapa Mommy punya firasat kamu sebentar lagi akan jadi ayah, Ean,”
“Apa? Kenapa Mommy berpikir seperti itu? Memang ada tanda-tanda wanita hamil yang bisa Mommy lihat dari Angel?”
“Mual, kalau Mommy perhatikan nafsu makannya juga kurang ya?”
“Iya benar, Mom. Aku pikir karena sakit saja,”
“Iya itu mungkin, tapi pemikiran Mommy sama dengan Auris,”
“Maksudnya, Mom?”
“Iya tadi kami sama-sama curiga kalau Angel itu hamil,”
“Kita lihat hasil pemeriksaan nanti ya, Mom,”
“Okay semoga ada kabar baik. Kalau benar istrimu itu mengandung, Mommy akan sangat-sangat bahagia,”
“Terimakasih sudah selalu mendukung aku maupun Angel ya, Mom,”
“Sa-sama,bSayang. Orangtya akan selalu mendukung dan mendoakan anak-anakny,”,”
Angel keluar dari kamar mandi melihat keberadaan sosok Lovi. “Hai, Mommy. Ada apa, Mom?”
“Tidak apa-apa, Mommy hanya Ingin melihat kamu di kamar, memastikan kamu baik-baik saja,”
“Aku baik-baik sama, Mommy,”
“Ya semoga, Sayang,”
“Angel, kata Mommy barusan, Mommy punya dugaan kalau kamu itu mengandung. Ini masih perasaan Mommy dan Auristella saja ya,”
“Hm? Mengandung? Mommy, kalau ternyata tidak bagaimana? Aku selalu takut membuat Mommy merasa kecewa,”
“Astaga, Sayang. Jangan bicara seperti itu. Ini kita hanya lagi bermain tebak-tebakan saja. Kenapa? Karena memang Mommy melihat tanda-tanda aneh dari . Pertama, Mommy perhatikan nafsu makanmu menurun ya, badan juga kelihatan semakin kurus. Dan barusan kamu tiba-tiba mual. Wajarlah kalau Mommy jadi punya dugaan seperti itu,”
“Kamu jangan merasa bersalah. Di sini kita tidak ada yang menekan kamu supaya segera jadi ihu, Sayang,” ujar Andrean seraya terkekeh. Ia tidak mau istrinya merasa terbebani padahal tidak ada unsur paksaan. Lovi hanya sedang menebak saja barusan.
“Karena Mommy lihat kamu itu beda belakangan ini. Waktu kapan itu ya, Bibi pernah laporan pada Mommy saat kamu menghampiri Bibi di dapur, kamu mual karena Bibi sedang memasak sesuatu tapi Mommy lupa Bibi bilang apa. Padahal biasanya ‘kan tidak seperti itu,”
“Itu karena lagi sakit mungkin, Mom,”
__ADS_1
“Ya…kita liat nanti,”