Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 16


__ADS_3

"Memang harus hari ini menjenguk Angel? Jujur, aku sudah tidak sabar untuk merebahkan diri di tempat tidur,"


"Harus! Dimana empati mu, Adrina? Angel 'kan juga teman kamu,"


Adrian menautkan tangan Adrina lalu menarik gadis itu menuju mobilnya. Adrina benar-benar kelihatan lelah memang. Tapi Ia sudah menunggu Adrina sejak tadi dan Ia tidak ingin penantiannya itu sia-sia.


"Semangat sekali ingin bertemu Angel,"


Adrian menoleh dengan kerutan di keningnya. Ia mengetuk kening Adrina dengan gemas.


"Aku ingin melihat kondisinya secara langsung,"


Adrina mengangguk-anggukan kepalanya dan pasrah saja saat Adrian membuka kan pintu mobil untuknya lalu menyuruhnya untuk cepat memasuki mobil.


"Kenapa harus cepat-cepat sih? Tenang saja, Angel tidak akan hilang,"


Adrian berdecak keras. Ia segera menyalakan playlist musik sebagai pengisi suasana selama perjalanan nanti.


Ia mulai memacu mobilnya. "Sama seperti kamu, aku juga ingin segera beristirahat. Setengah jam aku menunggu kamu,"


"Siapa yang menyuruhmu untuk menunggu? Aku?"


Adrian menggeleng. Hanya saja Ia rasa Adrina memang sudah seharusnya diajak menjenguk Angel. Adrina tidak tahu sebelumnya kalau Angel dirawat di rumah sakit. Rencananya Ia akan menjenguk besok. Tapi Adrian memaksanya untuk hari ini saja ke rumah sakit.


"Sakit apa?"


"Kelelahan,"


Adrina membulatkan mulutnya seraya mengangguk. Kemudian Ia mulai menikmati suasana lalu lintas, tak ada lagi pembicaraan antara dirinya dan Adrian.


******


Andrean menutup pintu mobilnya. Ia mengunci mobilnya lalu melangkah ke dalam bangunan serba putih yang menjadi tempat Angel mendapat perawatan sejak semalam.


Usai bicara dengan Lovi, Ia langsung memacu mobilnya. Sebab Lovi juga sudah memintanya untuk segera pergi melihat Angel dan menitipkan tiramisu cake buatannya pada Andrean untuk Angel.


Andrean membuka pintu ruangan Angel dan Ia mendapati gadis itu sedang fokus menatap ponsel. Ia menutup pintu dengan pelan tanpa menimbulkan suara.


Ia meletakkan goodie bag berisi tiramisu cake lalu duduk di sisi Angel hingga membuat gadis itu terkejut.


"Hari ini juga kamu sudah dibolehkan pulang?"


"Iya, nanti dokter akan datang lagi untuk memastikan keadaanku,"


Andrean mengangguk, lalu dagunya mengarah ke goodie bag hingga Angel menatap ke sana.


"Cake buatan Mommy,"


Mata Angel langsung berbinar. Ia segera beranjak duduk dibantu Andrean meraih goodie bag itu.


"Untuk duduk saja masih sulit. Kamu yakin akan pulang? Atau kamu yang meminta pada dokter agar kamu diizinkan pulang?" Tanya Andrean curiga. Mengingat betapa sayang nya gadis ini pada rumah lebih tepat pada penghuni rumahnya, bisa jadi Angel yang meminta pada dokter agar segera diizinkan pulang.


Angel terkekeh tak menyangka Andrean akan berpikir seperti itu. Ia memang sempat berkata pada dokter, "Aku jangan lama-lama dibiarkan di sini ya, Dok,"


"Kalau kondisi mu membaik, maka tidak akan lama,"

__ADS_1


Sudah dipastikan Angel tidak berwenang untuk meminta pada Dokter agar cepat dipulangkan. Harus dilihat dari kondisinya terlebih dahulu, barulah Dokter memutuskan.


"Sekalipun aku meminta, Dokter tidak akan semudah itu mengabulkan," ujar Angel seraya membuka wadah tiramisu cake yang sengaja dibuat Lovi untuk Angel.


"Woaaah, ini lezat sekali," decak Angel membayangkan cake lembut itu berada di mulutnya.


"Belum dicoba," gumam Andrean yang mengundang tawa Angel.


Angel segera meraih satu cake dan Ia melahapnya tak sabaran. Rasanya sesuai bayangan. Lembut dan manisnya membuat Angel tak cukup menyantap satu.


"Kamu hanya melihat saja? Tidak ingin coba?"


Andrean menggeleng. Ia sudah sering menikmati cake buatan Mommy nya tak terkecuali tiramisu cake itu. Jadi untuk kali ini biarkan saja hanya Angel yang menghabiskan cake Mommy nya.


"Astaga, aku sampai lupa mengucapkan terimakasih,"


Angel menepuk keningnya. Ia tersenyum lebar ke arah Andrean yang sejak tadi diam saja memperhatikan aktifitasnya, "Katakan pada Aunty Lovi, terimakasih untuk cake nya. Ini lezat sekali dan aku menyukainya,"


"Ya, akan aku sampaikan,"


"Kamu yakin tidak mau mencoba nya?"


"Aku sudah sering menikmati itu,"


"Oh begitulah senang nya punya Ibu," gadis itu menggumam. Ia teringat sosok Lianne yang juga gemar memasak. Tidak pernah bosan membuat sesuatu yang baru kemudian kalau Angel suka pasti akan diingat dan akan sering dibuat nya lagi.


Andrean bisa melihat rindu, putus asa, dan perasaan lainnya yang bercampur jadi satu dalam sorot mata Angel saat ini.


Ia menghela napas pelan kemudian berdehem hingga mengalihkan perhatian Angel dari cake yang dikunyah nya dengan perlahan karena bayangan tentang Ibunya tiba-tiba terlintas di benaknya.


Lovi selalu siap menyediakan bahunya untuk menjadi penopang Angel kala Angel merasa putus asa dan Lovi akan selalu membuka lebar tangannya untuk memeluk Angel ketika Angel sedih dan butuh kehangatan dari pelukan seorang Ibu.


"Aku ingin bicara padamu mengenai perjodohan itu," ujar Andrean tiba-tiba yang membuat kening Angel mengerinyit. Ia pikir tidak ada masalah lagi dengan itu. Sehingga Ia cukup terkejut ketika Andrean akan membahasnya. Bukankah mereka sudah sepakat untuk menjalani semuanya terlebih dahulu dan tidak terburu-buru untuk melangsungkan pernikahan?


"Aku ingin menikah dengan kamu secepatnya,"


*****


Devan memasuki pelataran istananya dan Ia mengerinyit saat melihat sebuah mobil asing yang berada di lingkungan istana nya bersama keluarga kecilnya.


Ia tidak langsung turun, melainkan memperhatikan gerak gerik mobil di depannya itu.


Matanya menangkap sosok Auristella keluar dari mobil itu. Lalu Auristella melambai pada pengemudinya.


"Dia tidak pulang dengan driver? Seharusnya kalau tidak dengan driver, Ia pulang dengan Andrean atau Adrian, biasanya seperti itu. Tapi sekarang dia pulang dengan siapa?" Gumam Devan bertanya-tanya. Mobil itu melewati mobilnya lalu keluar dari pekarangan. Sementara Auristella sudah melangkah masuk ke dalam rumah.


Devan segera keluar dari mobil. Ia menyerahkan kunci mobilnya pada pekerjanya yang memang bertugas mengamankan semua mobil Devan di carport.


"Auristella,"


Devan melangkah cepat seraya memanggil putrinya yang kebetulan akan melangkah ke kamarnya.


"Ada apa, Dad?"


"Kamu pulang dengan siapa tadi?"

__ADS_1


"Temanku, Yongkie dan Ryn. Kenapa, Dad?"


"Jangan dibiasakan pulang tanpa orang suruhan Daddy. Bahaya selalu mengintai kita, Auris,"


Selalu itu yang Devan tekankan pada ketiga anak dan juga istrinya. Devan bukanlah orang sembarangan. Ia pebisnis, yang punya banyak saingan. Apalagi bila mengingat masa lalunya yang buruk. Bisa saja orang-orang yang memiliki dendam padanya masih dan akan terus mengincar nyawa Devan maupun orang-orang terdekat nya.


"Iya, Dad. Aku juga jarang pulang tanpa mereka yang Daddy suruh untuk menjagaku. Daddy tenang saja. Lagipula ada Ryn dan Yongkie juga. Aku yakin mereka bisa membantu aku dalam menjaga diri,"


"Hai Auris, Dad. Rupanya kalian sudah pulang,"


Pembicaraan mereka terhenti saat Lovi menyapa. Perempuan itu datang dengan penampilan segarnya. Ia baru saja selesai membersihkan diri. Usai membuat cake tadi, Ia akan mandi tapi Andrean mengajaknya bicara.


"Sebelum makan malam, kita nikmati coffee dengan cake buatan Mommy ya?"


Auristella meletakkan satu tangannya di pelipis, "Siap, Mom. Aku mandi dulu ya,"


Lovi dan suaminya mengangguk dan Auristella langsung bergegas untuk membasuh tubuhnya yang terasa lelah dan penat. Perutnya juga sudah menuntut bagian saat Lovi memberi tahu bahwa Ia membuat cake.


*****


"Sialan! Mobilku jadi buruk rupa," Adrian mengumpat kesal, Ia masih sulit menerima kenyataan bahwa mobilnya tidak sengaja bersentuhan dengan mobil lainnya saat di parking area rumah sakit.


"Sudah jangan menggerutu terus. Tadi lelaki itu sudah ingin bertanggung jawab tapi kamu yang menolaknya,"


"Ya bagaimana aku tidak menolak? Dia sudah tua, aku kasihan jika harus menerima uang pertanggung jawabannya. Lagipula sudah tahu usia tidak lagi muda, masih saja membawa mobil sendiri,"


Adrina mendengus seraya mengusap telinganya karena terus-terusan mendengar mulut Adrian yang menggerutu sepanjang langkah mereka menuju ruang perawatan Angel.


"Kenapa?!"


"Asal kamu tahu, telingaku sebentar lagi akan tuli," Adrina menatap Adrian seraya mulutnya mencibir.


"Memang berapa sih biaya ganti ruginya? Biar aku bantu,"


Adrian menatapnya datar seolah berkata, "Aku orang kaya tidak usah bantu!'


"Aku serius, Adrian. Sepertinya mobilmu lecet lumayan parah. Berhubung aku ini orang yang baik hati, jadi aku akan---"


"Tidak usah, uangku lebih banyak daripada uang mu,"


Dengan kesal Adrian meraup wajah cantik Adrina hingga gadis itu memekik kesal. Adrina memiting lengan Adrian yang semena-mena dengan wajah cantiknya.


Adrian tidak tahu berapa biaya perawatannya. Dengan mudah Adrian menyentuh wajahnya yang Ia rawat sepenuh hati itu dengan tangannya yang entah habis menyentuh apa.


"Apa?! Kenapa melotot padaku?"


"Tidak sopan!" Desis Adrina yang sudah benar-benar dibuat naik darah dengan Adrian yang uring-uringan karena mobilnya yang tak sengaja disentuh orang.


"Tanganmu bau neraka, tahu tidak?!"


"Sembarangan!" Adrian akan kembali meraup wajah Adrina yang sialnya menggemaskan itu. Tapi sayang, Adrina lebih cepat menghindar. Mereka sampai menghentikan langkah demi perdebatan itu. Beberapa orang di dekat mereka berhasil dicuri perhatiannya oleh mereka berdua.


"Tangan orang tampan tidak ada cerita bau. Mau bukti?"


Adrian mengangsurkan tangannya pada Adrina yang langsung dihempas oleh gadis itu dengan kesal.

__ADS_1


Kemudian Adrina melanjutkan langkah karena Ia malu bila harus menanggapi Adrian. Ia rasa perdebatan tidak akan berakhir kalau bukan dia yang mengakhiri.


__ADS_2