
“Ya karena kamu bilang ucapanku barusan itu tidak lucu, tapi kenyataannya kamu tertawa. Berarti aku berhasil menghibur kamu, seharusnya. Iya ‘kan?”
“Sudahlah kita sudahi saja obrolan tidak penting ini. Aku mau istirahat, kamu juga harus istriahat karena pasti lelah ‘kan menunggu aku datang?”
“Jadi kamu memaafkan aku atau tidak?”
“Tentu, aku sudah jawab tadi, Drina. Aku memaafkan kamu. Tidak dnegar atau tidak paham sih sebenarnya?”
“Ya sudah jangan kesal, aku ‘kan hanya ingin memastikan,”
“Sudah aku tegaskan kalau aku sudah memaafkan kamu, Drina,”
“Ya sudah kalau begitu aku pulang ya,”
“Iya hati-hati,”
“Hati-hati? Memang rumah kita jauh?”
“Ya memang pesan hati-hati itu untuk yang rumahnya jauh-jauh saja?”
“Tidak juga, okay aku pulang dulu ya, jangan marah lagi ya, Ian,”
“Ya,”
Adrian ikut beranjak meninggalkan sofa mengantarkan Adrina sampai keluar dari rumahnya. Setelah itu barulah Ia bergegas ke kamarnya untuk membersihkan badan sekaligus istirahat.
******
__ADS_1
Andrean bingung ketika tidak mendapati Angel yang biasanya ada di atas tempat tidur atau sofa kamar.
Lalu mata Andrean mengarah pintu balkon yang terbuka. Ia yakin istrinya berada di sana. Dan begitu Ia mendekat ke arah balkon, ternyata benar Angel sedang menyendiri di balkon.
Andrean langsung berjalan mendekati istrinya yang ternyata sedang menikmati cokelat. Andrean berdiri telat di sebelah Angel.
“Kenapa di sini, Ngel?”
“Eh Astaga,”
Angel terkejut mendapati keberadaan suaminya yang tiba-tiba. Andrean terkekeh dan merangkul pinggang istrinya dari samping.
“Maaf, aku membuat kamu kaget ya?”
“Iya, tapi tidak apa. Kamu sudah pulang ternyata,”
“Ya sudah kamu mandi dulu, nanti kita duduk di sini berdua ya,” ujar Nagel seraya menunjuk dua buah kursi yang berhadapan.
“Memang kenapa? Ada yang mau kamu bicarakan?”
Andrean merasa penasaran dengan alasan istrinya yang ingin Ia duduk di balkon nanti setelah mandi.
“Ya tidak apa-apa, aku hanya ingin kamu duduk aaja di sini,”
“Tidak ada yang mau kamu bicarakan?”
Angel menggelengkan kepala. Andrean menghela napas kecewa. Ia pikir istrinya akan menjelaskan perihal yang ada di foto itu. Tapi ternyata tidak. Angel sepertinya hanya ingin mereka menghabiskan waktu berdua saja di balkon. Andrean akan dnegan senang hati menengarkan penjelasan Angel sebelum Ia yang bertanya.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu ya,”
Andrean bergegas ke kamar mandi meninggalkan Angel sendirian di balkon. Di dalam kamar mandi, Andrean sedang berusaha untuk mengendalikan dirinya sendiri. Sejak masuk ke dalam kamar sebenarnya rasa kesal di dadanya meletup-letup apalagi setelah beradu tatap dengan Angel barusan. Tapi Ia berusaha untuk menutupinya dengan sikap dewasa.
Alih-alih langsung melampiaskan emosi, Andrean akan berusaha untuk tetap tenang walaupun cemburu membakarnya. Ia akan cari waktu yang telat, tapi yang jelas secepatnya, untuk meminta penjelasan Angel tentang foto yang dikirimkan kepadanya itu. Dan Ia berharap Angel jujur, tidak menutupi apapun darinya.
Andrean tidak pernah lama kalau mandi. Tidak sampai sepuluh menit biasanya Ia sudah keluar dengan badan segar dan bersihnya. Setelah mengenakan pakaian, Ia langsung menyisir rambutnya yang masih basah, kemudian Ia bergegas ke balkon.
Angel sudah duduk, tidak berdiri lagi. Ia melewati Angel sambil mengusap puncak kepalanya.
“Cepat ya mandinya,”
“Iya, selalu cepat ‘kan?”
“Karena tidak sabar juga mau duduk berdua denganku di sini ya?” Tanya Angel sambil meraih tangannya dan Ia genggam lembut. Andrean untuk tersenyum getir. Angel yang Ia cintai dnegan begitu besar, yang Ia perlakukan sangat baik seperti Ia memperlakukan sebuah barang berharga, apa mungkin selingkuh lalu pura-pura romantis seperti ini di depannya? Andrean sulit untuk percaya. Tapi foto tadi seperti menamparnya.
“Kamu makan cokelat?”
“Sudah habis, satu bungkus aku semua yang makan,” ujar Angel menjawab pertanyaan suaminya yang tadi sempat mepihat Angel menikmati cokelat tapi sekarang tidak lagi ternyata sudah habis.
“Wow, hati-hati batuk, Sayang,”
“Iya, aku rasa aku butuh cokelat untuk membuat pikiranku tidak kalut. Jadi aku turun ke bawah, aku nabil cokelat di dalam lemari es,”
“Apa yang membuat pikiranmu jadi kalut? Hmm? Jelaskan padaku,”
Angel tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Ia cerita kalau tadi di kafe tempat Ia bekerja, Ia dihampiri oleh seorang laki-laki asing dan diperlakukan dengan tidak sopan oleh lelaki itu. Kalau Ia cerita, Andrean pasti akan marah besar, Andrean bisa menganggapnya menjijikan juga bahkan.
__ADS_1