
“Pencuri!”
“Itu ada pencuri mau mengambil ponselmu!”
Angel terkejut ketika ada yang berteriak menunjuk tasnya dan juga lelaki yang saat ini berlari menjauh darinya.
Angel baru sadar kalau Ia hampir menjadi korban kejahatan. Tanpa pikir panjang Angel langsung membuka tasnya yang memang tidak tertutup dengan baik, alias menyisakan ruang untuk tangan jahat masuk ke dalam tasnya untuk mengambil yang bukan haknya.
“Apa yang hilang?”
Tanya wanita yang baru saja menjadi penyelamat Angel. Kalau tidak ada wanita itu, Angel rasa akdi kejahatan tadi akan berjalan dengan mulus.
“Syukurnya tidak ada yang hilang. Terimakasih sudah membantuku,”
“Ya sama-sama, lain kali lebih waspada,”
Andrean sedang memilih minuman dan istrinya sibuk memilih makanan ringan, alhasil Andrean tidak tahu kalau istrinya hampir saja menjadi korban kejahatan.
Ketika Andrean kembali dengan senyum, Angel membalas dengan senyum walaupun wajah paniknya masih ada.
“Aku membeli ini, teh bunga sakura sepertinya enak,”
“Iya,”
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa,”
“Wajahmu kelihatan tegang, kenapa? Kamu baik-baik saja ‘kan?”
“Ya, tenang saja,” jawab Angel sambil mendekap tasnya dengan perasaan waspada. Hampir saja Ia kehilangan barang berharganya. Bukan hanya masalah uang, ponsel saja, tapi juga soal identitasnya yang sangat penting.
“Okay, kamu tidak berbohong ‘kan?”
“Tidak,”
“Kenapa memegang tas? Takut aku curi?”
Angel tertawa mendengar pertanyaan Andrean. Untuk apa Andrean mencuri? Andrean punya segalanya, bahkan yang ada di tasnya itu dari Andrean juga.
“Ya, tapi bukan takut dicuri sama kamu,”
“Terus maksudnya bagaimana?”
“Sama orang lain,”
“Oh, tidak mungkinlah. Di sini sepertinya aman,”
__ADS_1
“Pemikiran kamu sama denganku ternyata karena di luar ada security, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Dimana-mana, kewaspadaan itu perlu,”
Tadinya Angel juga santai makanya sampai lalai menutup tasnya dengan rapat. Tapi ternyata yang barusan terjadi membuatnya sadar kalau kejahatan itu bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Sekalipun security menjaga dengan matanya yang tajam.
“Aku sudah selesai memilih, sekarang mau ke kasir, kamu mau beli apalagi?”
“Tidak ada,”
Setelah puas membeli buah tangan untuk orang-orang terdekat, sekaligus untuk mereka sendiri, waktunya mereka membayar di kasir.
******
“Kamu mau kemana, Ian? Rapi sekali penampilanmu seperti orang yang mau pergi dengan kekasihnya,”
“Biasa lah, pergi dengan kembaran beda rahim,” Jawab Adrian dengan santai sambil menaik turunkan alisnya menatap sanga dik yang bingung melihat kakak keduanya itu keluar dari kamar dengan celana dan jaket jeans. Penampilan Adrian kelihatan rapi, Auristella yakin Adrian akan pergi, ditambah lagi dengan aroma parfumnya yang tercium dari jarak tujuh meter dengan posisi Auristella di depan pintu kamarnya, dan Adrian di depan pintu kamar dan Adrian di dekat tangga hendak turun.
“Hah? Pergi dengan Adrina maksudmu?”
Auristella baru keluar kamar dan langsung menghampiri kakaknya itu dengan kedua tangan bersedekap dan tatapan mata menyelidik.
“Iyalah, kembaran beda rahim Adrina, siapa lagi?”
“Kamu sama dia sudah pacaran?”
“Kalau bisa langsung menikah saja, kalau kami berdua sudah sama-sama siap,”
Adrian langsung mengusap kedua telinganya yang langsung berdenging setelah mendengar suara dahsyat Auristella, si bungsu ysng kerap menjadi teman bertengkarnya sejak kecil.
“Kurang kencang suaramu, Auris. Silahkan berteriak lagi,”
“APA?! KAMU SAMA ADRINA MAU NIK—HMPPP,”
Adrian tidak bisa lebih lama lagi mendengar suara adiknya maka dari itu Ia bungkam mulut sang adik hingga dia tidak bisa menyelesaikan ucapannya.
“Aku tidak benar-benar menyuruhmu teriak! Tapi kenapa kamu melakukannya? Dasar orang gila! itu kalimat sarkas, kamu tau? Bukan suruhan! Jadi jangan kamu lakukan, tikus kecil!”
Adrian meluapkan kekesalannya pada sang adik yang benar-benar menyebalkan. Barusan Ia tidak serius mempersilahkan Auristellah berteriak lagi tapi ternyata Auristella malah melakukannya.
“Benar-benar ya kamu. Kalau bukan adik, sudah aku buang dari kecil,” cibir Adrian sambil menjauhkan tangannya dari mulut sang adik. Setelah tak lagi ditutup mulutnya, Auristella meraup oksigen banyak-banyak.
Lalu setelah itu Ia memiting lengan kakaknya itu hingga berteriak kaget sekaligus kesakitan. Tangan Auristella kalau sudah mencubit, rasa perihnya luar biasa. Bahkan tak jarang membuat kulit Adrian menjadi kebiruan setelahnya.
“Aku akan laporan pada Mommy ya kalau kamu sudah melakukan tindakan kekerasan dalam hubungan adik kakak, liat saja!” Ancam Adrian sambil bergegas cepat menuruni anak tangga sambil memanggil ibunya yang sedang menonton televisi.
“Ada apa sih, Adrian? Kenapa kamu panggil-panggil Mommy begitu? Riuh sekali suaramu,”
Adrian segera menghampiri Lovi di ruang keluarga karena sunber suaranya ada di sana. Auristella mengikuti jejak kakak keduanya itu.
__ADS_1
“Ian, awas ya kalau kamu laporan pada Mommy, akan aku—“
“Suka-suka aku lah. Kamu saja bisa seenak hati mencubit tanganku, masa aku tidak boleh laporan pada Mommyku sendiri? Biar kamu dimarahi Mommy,”
Adrian sudah tiba di ruang tamu, begitupun Auristella. Adrian langsung menunjukkan tangannya kepada Lovi.
Lo mengernyit bingung belum paham. “Kenapa tanganmu merah begitu, Ian?”
“Itu pelakunya anak Mommy sendiri,”
Ujar Adrian seraya menunjuk adiknya yang saat ini tersenyum meringis ke arah mommy nya.
“Maaf, Mom. Tapi Ian menyebalkan,”
“Aku mau pergi sama Adrina, Mom. Lalu dia tanya apa aku dan Adrina sudah pacaran? Aku jawab, langsung nikah saja nanti. Lalu dia kaget dan berteriak, aku tutuplah mulutnya. Setelah itu dia mencubit tanganku. Rasanya luar biasa panas, Mom,”
Lovi menahan tawa setelah mendengar cerita anak keduanya itu. Ia sudah bisa membayangkan bagaimana wajah Adrian ketika menahan sakit setelah menjadi korban tangan ganas adiknya sendiri.
“Jangan begitu, Auris. Kamu harus bisa menjaga sikap, jangan galak begitu pada kakakmu. Apda orang lain saja kita harus baik, apalagi dengan saudara kandung sendiri,”
“Ya tapi Ian buat aku kesal, Mommy,”
“Buat kesal darimana sih? Kamu yang mulai lebih dulu. Teriak di dekat telingaku memang kamu pikir telinga ini tidak bisa terganggu kalau dengar suara kamu yang tidak ada indahnya sama sekali itu?”
“Ya sudah aku minta maaf,”
“Lagipula Mommy rasa tak ada yang salah dari jawaban Ian. Artinya Ian memang inginnya menikah saja, tidak mau buang waktu untuk pacaran,”
“Tapi aku sedih, Mommy. Masa dua-dua kakakku semuanya sudah menikah semua?”
“Memang aku sudah menikah? Belum, Auris. Astaga, anak ini kenapa sih? Bingung aku,”
Adrian menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Auristella ketakutan sekali kakaknya akan menikah dua-dianya dan meninggalkan dirinya. Rasa takut itu ternyata masih ada sampai sekarang, sebelumnya sempat sulit untuk merasa rela Andrean menikah, sekarang mendengar Adrian mau langsung nikah juga tanpa pacaran, Auristella mengulangi yang sebelumnya.
“Sayang, kakak kamu dua-dianya berhak punya kehidupan sendiri, begitupun kamu. Jadi jangan sedih ya. Nanti akan ada waktunya kamu yang sama seperti mereka berdua, punya pasangan lalu menjalani kehidupan sendiri,”
“Apa aku akan kehilangan mereka berdua? Perhatian mereka, maksudku, Mommy,”
“Tidak, kamu jangan khawatir. Perhatian, bahkan kejahilan aku tidak akan pernah berkurang untukmu, adikku tersayang, sini peluk dulu,”
Auristella mendorong dada Adrian yang akan memeluknya. Adrian langsung mendengus. “Takut tidak dapat perhatian lagi kalau kakaknya menikah tapi giliran dopeuk tidak mau. Dasar tikus kecil,”
“Seklai lagi kamu memanggilku begitu, kamu tidak boleh pulang ke rumah lagi ya!”
“Tikus kecil-tikus kecil,” Adrian sengaja memanggil Auristella dengan sebutan seperti itu lagi sambil Ia melangkah pergi meninggalkan Auristella yang mengepalkan kedua tangannya karena kesal.
“Pokoknya kamu tidak boleh pulang ke rumah! Tidur di depan gerbang saja kamu ya,”
__ADS_1
Lovi menggelengkan kepalanya melihat perdebatan antara anak kedua dan ketiganya yang kembali terjadi. Sudah dibuat terharu akan rekatnya hubungan Auristella dengan kedua kakaknya sampai Auristella berat bila harus melepas kakaknya menikah, sekarang Lovi dibuat pening karena Auristella dan Adrian berdebat lagi.