Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 157


__ADS_3

“Aku tidak tau apakah kamu menyukai cincin ini atau tidak, aku pilih sesuai dengan pilihanku saja,” ujar Adrian sambil terkekeh dan mengulurkan kotak cincin itu kepada Adrina yang mengernyitkan keningnya.


“Tapi yang jelas aku tulus memberikan cincin ini untukmu. Sekalian aku ingin mengajakmu menikah. Jadi bagaimana? Kamu mau atau tidak menikah denganku? Apa menurutmu cara ini masih kurang romantis? Apa aku kurang serius kelihatannya? Padahal aku serius sekali, Drina. Aku tidak main-main, sungguh,”


“Astaga, Ian,”


Adrian langsung mengusap tengkuknya. Apakah Ia salah? Caranya salah? Kurang romantis? Atau justru aneh di mata Adrina? Ia benar-benar tidak mempersiapkan apapun memang, kecuali cincin saja.


“Iya sekarang aku percaya kamu serius,”


Seketika raut wajah Adrian berubah menjadi sumringah sambil bertanya “Benarkah? Okay, aku senang mendengarnya,”


“Iya aku percaya kamu serius, tapi haruskah aku sendiri yang mengambil cincin di dalam kotak ini, dan harus aku sendiri juga yang memakaikan cincin ini di jariku? Hmm?”


Mendengar pertanyaan itu, Adrian langsung mengeluarkan benda kecil berkilau dari dalam kotak kemudian Ia pakaikan di jari Adrina.


“Okay, sudah aku ambilkan dan sudah aku pakaikan cincin itu di jarimu, Drina,”


“Terimakasih, Ian,”


“Sama-sama, jadi bagaimana? Apa kamu mau menikah denganku? Apa kamu masih ragu kalau aku ini bisa serius dalam hubungan? Hmm?”


“Kamu kenapa buru-buru sekali? Beri akuw aktu paling tidak lima menit,”


Adrian menghembuskan napas pelan, dan itu mengundang tawa Adrina. “Okay-okay, apa itu terlalu lama?”


“Tidak apa, silahkan kalau kamu perlu waktu lima menit, lebih juga boleh. Sampai besok atau satu minggu kemudian juga tak ada masalah,”


“Hahahaha, benarkah?”


“Iya, Adrina,”


“Hmm okay kalau begitu satu minggu kemudian ya aku berikan jawaban?”

__ADS_1


“Jangan, terlalu lama kalau satu minggu kemudian, Drina,”


“Katamu boleh satu minggu kemudian,”


“Jangan, Adrina yang cantik,”


“Hahahaha okay-okay tidak jadi satu minggu kemudian,”


“Jadi kapan kamu akan memberikan jawaban? Aku penasaran, kalau sekarang saja tidak bisa kah?”


“Kamu serius atau tidak mau menikah denganku, Ian? Kamu tau kan bahwa menikah itu berbeda sekali dengan hubungan sebagai kekasih. Bahkan sangat berbeda jauh, perlu komitmen yang kuat, harus saling menjaga satu sama lain, kamu tau itu ‘kan?”


“Iya, tentu aku tau. Aku bukan anak kecil yang baru mengenal apa itu pernikahan. Walaupun aku belum menikah tapi setidaknya aku sudah tahu makna menikah yang sebenarnya itu seperti apa, aku bisa melihatnya dari pernikahan orang-orang terdekatku, seperti orangtua dan juga kakakku,”


“Dan apa kamu siap seperti mereka? Tanggung jawabmu akan bertambah. Yang biasanya mungkin kamu hanya perlu memikirkan dirimu sendiri, sekarang yang harus kamu pikirkan adalah aku juga, kalau kita jadi menikah,”


“Iya aku tau, Drina,”


“Iya aku tau, jangan mentang-mentang aku suka bercanda laku kamu menganggap bahwa aku tidak akan serius menjalani pernikahan. Kamu salah besar kalau berpikir seperti itu, Drina,”


“Kamu siap untuk berbagi dalam segala hal denganku? Berbagi masalah, berbagi kebahagiaan, berbagi kesedihan, kekecewaan, apa kamu siap?”


Adrian langsung menganggukkan kepalanya. Ia sudah memikirkan semuanya sebelum meminta Adrina untuk menjadi istrinya. Ia sudah tahu apa yang harus Ia jalani setelah fase baru di mulai dalam hidupnya.


“Siap untuk bertanggung jawab menghidupi aku, Ian? Aku makan banyak, sering belanja, aku akan menyusahkan hidupmu, Ian,”


“Tidak masalah, aku sudah mengajakmu untuk menikah itu artinya aku siap dengan bagaimanapun kamu nantinya setelah menjadi istriku,”


Adrina terkekeh mendengar Adrian menjawab dengan yakin. “Kamu yakin?” Tanya Adrina sekali lagi, berusaha membuat Adrian goyah sedikit jadi ketahuan benar serius atau tidak tapi ternyata Adrian tetap maju.


“Yakin, aku yakin bahwa aku sudah siap untuk menerima kamu apa adanya. Kamu banyak makan, banyak belanja, banyak ini itu, tidak masalah. Aku sudah siap. Kalau aku meminta kamu untuk menjadi istriku, itu artinya aku sudah siap menerima baik dan buruknya kamu, aku sudah siap untuk menerima lebih dan kurangnya kamu, Drina. Begitupun sebaliknya. Kalau kamu menerima aku sebagai suamimu, itu berarti kamu sudah siap dengan semua yang ada dalam diriku, sehingga nanti di kemudian hari tidak ada penyesalan lagi bagi kita berdua,”


“Sejujurnya aku takut kamu menyakiti aku, Ian, aku takut kamu membuat aku kecewa. Lagipula kita terbiasa ada di dalam hubungan sebagai sepasang sahabat, tidak lebih,”

__ADS_1


“Justru itu, karena kita terbiasa bersama walaupun hanya sekedar menjadi sahabat, tapi setidaknya kita sudah saling mengenal satu sama lain, aku sudah banyak tau tentang kamu begitupun sebaliknya. Tidak ada yang salah dari sahabat menjadi suami dan istri, bahkan banyak kisah seperti tu. Iya ‘kan? Apa kamu tidak pernah menyaksikan kisah seperti itu?”


“Memang banyak kisah seperti itu, tapi kalau kita yang mengalami apa tidak aneh ya?”


“Kenapa aneh? Tidaklah, aku rasa akan sangat menyenangkan bisa sehidup dan semati dengan orang yang sudah kenal dari masa kecil. Aku membayangkannya saja sudah merasa bahagia,”


“Kamu yakin bisa bahagia dengan aku?”


“Yakin, kamu sosok yang membuat aku bahagia dari dulu, dan aku yakin sampai nanti juga seperti tu,”


“Hah kamu terlalu manis dalam berucap. Sedang berusaha membujukku kah, Tuan Adrian yang tampan?”


“Kamu terlalu takut untuk memulai kisah baru denganku, padahal aku sangat antusias. Apa aku terlihat kurang tulus ya? Apa aku kurang serius di matamu?”


“Aku takut, Ian. Kita terbiasa bertengkar selama menjadi sahabat, nanti setelah menjadi suami istri kita akan seperti apa? Akankah lebih sering bertengkar? apa kita bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing?”


“Aku yakin kita bisa, Drina. Kamu jangan mengkhawatirkan sesuatu yang sebenarnya bisa kita lakukan, pikiranmu terlalu penuh dengan kekhawatiran,”


“Aku takut tidak bisa membuat kamu bahagia, begitupun sebaliknya,”


“Kita bisa, kamu harus yakin itu,” ujar Adrian sambil meraih tangan Adrina kemudian Ia genggam dengan begitu erat.


“Sebenarnya kamu sudah siap menjadi suami?”


“Kalau aku belum siap, aku tentu tidak akan meminta kamu untuk menjadi istriku, Drina. Apa sebenarnya kamu yang belum siap menjadi istri?”


“Sejujurnya aku sudah belajar dari Mommy, tapi aku takut tidak bisa menjadi pasangan yang baik untukmu, karena kita hidup bersama bukan dalam jangka waktu yang sebentar. Harapan kita tentu hidup bersama selamanya kan?”


“Kita sudah sama-sama belajar ternyata, tinggal kita melakukannya dalam kehidupan setelah kita menikah nantinya,”


“Iya itu yang aku takutkan, bisa atau tidak?”


“Coba kamu yakinkan dirimu sendiri. Kalau memang belum siap, belum yakin, aku tidak akan memaksa. Aku tunggu sampai kamu merasa bahwa dirimu sudah benar-benar yakin dan siap, Drina, jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Kalau kamu sudah yakin, dirimu siap, kita tidak perlu menunggu waktu lama, aku akan langsung datang ke hadapan orangtuamu untuk membicarakan pernikahan kita,”

__ADS_1


__ADS_2