
“Drina, kamu sennag kalau dia menyukaimu?”
“Kata siapa?”
“Ya buktinya kamu tidak jawab,”
“Ya apa yang harus aku jawab? Pertanyaan kamu tidak penting,”
“Kalau dia menyukaimu, apa kamu senang?”
“Tidak,”
“Dia menyukaimu, percaya ‘kan?”
“Tidak,”
“Astaga, Drina jangan memancing kesabaranku untuk habis ya,”
“Kamu aneh, Ian. Kenapa kamu bisa berpikir kalau dia suka padamu? Hanya karena dia memberikan baju?”
“Ya ampun, siapapun bisa saja memberikan aku baju, tidak hanya Andrew, kamu pun bisa, tidaka da yang aneh dengan itu. Orang memberikan sesuatu bukan berarti suka. Apalagi tadi kamu dnegar sendiri ‘kan dia berkata bahwa ini pemberian dari dia sebagai temanku. Artinya dnegan tegas dia mengakui aku sebagai temannya. Ya sudah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,”
“Aku cembur, Drina,”
“Urusanku apa? Cemburu itu hakmu, Ian, karena kamu punya hati. Tapi cemburu itu jangan berlebihan. Hanya karena dia mengajak aku pergi lalu memberikan baju kamu langsung berpikir bahwa dia menyukai aku,”
__ADS_1
“Sudah-sudah lupakan tentang Andrew, nanti kita bertengkar terus,”
******
“Auris, tidak biasanya kamu mengajak aku pergi berdua. Ada apa ya? Apa ada hal yang ingin kamu bicarakan padaku?”
Auristella tersenyum sambil menaik turunkan alisnya. Kemudian bersandar sambil melipat kedua tangannya.
“Kenapa kamu tau? Kenapa bisa menebak?”
“Ya tentu saja kamu ‘kan hampir tidak pernah mau pergi denganku, kamu ketus padaku,”
Auristella terkekeh mendengar jawaban jujur Adrina yang selama ini Ia jaga ketat karena Ia begitu posesif kepada kedua kakaknya. Setelah Angel yang bertahan sampai akhirnya menikah, sekarang Ia ingin tahu Adrina bertahan atau tidak, mau tetap jalan dengan Adrian atau justru sebaliknya.
“Kamu tidak lelah melihat aku ketus terus?”
“Tepat sekali. Sekarang aku ingin bertanya padamu,”
Auristella memperbaiki posisi duduknya menjadi duduk tegap lalu menatap Adrina yang mendadak jadi gugup.
“Tanya apa, Ris?”
“Kamu sebenarnya punya perasaan pebih dati teman atau tidak sih pada Ian?”
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
__ADS_1
“Ya tidak apa, aku hanya ingin tahu jawabanmu saja, bisa berikan aku jawaban?”
Adrina menelan salivanya kelat. Sejujurnya Ia terkejut ditanya seperti ini, apalagi yang bertanya adalah Auristella, adik yang cerewet, benar-benar menjaga kedua kakaknya, takut kalau Andrean dan Adrian tidak menyayangi atau perhatian lagi padanya kalau sudah bersama orang lain.
“Kamu punya perasaan lebih untuk Ian atau tidak?”
“Aku tidak tau, Ris,”
“Hah? Kenapa tidak tau? ‘Kan kamu yang punya hati. Kenapa tidak tau bagaimana isi hatimu?”
“Karena aku bingung, jujur aku nyaman dnegan Ian tapi kalau untuk lebih dari sekedar teman aku belum yakin. Aku takut, Ris,”
“Takut?”
“Ya, aku takut Adrian malah menyakiti aku,”
“Tenang saja, dia tidak akan menyakitimu. Dia memang laku-laki yang suka bercanda tapi kalau soal hati dia selalu serius, Drina,”
“Dia sudah memberikan cincin untukku, terang-terangan mengajak aku untuk menikah,”
“Nah, jadi apa alasanmu untuk tidak yakin kalau dia serius?”
“Mungkin karena aku belum siap, Auris,”
“Aku tidak mendukung kalian menikah cepat tapi aku juga tidak melarang kalian atau bahkan menghalangi kalian kalau kalian ingin menikah cepat. Apapun keputusan yang kalian ambil, aku dukung saja karena aku tau kalian yang tahu apa yang terbaik untuk kalian berdua,”
__ADS_1
****