
“Ayolah foto, kenapa kamu susah sekali diajak berfoto? Apa karena malu ya foto denganku yang tidak cantik?”
Andrean berdecak ketika mendnegar ucapan istrinya. Bukan masalah cantik atau tidak, tapi Andrean adalah sosok lelaki yang paling malas kalau diajak foto. Kenapa? Karena minimal Ia harus tersenyum, atau mengangkat ibu jarinya menghadap kamera.
“Kamu tau bagaimana suaminya, Angel. Aku paling malas tersenyum, kamu tau ‘kan? Apalagi di depan kamera. Astaga, itu—“
“Tidak, kamu suka tersenyum. Dan lebih tampan kalau tersenyum. Jadi ayolah senyum, lihat ke arah kameraku, okay?”
Angel sudah mengangkat ponselnya hingga berada tepat di depan wajahnya dengan jarak beberapa sentimeter saja. Ia ingin memiliki kenangan bersama suaminya di atas balon udara yang menjadi media mereka untuk melihat keindahan Turki dari awan.
“Ayo, Ean,”
Angel menatap suaminya dengan sorot mata meminta. Andrean akhirnya menghembuskan napas pasrah. Ia langsung mendekatkan kepalanya ke arah Angel lalu tersenyum.
“Nah begitu ‘kan tampan, kenapa susah sekali diajak foto padahal ini untuk kenangan kita nanti,”
Setelah dua kali mengabadikan, Angel mengamati hasilnya dan Ia tersenyum jatuh cinta melihat gambarnya sendiri dan juga suaminya.
“Bagus sekali, tidak nenyesal aku mengajakmu berfoto dengan sedikit makan hati,”
Andrean terkekeh pelan. Istrinya sampai makan hati mengajaknya berfoto? Benarkah? Tapi kalau diingat-ingat iya juga. Sejak dulu, keluarganya tahu betul sesulit apa Ia ketika diajak foto dan mereka tahu alasannya. Andrean malas untuk berekspresi yang sedap dipandang mata, walaupun hanya dengan senyum tipis saja sudah cukup.
Padahal foto sepenting itu untuk disimpan sebagai kenang-kenangan nantinya. Momen yang pernah terjadi belum tentu bisa terulang lagi di kemudian hari karena akan ada banyak momen-momen lain yang menanti.
Andrean tiba-tiba merengkuh istrinya kemudian mengecup kening sang istri dengan lembut.
“Maaf ya sudah membuatmu makan hati hanya karena foto. Aku itu tipe orang yang lebih suka menikmati momen yang ada, walaupun sebenarnya aku tau foto itu penting sekali. Benar katamu, untuk kenang-kenangan,”
“Ya ‘kan? Kamu setuju denganku juga ternyata tapi aneh kamu malas foto,”
“Karena itu tadi, aku kebih suka menikmati langsung momen yang ada. Misalnya lagi kumpul dengan keluarga, aku akan menikmati itu dengan cara mengobrol, mendengarkan cerita-cerita mereka, ketimbang sibuk dengan handphone, dengan kamera,”
“Mulai sekarang jangan susah ya diajak foto, okay?”
Andrean tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Ya, Angel,” jawabnya dengan halus. Itu permintaan sederhana untuk Angel yang berkebalikan dari Andrean.
Angel itu suka mengabadikan apapun. Tidak berlebihan, asal ada dua atau tiga foto saja sudah cukup baginya. Dan itu akan Ia simpan terus.
Sekarang Angel dan Andrean fokus menikmati pemandangan dari balon yang sedang mengudara membawa mereka. Tidak menyia-nyiakan pemandangan yang tak kalah cantik memukau, Andrean sesekali akan menatap ke sebelahnya dimana Angel sedang sibuk menatap indahnya Turki.
__ADS_1
“Dia terlalu sibuk menikmati kecantikan yang ada di depannya tapi dia tidak sadar kalau dia tidak kalah cantik dan sayang untuk aku lewatkan,” batin Andrean sambil tersenyum tipis memandangi Angel dari samping. Perempuan sederhana, tak pernah menuntutnya ini dan itu, karakternya menyenangkan, bagaimana Andrean tak bersyukur bisa memiliki istri dengan paket lengkap seperti Angel.
Angel tak menyadari kalau Andrean kini meraih ponselnya di saku celana kemudian Andrean memotret Angel.
Setelah mendapatkan beberapa foto, Andrean menilainya. Sungguh, Ia tidak menemukan kekurangan. Padahal Ia bukan potografer handal, Angel bukan model, hanya perempuan biasa yang entah sejak kapan bisa membuat Andrean benar-benar terpikat. Mau bagaimanapun hasil fotonya, Angel tetap kelihatan sempurna.
“Aku rasa aku sudah gila,” batin Andrean ketika jarinya tak henti menggulir foto-foto yang Ia dapatkan barusan.
Andrean tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Tapi setelah menikah dengan Angel, menjalani hari-hari bersama Angel, Ia bisa segila ini.
Disaat sedang mengagumi istrinya sendiri, ada panggilan masuk dari adik kembarnya, Adrian. Andrean langsung mendengus kesal sambil mencibir “Pengganggu! Entah apa yang dia mau sekarang,”
“Siapa?”
“Adrian,”
“Oh Ian, ya sudah dijawab saja. Barangkali ada hal penting yang mau Ian sampaikan padamu,”
“Aku rasa selama ini dia tidak pernah bicara hal penting, semua obrolannya itu tidak penting,”
“Hei, jangan begitu. Dia adikmu, harus cepat dijawab kalau keluarga menghubungi,” tegur Angel sambil menatap suaminya dnegan lembut. Apakah Andrean tidak penasaran apa alasan Adroan menghubungi? Angel saja penasaran sekali.
Andrean langsung menggeser panel berwarna hijau di layar ponselnya untuk menjawab panggilan dari adiknya itu.
“Halo,”
“Aku ubah jadi panggilan video, tolong dijawab ya,”
Setelah berkata seperti itu Adrian langsung mengakhiri panggilan suara dan tak lama kemudian masuklah panggilan video. Sesuai dengan permintaan Adrian barusan, Andrean langsung menjawab panggilan video dari adiknya itu.
“Ada apa? Kenapa kamu menggangguku?”
“Oh, mengganggu ya? Okay aku minta maaf, aku hanya ingin tau saja kamu sedang apa?”
“Ean Ean Ean! Bagaimana kabarmu di sana? Ya ampun, aku rindu sekali. Kapan pulang,”
Tak lama kemudian Auristella juga muncul di kamera. Adrian berdecak kesal karena adik perempuannya itu bersuara di dekat telinganya.
Sudah tahu punya suara yang cukup melengking, malah bicara didekat telinganya. Benar-benar menyebalkan. Akhirnya Adrian tarik daun telinga Auristella.
__ADS_1
“Kenapa sih? Kenapa kamu menarik telingaku? Memang aku salah apa?”
“Tidak sekalian kamu bicara dengan microphone supaya suaramu makin kencang,”
“Oh, maaf,”
“Maaf-maaf! Mudah ya minta maaf?”
“Lalu, kamu mau aku melakukan apa? Aku salah dan aku minta maaf. ‘Kan begitu yang diajarkan Daddy dan Mommy, apa kamu lupa?”
“Jadi kalian menghubungiku hanya untuk mempertontonkan perdebatan kalian? Hmm? Kalau begitu, aku matikan saja ya panggilan video ini supaya kalian lebih fokus adu mulut,” kata Andrean dengan suara dingin dan tegasnya. Kalau yang sulung sudah angkat suara, biasanya memang tak perlu waktu lama si tengah dan bungsu yang semula terlibat perdebatan langsung diam.
“Tidak, jangan dimatikan. Aku ingin tau kabarmu Ean. Bagaimana liburan kalian? Dan kapan kalian pulang?”
“Baru juga satu hari di sini, Auris. Bagaimana mungkin kamu sudah tanya kapan pulang? Ada-ada saja,”
“Dimana Angel? Kenapa dia tidak terlihat?“
Andrean langsung mengisyaratkan Angel untuk mendekat, karena Angel hanya mengamatinya yang saat ini sedang berkomunikasi dengan kedua adiknya. Maksud Angel adalah, Angel tidak mau mengganggu mereka berdua.
“Hai, Ian, Auris,”
“Hai, wah kamu terlihat semakin cantik ya padahal baru sehari liburan. Apa tips nya?”
Adrian melirik kesal ke arah adiknya yang terlalu aneh pertanyaan nya. Ia rasa tak ada yang berubah dari Angel.
“Angel memang dari dulu cantik,”
“Ya aku bilang tambah cantik, Ian. Apa telingamu masih berfungsi dengan baik?”
“Aku melihatnya sama saja, sama-sama cantik seperti biasa,”
“Menurutku tidak, pasti dia dibuat bahagia sekali oleh Ean makanya kelihatan semakin cantik,”
Angel tertawa mendengar ucapan Auristella yang benar seratus persen. Walaupun sebenarnya selama ini Andrean sudah membuatnya bahagia tapi liburan kali ini memang rasa bahaginya berbeda.
“Terimakasih, Auris. Kamu pun semakin cantik. Pasti di sana kamu dibuat bahagia sekali ya oleh Ian? Berhubung Ean lagi di sini, pasti Ian sangat membahagiakanmu,”
“Salah besar. Omongan darimana itu? Ian tetap menyebalkan. Aku merindukan kakak pertamaku yang tidak semenyebalkan Ian,”
__ADS_1
“Jangan didengar omongannya itu Angel. Dia lupa kalau habis aku ajak ke mall dan dia belanja sesuka hati. Aku masih saja dibilang menyebalkan, tidak membahagiakannya,”