Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 59


__ADS_3

“Apa? Jadi ayah tega mau membiarkan aku mati membusuk di sini? Kenapa ayah tega? Aku ‘kan anak ayah. Yang seharusnya Ayah hukum itu Angel! Lagipula selama ini yang sering ayah hukum dia,”


“Karena kamu keterlaluan! Ayah minta tolong buatkan makanan, tapi kamu malah pergi. Kamu anak kurang ajar! Tidak bisa diandalkan dalam hal apapun. Jauh lebih baik Angel,”


Gesty terperangah mendengar kata-kata ayahnya. Setelah Ia dikurung berjam-jam di dalam kamar yang kecil, sekarang Ia mendnegar ayahnya memuji Angel. Hati Gesty benar-benar panas. Ia dibandingkan dengan adik tirinya itu. Sampai kapanpun Ia tidak akan rela dibanding-bandingkan karena jelas jauh lebih baik dirinya daripada Angel.


“Ayah jangan bandingkan aku dengan Angel ya! Kami berdua beda! Aku lebih baik dalam segala hal ketimbang dia! Ayah tidak biasanya memuji dia seperti itu. Ada apa? Ayah butuh uang lagi dari dia makanya memuji?! Iya?!”


Satu tamparan mendarat mulus di pipi Gesty sebelah kanan. Gesty langsung meringis sambil menyentuh pipinya sendiri sambil menatap ayahnya dnegan kobaran amarah yang begitu terlihat di matanya.


“Ayah bicara apa adanya. Kalau dibandingkan dengan kamu, Angel lebih bisa diandalkan daripada kamu yang tidak bisa apa-apa! Dia tidak pernah membantah ayah! Apa yang Ayah bicarakan ini fakta, kamu senidri bisa menilainya,”


Gesty berdecih tidak senang mendnegar ayahnya lagi-lagi meninggikan Angel, dan merendahkan Ia. Rasa bencinya kepada Angel semakin menjadi.


“Oh jadi karena sekarang punya menantu yang kaya raya, Ayah membela Angel? Ayah akan menyayangi Angel? Luar biasa, aku baru kali ini bertemu dengan seorang ayah seperti ini,”


“Terserah padamu, Gesty. Yang jelas Ayah bicara kenyataan. Dia tidak pernah membantah ayah, dia bisa diandalkan untuk memasak dan mengerjakan semuanya di rumah ini, sementara kamu kebalikannya,”


“Ya iyalah, dia memang pantas jadi pembantu, kalau aku tentu tidak,” setelah berkata sinis merendahkan Angel, Gesty langsung bergegas ke kamarnya.


Gesty tidak bisa lebih lama lagi bicara dengan ayahnya itu karena Ia tidak bisa mendnegar lebih banyak lagi pujian untuk Angel dari ayahnya.


Begitu tiba di kamar, Gesty langsung memberantaki tempat tidurnya. Bantal, selimut dilemparkan oleh Gesty untuk melampiaskan amarah yang berkobar sekarang.


“Angel sialan! Kurang beruntung apalagi kamu?! Sekarang ayah membelamu! Bahkan orang yang selama ini jahat padamu, memuji kamu, Angel! Dan harusnya kamu tidak pantas mendapatkan itu!”


Karena bantal yang Gesty lempar menyasar ke meja rias dan menyebabkan beberapa produk yang dimiliki jatuh hingga bunyi nya sampai keluar kamar, akhirnya sang ayah datang.


“Apa yang kamu lakukan, Gesty?!”


“Ayah diam! Aku tidak minta ayah untuk datang ke sini apalagi bicara! Ayah tidak usah ikut campur. Keluar dari kamarku sekarang,”


“Jangan gila ya! Setidaknya kalau tidak bisa berguna, jangan menggila seperti ini,”


******


“Adrian, tolong perbaiki laptop aku dulu!”


“Itu tidak rusak, hanya sedang lambat, ‘kan sama saja dengan pemiliknya, lambat dalam segala hal,”

__ADS_1


“Ian! Kamu benar-benar ya,”


“Aku ada siaran langsung, jadi buru-buru,” ujar Adrian tanpa menoleh lagi ke arah adiknya yang langsung beraksi pura-pura menangis karena Ia yakin Adrian akan menghentikan langkahnya.


“Kenapa kamu sangat jahat padaku? Harusnya kamu bantu aku dulu, kenapa laptopku jadi lambat begini? Huwaaaa kamu jahat padaku, Ian. Kamu keterlaluan, tidak mau membantu adikmu sendiri,”


Adrian langsung menghentikan langkahnya tapi masih memunggungi Auristella. Ia hela napas panjang, berusaha sabar menghadapi adiknya itu disaat Ia harus segera melakukan pekerjaannya hari ini. Ia diundang untuk menjadi bintang tamu di sebuah acara yang akan disiarkan secara langsung.


“Astaga, aku harus sabar, tahan, jangan emosi. Adikmu itu memang menyebalkan, Adrian. Tenang-tenang, hadapi dengan senyuman,” gumam Adrian masih belum memutar tumitnya dan berjalan ke arah Auristella yang masih berpura-pura menangis dan senang sekali ketika melihat kakaknya tidak jadi pergi. Dalam hati Auristella tertawa puas.


“Hahahaha aku kerjai kamu,” batin Auristella.


Adrian menghampiri adiknya dan tanpa bicara apapun langsung memeriksa apa yang salah dari laptop adiknya yang katanya berubah menjadi lambat dan Adrian sendiri jyga belum tahu lambat dalam hal apanya.


“Jaringan aja ini sepertinya,”


“Ya sudah perbaiki. Tapi itu aku barusan mengetik materi tugas kenapa keyboard lama juga? Biasanya tidak,”


“Keberatan mungkin,”


“Berat apa sih? Memang aku kasih dia beban, Ian? Hmm?”


Auristella langsung menampar lengan kakak keduanya itu yang seenak hati menyuruhnya untuk minta belikan laptop pagi pada Devan. Kedua orangtuanya memang tidak ada yang pelit, tapi bukan berarti Ia bisa memanfaatkan itu.


“Apa salahnya? Pasti dibolehkan Daddy, dia banyak uang,”


“Bagaimana kalau kamu saja? Aku minta uang padamu, untuk belikan laptop,”


“Tidak ada, untuk modal nikah, modal masa depan,” ujar Adrian dengan ketus. Lagi-lagi Auristella menampar lengan kakaknya.


“Sekalian saja lepas tanganku ini, Auris, jangan tanggung-tanggung cuma dipukul,”


Auristella tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Adrian yang sudah kelewat kesal. Sedang dibantu malah disakiti.


Adiknya itu benar-benar memancing emosi.


“Cepat kasih uang untuk aku. Akan aku belikan laptop, aku janji,”


“Minta Daddy lah, uangnya banyak, atau minta pada Mommy karena Mommy jyga tidak kalah banyak uangnya,”

__ADS_1


“Tidak, nanti mereka bingung kenapa aku tiba-tiba minta uang,”


“Ya katakan pada mereka kalau kamu perlu laptop baru,”


“Tapi apa mereka akan memberikannya? Mereka tau laptop aku baik-baik saja,”


“Kalau mereka liat laptop kamu benar-benar harus diganti, tidak mungkinlah mereka diam saja,”


“Tapi ini tidak rusak, ini cuma eror sebentar saja ‘kan?”


Adrian mengangkat kedua bahunya. Ia sudah coba untuk menyambungkan jaringan internet di laptop Auristella tapi tidak tersambung juga. Ia lihat jaringan internet di ponselnya baik-baik saja.


“Coba lihat di handphone kamu, Wifi tersambung tidak?”


Auristella segera memeriksa jaringan di ponselnya sendiri dan Ia mengangguk. “Iya, tersambung. Jaringannya baik-baik saja tapi kenapa laptopku tidak?”


“Ya makanya minta belikan yang baru,“


“Kamu jangan mengajariku untuk menghabiskan uang Daddy dan Mommy ya!“


Adrian terbahak mendengar ucapan adiknya itu. Adrian pikir aeiknya akan langsung menghubungi Devan meminta uang untuk mebeli laptop baru.


“Daddymu banyak uang. Kirim saja uangnya ke aku, nanti aku carikan yang bagus,”


“Tidak usah! Aku bisa beli sendiri. Nanti kalau kamu yang pegang uangnya, kamu belikan laptop bekas untukku,”


“Hahahaha kamu tau saja niatku,”


“Errghhh keterlaluan!”


“Tidak-tidak, aku bercanda. Aku carikan yang bagus, serius,”


“Aku tidak percaya,”


Auristella sekarang mencubit lengan Adrian yang langsung berseru kesakitan. Auristella kalau sudah mengeluarkan jurus cubitan mautnya, bisa langsung membuat Adrian angkat tangan jarena benar-bsnar meninggalkan perih di kulit.


“Kasian yang jadi suamimu nanti ya. Bisa-bisa belum seminggu kamu jadi istrinya, badan dia sudah biru-biru akibat kamu cubit,”


“Kamu berlebihan. Lebih kasian yang jadi istrimu nanti. Setiap hari harus menghadapi laki-laki yang tidak jelas seperti kamu, Ian,”

__ADS_1


__ADS_2