Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 105


__ADS_3

“Tolong lepas tanganku! Jangan macam-macam kalian ya! Aku bisa berteriak supaya kalian dihajar oleh orang-orang yang tinggal di sekitarku,”


“Silahkan kamu berteriak! Kami akan jelaskan bahwa kami hanya minta kamu untuk membayar hutang!”


“Aku sudah katakan barusan, silahkan minta pada ayahku. Dia punya banyak uang!”


“Kalau dia punya banyak uang, dia tidak akan mungkin lari terus dari tanggung jawab! Kalian berdua sama-sama miskin!”


Gesty menggertakkan giginya kesal. Ia tidak tahu harus membayar hutang darimana. Ia tidak mempunya uang sebanyak tiga puluh juta untuk membayar uang yang sudah dipinjam oleh ayahnya dan dinikmati mereka berdua.


Tapi Gesty pikir, seharusnya Geno saja yang membayar karena dia statusnya orangtua dan seharusnya orangtua lah yang bertanggung jawab atas hutang-hutangnya sendiri.


“Lepas!”


Gesty berontak ingin kedua tangannya yang dijerat ke belakang dilepaskan namun tiga orang itu malah tertawa.


“Cepat bayar hutangmu, sialan!”


“Aku tidak punya uang! Sudah berapa kali aku bilang aku tidak punya uang!”


“Kami tidak mau tau. Bagaimanapun caranya kamu harus membayar hutangmu dan ayahmu,”


“Tapi ayah yang meminjam uang pada kalian!”


“Ya dan kamu ikut menikmatinya, jadi sama saja ‘kan? Kalian berdua harus sama-sama membayar sampai selesai,”


“Astaga, aku sudah katakan dengan tegas aku tidak punya uang. Harus berapa kali lagi aku menjelaskan itu?!”


“Arghhh!”


Gesty meringis ketika tangannya dicengkram cukup kuat pleh salah satunya. Gesty tidak bisa menahan laju air matanya.


“Tolong jangan siksa aku seperti ini. Aku bingung harus membayar hutang itu darimana,”


“Ya makanya jangan berhutang kalau tidak tahu bisa membayarnya. Kamu malah berlari dari tanggung jawab,”


Sejenak Gesty diam berpikir. Ia harus segera lepas dari jeratan para penagih hutang ini. Kemudian nama adiknya terbesit di pikirannya.


“Sebentar-sebentar, kalian bisa minta uang pada Angel. Aku akan memghubungi dia, mintalah uang padanya untuk membayar semua hutang ayah,”


“Siapa dia?!”


“Dia adikku, dan dia kaya raya karena dinikahi laki-laki kaya,”


“Okay cepat hubungi dia,”


“Bagaimana aku bisa menghubungi Angel kalau kalian mencengkram kedua tanganku seperti ini,”


Tiga penagih itu langsung mengelilingi Gesty supaya Gesty tidak lari kemana-mana. Kemudian Gesty segera mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Angel. Ia menghubungi Angel melalui sambungan telepon dan tidak lama kemudian dijawab oleh Angel.


Gesty mengisyaratkan salah satu yang menagih hutangnya untuk bicara langsung pada Angel.


“Halo,”


“Ha—halo dengan siapa aku bicara?”


“Kami ingin meminta anda untuk membayarkan hutang ayah dan kakak anda yang besarnya tiga puluh juta, sekarang! Mereka sudah lari terus dari tanggung jawab. Kami beberapa kali datang ke rumah tapi mereka selalu tidak terlihat entah itu eorgi atau bersembunyi intinya tidak mau menemui kami yang datang minta pertanggung jawaban mereka. Anda selamu anak dan adik, tolong bayar hutang mereka! Karena kami sudah menunggu terlalu lama,”


Angel terkejut luar biasa ketika mengetahui bahwa kakak dan ayahnya punya hutang yang cukup banyak baginya. Dan Ia diminta untuk melunasi. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya. Angel sudah terbilang sering bertanggung jawab atas hutang-hutang ayah maupun kakaknya. Padahal Angel tak menikmati uang dari hasil mengutang itu sedikitpun. Angel sudah berusaha mencukupi kebutuhan mereka tapi tetap saja mereka masih berhutang.


“Saya—saya tidak punya uang,”


“Hahahahaha mana mungkin kamu tidak punya uang? Hmm? Kamu itu orang kaya raya, suamimu banyak uang ‘kan? Jadi mana mungkin kamu tidak punya uang tiga puluh juta untuk membayar hutang ayah dan kakakmu. Kalau kamu tidak mau membayarnya, maka mereka akan kami jadikan tawanan, kami kurung mereka did alam rumah, dan bisa saja nasib mereka tidak baik-baik saja ketika kamu datang ke sini untuk melihat keadaan mereka,”


“Astaga, kamu menekanku? Hmm? Bukan aku yang berhutang, kenapa aku yang dituntut untuk membayarnya? Itu uang yang tidak sedikit dan aku tidak—“


“Cwpat bayar! Atau nasib ayah dan kakakmu tidak baik-baik saja,”


“Hei jangan lakukan sesuatu pada mereka! Kalau kalian berani macam-macam, akan aku laporkan pada pihak yang berwJib,”


“Kamu pikir ada rasa takut dalam diri kami setelah kamu mengancam kami? Hmm? Hei dnegar baik-baik ya, kami hanya meminta hak kami saja, jadi cepat turuti!”


Angel menangis ketika ditekan seperti ini. Sekarang Ia bingung harus bagaimana. Ia punya uang pemberian Andrean, tapi Ia takut menggunakan uang itu untuk membayarnhutang kakak dan ayahnya. Uang itu Andrean berukan untuk kebutuhan mereka, dan untuk Ia simpan dengan baik sehingga kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan Ia bisa menggunakan uang tersebut. Tapi Angel paling tidak bisa diancam apalagi menyangkut ayah dan juga kakaknya, hanya mereka keluarga yang Angel punya.


“Bagaimana? Kamu sial untuk membayarnya ‘kan? Aku yakin kamu punya banyak uang. Kamu bisa membayarnya,”


“Okay! Aku akan membayarnya. Aku harus kirim uangnya kemana?”


Angel tidak akan mungkin bisa membiarkan kakak dan ayahnya hidup dalam ancaman. Angel dibuat takut dengan kata-kata ‘nasib ayah dan kakakmu tidak akan baik-baik saja’.


Gesty dan tiga orang itu tersenyum puas mendengar jawaban Angel. Akhirnya rasa lelah mereka bertiga menagih Gesty dan Geno bisa berakhir. Dan Gesty tenang karena Ia akan dilepaskan sebentar lagi.


“Okay aku kirim nomor rekeningnya,” ujar si penagih hutang sebelum akhirnya sambungan telepon Ia akhiri.


“Cepat ketik nomor rekening supaya adikku itu bisa membayar hutang dan setelah itu kalian harus pergi dari rumah ini,” Gesty menyuruh lelaki itu untuk secepatnya mengirim nomor rekening kepada Angel.


******


Angel dengan jantung berdetak tidak normal langsung mengirimkan uang ke nomor rekening yang sudah dikirimkan. Rasa bersalahnya begitu besar karena sudah menggunakan uang suaminya untuk membayar hutang Geno dan Gesty. Tapi Ia tidak mungkin diam saja ketika ayah dan kakaknya berada di bawah tekanan.


“Angel, kenapa kamu menyendiri di taman? Kita semua lagi menonton di ruang keluarga,”


Andrean menghampiri istrinya di taman. Ia tidak sadar kalau Angel sudah tak duduk lagi di sampingnya menikmati tontonan. Begitu Ia cari-cari ternyata ada di taman.


“Aku habis bicara dengan temanku, Ean. Kalau aku bicara di saat kalian sedang asyik menonton aku yakin akan mengganggu,”


“Okay, Sayang. Ayo kita masuk ke dalam,”


“Hmm iya,”


Angel menghembuskan napas kasar sebelum melangkahkan kakinya menyusul Andrean yang sudah berjalan lebih dulu.


“Ya Tuhan maafkan aku. Maaf aku sudah menggunakan uang yang seharusnya aku simpan malah aku gunakan untuk membayar hutang ayah dan kakakku,” batin Angel seraya melangkahkan kakinya.


“Angel, kamu habis darimana? Tadi Ean kaget baru sadar kamu menghilang. Dia langsung khawatir. Kata Mommy mungkin di taman karena kamu bilang suka taman di penginapan ini,” ujar Auristella.


“Dan ternyata benar Angel di taman,” ujar Andrean.


“Maaf, aku tadi mau bicara dengan temanku jadi sedikit menjauh karena takut mengganggu kalian yang sedang menonton,”


“Tidak masalah, Angel,”


******


“Hutang sudah lunas, jangan ganggu aku lagi! Sekarang kalian harus pergi dari tumah ini dan jangan pernah datang lagi!“


“Hei asal kamu tau ya, kedatnagan kami di sini itu punya tujuan. Kami ingin kamu dan ayah kamu itu bertanggung jawab membayar hutang. Tapi kalau sudah dibayar ya tidak mungkin lagi kami datang ke sini, untuk apa? Kami lelah juga bolak balik menangih orang yang tidak tau diri macam kalian,”


Tiga orang penagih itu langsung angkat kaki meninggalkan rumah. Gesty menggertakkan gerahamnya kesal.


“Sialan! Tanganku sudah dibuat sakit oleh mereka. Harusnya sebelum mereka berbuat seenak hati, aku langsung saja hubungi Angel supaya Angel yang bayar. Kenapa aku bodoh sekali sih? Tapi tidak apalah, yang terpenting sekarang hutang sudah dibayar,”


*******


“Sayang, kamu mau jalan-jalan sore denganku tidak? Kita belanja yang banyak,”


“Hmm? Kenapa belanja banyak? Maksudku, dalam rangka apa?”


“Ya….supaya kita ada kegiatan lah. Daripada sore-sore kita melamun ‘kan,”


“Ya sudah ayo,”


Andrean langsung beranjak dengan semangat meninggalkan ranjang. Sore ini Ia sengaja mengajak istrinya pergi karena Ia bosan di dalam kamar dan Ia melihat Angel membaca buku. Ia yang melihat Angel duduk di dekat jendela selama kurang lebih satus etengah jam saja bosan, apa Angel tidak bosan bergelut dengan buku selama itu? Ia ingin sejenak Angel meninggalkan buku yang sedang Ia baca itu.


“Aku tidak perlu berganti baju ‘kan?”


Andrean melihat penampilan istrinya yang rapi dan sopan. Angel mengenakan satu set terdiri dari celana dan baju panjang.


“Okay, Sayang. Tidak apa kalau kamu tidak mau ganti,”


“Tidak usah, aku pakai ini saja,”


“Aku juga tidak perlu ganti. Ayo kita pergi sekarang,”


Andrean dan Angel keluar dari kamar dan bertemu dengan Adrina yang baru keluar kamarnya juga.


“Hai, Angel, Ean. Kalian mau pergi ya?” Tanya Adeina karena melihat Angel menjinjing tas kecil di bahunya.


“Iya aku mau mengajak Angel pergi sebentar, Drina,”


“Wow kemana?”


“Ya…belanja saja mungkin. Daripada bosan di kamar ‘kan, lebih baik aku mengajak wanita hamilku ini keluar mencari udara segar,”


“Tapi tempat belanja lumayan jauh dari sini,”


“Iya tidak apa-apa, nanti kami kembali aklau sudah malam,”


“Okay hati-hati,”


“Kenapa? Kamu mau ikut juga?” Tanya Andrean dengan tatapan datar dan wajah datarnya.


Angel mengernyit, Ia tidak salah dengar? Andrean mengajak Adrina? Ia pikir Andrean hanya ingin pergi bersamanya saja. Entah kenapa Angel merasa kesal sekarang. Padahal sebenarnya belum tentu juga Adrina mau ketika ditawarkan oleh Andrean. Belum juga mendengar jawaban Adrina, Angel sudah kesal.


Angel menghembuskan napas pdlan. Ia tidak seharusnya seperti ini. Adrina itu anak yang baik, Angel kenal Adrina. Walaupun kenyataan bahwa Adrina sempat menyukai Andrean membuat Angel terpukul, tapi Angel harus percaya dengan kata-kata Adrian bahwa Adrina sudah tidak menaruh perasaan apapun lagi pada Andrean.


“Tidak, Ean. Silahkan kamu pergi bersama Angel saja,”


“Okay, kami pergi dulu, Adrina,” Angel tersenyum menatap Adrina.


“Iya hati-hati,”


“Apa kalian mau pergi? Kemana kalau aku boleh tau? Aku ikut,”


Angel dan Andrean mengurungkan niat mereka untuk melangkahkan kaki karena tiba-tiba Adrian keluar juga dari kamar dan langsung menatap mereka dengan sorot mata yang penasaran.


“Kami mau pergi belanja, kalau kamu mau pergi juga silahkan ajak Adrina,” ujar Andrean dengan tegas tanpa ekspresi setelah itu Andrean menggenggam tangan istrinya dan mereka berjalan bersama.


Adrian mendengus menatap punggung kakaknya. “Huh dasar! Bisa-bisanya dia mau pergi berduaan dengan Angel,”


“Ya biar saja. Mereka ‘kan suami istri jadi tidak masalah kalau mau jalan berdua,”


“Kalau seperti kita ini bisa juga ‘kan jalan berdua? Ayo kalau begitu. Aku ingin mengajak kamu belanja juga,”


Adrina diam sebentar menatap wajah Adrian. Jujur Ia ragu, Adrian serius mengajaknya pergi atau justru sedang bercanda. Mengingat Adrian ini suka sekali bercanda jadi wajar kan kalau apa-apa yang keluar dari mulut Adrian Ia curigai bukan sebuah keseriusan. Saat Adrian menyatakan perasaan saja Ia sempat berpikir Adrian bercanda tapi ternyata Adrian serius bahkan tegas mengatakan kalau soal perasaan tidak mungkin main-main.

__ADS_1


“Ayo pergi denganku, kamu mau tidak?”


“Ini kamu serius bertanya padaku?”


“Tidak, bertanya pada dinding, pada serangga, pada benda mati di rumah ini,”


Adrian menggerutu ketika Adrina dengan polos mengira Ia bertanya pada yang lain padahal jelas-jelas Ia bicara pada Adrina, bukan yang lain.


“Kamu serius tidak?”


“Iya aku serius, Adrina sayang,”


“Ih jangans ebut aku begitu ya! Aku geli mendnegarnya. Aku merinding kamu tau?”


“Ya makanya dipahami. Sudah jelas aku bicara padamu, kenapa kamu malah mengira aku bicara pada yang lain sih?”


“Ya sudah ayo kalau begitu,”


“Serius? Kamu mau pergi denganku berdua?”


“Iya ayo cepat,”


“Yes! Okay ayo kita langsung pergi saja,”


“Eh sebentar. Kamu tidak pamit dulu pada Aunty Lovi dan Uncle Devan? Takutnya mereka mencari kita, Ian,”


“Sepertinya mereka istirahat di kamar, daripada ganggu lebih baik tidak usah. Pasti mereka juga akan bertanya di pesan nanti kalau seandainya mereka mencari kita. Aku tidak mau mengganggu waktu mereka berdua,”


“Baiklah kita pergi sekarang kalau begitu,”


*******


“Kamu kenapa mengajak Adrina tadi? Aku pikir kita akan pergi berdua saja, Ean,”


“Karena aku pikir dia mau. Tidak enak ‘kan kalau tidak diajak lagipula aku dari awal yakin dia tidak mau karena dia tau kita mau berdua. Kenapa? Kamu keberatan kalau aku mengajak Adrina? Bukankah biasanya juga tidak keberatan ya?” Tanya Andrean sambil menoleh ke samping dimana istrinya duduk.


Saat ini mereka akan ke kota karena di sana ada tempat belanja. Tapi tidak begitu jauh makanya Andrean mau mengajak istrinya yang sedang hamil itu.


“Kita belanja ya di sana? Belanja apa saja terserah, untuk obat lelahmu menuruti keinginanku untuk keluar sore ini, Sayang,”


“Ya ampun, aku tidak lelah. Tidak perlu obat juga tidak masalah,” ujar Angel seraya terkekeh.


“Tidak apa, belanja sepuas kamu, Sayang. Uang untukmu bulan ini masih ada ‘kan? Dipakai untuk belanja, bukan untuk disimpan saja. Kamu jangan terlalu hemat,”


“Aku terbiasa hidup hemat, Ean. Apalagi sekarang aku merasa kamu sudah memgeluarkan uang untuk ayah dan kakakku dengan jumlah yang cukup banyak, jadi aku semakin tau diri,”


“Angel, uang masih ada?”


“Iya masih ada,“


“Uang tabungan tidak digunakan?”


“Tidak,”


“Uang untuk bulanan kalau kurang jangan sungkan untuk mengatakannya padaku,”


“Okay, kamu tenang saja,”


“Kaku tidak boleh bekerja lagi, aku mau kamu istirahat,”


“Kamu serius dengan keputusan kamu itu, Ean? Aku aku harus benar-benar berhenti?”


“Ya, apa yang kamu cari sebenarnya? Kebutuhan kamu sudah aku penuhi, kamu hanya perlu istirahat di rumah, jaga dan rawat anak kita dengan baik. Itu saja sudah luar biasa menguras energi dan pikiranmu, apalagi kalau ditambah dengan bekerja,”


“Tidak apa, aku kuat,”


“Aku harus tetap memberikan uang untuk ayah dan kakak. Aku tidak mau kengandalkan kamu, Ean. Uang tiga puluh jutamu sudah aku berikan untuk membayar hutang mereka dan aku benar-benar merasa bersalah. Aku juga ingin menggantinya tanpa kamu tau,” batin Angel.


“Kalau aku tidak bekerja darimana aku bisa memberikan uang untuk ayah dan kakak? Aku tidak mungkin memberikan uang kamu. Itu hasil kerja keras kamu, Ean,” lanjut Angel di dalam hatinya.


“Kamu kenapa? Diam saja? Lelah ya?”


“Tidak, aku tidak lelah,”


“Apa mual lagi, Sayang?“


“Tidak, Ean. Kamu tidak eprlu khawatir aku baik-baik saja,”


“Okay aku bersyukur mendengarnya. Aku pikir kamu lelah atau mual,”


“Aku pasti langsung jujur kalau memang aku kelelahan atau mual,”


“Iya jangan ada yang ditutupi,”


“Tidak,”


“Kalau ada apa-apa, cerita apdaku, jangan sungkan ya. Karena kalau ada yang kamu tutupi nanti selamanya begiu, susah menghilangkan kebiasaan,”


Angel merasa tersindir, padahal Andrean tidak bermaksud untuk menyindir. Andrean hanya ingin istrinya itu tidak sungkan cerita bila ada hal yang memang ingin diceritakan.


“Kalau Ean tau aku menggunakan uangnya untuk bayar hutang ayah dan kakak, apa Ean akan marah padaku ya? Ya ampun, aku tidak siap kalau Ean sampai marah,”


*****


“Ayah, apa Ayah tau kalau Angel itu sudah bayar hutang ayah ke debtcolector. Jadi sekarang mereka tidak akan datang lagi, ya kecuali kalau ayah berhutang lagi, mereka tentu akan datang untuk menagih,”


“Ya sudah bagus lah. Memang itu harus dia lakukan,”


“Ayah, aku tadi disergap oleh mereka, kedua tanganku dikunci, aku tidak boleh kemana-mana, mereka menyakiti aku dan tidak takut dnegan ancaman aku yang akan teriak kalau mereka macam-macam. Aku yang malah diserang, sementara ayah kemana? Harusnya ayah yang mereka perlakuan seperti aku tadi,”


Geno tertawa dan itu membuat Gesty menggeram. Bisa-bisanya Geno malah tertawa disaat Ia cerita bahwa tadi Ia disakiti oleh para debt colectorl itu.


“Ya sudah terima saja nasibmu. Itu pelajaran untuk kamu yang kurang ajar dnegan ayah. Harusnya kamu maish bersyukur mereka tidak menyakitimu keterlaluan sampai kamu mati. Sekarang ayah liat kamu baik-baik saja, tidak ada yang kelihatan enrneda dari kamu, intinya kamu masih hidup jadi kamu harus bersyukur,”


“Ayah keterlaluan! Aku benci ayah! Aku tidak suka dengar ucapan ayah. Kenapa ayah tidak pedulis ekali dnegan aku? Padahal aku ini anak ayah ‘kan? Aku tadi disakiti oleh mereka, Yah. Kenapa Ayah malah tertawa? Dasar laki-laki tidak punya hati! Dan sialnya aku afalah anak dari laki-laki seperti ayah!”


Gesty langsung masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu kamar dnegan kasar. Geno yang menyaksikan itu mengetatkan rahangnya lalu menggelengkan kepala.


“Anak kurang ajar, semakin tidak ada sopan santun,”


“Ayah berisik!”


Gesty dengar ucapan ayahnya walaupun tak negitu jelas tapi Gesty yakin ayahnya sedang membicarakan dirinya.


“PANTAS SAJA NASIBMU TIDAK SEBAIK ANGEL! “


“BERHENTI MEMBANDINGKAN AKU DENGAN ANAK ITU!”


“PANTAS HIDUPMU TIDAK BAHAGIA, SELALU KEKURANGAN, DAN SIAL! KARENA KAMU BUKAN ANAK YANG BAIK,”


********


“Adrina, kamu tadi diajak pergi oleh Ean ya?”


“Iya, memang kenapa?”


“Lalu kamu tidak mau?”


“Tidak lah, aku tau Ean dan Angel akan menghabiskan waktu berdua. Jadi aku tidak mau mengganggu mereka,”


“Wow bagus kamu tidak mau mengganggu mereka,”


“Memang kamu pikir aku akan mau meskipun diajak?”


“Hmm mungkin karena Ean yang mengajakmu,”


“Astaga, kenapa kamu berpikir seperti itu?“


“Ya karena kamu menyukai Ean,”


“Sudah tidak lagi, Adrian. Harus berspa kali aku jelaskan padamu? Aku tidak punya perasaan apapun lagi pada Ean,”


“Ya bagus kalau begitu. Karena itulah yang aku katakan pada istrinya supaya dia tidak berpikir terlalu jauh,”


“APA?!“


Adrian berdecak sambil mengusap telinganya yang sakit mendengar Adrina berseru kaget. Adrian menggeram sambil berkata “Heh aku ini manusia ya bukan batu. Suara kamu mengganggu pendengaranku, Adrina!”


“Iya maaf,”


“Tapi aku kaget mendengar ucapan kamu. Angel tau soal—“


“Iya, dia tau semuanya,”


“Apa? Kamu yang memberitahu Angel? Astaga, kenapa kamu jahat, Adrian? Tidka seharusnya Angel tau, lagipula itu sudah masa lalu,”


Adrina mengira bahwa Adrian lah yang memberitahu Angel, dan Adrina sangat memyayangkan hal itu terjadi. Ia merasa bersalah sekarang. Pantas saja kalau Ia perhatikan Angel itu jadi jarang mengajaknya mengobrol.


“Pantas, dia sepertinya menghindari aku, mengurangi interaksi denganku. Mungkin karena dia tau ya aku menyukai duaminya? Jadi dia kesal. Astaga, kamu kenapa memberitahu dia sih?”


“Adrina, Angel itu mendengar pembicaraan kita. Akhirnya aku jelaskan lah yang sebenarnya dan aku juga sudah tegaskan bahwa kamu tidak lagi menyimpan perasaan appun pada suaminya,”


“Aku merasa bersalah, Ian,”


“Ya sudahlah jangan dibahas lagi. Yang terpenting dia sudah tau kalau kamu tidak lagi menyukai Ean, itu sudah masa lalu,”


“Tapi kemapa sikapnya sedikit berbeda? Aku menyadari itu sejak kita berangkat berlibur,”


Adrian mengangkat kedua bahunya. Ia tidak tahu haru menjawab apa. Tapi kalau Ia tidak menjawab, Adrina mungkin akan semakin merasa bersalah.


“Ya mungkin suasana hatinya Angel sedang kurang baik, dan kamu juga terlalu berpikir negatif. Mungkin dia tidak merubah sikapnya. Cuma perasaanmu saja, Drina,”


“Tidak, aku merasa Angel memang berubah sikapnya. Aku benar-benar merasa bersalah, Ian,”


“Sudahlah jangan merasa bersalah seperti itu, karena kamu tidak salah. Yang terpenting kamu tidak menyukai Ean lagi ‘kan?”


“Tidak,”


“Tersisa sedikitpun?”


“Tidak, Ian,”


“Ya sudah bagus. Karena kasihan Angel kalau sampai kamu diam-diam masih menyukai suaminya,”


******

__ADS_1


“Halo, Angel. Ayah mau mengucapkan terimakasih karena lagi-lagi kamu sudah membayarkan hutang ayah. Dan kali ini ayah akui jumlahnya lumayan banyak,”


Andrean diam-diam menerima panggilan yang masuk ke ponsel istrinya yang saat ini berada di dalam kamar mandi sebuah pasar.


Direngah kegiatan belanja, Angel merasa ingin buang air kecil oleh sebab itu Ia ke kamar mandi dnegan ditemani oleh suaminya tapi suaminya tu menunggu di luar, dan Angel menitipkan tasnya pada sang suami. Ponsel Angel berdering, Andrean langsung penasaran. Begitu melihat bahwa ayahnya Angel menghubungi, rasa penasaran Andrean semakin besar.


Begitu Andrean menerima panggilan dari Geno, Andrean langsung mendengar ucapan terimakasih dari Geno karena Angel sudah membayarkan hutang. Andrean tidak tahu menahu soal hutang itu. Ia bingung kenapa Angel jadi tertutup sekali? Dan sebesar apa hutang Geno yang telah Angel bayarkan.


“Berapa junlah hutangnya?”


Geno terdiam mendengar suara Andrean. Jadi tadi yang mendnegarkan ucapannya adalah Andrean menantunya, bukan Angel putrinya.


“Andrean—“


“Berapa jumlah hutangnya? Aku boleh tau ‘kan?”


“Kamu tanya sendiri pada istrimu, apa dia tidak terbuka? Berarti kamu salahkan dia. Aku tutup teleponnya,” ujar Geno dnegan cepat setelah itu mengakhiri sambungan telepon begitu saja membuat Andrean jadi geram.


“Dasar ayah yang kejam tidak punya hati! Bisa-bisanya dia mengandalkan anak untuk membayar hutang. Dan ini sepertinya bukan pertama kalinya. Jumlah yang besar juga katanya. Kasihan istriku diperas terus, tapi kalau aku mengambil tindakan, malah jadi bumerang untuk hubungan aku dan Angel,”


Andrean menggeram dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak mempermasalahkan uang yang Angel gunakan untuk membayar hutang itu. Yang Ia sayangkan adalah Angel tidak terbuka padanya.


Andrena tidak suka ketidakjujuran, dari dulu Ia punya prinsip seperti itu. Rasa sakit akibat dibohongi, itu berkali-kali lipat rasanya,”


“Andrean, maaf ya lama,”


“Tidak apa-apa, Sayang. Ayo kita pulang,”


“Pulang?”


“Ya kalau memang kamu sudah selesai belanja kita langsung pulang saja,”


“Okay. Aku rasa sudah cukup juga kita belanja. Sekarang waktunya kita pulang ya, Ean?”


Andrean menganggukkan kepalanya. Lantas menggenggam tangan Angel mengajak Angel untuk segera kembali ke mobil, belanjaan mereka sudah Andrean simpan di dalam bagasi mobil.


Mereka membutuhkan waktu sekitar satu jam setengah lalu tiba di penginapan. Ternyata Adrian dan Adrina sudah di rumah dan itu membuat sepasang suami istri itu bingung.


“Kalian tidak jadi pergi?”


“Jadi, tapi hanya sebentar,”


“Pergi kemana?”


“Ya ke tempat-tempat dekat saja,”


“Angel, aku boleh bicara sesuatu apdamu sebentar?”


Angel akan pergi ke kamar namun Adrina mengajaknya untuk bicara, Angel mengangguk tidak keberatan.


“Membicarakan apa, Adrina?” Tanya Andrean yang penasaran Angel akan diajak membicarakan hal apa oleh Adrina.


“Ean, ini urusan perempuan, kamu tidak perlu tau okay?”


Andrean menganggukkan kepalanya setelah dilarang penasaran. Adrian langsung merangkul bahu kakaknya itu.


“Lebih baik sekarang kita mengobrol sambil menikmati kopi, bagaimana menurutmu?”


“Iya boleh,”


Adrian tersenyum dan menganggukkan kepalanya lantas berjalan ke dapur bersama dengan Andrean, sementara Angel dan Adrina ke taman.


Mereka berdua duduk di kursi taman. Sejenak mereka sama-sama terdiam menatap lurus ke depan sampai kemudian Adrian berdehem pelan dan menolehkan kepalanya ke samping.


“Angel, ada yang mau aku bicarakan padamu,”


“Iya boleh, Adrina. Silahkan bicara,” ujar Angel seraya tersenyum tapi tetap menatap lurus ke depan.


“Kamu sudah tau tentang suatu hal ya, Angel?”


“Tau tentang apa?”


“Tentang—tentang perasaan yang pernah aku simpan untuk Andrean,”


“Oh itu, iya aku tau kamu pernah menyukai Ean, tapi kata Ian tidak lagi sekarang. Apa itu benar, Adrina?”


“Iya itu bebar, Angel. Aku hanya pernah, ini aku garisbawahi ya, aku pernah menyimpan perasaan untuk Ean. Tapi itu pernah. Smeuanya sudah jadi masa lalu, Angel. Kamu jangan khawatir aku akan menghancurkan rumah tangga kalian. Aku benar-benar minta maaf padamu karena sudah membuat kamu kecewa. Aku menyukai Ean sebelum Ean menikah dengan kamu, Angel. Aku mohon percaya padaku. Maafkan aku ya? Aku tidak menyukai Ean lagi,”


“Benarkah? Apa aku harus percaya dneganmu?”


“Iya kamu bis apercaya padaku. Aku tidak menaruh perasaan apapun lagi untuk Ean. Aku tau Ean dan kamu sudah saling mencintai, kehidupan pernikahan kalian sudah bahagia. Jadi tidak mungkin aku merusak kebahagiaan itu,”


Angel diam sebentar dan Adrina khawatir sekali kalau Angel tidak percaya dengan kata-katanya. Adrina langsung meraih tangan Angel. Ia menggenggam erat tangan Angel berusaha meyakinkan Angel.


“Angel, aku harap kamu percaya padaku. Itu semua sudah berlalu, Angel.”


Angel tersenyum lalu menatap Adrina sambil menjawab, “Iya, Adrina. Aku percaya padamu,”


Raut wajah Adrina kelihatan senangs elali. Akhirnya Ia berhasil membuat Angel percaya bahkan Angel tak ragu menebarkan senyuman yang memvuat Adrina merasa yakin kalau Angel benar-benar sudah percaya dengan perkataannya bahwa Ia tidak lagi memiliki perasaan apapun kepada Andrean.


“Terimakasih ya,”


“Sama-sama, sebelum Ean menikah denganku apa kamu dan Ean sempat punya hubungan yang menih dari sekedar sahabat karena yang aku tau kalian cuma sahabat sama seperti aku dan Ean sebelum kami menikah,”


“Tidak ada, Angel. Aku dan Ean tidak memiliki hubungan apapun, aku bersumpah. Aku dan Ean murni hanya bersahabat saja. Ean tidak tahu apapun soal perasaan yang aku simpan untuknya. Cuma aku dan Tuhan yang tau bagaimana perasaanku saat itu,”


“Okay, Adrina. Kamu tidka pelru khawatir, aku percaya padamu,”


“Kamu seperti menghindar untuk berinteraksi denganku apa karena perkara ini ya? Aku mulai menyadarinya sejak kita berangkat liburan, Angel,”


“Aku minta maaf. Jujur masih ada ketakutan kalau kamu masih menyukai Ean. Tapis etelah bicara padamu, aku jadi bisa berpikir lebih jernih. Aku percaya pada penjelasanmu, Adrina,”


“Aku tidak akan macam-macam, begitupun Ean. Kamu harus percaya itu ya. Aku tau Ean begitu mencintai kamu. Sejak awal aku juga tidak ada niat untuk merusak kebahagiaan kalian. Aku senang kalian bersatud an saling mencintai. Aku selalu berdoa yang terbaik untuk hubungan kalian. Sekali lagi aku minta maaf untuk perasaan yang pernah aku pendam. Aku harap kamu bisa percaya aku dan tidak ada pikiran negatif tentangku ya,”


“Iya, Adrina,”


“Adrina, Angel, kalian sedang apa berdua di taman?“


Adrina dan Angel langsung menoleh ke arah pintu. Di depan pintu ada Auristella yang sedang berdiri menatap mereka.


“Hai Auris,”


“Kalian habis pergi ya? Kenaoa tidak mengajak aku?”


“Aku pikir kamu istirahat. Tapi tenang, aku bawa sesuatu untukmu, untuk Adrina juga ada, untuk semua ada. Ayo kita masuk. Kita buka semua belanjaan tadi,”


“Jadi ternyata kamu pergi bersama Ean untuk belanja, Ngel?”


“Iya, Ris,”


*****


“Ian, aku pergi ke kamar dulu. Ada yang mau aku bicarakan dengan Angel,”


“Kopi yang kamu buat belum habis itu, Ean,”


“Iya tidak apa, tolong dibayar omehmu dulu,”


“Dibayar apanya? Kamu pikir ini di kafe?”


Andrean tersenyum lantas berlaku meninggalkan Adrian yang menjadi teman berbincang sejak lima belas menit laku di ruang makan. Tapu lebih banyak Adrian yang mengeluarkan suara, dan Andrean menjadi pendengar, seperti biasa.


Andrean masuk ke kamar dan ternyata istrinya sedang sibuk dengan ponsel di atas tempat tidur. Andrean langsung berdehem mengalihkan perhatian Angel.


“Ean, sudah selesai mengobrol dengan Ian?”


“Sudah, sekarang aku ingin bicara dengan kamu berdua makanya aku masuk ke kamar, beruntungnya kamu sudah di kamar juga,”


“Okay, apa yang mau kamu bicarakan?”


Andrean duduk di depan Angel. Perempuan itu langsung melipat kakinya sehingga posisi duduknya bersila.


“Tidak perlu mengubah pisisi duduk, Sayang. Kita hanya bicara santai saja ini,”


“Tidak apa, aku lebih nyaman begini. Aku sudah siap diajak bicara olehmu. Kira-kira topik pembicaraan kita apa?”


“Tadi saat kamu di kamar mandi, kamu menitipkan tas kepadaku. Lalu tiba-tiba ponselmu berdering. Dan begitu aku lihat ternyata ada panggilan masuk dari ayahmu, Angel,”


Ekspresi Angel langsung menegang detik itu juga. Entah kenapa Ia cemas kalau Andrean tahu apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya.


“Bagaimana kalau ayah minta uang? Bagaimana kalau ayah minta dibayarkan hutang lagi? Bagaimana kalau ayah mengancamku? Ean akan tau, dan Ean tidak akan tinggal diam. Aku tidak mau suami dan ayahku malah terlibat pertengkaran,” batin Angel.


“Apa yang Ayah bicarakan padamu, Ean?”


“Ayah mengucapkan terimakasih karena kamu sudah membayarkan hutangnya,” jawab Andrean yang langsung membuat Angel lemas seketika. Ternyata ini ujung dari perasaan tidak enaknya pasca Andrean mengatakan tadi dirinya menerima telepon dari sang ayah.


“Benarkah kamu membayarkan hutang ayah? Kalau aku boleh tau, alasan kamu tidak cerita padaku apa? Dan kalau aku boleh tau juga, berapa jumlahnya?” Tanya Andrean dengan ekspresiw ajah yang tenang, nada bicara juga tenang tidak ada amarah yang Angel tangkap. Karena memang Andrean tidak marah. Andrean hanya kecewa karena istrinya tidak cerita, tidak ada keterbukaan antara Angel dengan Andrean padahal ini tentang keluarga dan tentang uang. Andrean bukan perhitungan pada sesama manusia yang statusnya adalah keluarga. Tapi Andrean memberikan uang itu untuk Angel gunakan sendiri bukan untuk membayar hutang. Kalaupun untuk membayar hutang, seharusnya Angel bicara saja. Andrean tidak akan marah. Sedikit tidak tulus rasanya bila uang hasil kerja kerasnya malah digunakan untuk membayar hutang Geno,l yang alasannya berhutang saja tidak jelas untuk apa, padahal seharusnya uang itu untuk istrinya.


“Andrean, aku minta maaf. Tapi aku janji, aku janji akan mengganti uang itu secepatnya. Maaf sudah menggunakan uang dari kamu diam-diam tanpa izin untuk membayar hutang ayah. Aku minta maaf, Ean. Aku tau aku salah dan kamu kecewa. Aku benar-benar minta maaf,”


Angel tanpa sadar mengeluarkan air matanya. Andrean langsung merengkuh istrinya itu. Andrean menenangkan dengan cara mengusap punggung Angel dengan lembut. Sungguh, Andrean tidak ada maksud untuk membuat Angel merasa bersalah seperti ini sampai menangis bahkan berjanji untuk mengganti uangnya. Bukan, bukan itu yang Ia inginkan sebenarnya. Ia hanya ingin Angel terbuka saja.


“Sayang, aku tidak masalah kamu mau menggunakan uang itu untuk apa. Ya walaupun sebenarnya uang itu aku berikan untuk kamu, tapi kalau memang kamu mau menggunakannya untuk membayar hutang, tidak masalah aku tidak akan marah. Tapi aku mohon, bisakah kamu lebih terbuka padaku? Jangan apa-apa disimpan sendiri. Yang sehatusnya aku tau, akhirnya malah jadi tidak tau karena kamu berusaha untuk menutupinya dari aku padahal aku berhak tau,”


“Aku minta maaf. Aku tidak enak kalau jujur padamu. Aku menggunakan uangmu untuk membayar hutang ayah. Aku bingung pakai uang darimana selain dari kamu. Aku belum mendapatkan penghasilan dari kafe, dan kamu juga menyuruh aku untuk berhenti dari kafe iths ebelum aku dapat uang. Sementara ayah dan kakak sudah didalam tekanan. Aku tidka mungkin membiarkan sesuatu terjadi pada mereka karena adanya hutang itu,”


Andrean tersenyum lalu mengecup kening istrinya. “Ya sudah, kamu tidak perlu khawatir menangis ya. Kamu tidak salah. Aku hanya ingin kamu terbuka saja, tidak lebih,”


“Aku janji akan secepat mungkin mengganti uang itu. Tapi kalau aku dudah kembali bekerja ya? Aku harap kamu tidak masalah,”


“Astaga, Angel. Aku tidak minta diganti. Aku hanya ingin kamu jujur. Ya terserah


Kamu lah mau menggunakan uang itu untuk apa, tapi intinya kamu jujur padaku, bukan menutupi. Dan kamu harus ingat untuk mementingkan diri kamu dulu. Jangan terlalu mementingkan yang lain sampai kamu menomorduakan diri kamu sendiri,”


“Iya, tapi apa kamu tulus, tidak apa-apa kalau uang kamu digunakan untuk membayar hutang ayah?”


“Karena kamu, aku tulus. Tapi aku berharap tidak ada hutang-hutang selanjutnya yang dibebankan padamu. Kenapa? Bukan karena aku perhitungan soal uang, aku tidak suka membantu irang, tapi ini tebtang tanggung jawab. Maaf sebelumnya, hutang orangtua itu bukan tanggung jawab anak. Apalagi kalau anaknya tidak merasakan sedikitpun uang itu. Tapi disuruh bayar dengan cara memaksa. Dan kamu juga bukan sekali dua kali ‘kan sudah membayarkan hutang ayah jamu itu?”


“Iya, cukup sering ayah berhutang dan aku yang bertanggung jawab. Aku semdiri tidak tahu uangnya dipakai untuk apa? Sepertinya berapapun yang aku berikan selalu kurang. Padahal pendapatanku sebagian besar agah dan kakak yang menguasai. Setelah menikah aku benar-bsnar hanya memegang sedikit saja dari pendapatan yang aku terima dari kafe dan sisanya aku serahkan pada mereka,”


“Astaga,”


Andrean mengusap kasar wajahnya lalu memghembuskan napas kasar. Entah ternuat dari apa hati istrinya ini. Sudah dikecewakan dan disakiti, Angel tetap saja berusaha untuk menjadi anak dan adik yang berbakti.


“Sayang, mulai sekarang berhenti untuk terlalu baik, bisa tidak? Kalau mereka minta baik-baik, mereka tidak memaksa, okay lah aku tidak mempermasalahkan. Ini mereka meminta sesuka hati ‘kan? Mereka menekan kamu, mereka membuat kamu tidak nyaman. Tapi kenapa kamu—Astaga aku tidak habis pikir. Aku benar-benar heran, Angel,”

__ADS_1


Andrean lelah juga menyaksikan kebaikan istrinya pada orang yang kurang tepat. Walaupun orang itu adalah keluarga sendiri, darah dagingnya sendiri. Andrean yang beberapa kali membaca pesan ataupun mendengar perkataan di telepon mereka yang ditujukan untuk Angel saja rasanya benar-benar muak dan geram. Terkadang Andrean sampai bingung kenapa istrinya bisa sekuat itu? Entah kapan ayah dan kakaknya itu berubah bisa menghargai Angel.


__ADS_2