
“Istrimu cantik, dimana kamu mendapatkannya?”
“Dia juga baik, hangat, dan sepertinya membuat siapapun yang ada di dekatnya merasa nyaman,”
Alih-alih senang mendnegar perkataan itu, Andrean justru kesal. Entah kenapa kalau ada orang lain yang jenis kelaminnya laki-laki memuji istrinya, Ia tidak senang mendengarnya padahal kenyataannya memang Angel cantik dan Angel juga sosok yang baik jadi wajar kalau ada yang memuji. Andrean langsung menatap ke arah istrinya dengan raut wajah masam seolah memberitahu Angel bahwa Ia tidak senang.
“Carikan aku juga, Andrean,” ujar rekannya itu
“Cari sendiri, pasti dapat,”
“Aku terlalu lemah kalau urusan cinta atau mencari jodoh, bantu aku lah,” pinta rekannya itu sambil tertawa.
“Aku berjodoh dengan Angel juga tanpa ada bayangan sebelumnya,”
“Aku mengincar pasangan yang seperti Angel. Selain cantik, sepertinya dia tak banyak menuntutmu ya? Tidak aneh-aneh dalam bersikap, sulit mendapatkan yang seperti itu,”
Andrean menyeruput minuman di depannya untuk mengusir atmosfer panas yang menyerangnya, kemudian Ia tersenyum jecil, senyum terpaksa lah yang Ia tunjukkan.
“Atau mungkin Angel punya teman yang seperti dirinya? Hmm tidak perlu sama persis juga tak apalah yang terpenting mirip, bukan hanya soal rupa yang cantik, tapi aku mencari perempuan yang baik, tidak banyak menuntut aku,”
“Tidak ada, istriku tak punya teman,” ujar Andrean yang langsung mengundang tawa Nathaniel selaku orang yang berharap dibantu oleh Andrean ataupun Angel dalam mencari pasangan hidup.
“Apa kamu pikir aku akan percaya ketika kamu berkata bahwa Angel tidak punya teman?
“Hahahaha perempuan tulus tidak mungkin tidak punya teman,” lagi-lagi Angel sipuji. Tadi tentang paras, dan sikapnya. Sekarang tentang ketulusannya yang tak mungkin tidak mengundang orang lain untuk menjadi temannya.
“Ya sudah kalau tidak percaya,”
Angel menggerutu dalam hati. Karena mungkin selama ini Andrean jarang melihat Ia berinteraksi dengan teman, Andrean sampai menyangka bahwa Ia tak memiliki teman.
“Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu. Aku punya teman, Ean! Erghh menyebalkan sekali sih!”
“Kalau kamu mendapat jodoh seperti Angel, maka kamu harus menjadi seperti aku dulu. Ya tidak perlu sama persis tidak masalah, yang terpenting mirip lah,”
“Aduh itu yang berat, aku jauh darimu, Andrean,”
“Ah terlalu merendah itu tidak bagus juga, Nath,”
******
“Ean, mukamu kenapa berbeda? Apa yang terjadi padamu? Silahkan cerita, barangkali aku bisa bantu. Atau mungkin kamu hanya perlu teman cerita tanpa berharap dibantu? Okay apapun itu terserah padamu. Aku siap untuk semuanya,”
“Beda maksudmu, Sayang? Mukaku berubah jadi muka robot kah? Tidak kan? Tetap muka manusia?”
“Hahahaha, bukan robot maksudku, Ean!”
Andrean mendekat pada istrinya secara tiba-tiba dan itu membuat Angel menelan salivanya gugup.
“Kenapa?”
“Aku akan memasangkan sabuk pengaman, Sayang. Jangan gugup seperti itu, tenang saja,” ujar Andrean sambil mengunci sabuk pengaman setelah itu mencium bibirnya singkat.
“Kamu berpikir aku akan melakukan apa, Sayang? Hmm?”
“Hahaha tidak,”
“Hmm apa kamu berpikir kalau aku akan menciummu?”
“Sudah barusan,”
Andrean terkekeh kecil, sekali lagi dia mencium bibir istrinya setelah itu mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parki tempat dilaksanakannya pesta ulang tahun Nathaniel.
“Aku lihat mukamu berubah,”
“Iya berubah sepeeti apa yang kamu maksud, Sayang?”
“Terlihat kesal,“
“Oh, iya memang. Aku kesal karena Nathaniel memuji kamu, Sayang. Ya walaupun kamu memang benar-benar cantik tapi aku tidak senang ketika ada yang memujimu selain aku, cukup aku saja,”
“Ya ampun, padahal dia tidak memujiku, aku rasa,”
“Dia menilai kamu cantik, itu memang kenyataan tapi aku kesal mendengarnya,”
“Cemburu? Hmm? Jangan cemburu lah, aku ini milikmu, Ean,”
“Iya aku tau, tapi wajar kan kalau aku cemburu?”
“Iya boleh saja cemburu, aku juga terjadang merasa cemburu tapi Nathaniel hanya bicara seperti itu, kenapa kamu sampai secemburu itu?”
“Kamu memang cantik dan aku ingin hanya aku saja yang memuji kamu, hanya aku saja yang bisa menikmati kecantikan kamu,”
Setiap mengajak Angel pergi bersamanya untuk memghadiri acara yang dimana terdapat rekan-rekannya, Andrean memang harus siap menerima orang lain memuji istrinya entah itu perempuan atau laki-laki. Kalau perempuan, Andrean tidak masalah sama sekali. Tapi kalau laki-laki, hatinya tentu panas. Harusnya Ia memang merasa senang, akan tetapi Ia cemburu.
*******
“Kandungan Nona Angel sehat, dua bayinya aktif, semakin tidak sabar nampaknya untuk bertemu dengan ayah dan ibunya,”
Hari ini Angel ditemani oleh sang suami untuk periksa kandungan. Mereka berdua yang mendengar penjelasan domter mandungan yang mendamlingi Angel selama mengandung langsung tersenyum senang. Kabar baik lagi-lagi mereka terima, dan mereka selalu berharap seperti itu setiap kali Angel periksa kandungan.
“Syukurlah, terimakasih, Dokter,”
“Dijaga dengan baik ya, Nona. Semoga sampai persalinan nanti semua berjalan dengan lancar,”
“Ya, Dokter,”
Angel sudah selesai diperiksa, kemudian diberikan vitamin penguat kandungan juga. Barulah Ia dan Andrean keluar dari rumah sakit dengan saling bergenggaman tangan.
“Bagaimana perasaanmu?”
“Aku semakin gugup,”
“Kenapa, Sayang?”
“Karena waktu aku untuk bisa bertemu dengan dua anak kita semakin dekat, Ean,”
“Kamu tidak sabar?”
“Tentu saja, tapi untuk sekarang gugup lebih mendominasi,”
“Tenang, kamu tidak boleh gugup,”
“Sulit menghilangkan rasa gugup itu, Ean. Akan hilang kalau semua sudah dilewati,”
Andrean terkekeh dan mengangguk membenarkan. “Ya, kamu benar. Aku sewaktu akan mengikuti ujian di masa sekolah selalu merasa gugup, tapi ketika pelaksanaan, gugup itu mulai hilang kemudian setelah pelaksanaan ujian gugup benar-benar tak ada lagi,”
“Iya sama, sepertinya gugup yang aku rasakan sekarang ini akan hilang juga kalau aku sudah melahirkan mereka,”
“Iya, tenang-tenang, ada aku,”
Andrean mengeratkan genggaman tangan mereka kemudian ibu jarinya mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut.
“Sekarang kamu pulang ya?”
“Aku ingin melihat kafe dulu,”
“Lihat saja kan tidak masuk?”
“Hahahaha ya tentu masuk dulu, Andrean. Aku ingin mengecek di sana dulu sebentar,”
“Ah kamu sering sekali mengatakan sebentar saja di sana tapi kenyataannya lama, kamu kurang istirahat nanti,”
“Tidak, kamu tenang saja,”
“Atau kamu mau ke kantorku saja?”
“Tidak, aku bisa saja mengganggu kamu,”
“Tidak lah, aku menunggumu di kafe, setelah itu aku akan membawamu ke kantor,”
“Hmm menarik juga ajakanmu, Ean. Tapi aku takut mengganggu kamu bekerja,”
“Sayang, kamu bukan anak kecil jadi tidak mungkin mengganggu aku. Kamu sudah dewasa dan tahu aku sedang bekerja, mana mungkin kamu mengganggu kan?”
“Ya takutnya kamu jadi tidak fokus karena ada aku,”
“Tidaklah, Sayang. Aku akan selalu fokus, kalau tidak fokus nanti anak dan istriku makan apa,” ujar Andrean sambil terkekeh.
“Aku juga sudah lama tidak datang ke kantormu. Hmm baiklah aku ikut,”
“Benar ya?”
Angel menganggukkan kepalanya antusias. Ia akan ikut ke kantor suaminya itu karena selain aidah lama tak datang ke kantor Andrean, kebetulan Andrean juga mengajak.
“Ya sudah aku antar kamu ke kafe dulu,”
“Kamu akan menunggu aku sampai selesai?”
“Iya, memang kenapa? Tidak boleh kah?”
“Bukan tidak boleh, apa kamu tidak bosan menunggu aku?”
“Tidak, aku tidak bosan,”
“Baiklah kalau begitu,”
Andrean segera melajukan mobilnya menuju kafe Angel, tidak butuh waktu lama mereka sampai. Mereka segera keluar dari mobil. Andrean tak pernah lupa membukakan pintu untuk Angel yang selalu akan terkekeh karena merasa diperlakukan seperti ratu dan Ia merasa tidak pantas.
“Sudah berapa kali aku bilang, tidak perlu membukakan pintu mobil untukku, karena aku bisa melakukannya sendiri, Ean,”
“Tidak masalah, Sayang. Aku senang melakukannya,”
“Aku sudah seperti ratu saja,”
“Ya memang kamu ratu, kamu adalah ratuku,”
“Aduh kamu membuat aku ingin terbang, adakah perempuan lain yang mendengar ucapanmu itu selain aku?”
“Tentu tidak, aku setia,”
“Hahahaha aku bercanda, Ean,”
“Iya, Sayang. Aku hanya ingin menegaskan, aku setia,”
“Iya aku percaya, dan aku juga bisa setia,”
“Harus, karena suamimu sudah setampan ini, sebaik ini bukan? Jadi tidak ada alasan bagi kamu untuk tidak setia, Sayang. Begitupun sebaliknya. Kamu sudah secantik ini, setulus ini padaku, aku tidak punya alasan untuk berpaling dari kamu,”
“Iya semoga kita bisa saling menjaga komitmen pernikahan kita ya, Ean? Aku selalu berdoa seperti itu,”
“Aku juga, Sayang,”
__ADS_1
“Semoga Tuhan menerima doa kita ya,”
Andrean tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia meraih tangan Angel kemudian Ia kecup dengan lembut.
******
“Astaga, kamu lancang sekali datang ke sini? apa tidak takut Daddyku melihatmu?”
Auristella langsung panik begitu melihat keberadaan Revano di kediamannya. Sementara Revano terlihta santai saja, justru Ia menampilkan senyum sumringah dan hangatnya seperti biasa.
“Apa tujuanmu datang ke sini, Revano?”
“Tentu saja untuk mengantarkan ini,”
Auristella bingung ketika Revano mengulurkan satu buah paper bag kepadanya, tentu Ia langsung bertanya “Ini apa? Dan kenapa diberikan untukku?”
“Ya karena memang ini untukmu, ini dari orangtuaku yang baru saja pulang dari Italia,”
“Terimakasih, sampaikan kepada mereka. Aku sangat menyukai ini,”
“Kamu saja belum melihat isinya, bagaimana mungkin kamu bisa berkata seperti itu?”
“Harus seperti itulah reaksi kita saat orang lain memberiman sesuatu. Begitu yang diajarkan oleh Daddy dan Mommyku,”
“Didikan mereka sangat baik untukmu, tidak salah kalau aku menyukaimu,”
Rona merah di kedua sisi wajah Auristella langsung hadir begtu mendengar ucapan Revano.
“Sudahlah jangan bicara seperti itu,”
“Apa kamu tidak suka mendengarnya? Padahal apa yang aku katakan barusan adalah sebuah kejujuran.,”
“Sampaikan pada orangtuamu, terimakasih atas pemberian mereka,” ujar Auristella yang mengalihkan pembicaraan. Revano langsung menganggukkan kepalanya.
“Ya, akan akj sampaikan pada mereka nanti, mereka pasti senang karena itu sudah sampai di tanganmu,”
“Auris, bicara dengan siapa, Sayang?”
Auristella langsung melipat bibirnya ke dalam ketika mendnegar pertanyaan Devan. Terdnegar langkah kaki yang mendekat dan Ia yakin itu adalah Devan.
“Ah Revank ternyata,”
Auristella audah gugup, takut Daddynya ketus atau bahkan mengusir teman dekatnya itu tapi ternyata tidak.
“Silahkan masuk,” ujar Devan pada Revano dengan hangat.
“Terkmakasih, Paman. Tapi aku harus segera pulang. Aku ada janji mengantar ibuku ke rumah sakit,”
“Ibumu sakit?”
“Tidak, hanya cek kesehatan saja,”
“Kh kalau begitu sampaikan salam untuknya, semoga orangtuamu sehat selalu. Dan—apa itu Auris?” Tanya Devan ketika melihat ada sesuatu yang dipegang oleh anaknya.
“Ini pemberian orangtua Revano, Dad,”
“Sampaikan terimakaish juga pada mereka yang sudah berbaik hati memberikan sesuatu untuk Auris. Percayalah, Auris sangat menyukainya apapun itu isinya,”
Revamo tersenyum dan mengangguk. “Terimakasih juga Paman sudah menerimaku di sini, aku harus segera pulang. Maaf sudah mengganggu waktunya, aku permisi,”
Auristella dan Devan kompak menganggukkan kepala mereka dan menatap ke arah Revano yang kini terlihat memasuki mobilnya. Setelah mobil Revano tak terlihat lagi barulah Devan merangkul bahu anak perempuan satu-satunya itu.
“Bagaimana perasaanmu? Hmm? Bahagia?”
“Bahagia, Dad, karena aku mendapatkan hadiah,” jawab Auristea dengan senyum sumringah.
“Lebih tepatnya bukan itu yang membuatmu bahagia tapi karena Revano yang datang ke sini, benar begitu?”
“Tidak, biasa saja,”
“Daddy tidak bisa dibohongi,” ujar Devan sambil menjawil dagu anaknya itu sambil terkekeh.
“Aku pikir Daddy akan mengusir Revano, tapi ternyata—“
“Daddy tidak munglin melakukan itu, dia sopan, dia baik, maka perlakuan yang sama akan dia terima dari Daddy,”
“Wow terimakasih, Daddy,”
“Tapi bukan berarti Daddy sudah mengizinkan kalian menjadi sepasang kekasih,” ujar Devan kemudian berlalu meninggalkan Auristella yang langsung terkekeh salah tingkah.
“Padahal Revano semakin terang-terangan. Sudah pernah meminta aku untuk menjadi kekasihnya, sikapnya juga sangat mengistimewakan aku, tapi sayang belum waktunya,”
******
“Ini bunga dari siapa ya? Dan untuk siapa juga? Kenapa bisa ada di depan pintu kafe?”
Angel bergumam bingung ketika melihat ada bucket bunga di depan pintu kafenya. Ia segera menoleh pada Andrean yang setia di sampingnya.
“Apa kamu bisa menebak?”
“Tidak, aku bukan penebak atau peramal, Sayang,”
Mendengar jawaban Andrean, Angel langsung terkekeh. Ia sedang serius memikirkan siapa pengirim bunga misterius itu dan sebenarnya ditujukan untuk siapa, tapi suaminya malah menjawab dengan wajah serius menggunakan kata-kata yang asal.
“Kenapa kamu tertawa, Sayang?”
“Kamu lucu, Ean. Wajahmu serius tapi kata-katamu itu terdengar lucu,”
“Aku tidak yakin, memangnya ini untukku, Ean? Kenapa terbesit di pikiranmu kalau ini dari temanmu yang artinya untuk aku ‘kan?”
“Ya barangkalis aja, karena tepat sekali dia ada di depan pintu saat kamu akan masuk ke dalam kafe, sepertinya dia mengamati kamu akan melangkah masuk ke jafe makanya dia cepat-cepat meletakkan itu,”
“Bisa jadi bunga ini sudah ada sejak tadi sebelum kita datang, Ean, tapi dibiarkan begitu saja oleh staf dan pengunjung kafe,”
Andrean bergumam dan menganggukkan kepalanya. Benar juga ucapan istrinya itu, belum tentu itu ditujukan untuk Angel.
“Ya sudahlah, biarkan saja bunga itu, tidak perlu kita pikirkan, lebih baik kita masuk ke kafe sekarang,” ujar Andrean sambil merangkul bahu sang sitri dan tang satunya lagi mendorong pintu kafe namun tiba-tiba Angel bicara “Ini ada kertas di dalam bunganya, Ean. Aku baca isi kertasnya ya?”
“Biar aku saja,” ujar Andrean yang langsung mengambil alih kertas di dalam bunga tersebut. Kemudian Ia mulai membaca satu demi satu kata yang tertulis di kertas tersebut.
-Bunga cantik ini untuk temanku yang cantik, Angel-
Andrean langsung mengeraskan rahangnya. Ia langsung panas membaca kalimat yang tertulis di kertas tersebut.
“Astaga, jadi ini benar untukku?”
“Ya, dari temanmu,”
“Tapi aku tidak tahu siapa dia,”
“Aku rasa dia laki-laki,” ujar Andrean seraya mengepalkan kertas tersebut.
“Ean, kenapa kamu terlihat kesal?”
“Tentu saja aku kesal, Sayang. Kenapa harus mengirimkan bunga untuk istriku? Dan kenapa harus dengan kata-kata seperti itu?”
“Apa kamu cemburu, Ean?”
“Tentu saja, aku cemburu, bahkan sangat cemburu,”
Angel tersenyum lantas mengusap bahu sang suami sambil bicara “Ya sudah kamu tidak perlu khawatir. Yang terpenting aku bisa jaga hati,”
“Tapi tetap saja aku merasa terganggu dengan lancangnya dia yang tiba-tiba kirim bunga misterius,”
“Iya sayangnya kita tidak tahu siapa yang mengirim ini,”
“Kalau kamu tahu siapa pengirimnya, kamu mau apa, Sayang?”
“Hanya ingin bertanya maksud dia mengirimkan ini apa?”
“Ya, aku pun akan bertanya hal serupa. Karena menurutku, dia salah sudah mengirimkan ini kepadamu. Apa dia tidak tahu kalau kamu sudah punya suami? Atau sebenarnya dia tahu dan sekarang dia sengaja ingin mengganggu hubungan kita?”
“Aku juga tidak tahu, Ean,”
“Ya sudah tidak usah kita pikirkan sekarang,”
Andrean mengajak istrinya untuk masuk kafe saja alih-alih memikirkan pengirim bunga misterius itu.
“Aku memilih kursi ini untuk duduk mengamati kamu bekerja,”
“Okay, apa kamu menginginkan sesuatu?”
“Hot matcha bisa?”
“Aku buatkan sekarang juga,” jawab Angel sambil tersenyum.
“Tidak pelru kamu, aku minta tolong pada karyawanmu saja,”
“Aku saja yang membuatkan itu, karena istimewa untuk suamiku,”
Andrean terkekeh lantas menganggukkan kepalanya. Ia membiarkan sang istri untuk mwmbuatkan hot mactha yang Ia inginkan.
Andrean duduk diam sambil menunggu minuman yang Ia inginkan tersaji di depannya. Andrean kembali memikirkan pengirim bunga misterius untuk istrinya.
“Siapa dia? Kenapa dia berani sekali diam-diam mengirimkan bunga untuk Angel? Apa dia pikir perlakuannya itu romantis? Tidak sama sekali,” batin Andrean sambil menopang dagunya dengan salah satu tangan.
“Dia benar-benar berani sekali melakukan itu. Apa dia tidak tahu kalau Angel sudah memiliki suami dan aku lah suaminya? Apa tujuan dia sebenarnya? Kalau memang murni hanya ingin menyapa Angel sebagai sahabat dan ingin memberikan bunga, seharusnya dia berikan langsung pada Angel, bukan dengan cara diam-diam seperti itu yang akhirnya membuat Angel penasaran. Mungkin dia ingin dicari tahu oleh Angel,”
Disaat Andrean sedang berkelut dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba saja Ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang menepuk bahunya dari arah belakang.
Begitu Ia menoleh ternyata ada Adrian. Andrean cukup terkejut mendapati keberadaan adiknya, dan di sebelah Adrian ada Adrina.
“Oh wow, kalian kencan di sini? Hmm?”
Adrian terkekeh mendnegar pertanyaan sang kakak, lantas mengangkat kedua bahunya. “Aku rasa begitu. Sendirian ya? Tidak punya pasangan kencan?”
“Oh jangan salah, istriku sedang membuatkan hot matcha istimewa untuk suaminya ini,” ujar Andrean yang tak mau kalah.
“Aku lihat ada bunga ya di depan pintu kafe. Itu bunga dari siapa dan untuk siapq? Atau memang konsep kafe ini disambut dengan bunga?” Tanya Adrian pada Andrean yang langsung menggelengkan kepalanya. Adrian adalah adik kembar Andrean, sudah terbiasa hidup bersama sejak dalam kandungan jadi tahu ketika Andrean sedang tidak baik-baik saja seperti sekarang. Andrean kelihatan tengah menahan kesal. Terlihat dari wajahnya.
“Kamu baik-baik saja?”
“Ya, aku baik-baik saja,”
“”Oh benarkah? Aku tidak percaya karena aku mengenalmu luar dan dalam untuk jangka waktu yang sudah lama, Ean,”
Disaat Andrean akan bicara, tiba-tiba Angel datang membawa satu gelas hot matcha dan juga pasta untuk suaminya.
“Wow ada Adrian dan Adrina ternyata, apa yang kalian inginkan sekarang?” Tanya Angel pada sepasang manusia dengan nama hampir serupa itu.
“Biarkan karyawanmu saja yang melayani kami,” ujar Adrian.
__ADS_1
“Tidak apa, aku saja,”
“Tidak, Angel. Aku ingin mengajakmu bicara sebentar, bisa?”
“Oh tentu,”
Angel langsung duduk di sebelah suaminya, berhadapan dengan Adrian dan Adrina. “Sebenarnya ada apa?”
“Hmm? Maksudmu, Ian?”
“Barusan aku bertanya pada Ean, tapi tidak mendapat jawaban,”
“Soal apa, Ian?”
“Di depan pintu kafe ada bunga, itu bunga milik siapa?”
“Di kertas yang ada di dalam bunga, tertera bahwa bunga itu untuk aku. Tapi aku tidak tahu siapa pengirimnya, di kertas tidak ada nama pengirim,”
“Ya ampun, apa kamu punya penggemar rahasia? Hmm wajar, kamu cantik, dan baik,” ujar Adrina pada Angel yang tengah bingung memikirkan siapa pengirim bunga misterius itu.
“Kamu jangan bicara seperti itu, Adrina. Apa kamu tidak lihat wajah Ean semakin masam?”
Adrian yang usil mulai mengolok kakaknya yang alih-alih menikmati hot matcha miliknya malah mengaduk minuman itu dengan pelan dan wajah yang masam.
“Hahahaha okay aku minta maaf,”
“Jadi ternyata itu alasan wajah Ean terlihat berbeda ya?” Tanya Adrina untuk memastikan.
“Ya tentu saja, Drina. Suami mana yang tidak cemburu istrinya mendapatkan bunga secara misterius? Kalau bunga itu diberikan tidak doam-doam mungkin reaksi Ean tidak akan seperti ini,”
“Ya aku setuju, lagipula untuk apa juga ya dia mengirimkan bunga itu secara diam-diam? Apa dia tidak tahu kalau Angel sudah punya Ean? Dengan mengirimkan bunga secara diam-diam seperti itu tandanya dia memang sengaja menimbulkan masalah di antara Angel dan Ean,”
“Bunga itu dibuang saja ke tempat sampah,”
“Biarkan saja lah, kalau dia mau ambil silahkan, yang jelas aku tidak mau menyentuhnya,” ujar Angel.
“Bunga itu ada sejak kamu datang?”
“Ya, saat aku akan masuk ke dalam kafe aku melihat ada bunga,”
“Sepertinya dia memantau di sekitar sini,”
“Kenapa kamu berpikir seperti itu, Ean?”
“Entahlah, perasaanku begitu,”
“Lalu kalau dia benar ada di sekitar sini apa yang akan kamu lakukan? tidak mudah menemukannya,”
“Bunga itu dari seseorang yang mengakui Angel sebagai temannya yang cantik,”
“Astaga dia bilang seperti itu?”
Andrean menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Adrian yang langsung menggelengkan kepalanya.
“Ya Tuhan, kenapa dia bisa bersikap seperti itu ya?”
“Entahlah, Ian, aku tidak tahu,” jawab Andrean sambil menggusar rambutnya ke belakang.
“Apa jangan-jangan itu adalah mantan kekasihmu, Angel?”
“Aku tidak punya mantan kekasih, Drina,”
“Hmm berarti dia adalah penggemar rahasiamu, ini sudah pasti menurutku,” ujar Adrian sambil mengetuk meja sambil bersuara dengan yakin.
********
“Ya ampun, aku dibelikan cokelat. Hmm sepertinya cokelat-cokelat ini lezat,”
Lovi menggelengkan kepalanya saat melihat Auristella yang sedang sibuk melihat pemberian orangtua Revano untuknya.
“Kelihatannya anak Mommy samgat bahagia mendapat hadiah,”
“Cokelat, Mom,”
“Selain karena cokelat, mungkin hal lain yang membuatmu bahagia adalah itu pemberian orangtua Revano yang langsung diantar oleh Revano,”
“Siapapun yang memberikan cokelat pasti akan aku senang, Mommy, karena Mommy tahu aku suka cokelat kan?”
“Jadi bagaimana? Kamu dan Revano sudah sejauh apa?”
“Hah? Sejauh apa, Mom? Aku belum paham maksud ucapan Mommy,”
“Apa kalian sudah menjadi sepasang kekasih?”
“Tentu tidak, Mom. Aku bisa diasingkan oleh Daddy kalau melakukan itu,”
“Kamu penurut sekali, Sayang,”
“Untuk kebaikanku juga, Mom,”
“Mommy salut padamu,”
“Sebenarnya banyak teman-temanku yang sudah memiliki kekasih, mereka bahkan hidup bebas dibanding aku, terkadang aku ingin seperti mereka tapi kalau dipikir-pikir mereka yang seperti itu justru karena kurang mendapat kasih sayang atau perhatian dari orangtua atau keluarga terdekatnya. Jadi mereka haus akan kasih sayang dari orang di luar dan hidup bebas. Mereka sendiri yang cerita padaku, Mom,”
*******
“Angel, ayah minta maaf karena Ayah tidak berhasil meminta Gesty untuk mengembalikan uang kamu, Angel. Ayah sudah berulang kali menyuruh Gesty untuk segera mengembalikan uang yang sudah kamu serahkan padanya tapi dia tetap keras kepala tidak mau mengembalikannya, Angel. Padahal ayah sudah katakan bahwa itu bukan miliknya, itu bukan hak nya. Tapi dia beranggapan bahwa apa yang sudah ada di tangannya adalah miliknya dan dia tidak akan pernah mengembalikannya,”
Angel tersenyum tipis mendnegar ucapan sang ayah. Ia bisa tahu dari nada suaranya ayah bahwa Geno merasa sangat bersalah padahal Angel sudah tak memikirkan uang itu.
“Ayah, tidak usah diingat lagi soal uang itu, aku sudah tulus memberikannya untuk kakak. Biarkan saja, Ayah,”
“Maafkan ayah, Angel,”
“Ayah tidak salah jadi ayah tidak perlu meminta maaf,”
“Ini pelajaran, mulai sekarang jangan semudah itu memberikan uang kepadanya, Angel,”
“Iya, Ayah. Aku mudah memberikan apapun yang aku punya kepada kakak karena aku menyayanginya, karena dia adalah kakakku. Tapi memang sudah terlalu sering kakak membuat aku kecewa,”
“Iya maafkan kakakmu itu, Angeld an lain kali jangan mudah memberikannya apapun karena dia anak yang tidak tahu diri,”
“Ayah tidak perlu ingat-ingat lagi soal uang itu ya, lupakan saja, itu sudah menjadi milik kakak dan aku tidak akan memintanya,”
“Semoga kakakmu itu cepat sadar, Angel. Karena ayah ingatkan, tapi dia malah balik mengingatkan ayah seolah ayah ini akan cepat mati sementara dia masih lama hidup, padahal kita tidak ada yang tau siapa yang diberikan kesempatan lebih lama oleh Tuhan untuk hidup di dunia ini,”
“Maafkan semua perkataan kakak yang menyakiti hati ayah ya,”
“Kenapa kamu yang meminta maaf? Bukan kamu yang salah, Angel. Aku izin tutup teleponnya ya, Ayah? Aku sedang menemani Auris belanja,”
“Okay, hati-hati di jalan,”
Sambungan telepon antara Angel dan ayahnya berakhir otomatis pembahasan soal uang Angel yang diambil aluh oleh Gesty juga berakhir.
Angel tak mengharapkan uangnya kembali, karena Ia tahu itu tak akan terjadi. Biarkan saja kakaknya itu bahagia dengan apapun yang bukan miliknya sampai Tuhan memberikannya pelajaran.
“Ayahmu yang baru saja bicara denganmu, Angel?”
“Iya, Ris,”
“Jadi ini bagaimana ya hadiah untuk Mommy Revano? Aku benar-benar bingung mau membelikan apa untuk beliau,”
“Menuruttku sesuatu yang berguna, kalau tas, baju, atau perlengkapan yang identik dnegan perempuan beliau punya bahkan mungkin banyak sekali,”
“Iya aku juga berpikir seperti itu,”
Auristella beruntung mengajak Angel karena Ia bisa meminta pendapat Angel dengan puas. Angel yang paham sekiranya barang apa yang bisa Ia berikan untuk Ibu dari Revano yang akan berulang tahun.
“Kalau alat untuk menghilangkan rasa pegal di kaki atau tangan, kira-kira bagaimana, Ris?”
“Hah? Memang terpakai, Angel?”
“Mungkin beliau sudah punya tapi setidaknya tidak sebanyak tas, baju, sepatu. Nah atau mungkin kamu belikan beliau peralatan dapur yang sekiranya beliau belum punya atau punya tapi hanya satu jadi tak ada pilihan lain,”
“Oh jadi antara dua ya? Alat untuk memijat atau alat dapur?” Tanya Auristella yang langsung diangguki oleh Angel.
“Ya, kamu benar sekali,”
“Hmm kalau aku tanya pada Revano kira-kira bagaimana menurutmu? Barangkali dia tahu. Karena jujur aku tidak bisa memutuskan barang apa yang benar-benar diinginkan atau dibutuhkan,”
“Kalau saranku alat untuk memijat, karena yang kita tau orangtua Revano pasti orang yang sibuk, ya tidka jauh beda dnegan Mommy dan Daddy mu, Ris. Aku pikir itu jauh lebih berguna. Itu hanya saranku ya, Ris,”
“Oh begitu ya? Baiklah aku ikuti saranmu saja,”
“Tidak jadi bertanya pada Revano?”
“Aku tidak yakin dia akna menjawabnya, karena dia sudah menegaskan padaku bahwa aku diminta datang saja, yang artinya aku tidak diperkenankan memberikan sesuatu. Kalau aku tidak memberikan apapun, aku tidak enak hati mau datang,”
Angel menahan senyumnya. Lalu Ia menjawil dagu adik dari suaminya itu. “Niatmu baik. Apalagi ini pertemuan pertama dengan calon ibu keduamu ya?”
Auristella membelalakkan kedua matanya lalu menggelengkan kepala kuat-kuat sambil berkata “Angel, jangan bicara seperti itu. Bukankah terlalu jauh pembicaraanmu?”
“Hahahaha tidak juga, aku rasa tidak terlalu jauh,”
“Kalau Daddy, Mommy dan Ian dengar ucapanmu, mereka pasti akan melirikku dengan sorot mata yang tidak bisa dijelaskan,”
“Lalu bagaimana dengan sorot mata Ean?”
“Ean? Hmm entahlah, dia sulit untuk ditebak,”
Angel terkekeh mendengar ucapan Auristella tentang kakak tertuanya yang sekarang tiba-tiba menghubunginya. Auristella segera menerima panggilan yang masuk dari Andrean.
“Halo, Ean,”
“Auris, Angel masih bersama kamu kan?”
“Iya, ada Angel di sampingku. Ada apa, Ean?”
“Tidak apa, aku hanya ingin memastikan,”
“Apa kamu masih ragu bahwa Ris itu adalah aku, adikmu sendiri? Hah?”
Andrean terkekeh mendnegar Auristella memggerutu. Sebelumnya Ia semoats alah paham bahwa Ris yang disebut Angel itu adalah orang lain, teman lelaki Angel, taoi ternyata adalah adiknya. Dan Auristella tahu tentang kesalahpahaman itu dari Angel. Tentu saja Auristella jadi kesal. Bisa-bisanya Andrean berpikir seperti itu.
“Okay kalau begitu nanti ketika kalian akan oulang tolong kabari aku ya, biar aku yang menjemput kalian,”
“Tidak perlu, kamu tidak perlu memjemput kamu, sudah ada driver yang melakukannya. Lebih baik setelah kamu bekerja kamu langsung pulang ke rumah,”
“Jangan seperti itulah, aku ingin menjemput kalian,”
“Hmm karena aku pergi dnegan istrimu ya? Coba kalau aku pergi sendiri belum tentu kamu mau—“
__ADS_1
“Hei jangan bicara seperti itu, setiap kamu meminta bantuanku untuk mengantar atau menjemput aku selalu berusaha untuk memenuhi permintaan kamu, Auris. Kamu adalah adikku, kamu bicara seperti itu seolah aku tidak pernah mau saja mengantar atau kenjemput kamu,”