
Siang ini, Lovi mengantarkan makan siang untuk suaminya. Cukup jarang Devan minta diantar makan. Sehingga Lovi senang sekali begitu Devan menelponnya kemudian minta dimasakkan apapun yang Lovi inginkan karena pasti akan tetap disantap olehnya.
"Akhirnya kamu datang. Perutku sudah meronta-ronta, Lov,"
Devan meninggalkan meja kerjanya lalu menepuk-nepuk perutnya yang membuat Lovi terkekeh.
Perempuan itu meletakkan lunch bag di meja khusus pendatang yang masuk ke ruangan Devan. Kemudian Ia mengisyaratkan suaminya agar segera makan.
"Aku cuci tangan dulu," ujar Devan yang diangguki istrinya. Usai membersihkan tangan, Ia duduk dengan tenang sementara Lovi sedang mengeluarkan makanan dari lunch bag.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah,"
"Kenapa tidak makan di sini saja bersama aku?" Setengah menggerutu Devan bicara. Padahal kalau makan berdua lebih terasa nikmat.
"Aku mau makan lagi sekarang,"
"Dimana makanan kamu?"
"Itu," tunjuk Lovi pada makanan yang dipegang suaminya.
"Itu porsinya banyak, Devan. Memang kamu bisa menghabiskannya?"
Devan segera membuka penutup wadah yang Ia pegang dan Ia tersenyum. Memang porsinya banyak. Oh jadi istrinya itu ingin makan di tempat yang sama dengannya. Hmm manis sekali.
"Okay, aku suapi kamu,"
"Tidak, aku makan sendiri,"
Devan berdecak pelan. Padahal Ia ingin mengulang momen yang sering terjadi ketika mereka masih muda dulu. Kalau sekarang Ia menyuapi Lovi pasti akan digoda mati-matian oleh anaknya. Siapa lagi kalau bukan Adrian dan Auristella.
*****
"Ean, kamu tidak sibuk 'kan?"
Auristella memasukkan sedikit kepalanya ke sela pintu kamar Andrean. Ia melihat kakaknya yang sedang duduk di depan laptop yang terletak di meja yang sering digunakan kakaknya itu untuk belajar ataupun bekerja.
"Kenapa?"
"Temani aku menonton film horor," rengeknya pada Andrean.
Semua sedang tidak ada di rumah. Hanya mereka berdua dan para maid. Auristella baru saja selesai mengerjakan tugas dan Ia mendapat rekomendasi film horor dari Ryn. Ia begitu penasaran dengan film itu namun Ia merasa takut bila harus menontonnya sendirian.
__ADS_1
"Jangan ditonton kalau takut, Auris," jawab Andrean dengan kalem seperti biasa.
"Tapi aku ingin tahu jalan cerita filmnya. Temanku sudah banyak yang menonton. Aku bingung mendengar pembahasan mereka tentang film itu,"
"Untuk apa juga mendengar pembahasan film? Lebih baik mendengar dengan baik apa yang diajarkan dosenmu,"
Saran kakaknya itu membuat Auristella berdecak. Lalu Ia segera menutup pintu. Andrean menggeleng pelan. Begitu lah Auristella kalau permintaannya tidak dipenuhi.
"Aku akan menemani kamu," jawab Andrean yang tidak lagi didengar oleh sang adik yang sudah turun ke lantai bawah dan akan memberanikan diri menonton sendirian di ruang keluarga.
"Serra, temani aku menonton,"
Serra yang kebetulan melewatinya langsung dipanggil. Serra melihat Andrean mendekati mereka. Ia langsung menatap Auristella.
"Maaf, Nona. Aku masih ada pekerjaan,"
Auristella mencebikkan bibirnya kesal. Ia mengerinyit saat Serra tiba-tiba berujar pelan, "Ada yang akan menemani Nona di sini. Aku melanjutkan pekerjaan ku dulu ya, Nona,"
"Filmnya belum diplay?"
Auristella tersentak dan menoleh saat kakaknya menyusul duduk di sebelahnya.
"Kamu bukannya sibuk?"
"Oh baiklah, akhirnya aku ada teman menonton. Sebentar ya, jangan di play dulu. Aku ingin mengambil minum dan snack,"
Andrean mengangguk, membiarkan adiknya yang nampak antusias sekali begitu Ia mau menemaninya.
Ia mengutak atik remote televisi lalu foto cover film sudah terlihat di layar televisi. Ia tinggal menekan tombol 'play' di remote. Berhubung adiknya belum datang, Ia memutuskan untuk meletakkan remote di meja yang berada di depannya lalu Ia bersandar ke punggung sofa. Tangannya meraih ponsel saat terasa ada getaran dari sana.
"Andrean, aku sudah memberi tahu Nenek bahwa aku akan menikah. Dan Nenek senang sekali. Nenek tidak menyangka kalau kamu yang akan menikahiku,"
Pesan yang dikirim Angel membuat sudut bibir Andrean sedikit terangkat. Dilihat dari kalimatnya, Angel terlihat antusias sekali menceritakan hal itu padanya.
"Ayo kita menonton, Ean. Kamu jangan sibuk dengan ponsel,"
"Iya, aku hanya membaca pesan Angel,"
"Oh, kenapa dengan Angel?"
Andrean menggeleng, "Hanya bercerita saja,"
"Kemarikan ponselnya," pinta gadis itu pada kakaknya. Tangan Auristella menengadah ke arah Andrean.
__ADS_1
"Supaya kamu fokus menonton," imbuh Auristella.
Andrean menggeleng dan menyimpan ponselnya ke saku celana yang Ia pakai.
"Memang apa salahnya Angel mengirimi aku pesan?"
"Tidak salah, aku hanya ingin menyimpan ponsel mu supaya---"
Andrean meraih remote televisi lalu menekan 'play' hingga akhirnya trailer film muncul.
Auristella mendengus karena kakaknya mengabaikan. Ia menyerah, kemudian Ia fokus menatap layar televisi.
******
Angel tersenyum mendapati pesannya sudah dibaca oleh Andrean walaupun tidak dibalas. Niatnya memang hanya ingin menceritakan tentang Neneknya yang senang begitu tahu kalau Ia akan menikah sebentar lagi dan yang akan menikahinya itu adalah Andrean yang Neneknya tahu adalah putra sulung dua orang baik yang selalu membantu mereka.
"Angel!"
"Angel!"
Angel terkesiap saat kakaknya berteriak memanggil dirinya. Ia segera meletakkan ponsel di ranjangnya lalu bergegas keluar dari kamar. Ia baru ingin beristirahat sebentar. Karena usai bekerja, Ia langsung ke rumah neneknya, lalu segera menyelesaikan pekerjaan rumah yang sudah menyambutnya ketika Ia menginjakkan kaki di rumah.
"Ada apa, Kak?"
"Aku minta uang,"
"Kak--aku,"
"Aku ingin menghadiri pesta pernikahan teman sekolahku. Dan aku tidak punya uang untuk ke sana,"
"Uang yang aku berikan sebelumnya sudah habis, Kak?"
"Tidak perlu bertanya! Kalau masih ada, sudah pasti aku tidak meminta pada kamu,"
"Ya Tuhan,"
Angel menatap kakaknya dengan sendu. Kenapa kakaknya secepat itu menghabiskan uang?
Padahal setiap hari Gesty bisa melihat sendiri betapa lelahnya Angel bekerja. Berangkat pagi lalu pulang malam hari. Bahkan ketika jadwalnya hanya sampai sore, Angel kerap meminta ditambahkan jadwal kerjanya yang tentu akan mendapat tambahan penghasilan juga.
"Tidak usah menampilkan raut muka yang menyedihkan! Kamu masih muda, jadi masih kuat untuk bekerja keras,"
“Umur kakak juga masih muda,”
__ADS_1