
“Ah itu—itu bukan— entah itu punya siapa. Aku juga tidak tau,”
Adrian menaikkah salah satu alisnya dan menahan senyum bahkan tawa mati-matian karena melihat wajah panik Auristella.
Adrian yakin Auristella sekarang bingung harus menjawab apa. Jadi keluarlah jawaban ‘tidak tahu’ karena menurutnya itu yang paling aman.
“Benarkah kamu tidak tahu, Ris?”
“Iya benar, oh atau itu punyaku ya? Aduh aku lupa. Jadi tadi aku pesan minuman dua gelas. Sudah habis satu. Sepertinya iya itu bekas minumanku,”
“Tadi kamu jawab tidak tahu, sekarang kamu jawab gelas ini bekas minumanmu, jadi yang mana jawaban yang benar, adikku sayang?” Tanya Adrian sambil menaik turunkan kedua alisnya. Auristella menatapnya masih dengan sorot mata yang panik, wajah yang tegang. Adrian mempertahankan wajahnya yang tanpa ekspresi supaya kesan tegasnya dapat. Padahal dalam hati Adrian sudah tertawa terbahak-bahak, bukan lagi sekedar senyum, tapi sudah tertawa puas.
“Jawaban yang kedua. Iya benar itu gelas bekas minumanku karena tadi aku pesan dua gelas minuman,”
“Oh sudah tidak bingung lagi menjawab?”
“Tidak, aku sudah tau jawabannya,”
“Hmm, kenapa tadi keliahtan ragu? Seperti orang yangs edang berbohong saja. Apdahal aku tidak akan marah kalau kamu seandainya jawab ‘iya itu gelas Revano. Tadi aku makan berdua dengan Revano tapi sekarang di sudah pergi supaya tidak bertemu dengan kamu, Ian’ nah kalau jawabanmu seperti itu, aku tidak masalah,”
Seketika wajah Auristella kaku. Ia bahkan berhenti mengunyah, kedua matanya membelalak.
“Maksud—maksud kamu apa?”
“Oh tidak apa-apa, aku hanya sedang memintamu untuk jujur. Kalaupun kamu makan bersama temanmu itu, aku tidak akan marah. ‘Kan hanya teman? Dan hanya makan, benar negitu?”
“Tapi aku hanya makan sendiri, Ian. Kamu tidak percaya? Hmm?”
“Ya bagaimana aku tidak percaya kalau aku sudah melihat dnegan mata kepalaku semdiri tadi ada Revano, dan ditambah lagi aku melihat ada satu gelas kosong di meja ini, belum sampai disiru saja yang buat aku makin yakin kalau kamu tidak makan sendiri. Gerak gerikmu ketika menjawab pertanyaanku, menunjukkan kalau kamu itu sedang menutupi sesuatu. Tapi ya sudahlah tidak usah dibahas. Tidak penting dan sudah berllau juga, iya ‘kan?”
“Apa?! Jadi Ian tau kalau aku makan dnegan Revano? Aish! Kenapa Revano tidak hati-hati sih? Kenapa dia bisa bertemu dengan Ian?! Astaga, aku ketahuan berbohong! Argh ini semua gara-gara Revano!”
“Hei, kenapa diam?” Tanya Adrian seraya menjentikan jarinya di delan wajah sang adik.
“Hah? Tidak, aku hanya—“
“Santai, Ris, santai. Lanjutkan makanmu, aku tunggu sampai selesai,”
Adrian meminta adiknya itu untuk tenang, tidak tegang atau panik lagi karena Ia tidak akan lagi membahas fakta bahwa Auristella makan berdua dengan Revano.
“Ok—okay, aku—aku makan dulu ya,”
“Iya, jangan gugup lagi, santai saja. Kenapa kamu jadi gagap begitu bicaranya?”
Adrian terkekeh mengetahui adiknya masih gugup, sampai mau bicara saja harus tersendat-sendat padahal seharusnya tidak perlu karena Ia tidak akan marah, dan tidak akan membahas. Kasihan juga mepihat adiknya panik seperti tadi karena ketahuan berbohong.
Auristella menyelesaikan makannya, setelah itu Ia beranjak meninggalkan kursi untuk membasuh tangannya dan juga buang aur kecil. Kemudian Ia kembali ke mejanya dan mengajak Adrian untuk pulang.
“Sudah tidaka da yang tertinggal?” Tanya Adrian pada adiknya itu yang langsung menggelengkan kepalanya.
“Ada yang tertinggal sepertinya, Ris,”
“Hmm? Apa?”
“Rasa bahagiamu setelah makan berdua dengan Revano jangan sampai tertinggal di restoran ini,” ujar Adrian sambil tersenyum lalu melenggang dengan santai meninggalkan Auristella yang terperangah kaget.
“Ian kamu jangan bicara macam-macam ya!”
Seketika pengunjung restoran menoleh ke arah Auristella karena suaranya lumayan keras. Auristella langsung menunduk sambil meminta maaf.
“Maaf, saya sudah mengganggu,” ujar Auristella setelah itu berjalan cepat meninggalkan restoran dengan rasa malu yang negitu besar dan ini karena, “IIAAAANN!”
Auristella sudah keluar dari restoran dalan suasana di luar restoran sepi maka dari itu Ia berani berteriak pada kakak keduanya yang berjalan di depannya smabil tertawa puas.
“GARA-GARA KAMU, AKU JADI DIPERHATIKAN BANYAK ORANG!”
__ADS_1
Auristella mengamuk sambil mendorong ounggung Adrian yang tidak jatuh, karena keseimbangannya bagus. Sudah sering didorong, dicubit, dipukul oleh adiknya jadi Adrian sudah punya keseimbangan yang bagus dan bisa diandalkan, hanya satu yang belum bisa diandalkan yaktu kesabaran.
Kesanaran Adrian dalam menghadapi Auristella masih kurang. Berbeda dengan Andrean. Maka dari itu Auristella lebih sering berdebat dengan kakak keduanya yaitu Adrian ketimbang Andrean karena Andrean cenderung kebih tenang mengahdapinya sekalipun Ia sangat kesal. Sementara Adrian justru suka membalas dengan cara membuat kesal juga.
“Apa sih, kekasihnya Revano? Baru juga makan berdua, kenapa marah-marah? Belum puas ya bicara berdua dengan Revano? Sudah rindu dia makanya marah-marah?”
“Hih sembarangan kamu ya,”
Auristella langsung mencubit pinggang Adrian yang meringis kesakitan. “Astaga, Ris, tadi sudha didorong-dorong, sekarang dicubit, nanti diapakan lagi? Kamu mau tinju aku? Hmm? Sekalian ya diajak ke ring tinju,”
“Ayo aklau kamu mau,”
“Aku mau, tapi aku tidak mau alwannya kamu,”
“Kenapa? Kamu takut kalah ya? Hmm?”
“Karena kamu lemah! Belum juga ditinju, nanti sudah mohon-mohon ampun, atau pingsan,”
“Aku tidak selemah itu ya,”
“Iya iya, kekasihnya Revano tidak lemah,”
Masih belum habis juga ucapan Adrian untuk membuat adiknya kesal. Saat ini Adrian masih membawa-bawa nama Revano.
“Ian, kamu jangan bicara begitu. Aku dan Revano tidak ada hubungan apapun, tolonglah kamu percaya,”
Setelah sampai di dalam mohild an menggunakan sabuk pengaman, Auristella langsung bicara baik-baik. Jujur Auristella sekarang takut kakaknya itu bicara yang macam-macam pada Devan, seperti halnya ketika Adrian tahu kalau Revano mengirimkan bunga untuk dirinya. Adrian berkata pada Devan kalau Ia dapat bunga dari kekasihnya padahal kenyataannya bukan seperti itu. Sampai detik ini, Ia dan Revano masih nyaman berteman saja, tidak lebih.
“Okay aku percaya, tapi kamu jujur dulu,”
“Jujur soal apa?”
“Ya soal tadi lah. Benar ‘kan kamu dan Revano makan berdua?”
Auristella terdiam, Ia bimbang sekali. Tadi Ia sudah terlanjur berbohong, tapi kakak keduanya itu sudah tahu seperti apa kebenarannya.
“Iya iya iya! Aku jujur, aku dan Revano memang tadi makan berdua. Tapi kami tidak ada hubungan apa-apa, Ian. Aku berani bersumpah, aku serius,”
“Iya aku percaya. Kalau jujur ‘kan lebih lega, benar tidak?”
Auristella menganggukkan kepalanya. Ia mengakui setelah jujur, rasanya lebih lega. Ia tidak gugup, tegang, panik dan sebagainya. Tadi ketika sedang berkelit, semua perasaan Auristella campur aduk apalagi ketika Adrian tahu kebohongannya.
“Ian, kamu jangan bicara yang macam-macam pada Daddy ataupun Mommy ya. Dia itu hanya temanku, kalau kamu tidak percaya silahkan kamu wawancarai dia secara langsung,”
Adrian tertawa mendengar Auristella mempersilahkan dirinya untuk mewawancarai Revano. Padahal Ia tidak tertarik untuk melakukan itu. Ia percaya dengan penejalsan adiknya bahwa mereka hanya sekedar teman. Kalupun Auristella berbohong, manti akan ada waktunya terbongkar juga. Adrian hanya berharap adiknya tak diberi teguran oleh Tuhan akibat berbohong. Diminta fokus dengan pendidikan tapi tidak tahunya malah menjalin hubungan istiemewa dengan seorang laki-laki yang diakuinya sebagai teman saja.
“Tidak perlu, Auris. Aku percaya padamu. Tapi aku hanya olingin menegaskan, berbohong apda orangtua itu kesalahan yang besar. Aku hanya berdoa kamu tak dapat pelajaran dari Tuhan karena berbohong, ya kalau memang kamu berbohong,”
“Kamu mendoakan aku dapat pelajaran dari Tuhan? Hah?”
“Itu kalau kamu berbohong, Ris. Kamu paham kata-kataku atau tidak sih?“
“Aku tidak bohong, Ian,”
“Ya sudah bagus, aku senang mendengarnya,”
“Kamu percaya ‘kan? Aku tidak bohong. Memang aku dan Revano itu tidak ada hubungan apapun. Tolong percaya padaku ya, aku mohon jangan bicara yang tidak-tidak pada Daddy seperti kemarin saat Revano memgirimkan bunga untuk aku.”
“Hahaha ternyata kamu masih dendam dengan itu? Padahal itu aku bercanda,”
“Tapi Daddy jadi percaya, Ian! Kamu bilang pada Daddy kalau aku ini dikirimkan bunga pleh kekasih, dan dia adalah Revano,”
“Senenarnya Daddy tidak langsung percaya begitu saja. Daddy mendengar penjelasan kamu ‘kan?”
“Iya tapi aku ‘kan takut kalau Daddy jadi percaya. Seharusnya Daddy itu tau kalau anak keduanya suka mengarang bebas!”
__ADS_1
“Tapi yang tadi tidak mengarang bebas ‘kan?”
“Yang tadi? Maksudmu?”
“Yang tadi, aku lihat Revano di area patkir saat akan masuk mobil, jadi aku simpulkan kalau dia makan berdua dengan kamu. Itu bukan karanganmu, itu kenyataan,”
“Iya itu benar, kali ini kamu benar,”
Adrian menganggukkan kepalanya puas. Sekarang adiknya sudah tidak mengelak lagi. Benar-benar sudah mengakui kalau memang benar tadi mereka makan berdua.
“Jadi kamu bohong ya? Memang baik berbohong pada kakak sendiri, Ris?” Tanya Adrian seraya menoleh sebentar ke sebelahnya dimana sang adik duduk. Kemudian Adrian fokus mengemudi lagi.
“Aku tau berbohong itu bukan perbuatan yang terpuji. Mommy dan Daddy juga selalu melarang anaknya untuk berbohong. Mereka mengajarkan anak-anaknya untuk bicara jujur, apa adanya, tidak ada yang ditutupi. Tapi aku takut kalau tadi aku jujur, kamu akan memarahi aku. Atau bahkan detik itu juga kamu laporan pada Daddy dan melebih-lebihkan lagi. Aku takut itu terjadi. Makanya aku tidak mau jujur. Kamu juga pasti akan mengejek aku ‘kan?”
“Padahal tidak, aku hanya ingin kamu jujur,”
“Maafkan aku, Ian,”
“Iya tidak apa-apa. Tadi sebenarnya aku menahan diriku supaya tidak tertawa saat aku melihat wajah panik kamu. Aku susah menahan tawa, jarang aku bisa membuatmu panik ‘kan. Aku liat kamu sibuk berpikir untuk mencari jawaban supaya kebenaran bisa tertutupi, tapi ternyata gagal hahahahah,”
*******
“Hei Adrina, kenapa di luar, Sayang? Ayo masuk, mau bertemu Adrian ya?”
Devan menyapa Adrina yang berdiri di dekat gerbang rumahnya alih-alih masuk ke dalam rumah.
“Nona Adrina sudah saya persilahkan masuk berulang kali tapi tidak mau, Tuan. Katanya mau tunggu Ian di luar saja,” jelas penjaga rumah yang langsung dipahami oleh Devan.
Devan tersneyum menganggukkan kepalanya. Ia tahu, tidak mungkin Adrina dibiarkan begtus aja berdiri oleh security rumahnya. Siapapun yang tinggal di rumahnya tahu bahwa Adrina itu sudah seperti anaknya sendiri.
“Ayo duduk di dalam, Drina,”
“Tidak usah, Uncle. Aku menunggu Ian di luars aja. Dia kemana ya? Kenapa tidak datang-datang?”
“Oh mungkin kuliahnya belum selesai,”
“Tapi dia hari ini tidak ada jadwal, Uncle,”
Devan diam sejenak, ikut bingung juga kemana anak kedunaya itu pergi. Jadwal untuk belajar di kampus tidak ada, pilihan kedua tentulah pekerjaan.
“Lagi ada pekerjaan mungkin ya? Menyanyi atau mungkin shooting. Biasanya dua hal itu yang membuat Ian akhirnya tak ada di rumah. Memang kalau Uncle boleh tau, kenapa? Ada yang mau dibicarakan dengan Ian ya?”
“Iya, aku mau meminta maaf, Uncle,”
“Minta maaf?”
Tanya Devan dengan raut wajah bingungnya. Adrina menganggukkan kepala lalu kembali menjelaskan, “Tadi dia datang ke kampus untuk menjemput aku setelah dia bernyanyi. Tapi aku lupa kalau dia menjemput. Dia sudah terlanjur menunggu di sana satu jam. Lalu aku malah pulang dengan teman-temanku karena aku lupa, Uncle. Sampai rumah pun aku lupa memberitahu Ian. Sepertinya Ian kesal. Karena itulah aku mau minta maaf pada Ian sekarang. Aku pikir dia langsung pulang ke rumah setelah dari kampus, tapi sepertinya tidak,”
“Atau mungkin dia lagi diserang macet ya? Ayo tunggu saja di dalam,”
“Tidak, Uncle. Aku di sini saja,”
“Astaga, apa susahnya duduk di ruang tamu, Drina? Jangan sampai Daddymu melihat anak satu-satunya dibiarkan berdiri saja di depan gerbang. Apa kakimu tidak lelah ya?”
Adrina terkekeh, sebenarnya lumayan lelah juga menunggu kedatangan Adrian sejak lima belas menit laku, dan jujur bosan. Tapi beruntungnya Ia membawa ponsek jadi sambil memainkan ponsel, lelah dan bosannya tidak terlalu Ia ambil pusing. Ia diberikan kursi juga oleh security rumah Devan namun alih-alih duduk, Adrina memilih berdiri dengan dalih melatih kekuatan kaki. Padahal sebenarnya supaya Ia lebih mudah mengawasi datangnya mobil Adrian. Karena kalau Ia duduk, pandangannya terganggu dengan gerbang.
“Ayo duduk di ruang tamu,“ ajak Devan yang kali ini lebih tegas. Akhirnya Adrina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lantas Ia melangkah masuk mengikuti Devan.
“Nah kamu duduk di sini lebih nyaman, kaki tidak lelah, pinggang aman, iya ‘kan?”
Adrina terkekeh dan mengangguk jujur. Tadi Ia pikir, tdiak perlu menunggu did alam. Ia hanya ingin menemui Adrian sebnetar untuk meminta maaf. Tapi karena Devan sudah mengajaknya dengan tegas barusan, Ia yang segan bila tak menuruti, akhirnya mau juga duduk di ruang tamu.
Devan meminta tolong pada asisten agar menyuguhkan minuman dan juga makanan untuk Adrina.
“Sepertinya Ian sebentar lagi sampai rumah, kamu tunggu saja ya di sini,”
__ADS_1
“Siap, Uncle,”
Devan bergegas ke kamarnya untuk membersihkan badan seklaigus memberitahu istrinya bahwa ada Adrina di ruang tamu. Lovi akan senang kalau kedatangan tamu, apalagi tamunya Adrina, calon menantu keduanya kalau kata Lovi.