Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 116


__ADS_3

Andrean terkejut ketika melihat ada Adrina di ruang tamu. Adrina pun terkejut karena tiba-tiba ada yang datang, ketika Ia sedang sibuk dengan ponsel.


“Adrian, kenapa sendirian di sini? Mau menemui Ian?” Tanya Andrean pada sahabat masa kecilnya yang cenderung lebih dekat dengan adiknya itu.


“Iya, tapi Ian belum datang. Kira-kira dia dimana ya?”


“Sudah coba menghubungi Ian?” Tanya Andrean sambil duduk di salah satu sofa yang berhadapan dengan Adrina.


“Iya sudah tapi tidak dijawab,”


“Coba aku yang menghubunginya,” ujar Andrean singkat sambil meraih ponselnya di saku.


Andrean mencari kontak adik keduanya itu laku segera menghubungi dan di dering pertana langsung dijawab oleh Adrian. Kening Andrean mengernyit.


Adrina bilang, ketika dirinya menghubungi Adrian, tidak ada jawaban. Tapi berbeda dnegannya yang langsung dijawab oleh Adrian.


“Halo, Ean,”


“Kamu dimana?”


“Jalan menuju rumah,”


“Okay, ada menunggumu,”


“Siapa?”


“Nanti kamu tau sendiri. Langsung ke rumah ya,”


“Ya semoga saja Auris tidak minta singgah-singgah dulu ke minimarket untuk beli makanan,”


“Hati-hati, secepatnya sampai rumah,” pesan Andrean setelah itu Ia mengakhiri sambungan telepon.


******


Angel turun ke lantai bawah hendak mengambil air minum, dan juga mengambil cokelat di kulkas. Tidak sengaja Ia mendnegar suara suaminya bicara di ruang tamu, Ia langsung menghampiri dan ternyata suaminya sedang bersama Adrina.


Angel mengamati mereka dalam diam, lalu memilih untuk pergi ke dapur dengan perasana tidak menentu.


“Biasanya Andrean akan langsung datang ke kamar menemui aku kalau sudah pulang bekerja. Ini kenapa malah diam dulu di ruang tamu? Bersama Adrina juga. Memang Ian kemana? Kenapa Adrina malah bicara dengan Ean? Bukannya selama ini lebih banyak mengonrol dnegan Ian ya?”


Kenyataan kalau Adrina pernah menyimpan perasaan untuk Andrean, sebenarnya masih mengusik pikiran Adrina walaupun Adrina sendiri sudah menegaskan perasaan itu tidak ada lagi, Adrina sekarang murni menganggap Andrean sahabatnya, bahkan Adrian juga mengatakan demikian yang tujuannya untuk membuat Ia yakin.


Tapi tetap saja ketika melihat Andrean ada interaksi dengan Adrina, seperti saat ini memgonrol hanya berdua, rasa cemburu di hari Angel selalu datang walaupun Ia percaya Andrean mencintainya dan Andrean tidak akan berpaling. Kalau memang yang diinginkan Andrean adalah Adrina, seharusnya jauh sebelum menikahinya, Andrean sudah memilih Adrina mengingat mereka sudah kenal sejak kecil, bahkan orangtua mereka sangatlah dekat. Tapi kenyataannya Andrean menikahinya, meskipum tidak bisa dielak kenyataan bahwa Andrean menikahinya karena keinginan Lovi dan Devan juga, bukan murni dari Andrean. Tapi Andrean bisa mencintainya walaupun menikah karena keinginan orangtua.


Angel sudah mengambil air minum dan juga cokelat, setelah itu Ia akan kembali ke kamar, namun mendengar tawa Adrina, Angel mendengus dan kakinya malah berputar ke ruang tamu. Ia mengamati Adrina dan Andrean dalam diam. Adrina sedang bercerita tentang kesalnya Adrian akunat tak jadi pulang dengannya dan itulah alasan Adrina datang karena ingin meminta maaf. Angel lihat duaminya hanya mendengarkan saja, sementara yang banyak bicara Adrina.


“Aku tidak mau dia marah, tapi kalau dia marah lucu juga kalau dipikir-pikir,”


Angel memghembuskan napas kasar. Cukup sampai di situ saja yang ingin Ia dengar, Ia tidak mau terlalu lama mendengar obrolan mereka, apalagi melihat kebersamaan mereka. Ia akan memutar badannya menuju tangga namun Ia dikejutkan oleh Lovi.

__ADS_1


“Astaga, Mommy aku kaget,”


Lovi terkekeh sambil mengusap kedua bahunya “Mommy minta maaf ya, Sayang,”


“Iya tidak apa, Mom,”


“Kamu sedang apa dibalik dinding? Memperhatikan Andrean dan Adrina? Kenapa tidak gabung saja?”


Tebakan Lovi telat. Jelas saja tepat seratus persen karena Angel berdiri di balik dinding, dan sebelumnya menghadap ke ruang tamu yang dimana ada Andrean juga Adrina di sana.


“Tidak, Mom. Aku mau ke kamar makan cokelat. Tadi penasaran saja siapa yang datang dan ternyata Adrina,”


“Oh begitu ya sudah makan lah cokelatnya,”


Angel tersenyum dan setelah itu berlalu meninggalkan Lovi untuk kembali ke kamar, berusaha abai dengan apa yang Ia lihat barusan. Ia harus selalu mengingatkan dirinya sendiri abwha Andrean itu miliknya, dan hubungan antara Andrean juga Adrina hanya sebatas sahabat, tidak lebih. Dulu pikiran positif itu selalu tertanam, tapi setelah tahu Adrina pernah menyukai Andrean, Angel mulai sulit untuk mengendalikan pikiran negatifnya sendiri.


“Angel stop! Adrina sudah tidak menyukai suamimu lagi, jangan berpikir yang tidak-tidak! Apa ini karena kamu sedang hamil juga ya jadi rasa takut kalau m.likmu diambil itu semakin besar!”


Angel memijat pelipisnya setelah itu berjalan ke balkon kamarnya. Supaya pikiran dan hati tenang ada baiknya Ia diam dulu di sana. Melihat langit, dan diterpa dengan udara sore hari.


******


“Nah itu Ian. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga,”


Adrian melirik Adrina dengan sinis, wajahnya juga tidak ramah. Auristella menyapa Adrina singkat setelah itu bergegas ke kamar.


“Oh jadi Adrina yang menunggu aku, Ean?” Tanya Adrian pada kamaknya yang langsung mengangguk.


Setelah bicara sepeeti itu Andrean meninggalkan ruang tamu, begitupun Lovi. Adrina dan Adrian perlu diberikan waktu untuk berbicara.


Setelah tak ada siapa-siap lagi selain Adrina dan Adrian, barulah Adrina memulai pembicaraan.


“Aku mau minta maaf, Ian. Aku benar-benar lupa kalau kamu itu menjemput aku, dan aku juga lupa memberitahu kalau aku sudah sampai di rumah. Tolong maafkan aku ya?”


“Ada usaha juga ya untuk meminta maaf ladaku? Sudah berapa lama menunggu di sini?”


“Sejak tadi, aku semoat menunggu di luar tadi,”


“Ya salahmu semdiri kenapa tidak masuk ke dalam,”


“Aku diajak masuk oleh Uncle Devan, sebelumnya sudah dipersilahkan masuk oleh penjaga tapi aku tetap mau di luar karena lebih cepat bertemu kamu kalau kamu sudah pulang. Tapi berhubung aku sungkan membantah Uncle Devan, jadi aku menunggu di ruang tamu,”


“Aku maafkan,” ujar Adrian dnegan singkat dan jelas.


“Hanya begitu tanggapan kamu?”


“Iya kamu mau aku bagaimana? Aku memaafkan kamu, memang itu masih kurang ya? Bukankah itu yang ingin kamu dnegar dari mulut aku, Drina?”


Adrina berdecak pelan sambil menggaruk pelipisnya bingung. Ia memang ingin mendnegar dari mulut Adrian langaung kalau Adrian sudah memafkannya tapi dari raut wajah Adrian saja kelihatan sekali kalau Adrian belum benar-benar memaafkan dirinya.

__ADS_1


“Kamu maish marah ya?”


“Aku thanyankecewa. Aku sia-sia menunggu kamu di area parkir satu jam lebih, Adrina. Dan aku ingat, ini bukan pertama kalinya kamu begini. Sebelumnya sudah pernah. Ya memang kamu tidak minta dijemput, tapi apa salahnya ‘kan mengabari aku kalau memang sudah smapai dir unah jadi aku tidak buang-buang waktu. Kamu tau aku mudah bosan, apalagi cuma dia saja do dalam mobil,”


“Ya harusnya kamu jalan-jalan saja sambil menunggu aku pulang,”


“Okay kalau misalnya aku jalan-jalan, setelahnya aku pasti merasa lelah, lalu dapat kabar kalau kamu lupa dijemput aku. Itu semakin menyebalkan lagi,”


Adrina membuang napas kasar. Kemudian Ia menangkup kedua tangannya meminta maaf pada sahabatnya itu yang sering menyebut bahwa mereka berdua adalah ‘kembaran beda rahim’ karena memiliki nama yang hampir serupa.


“Maafkan aku, Ian,”


“Iya aku maafkan, Adrina,”


“Tapi kanu masih kelihatan kesal. Kamu tidak tlus memaafkan aku ya?”


“Aku harus apa sih?”


“Ya minimal senyum lah. Itu paking minimal,”


“Kalau maksimal?”


“Kamu mengusili aku, buat aku kesal,”


“Aku saja lagi kesal, terlalu malas untuk buat orang lain juga kesal,”


“Berarti kamu masih kesal ya?”


“Lumayan, tapi aku sudah memaafkan kamu. Karena alasan kamu lupa,”


“Oya aku benar-benar lupa dan wajar ‘kan kalau manusia itu lupa,”


“Nah itu yang aku sayangkan, kenapa manusia harus sering lupa?”


“Ya memang dari sananya sudah diciptakan begitu, Ian. Itulah sebabnya banyak orang terlambat datang ke kampus, tidak bawa keperluan yang harusnya dibawa, tidak sempat naik pesawat, dan macam-macam. Gunanya manusia jadi lupa ya biar ada cobaan hidup mungkin,”


“Hahahahaha tidak lucu,”


Adrian tertawa, dia benar-benar tertawa karena ucapan Adrina tapi anehnya malah berkata ‘tidak lucu’ dan itu membuat Adrina kesal.


“Ya kalau tidak lucu kenapa kamu malah tertawa?! Hah?!”


“Ya memangnya salah kalau aku tertawa? Hmm?”


“Ya salah! Harusnya kalau tidak lucu, kamu tidak perlu tertawa,”


“Ya sukasuka aku lah. Mulut siapa yang tertawa?”


“Kamu,”

__ADS_1


“Lalu kenapa kamu kesal kalau aku tertawa?”


__ADS_2