
“Adrina, kamu tadi diajak pergi oleh Ean ya?”
“Iya, memang kenapa?”
“Lalu kamu tidak mau?”
“Tidak lah, aku tau Ean dan Angel akan menghabiskan waktu berdua. Jadi aku tidak mau mengganggu mereka,”
“Wow bagus kamu tidak mau mengganggu mereka,”
“Memang kamu pikir aku akan mau meskipun diajak?”
“Hmm mungkin karena Ean yang mengajakmu,”
“Astaga, kenapa kamu berpikir seperti itu?“
“Ya karena kamu menyukai Ean,”
“Sudah tidak lagi, Adrian. Harus berspa kali aku jelaskan padamu? Aku tidak punya perasaan apapun lagi pada Ean,”
“Ya bagus kalau begitu. Karena itulah yang aku katakan pada istrinya supaya dia tidak berpikir terlalu jauh,”
“APA?!“
Adrian berdecak sambil mengusap telinganya yang sakit mendengar Adrina berseru kaget. Adrian menggeram sambil berkata “Heh aku ini manusia ya bukan batu. Suara kamu mengganggu pendengaranku, Adrina!”
“Iya maaf,”
“Tapi aku kaget mendengar ucapan kamu. Angel tau soal—“
“Iya, dia tau semuanya,”
“Apa? Kamu yang memberitahu Angel? Astaga, kenapa kamu jahat, Adrian? Tidka seharusnya Angel tau, lagipula itu sudah masa lalu,”
Adrina mengira bahwa Adrian lah yang memberitahu Angel, dan Adrina sangat memyayangkan hal itu terjadi. Ia merasa bersalah sekarang. Pantas saja kalau Ia perhatikan Angel itu jadi jarang mengajaknya mengobrol.
“Pantas, dia sepertinya menghindari aku, mengurangi interaksi denganku. Mungkin karena dia tau ya aku menyukai duaminya? Jadi dia kesal. Astaga, kamu kenapa memberitahu dia sih?”
“Adrina, Angel itu mendengar pembicaraan kita. Akhirnya aku jelaskan lah yang sebenarnya dan aku juga sudah tegaskan bahwa kamu tidak lagi menyimpan perasaan appun pada suaminya,”
“Aku merasa bersalah, Ian,”
“Ya sudahlah jangan dibahas lagi. Yang terpenting dia sudah tau kalau kamu tidak lagi menyukai Ean, itu sudah masa lalu,”
“Tapi kemapa sikapnya sedikit berbeda? Aku menyadari itu sejak kita berangkat berlibur,”
Adrian mengangkat kedua bahunya. Ia tidak tahu haru menjawab apa. Tapi kalau Ia tidak menjawab, Adrina mungkin akan semakin merasa bersalah.
“Ya mungkin suasana hatinya Angel sedang kurang baik, dan kamu juga terlalu berpikir negatif. Mungkin dia tidak merubah sikapnya. Cuma perasaanmu saja, Drina,”
“Tidak, aku merasa Angel memang berubah sikapnya. Aku benar-benar merasa bersalah, Ian,”
“Sudahlah jangan merasa bersalah seperti itu, karena kamu tidak salah. Yang terpenting kamu tidak menyukai Ean lagi ‘kan?”
“Tidak,”
“Tersisa sedikitpun?”
“Tidak, Ian,”
“Ya sudah bagus. Karena kasihan Angel kalau sampai kamu diam-diam masih menyukai suaminya,”
******
“Halo, Angel. Ayah mau mengucapkan terimakasih karena lagi-lagi kamu sudah membayarkan hutang ayah. Dan kali ini ayah akui jumlahnya lumayan banyak,”
Andrean diam-diam menerima panggilan yang masuk ke ponsel istrinya yang saat ini berada di dalam kamar mandi sebuah pasar.
Direngah kegiatan belanja, Angel merasa ingin buang air kecil oleh sebab itu Ia ke kamar mandi dnegan ditemani oleh suaminya tapi suaminya tu menunggu di luar, dan Angel menitipkan tasnya pada sang suami. Ponsel Angel berdering, Andrean langsung penasaran. Begitu melihat bahwa ayahnya Angel menghubungi, rasa penasaran Andrean semakin besar.
Begitu Andrean menerima panggilan dari Geno, Andrean langsung mendengar ucapan terimakasih dari Geno karena Angel sudah membayarkan hutang. Andrean tidak tahu menahu soal hutang itu. Ia bingung kenapa Angel jadi tertutup sekali? Dan sebesar apa hutang Geno yang telah Angel bayarkan.
“Berapa junlah hutangnya?”
Geno terdiam mendengar suara Andrean. Jadi tadi yang mendnegarkan ucapannya adalah Andrean menantunya, bukan Angel putrinya.
“Andrean—“
“Berapa jumlah hutangnya? Aku boleh tau ‘kan?”
“Kamu tanya sendiri pada istrimu, apa dia tidak terbuka? Berarti kamu salahkan dia. Aku tutup teleponnya,” ujar Geno dnegan cepat setelah itu mengakhiri sambungan telepon begitu saja membuat Andrean jadi geram.
__ADS_1
“Dasar ayah yang kejam tidak punya hati! Bisa-bisanya dia mengandalkan anak untuk membayar hutang. Dan ini sepertinya bukan pertama kalinya. Jumlah yang besar juga katanya. Kasihan istriku diperas terus, tapi kalau aku mengambil tindakan, malah jadi bumerang untuk hubungan aku dan Angel,”
Andrean menggeram dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak mempermasalahkan uang yang Angel gunakan untuk membayar hutang itu. Yang Ia sayangkan adalah Angel tidak terbuka padanya.
Andrena tidak suka ketidakjujuran, dari dulu Ia punya prinsip seperti itu. Rasa sakit akibat dibohongi, itu berkali-kali lipat rasanya,”
“Andrean, maaf ya lama,”
“Tidak apa-apa, Sayang. Ayo kita pulang,”
“Pulang?”
“Ya kalau memang kamu sudah selesai belanja kita langsung pulang saja,”
“Okay. Aku rasa sudah cukup juga kita belanja. Sekarang waktunya kita pulang ya, Ean?”
Andrean menganggukkan kepalanya. Lantas menggenggam tangan Angel mengajak Angel untuk segera kembali ke mobil, belanjaan mereka sudah Andrean simpan di dalam bagasi mobil.
Mereka membutuhkan waktu sekitar satu jam setengah lalu tiba di penginapan. Ternyata Adrian dan Adrina sudah di rumah dan itu membuat sepasang suami istri itu bingung.
“Kalian tidak jadi pergi?”
“Jadi, tapi hanya sebentar,”
“Pergi kemana?”
“Ya ke tempat-tempat dekat saja,”
“Angel, aku boleh bicara sesuatu apdamu sebentar?”
Angel akan pergi ke kamar namun Adrina mengajaknya untuk bicara, Angel mengangguk tidak keberatan.
“Membicarakan apa, Adrina?” Tanya Andrean yang penasaran Angel akan diajak membicarakan hal apa oleh Adrina.
“Ean, ini urusan perempuan, kamu tidak perlu tau okay?”
Andrean menganggukkan kepalanya setelah dilarang penasaran. Adrian langsung merangkul bahu kakaknya itu.
“Lebih baik sekarang kita mengobrol sambil menikmati kopi, bagaimana menurutmu?”
“Iya boleh,”
Adrian tersenyum dan menganggukkan kepalanya lantas berjalan ke dapur bersama dengan Andrean, sementara Angel dan Adrina ke taman.
“Angel, ada yang mau aku bicarakan padamu,”
“Iya boleh, Adrina. Silahkan bicara,” ujar Angel seraya tersenyum tapi tetap menatap lurus ke depan.
“Kamu sudah tau tentang suatu hal ya, Angel?”
“Tau tentang apa?”
“Tentang—tentang perasaan yang pernah aku simpan untuk Andrean,”
“Oh itu, iya aku tau kamu pernah menyukai Ean, tapi kata Ian tidak lagi sekarang. Apa itu benar, Adrina?”
“Iya itu bebar, Angel. Aku hanya pernah, ini aku garisbawahi ya, aku pernah menyimpan perasaan untuk Ean. Tapi itu pernah. Smeuanya sudah jadi masa lalu, Angel. Kamu jangan khawatir aku akan menghancurkan rumah tangga kalian. Aku benar-benar minta maaf padamu karena sudah membuat kamu kecewa. Aku menyukai Ean sebelum Ean menikah dengan kamu, Angel. Aku mohon percaya padaku. Maafkan aku ya? Aku tidak menyukai Ean lagi,”
“Benarkah? Apa aku harus percaya dneganmu?”
“Iya kamu bis apercaya padaku. Aku tidak menaruh perasaan apapun lagi untuk Ean. Aku tau Ean dan kamu sudah saling mencintai, kehidupan pernikahan kalian sudah bahagia. Jadi tidak mungkin aku merusak kebahagiaan itu,”
Angel diam sebentar dan Adrina khawatir sekali kalau Angel tidak percaya dengan kata-katanya. Adrina langsung meraih tangan Angel. Ia menggenggam erat tangan Angel berusaha meyakinkan Angel.
“Angel, aku harap kamu percaya padaku. Itu semua sudah berlalu, Angel.”
Angel tersenyum lalu menatap Adrina sambil menjawab, “Iya, Adrina. Aku percaya padamu,”
Raut wajah Adrina kelihatan senangs elali. Akhirnya Ia berhasil membuat Angel percaya bahkan Angel tak ragu menebarkan senyuman yang memvuat Adrina merasa yakin kalau Angel benar-benar sudah percaya dengan perkataannya bahwa Ia tidak lagi memiliki perasaan apapun kepada Andrean.
“Terimakasih ya,”
“Sama-sama, sebelum Ean menikah denganku apa kamu dan Ean sempat punya hubungan yang menih dari sekedar sahabat karena yang aku tau kalian cuma sahabat sama seperti aku dan Ean sebelum kami menikah,”
“Tidak ada, Angel. Aku dan Ean tidak memiliki hubungan apapun, aku bersumpah. Aku dan Ean murni hanya bersahabat saja. Ean tidak tahu apapun soal perasaan yang aku simpan untuknya. Cuma aku dan Tuhan yang tau bagaimana perasaanku saat itu,”
“Okay, Adrina. Kamu tidka pelru khawatir, aku percaya padamu,”
“Kamu seperti menghindar untuk berinteraksi denganku apa karena perkara ini ya? Aku mulai menyadarinya sejak kita berangkat liburan, Angel,”
“Aku minta maaf. Jujur masih ada ketakutan kalau kamu masih menyukai Ean. Tapis etelah bicara padamu, aku jadi bisa berpikir lebih jernih. Aku percaya pada penjelasanmu, Adrina,”
__ADS_1
“Aku tidak akan macam-macam, begitupun Ean. Kamu harus percaya itu ya. Aku tau Ean begitu mencintai kamu. Sejak awal aku juga tidak ada niat untuk merusak kebahagiaan kalian. Aku senang kalian bersatud an saling mencintai. Aku selalu berdoa yang terbaik untuk hubungan kalian. Sekali lagi aku minta maaf untuk perasaan yang pernah aku pendam. Aku harap kamu bisa percaya aku dan tidak ada pikiran negatif tentangku ya,”
“Iya, Adrina,”
“Adrina, Angel, kalian sedang apa berdua di taman?“
Adrina dan Angel langsung menoleh ke arah pintu. Di depan pintu ada Auristella yang sedang berdiri menatap mereka.
“Hai Auris,”
“Kalian habis pergi ya? Kenaoa tidak mengajak aku?”
“Aku pikir kamu istirahat. Tapi tenang, aku bawa sesuatu untukmu, untuk Adrina juga ada, untuk semua ada. Ayo kita masuk. Kita buka semua belanjaan tadi,”
“Jadi ternyata kamu pergi bersama Ean untuk belanja, Ngel?”
“Iya, Ris,”
*****
“Ian, aku pergi ke kamar dulu. Ada yang mau aku bicarakan dengan Angel,”
“Kopi yang kamu buat belum habis itu, Ean,”
“Iya tidak apa, tolong dibayar omehmu dulu,”
“Dibayar apanya? Kamu pikir ini di kafe?”
Andrean tersenyum lantas berlaku meninggalkan Adrian yang menjadi teman berbincang sejak lima belas menit laku di ruang makan. Tapu lebih banyak Adrian yang mengeluarkan suara, dan Andrean menjadi pendengar, seperti biasa.
Andrean masuk ke kamar dan ternyata istrinya sedang sibuk dengan ponsel di atas tempat tidur. Andrean langsung berdehem mengalihkan perhatian Angel.
“Ean, sudah selesai mengobrol dengan Ian?”
“Sudah, sekarang aku ingin bicara dengan kamu berdua makanya aku masuk ke kamar, beruntungnya kamu sudah di kamar juga,”
“Okay, apa yang mau kamu bicarakan?”
Andrean duduk di depan Angel. Perempuan itu langsung melipat kakinya sehingga posisi duduknya bersila.
“Tidak perlu mengubah pisisi duduk, Sayang. Kita hanya bicara santai saja ini,”
“Tidak apa, aku lebih nyaman begini. Aku sudah siap diajak bicara olehmu. Kira-kira topik pembicaraan kita apa?”
“Tadi saat kamu di kamar mandi, kamu menitipkan tas kepadaku. Lalu tiba-tiba ponselmu berdering. Dan begitu aku lihat ternyata ada panggilan masuk dari ayahmu, Angel,”
Ekspresi Angel langsung menegang detik itu juga. Entah kenapa Ia cemas kalau Andrean tahu apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya.
“Bagaimana kalau ayah minta uang? Bagaimana kalau ayah minta dibayarkan hutang lagi? Bagaimana kalau ayah mengancamku? Ean akan tau, dan Ean tidak akan tinggal diam. Aku tidak mau suami dan ayahku malah terlibat pertengkaran,” batin Angel.
“Apa yang Ayah bicarakan padamu, Ean?”
“Ayah mengucapkan terimakasih karena kamu sudah membayarkan hutangnya,” jawab Andrean yang langsung membuat Angel lemas seketika. Ternyata ini ujung dari perasaan tidak enaknya pasca Andrean mengatakan tadi dirinya menerima telepon dari sang ayah.
“Benarkah kamu membayarkan hutang ayah? Kalau aku boleh tau, alasan kamu tidak cerita padaku apa? Dan kalau aku boleh tau juga, berapa jumlahnya?” Tanya Andrean dengan ekspresiw ajah yang tenang, nada bicara juga tenang tidak ada amarah yang Angel tangkap. Karena memang Andrean tidak marah. Andrean hanya kecewa karena istrinya tidak cerita, tidak ada keterbukaan antara Angel dengan Andrean padahal ini tentang keluarga dan tentang uang. Andrean bukan perhitungan pada sesama manusia yang statusnya adalah keluarga. Tapi Andrean memberikan uang itu untuk Angel gunakan sendiri bukan untuk membayar hutang. Kalaupun untuk membayar hutang, seharusnya Angel bicara saja. Andrean tidak akan marah. Sedikit tidak tulus rasanya bila uang hasil kerja kerasnya malah digunakan untuk membayar hutang Geno,l yang alasannya berhutang saja tidak jelas untuk apa, padahal seharusnya uang itu untuk istrinya.
“Andrean, aku minta maaf. Tapi aku janji, aku janji akan mengganti uang itu secepatnya. Maaf sudah menggunakan uang dari kamu diam-diam tanpa izin untuk membayar hutang ayah. Aku minta maaf, Ean. Aku tau aku salah dan kamu kecewa. Aku benar-benar minta maaf,”
Angel tanpa sadar mengeluarkan air matanya. Andrean langsung merengkuh istrinya itu. Andrean menenangkan dengan cara mengusap punggung Angel dengan lembut. Sungguh, Andrean tidak ada maksud untuk membuat Angel merasa bersalah seperti ini sampai menangis bahkan berjanji untuk mengganti uangnya. Bukan, bukan itu yang Ia inginkan sebenarnya. Ia hanya ingin Angel terbuka saja.
“Sayang, aku tidak masalah kamu mau menggunakan uang itu untuk apa. Ya walaupun sebenarnya uang itu aku berikan untuk kamu, tapi kalau memang kamu mau menggunakannya untuk membayar hutang, tidak masalah aku tidak akan marah. Tapi aku mohon, bisakah kamu lebih terbuka padaku? Jangan apa-apa disimpan sendiri. Yang sehatusnya aku tau, akhirnya malah jadi tidak tau karena kamu berusaha untuk menutupinya dari aku padahal aku berhak tau,”
“Aku minta maaf. Aku tidak enak kalau jujur padamu. Aku menggunakan uangmu untuk membayar hutang ayah. Aku bingung pakai uang darimana selain dari kamu. Aku belum mendapatkan penghasilan dari kafe, dan kamu juga menyuruh aku untuk berhenti dari kafe iths ebelum aku dapat uang. Sementara ayah dan kakak sudah didalam tekanan. Aku tidka mungkin membiarkan sesuatu terjadi pada mereka karena adanya hutang itu,”
Andrean tersenyum lalu mengecup kening istrinya. “Ya sudah, kamu tidak perlu khawatir menangis ya. Kamu tidak salah. Aku hanya ingin kamu terbuka saja, tidak lebih,”
“Aku janji akan secepat mungkin mengganti uang itu. Tapi kalau aku dudah kembali bekerja ya? Aku harap kamu tidak masalah,”
“Astaga, Angel. Aku tidak minta diganti. Aku hanya ingin kamu jujur. Ya terserah
Kamu lah mau menggunakan uang itu untuk apa, tapi intinya kamu jujur padaku, bukan menutupi. Dan kamu harus ingat untuk mementingkan diri kamu dulu. Jangan terlalu mementingkan yang lain sampai kamu menomorduakan diri kamu sendiri,”
“Iya, tapi apa kamu tulus, tidak apa-apa kalau uang kamu digunakan untuk membayar hutang ayah?”
“Karena kamu, aku tulus. Tapi aku berharap tidak ada hutang-hutang selanjutnya yang dibebankan padamu. Kenapa? Bukan karena aku perhitungan soal uang, aku tidak suka membantu irang, tapi ini tebtang tanggung jawab. Maaf sebelumnya, hutang orangtua itu bukan tanggung jawab anak. Apalagi kalau anaknya tidak merasakan sedikitpun uang itu. Tapi disuruh bayar dengan cara memaksa. Dan kamu juga bukan sekali dua kali ‘kan sudah membayarkan hutang ayah jamu itu?”
“Iya, cukup sering ayah berhutang dan aku yang bertanggung jawab. Aku semdiri tidak tahu uangnya dipakai untuk apa? Sepertinya berapapun yang aku berikan selalu kurang. Padahal pendapatanku sebagian besar agah dan kakak yang menguasai. Setelah menikah aku benar-bsnar hanya memegang sedikit saja dari pendapatan yang aku terima dari kafe dan sisanya aku serahkan pada mereka,”
“Astaga,”
Andrean mengusap kasar wajahnya lalu memghembuskan napas kasar. Entah ternuat dari apa hati istrinya ini. Sudah dikecewakan dan disakiti, Angel tetap saja berusaha untuk menjadi anak dan adik yang berbakti.
__ADS_1
“Sayang, mulai sekarang berhenti untuk terlalu baik, bisa tidak? Kalau mereka minta baik-baik, mereka tidak memaksa, okay lah aku tidak mempermasalahkan. Ini mereka meminta sesuka hati ‘kan? Mereka menekan kamu, mereka membuat kamu tidak nyaman. Tapi kenapa kamu—Astaga aku tidak habis pikir. Aku benar-benar heran, Angel,”
Andrean lelah juga menyaksikan kebaikan istrinya pada orang yang kurang tepat. Walaupun orang itu adalah keluarga sendiri, darah dagingnya sendiri. Andrean yang beberapa kali membaca pesan ataupun mendengar perkataan di telepon mereka yang ditujukan untuk Angel saja rasanya benar-benar muak dan geram. Terkadang Andrean sampai bingung kenapa istrinya bisa sekuat itu? Entah kapan ayah dan kakaknya itu berubah bisa menghargai Angel.