Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 23


__ADS_3

"Andrean, kamu tidak ada pekerjaan apapun hari ini?"


"Tidak, Mom. Ada apa?"


"Datang ke butik Mommy ya. Mommy tunggu,"


"Aku akan datang nanti dengan Angel ya, Mom,"


"Oh iya, Sayang. Mommy senang kamu mengajak Angel,"


"Kebetulan kami ingin membicarakan banyak hal setelah dia bekerja,"


"Baiklah, Mommy tunggu kalian berdua,"


Andrean melepaskan airpods dari telinganya usai berbicara dengan sang Ibu. Kemudian Ia fokus menyetir lagi menuju kampusnya untuk memberikan tugas akhir sebelum gelar Pdh benar-benar disematkan untuknya.


Sebentar lagi dua momen yang cukup penting dalam hidupnya akan hadir. Momen dengan title berbeda. Pernikahan dan juga pelantikan. Tidak menyangka di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, Ia diberikan berkat luar biasa oleh Tuhan. Ya, pernikahan termasuk berkat yang Andrean maksud, sekalipun sebelumnya tak pernah terlintas dalam benak kalau Ia akan menikah dengan Angel.


Dari awal perjodohan Ia sudah setuju tapi tidak pernah membayangkan kalau pernikahan akan benar-benar terjadi. Ia hanya menjawab 'ya,' tapi belum melakukan hal lebih untuk benar-benar mewujudkan pernikahan yang diinginkan kedua orangtuanya. Sampai akhirnya Ia dipertemukan dengan satu titik dimana Ia benar-benar yakin mengajak Angel untuk hidup bersama.


Titik itu adalah ketika Ia melihat secara langsung bahwa pilihan Lovi dan Devan adalah yang terbaik. Angel yang diinginkan mereka untuk menjadi pendampingnya, ternyata adalah gadis yang tangguh. Ia ingin menghadirkan kebahagiaan untuk gadis tangguh itu.


*******


"Angel belum pulang?"


"Belum, entah kemana dia,"


Gesty membukakan pintu ketika ayahnya baru datang entah darimana. Dan yang pertama kali ditanyakan oleh Geno adalah Angel.


"Ayah menelponnya tapi tidak dijawab,"


"Ponselnya rusak,"


Kening Geno mengerinyit. "Rusak? Sejak kapan?"


"Tadi aku yang merusaknya,"


Geno tak mengucapkan apapun. Ia duduk dengan kaki yang berada di meja.


"Ambilkan minum untuk ayah," titah Geno pada Gesty.


Gadis itu berdecak keras. Ia menghentakkan kakinya sembari melangkah ke dapur untuk mengambil minum. Geno yang melihat sikap anaknya itu menggeleng pelan.

__ADS_1


"Memang mereka itu berbeda," tanpa sadar Ia membandingkan Angel dan Gesty. Angel yang selalu mengambilkan minum setelah ayahnya sampai di rumah, sementara Gesty sebaliknya.


******


Lovi senang sekali saat Angel datang ke butiknya. Angel pun merasa demikian. Ia terpana dengan design interior butik Lovi. Isi dari butik itu juga membuatnya tercengang. Sampai Ia sulit percaya kalau baju-baju yang terpanjang di sana adalah hasil dari tangan Lovi.


"Tangan Aunty luar biasa ya. Pasti belajarnya sulit ya, Aunty?"


Lovi terkekeh, mengusap kepala Angel dengan lembut. Ia menggeleng tidak membenarkan ucapan Angel. Karena nyatanya, Ia tidak pernah belajar. Awalnya Ia hanya tertarik lalu mencoba-coba. Lovi sempat ikut kelas-kelas yang mempelajari dunia designer. Tapi sekarang Ia sudah tidak mengikutinya lagi karena enggan untuk menambah kegiatan selain berkunjung ke butik.


"Kamu juga luar biasa. Aunty belum tentu bisa menjadi seperti kamu,"


Angel terkekeh dengan wajah merah meronanya. Ia malu dipuji seperti itu. Apa yang luar biasa darinya? Tidak ada, sepertinya.


"Mommy punya sesuatu untuk kalian,"


Lovi membawa Andrean dan Angel ke sebuah ruangan yang terpisahkan dari kumpulan baju-baju yang dijual untuk umum.


Di ruangan itulah Lovi menyimpan baju-baju yang menurutnya membutuhkan ruang lebih private. Baju untuk Andrean dan Angel menjadi salah satu yang disimpan di sana. Namun terpisahkan lagi dari baju-baju yang lain meskipun berada di satu ruangan.


"Menurut kalian apa yang kurang?"


Lovi memegang lengan gaun pernikahan yang begitu elegan dengan warna peach. Angel tak berkedip menatap gaun di depannya itu.


"Maksud Mommy ini untuk Angel?" Tanya Andrean yang belum mengerti maksud Mommynya.


"Punyamu juga ada," imbuh Lovi menatap putra sulungnya.


"Tapi bukan yang seperti ini 'kan, Mom?"


Lovi berdecak, kemudian tangannya terangkat untuk mendorong pelan wajah tambah putranya.


"Kamu bisa melucu juga ternyata,"


Angel tersenyum melihat anak dan Ibu itu. Interaksinya terbilang kaku karena karakter Andrean sendiri, tapi tetap hangat seperti Ibu dan anak pada umumnya.


"Jadi apa yang kurang?"


"Tidak ada, Aunty. Ini sudah cantik sekali. Aku bahkan tidak pernah menyangka akan diberikan gaun luar biasa seperti ini,"


"Kamu pakai saat di altar nanti ya,"


Angel mengangguk cepat. Ia terlalu senang mendapat hadiah itu dari Lovi.

__ADS_1


"Kalau diminta pakai sekarang pun aku tidak menolak," batin Angel berkelakar. Ia begitu mengagumi gaun itu sampai rasa tidak sabar ingin memakainya langsung meronta ketika Lovi mengatakan bahwa itu miliknya.


"Ini tuxedo milikmu, Andrean,"


Lovi menunjuk manekin yang mengenakan stelan tuxedo Andrean. Sama seperti reaksi Angel tadi, Andrean pun terpana melihat tuxedo buatan Mommynya.


"Mommy ingin kalian mengenakannya saat di altar. Jadi kapan kalian akan menikah?" Tanya Lovi pada Andrean dan Angel. Angel melirik lelaki di sebelahnya. Ia menyerahkan semuanya pada Andrean. Karena lelaki itu yang merubah keputusannya.


"Ah lebih baik kita bicara sambil duduk ya. Mari kita duduk,"


Ajak Lovi pada mereka berdua. Client nya saja selalu Ia pinta untuk duduk ketika berbincang dan selalu disiapkan sajian kecil. Tapi giliran anak dan calon menantunya malah lupa Ia perlakukan serupa. Ia terlalu bersemangat dengan pernikahan Andrean dan Angel hingga tak pandang situasi.


"Dua minggu lagi, Mom," ujar Andrean tanpa bicara apapun sebelumnya dengan Angel karena Ia tahu Angel telah menyerahkan semuanya padanya.


Angel mengerjap terkejut. Memang Ia membiarkan Andrean yang memutuskan. Tapi harus secepat itu kah?


"Kenapa? Kamu keberatan?" Tanya Andrean karena melihat reaksi Angel yang Ia rasa tengah merasa keberatan dengan rencananya.


"Lebih cepat, lebih baik," pungkas Lovi dengan kebahagiaan yang kian terpancar dari wajahnya.


"Tidak, aku hanya terkejut saja. Tapi---maaf, Andrean, apa tidak terlalu cepat bila dua minggu lagi pernikahannya digelar?"


"Jadi kamu ingin kapan?"


Angel diam, Ia juga bingung kalau ditanya seperti itu. Sepertinya Ia memang tidak pandai memberikan suara tentang apapun itu. Ia terbiasa menerima apapun yang ditakdirkan untuknya.


Lovi sama halnya dengan Andrean, menunggu jawaban Angel. Namun gadis itu masih dengan keterdiamannya.


"Angel?"


"Ah, iy--iya, Aunty. Tidak masalah dua minggu lagi,"


Lovi tersenyum lega mendapat persetujuan dari Angel. Kemudian Ia menatap putranya seraya menaikan satu alisnya.


"Jadi bagaimana? Dua minggu dari sekarang?"


Andrean mengangguk yakin. Lovi, wanita yang tak lagi muda itu memekik tertahan hingga mengundang kekehan dari Angel.


"Akhirnya sebentar lagi aku memiliki menantu," ujarnya dengan hati yang berbunga-bunga.


"Okay, Mommy akan persiapkan semuanya,"


"Aunty, aku bisa bantu apa? Hanya tenaga yang bisa aku beri---"

__ADS_1


"Ssttt, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Kamu dan Andrean tidak perlu memikirkan apapun tentang persiapan pernikahan kalian,"


Dalam hidupnya, kehadiran Lovi dan Devan adalah salah satu kebahagiaan yang tidak pernah Angel perkiraan. Ia kehilangan Ibu tercintanya karena penyakit, namun Tuhan menghadirkan pelipur lara, malaikat penolong, selain neneknya, yaitu Lovi, Devan dan ketiga anak mereka.


__ADS_2