Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 122


__ADS_3

“Apa? Jadi ayah tega mau membiarkan aku mati membusuk di sini? Kenapa ayah tega? Aku ‘kan anak ayah. Yang seharusnya Ayah hukum itu Angel! Lagipula selama ini yang sering ayah hukum dia,”


“Karena kamu keterlaluan! Ayah minta tolong buatkan makanan, tapi kamu malah pergi. Kamu anak kurang ajar! Tidak bisa diandalkan dalam hal apapun. Jauh lebih baik Angel,”


Gesty terperangah mendengar kata-kata ayahnya. Setelah Ia dikurung berjam-jam di dalam kamar yang kecil, sekarang Ia mendnegar ayahnya memuji Angel. Hati Gesty benar-benar panas. Ia dibandingkan dengan adik tirinya itu. Sampai kapanpun Ia tidak akan rela dibanding-bandingkan karena jelas jauh lebih baik dirinya daripada Angel.


“Ayah jangan bandingkan aku dengan Angel ya! Kami berdua beda! Aku lebih baik dalam segala hal ketimbang dia! Ayah tidak biasanya memuji dia seperti itu. Ada apa? Ayah butuh uang lagi dari dia makanya memuji?! Iya?!”


Satu tamparan mendarat mulus di pipi Gesty sebelah kanan. Gesty langsung meringis sambil menyentuh pipinya sendiri sambil menatap ayahnya dnegan kobaran amarah yang begitu terlihat di matanya.


“Ayah bicara apa adanya. Kalau dibandingkan dengan kamu, Angel lebih bisa diandalkan daripada kamu yang tidak bisa apa-apa! Dia tidak pernah membantah ayah! Apa yang Ayah bicarakan ini fakta, kamu senidri bisa menilainya,”


Gesty berdecih tidak senang mendnegar ayahnya lagi-lagi meninggikan Angel, dan merendahkan Ia. Rasa bencinya kepada Angel semakin menjadi.


“Oh jadi karena sekarang punya menantu yang kaya raya, Ayah membela Angel? Ayah akan menyayangi Angel? Luar biasa, aku baru kali ini bertemu dengan seorang ayah seperti ini,”


“Terserah padamu, Gesty. Yang jelas Ayah bicara kenyataan. Dia tidak pernah membantah ayah, dia bisa diandalkan untuk memasak dan mengerjakan semuanya di rumah ini, sementara kamu kebalikannya,”


“Ya iyalah, dia memang pantas jadi pembantu, kalau aku tentu tidak,” setelah berkata sinis merendahkan Angel, Gesty langsung bergegas ke kamarnya.


Gesty tidak bisa lebih lama lagi bicara dengan ayahnya itu karena Ia tidak bisa mendnegar lebih banyak lagi pujian untuk Angel dari ayahnya.


Begitu tiba di kamar, Gesty langsung memberantaki tempat tidurnya. Bantal, selimut dilemparkan oleh Gesty untuk melampiaskan amarah yang berkobar sekarang.


“Angel sialan! Kurang beruntung apalagi kamu?! Sekarang ayah membelamu! Bahkan orang yang selama ini jahat padamu, memuji kamu, Angel! Dan harusnya kamu tidak pantas mendapatkan itu!”


Karena bantal yang Gesty lempar menyasar ke meja rias dan menyebabkan beberapa produk yang dimiliki jatuh hingga bunyi nya sampai keluar kamar, akhirnya sang ayah datang.


“Apa yang kamu lakukan, Gesty?!”


“Ayah diam! Aku tidak minta ayah untuk datang ke sini apalagi bicara! Ayah tidak usah ikut campur. Keluar dari kamarku sekarang,”


“Jangan gila ya! Setidaknya kalau tidak bisa berguna, jangan menggila seperti ini,”


******


“Kamu kenapa tidak tidur? Memang tidak mengantuk? Ini sudah pukul dua malam,” Andrean bertanya pada istrinya yang Ia lihat sedang menatap kosong ke langit-langit kamar. Andrean terbangun karena ingin buang air kecil, tapi Ia malah mendapati istrinya terbangun juga.


“Aku terbangun, dan sekarang tidak bisa tidur lagi,”


Alih-alih ke kamar mandi, Andrean justru memeluk istrinya dengan erat dan mengusap punggungnya.


“Ayo, aku buat kamu tertidur lagi,”


“Tidak bisa, aku sudah mencobanya sendiri tadi. Kamu sendiri kenapa bangun?”


“Aku mau buang air kecil,”


Angel langsung melepaskan rengkuhan suaminya. Bukan apa-apa, Andrean sendiri yang mengatakan bahwa dirinya ingin buang air kecil, tapi anehnya Andrean malah memeluknya. Itu aneh, seharusnya Andrean langsung ke kamar mandi saja, tidak menunda.


“Kenapa dilepas pelukanku? Apa kamu merasa terganggu kalau aku peluk? Atau kamu jijik, Angel?”


Angel menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak habis pikir kenapa suaminya malah mengira Ia merasa terganggu, bahkan yang paling diluar prediksi, Andrean berpikir bahwa dirinya menjijikan.


“Mana mungkin aku jijik pada suamiku sendiri? Mana mungkin aku terganggu dipeluk kamu? Yang benar saja kalau bicara, Ean,”


“Terus kenapa kamu lepas pelukanku? Artinya ada sesuatu yang mengganggu kamu ‘kan?”


“Seharusnya aku yang tanya kenapa kamu malah memeluk aku? Bukankah barusan kamu bilang, kalau kamu itu bangun karena mau buang air kecil. Jadi seharusnya kamu ke kamar mandi sekarang, bukan malah memeluk aku, Ean,”


“Tidak apa, aku mau membantu kamu untuk tidur lagi, Sayang,” ujar Andrean seraya meraih bahu istrinya supaya bisa Ia peluk lagi namun Angel menggeleng.


“Nanti juga bisa. Sekarang ke kamar mandi dulu, jangan siksa diri sendiri demi aku bisa tidak? Menahan buang air kecil itu bisa menimbulkan penyakit, kamu sering mendengar tentang itu ‘kan?”


Andrean membuang napas kasar lalu duduk. Ia tidak akan bisa memeluk istrinya kalau Ia tidak segera ke kamar mandi sekarang juga.


“Nah, akhirnya ke kamar mandi juga. Seharusnya dari tadi, karena tujuan kamu bangun ‘kan untuk buang air kecil, kamu malah peluk aku,”


“Karena aku mau kamu kembali tidur, dan aku yang membantumu. Tapi ternyata kamu menolak,” ujar Andrean dengan nada kesal di akhir kalimatnya dan itu bisa didapati oleh Angel yang kini tertawa.


“Aku minta maaf. Bukannya aku menolak, Ean. Tapi aku tidak mau kamu sakit, kamu paham ‘kan? Kamu boleh baik padaku tapi jangan berlebihan, jangan sampai menyiksa dirimu sendiri,”


“Kamu tidak menyiksaku, Sayang,”


Andrean menutup pintu kamar mandi dan menghilang di dalamnya. Angel tersenyum melihat suaminya sekarang sudah menuntaskan apa yang menjadi penyebab Ia terjaga dari tidurnya.


Angel menutup seluruh badannya dengan selimut barangkali itu bisa mengundang rasa kantuknya lagi.


“Angel, kenapa kamu menutup seluruh badanmu dari kaki sampai kepala? Apa bisa bernapas?”


Andrean baru saja dari kamar mandi untuk buang air kecil dan Ia heran melihat istrinya sengaja menutupi seluruh badannya, tidak ada yang tersisa bahkan wajah sekalipun.


“Aku mau tidur lagi, barangkali dengan begini bisa kembali tidur,”


Andrean berdecak pelan. Andrean rasa, caranya bukan seperti itu. Biasanya kalau Ia sulit tertidur, Ia tidak pernah sampai menutupi seluruh badannya. Paling yang Ia lakukan adalah tetap memejamkan mata walaupun rasa kantuk itu belum datang. Nanti lama-lama juga terlelap tanpa sadar, dan bangunnya besok pagi.


“Tidak perlu seperti itu, Angel. Pejamkan saja matamu, nanti juga tidur, percaya padaku karena aku sering seperti itu,”


“Tadi sudah, tapi aku tetap tidak bisa tidur lagi. Apa mungkin karena aku sudah puas tertidur ya? Jadi tidak ada rasa kantuk sedikitpun lagi,”


Andrean merengkuh istrinya kemudian Ia menggunakan tangannya untuk mengusap kepala belakang Angel. Barangkali dengan apa yang Ia lakukan itu bisa membuat Angel terlelap.


“Tenang ya, jangan pikirkan apapun, dan coba pejamkan mata kamu, kalau bisa bayangkan yang indah-indah sampai akhirnya kamu tertarik untuk menghampiri hal indah itu di alam mimpi,”


“Kamu benar-benar seperti seorang guru yang sedang anak muridnya ya,” ujar Angel sambil tertawa dan Andrean perlu menunduk sedikit supaya bisa menatap istrinya itu. Karena posisi kepala Angel persis di dadanya.


“Kamu mengejekku?”


“Tidak-tidak, justru aku kagum. Kamu sepertinya berusaha sekali supaya aku tidur,”


“Karena aku tidak mau istriku kurang istirahat. Ayo, tidurlah, jangan sampai aku yang menidurimu ya,”


“Andrean! Apa yang kamu katakan barusan? Astaga, aku tidak menyangka mulutmu bisa berkata—-hmppp,”


Angel tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya karena sang suami langsung ******* bibirnya. Dan waktu yang diperlukan Andrean untuk memanjakan bibir mereka itu lumayan lama sekitar dua menit. Itu akan berlanjut kalau saja Angel tidak merangkum kedua pipi suaminya dan mendorongnya dengan hati-hati, tanpa niat untuk membuat sang suami merasa tersinggung.


“Okay, Sayang. Sekarang kita tidur ya,” Ucap Andrean setelah tautan bibir mereka berdua berakhir.


Angel menganggukkan kepalanya lantas memejamkan mata. Angel berusaha mengurangi, bahkan menghilangkan rasa gugup yang menyerangnya setiap kali Andrean bersikap mesra seperti tadi, tiba-tiba mencium. Detak jantungnya pasti selalu berantakan kalau Andrean sudah berulah.


Sekitar tiga puluh menit mereka berdua sama-sama terdiam. Angel menikmati sentuhan kembut di kepalanya dari Andrean yang juga menikmati perannya sekarang yaitu pemancing supaya Angel kembali tertidur.


Sampai akhirnya Angel berhasil jatuh tertidur dengan pulas. Pipinya jatuh dengan lemah di dada Andrean yang langsung lega mengetahui bahwa istrinya sudah terlelap.


“Aku tidak mau kamu kurang istirahat, Angel. Kamu tidak seharusnya bangun dini hari seperti ini,” bisik Andrean sambil memejamkan mata, ingin ikut masuk ke alam mimpi sama seperti istrinya.


Tapi niatnya itu gagal karena ada bunyi denting dari ponsel Angel. Andrean yang penasaran siapa dnegan sosok yang menghubungi istrinya malam-malam begini akhirnya tidak tinggal diam. Andrean langsung menyingkirkan tangan Angel yang berada tepat di atas perutnya, dan Ia juga menyingkirkan kepala Angel dari kepalanya dengan sangat hati-hati supaya Angel tidak merasa terusik. Baru juga tidur, jangan sampai Angel terjaga lagi. Bisa dipastikan semakin sulit untuk perempuan itu kembali terlelap.


Setelah meraih ponsel sang istri dan mendapati ada pesan masuk, Andrean langsung membuka pesan itu yang ternyata dari Gesty. Rahang Andrean mengeras ketika membacanya.


-Enaknya jadi anak bodoh yang beruntung. Sekarang lagi menikmati kamar yang nyaman, kasur yang nyaman, dan tentunya pikiran yang tenang karena semuanya dicukupi. Sementara aku harus dikurung oleh ayah di kamar yang menurutku tidak ada nyaman-nyamannya untuk aku! Angel, aku sumpahi hidupmu tidak akan bahagia dengan kekal ya-


“Astaga, kenapa Gesty masih selalu mengganggu Angel? Apa salah Angel? Kenapa dia bisa sebenci itu pada Angel? Padahal yang aku liat dengan mata kepala sendiri, Angel sosok adik yang luar biasa,”


Andrean langsung memblokir nomor Angel supaya tidak ada lagi akses untuk Angel mengusik istrinya dan Ia berharap istrinya itu tidak membatalkan blokir itu.


********


“AYAH CEPAT KELUARKAN AKU DARI KAMAR INI!”


Gesty berteriak sambil memukul-mukul pintu kamar yang fungsinya menjadi tempat penyimpanan barang-barang tidak terpakai.


Ia tidak terima ketika ayahnya langsung mengurung Ia di kamar itu sebagai hukuman karena sudah pergi begitu saja ketika sang ayah minta dibuatkan makanan, ditambah lagi Gesty pulang hampir pagi.


“AYAH BUKA PINTU KAMAR INI SEKARANG!”


Ketika lelah, Gesty akan berhenti, dan setelah merasa cukup kuat untuk berteriak, maka Gesty akan berteriak supaya ayahnya itu mau membukakan pintu kamar dimana Ia berdiam sekarang.


“Sesekali kamu perlu dihukum,”


Gesty masih ingat ayahnya bicara seperti itu sesaat setelah Ia berhasil didorong hingga terjatuh kemudian sang ayah keluar dari kamar yang ukurannya sangat kecil itu dan setelahnya pintu langsung dikunci.


“AYAH!”


Gesty menangis pada akhirnya. Ia tidak tahu harus mengadu pada siapa sekarang, Ia lelah berteriak, kesal pada ayahnya. Semua perasaan itu campur aduk dan akhirnya membuat Ia menangis.


“Sialan! Seharusnya yang di sini Angel! Bukan aku! Kenapa harus aku yang dibukum?! Biasanya juga dia! Ayah benar-benar keterlaluan. Dia pikir dia bisa menjadikan aku sebagai pengganti Angel?! Hah?”


Gesty menendang pintu kamar dengan amarah yang sudah mencapai di ujung kepala.


Setelah itu Ia menghapus air matanya dengan kasar.


Ketika Ia dihadapkan dengan situasi seperti ini, Ia tentu tidak akan melupakan adik tirinya itu. Dimana menurut Gesty, seharusnya Angel lah yang ada di posisinya saat ini, seharusnya Angel yang dihukum dengan cara dikunci di kamar yang ukurannya kecil, bukan dirinya yang harus merasakan ini semua.


“Sialan! Ini bukan tempatku! Kenapa aku yang dihukum?! Seharusnya bukan aku! Aku anak yang tidak pantas mendapat hukuman apapun,”


**********


“Adrian, tolong perbaiki laptop aku dulu!”


“Itu tidak rusak, hanya sedang lambat, ‘kan sama saja dengan pemiliknya, lambat dalam segala hal, lagipula laptop itu bermasalah terus ya sepertinya,”


“Ian! Kamu benar-benar ya,”


“Aku ada siaran langsung, jadi buru-buru,” ujar Adrian tanpa menoleh lagi ke arah adiknya yang langsung beraksi pura-pura menangis karena Ia yakin Adrian akan menghentikan langkahnya.


“Kenapa kamu sangat jahat padaku? Harusnya kamu bantu aku dulu, kenapa laptopku jadi lambat begini? Huwaaaa kamu jahat padaku, Ian. Kamu keterlaluan, tidak mau membantu adikmu sendiri,”


Adrian langsung menghentikan langkahnya tapi masih memunggungi Auristella. Ia hela napas panjang, berusaha sabar menghadapi adiknya itu disaat Ia harus segera melakukan pekerjaannya hari ini. Ia diundang untuk menjadi bintang tamu di sebuah acara yang akan disiarkan secara langsung.


“Astaga, aku harus sabar, tahan, jangan emosi. Adikmu itu memang menyebalkan, Adrian. Tenang-tenang, hadapi dengan senyuman,” gumam Adrian masih belum memutar tumitnya dan berjalan ke arah Auristella yang masih berpura-pura menangis dan senang sekali ketika melihat kakaknya tidak jadi pergi. Dalam hati Auristella tertawa puas.


“Hahahaha aku kerjai kamu,” batin Auristella.


Adrian menghampiri adiknya dan tanpa bicara apapun langsung memeriksa apa yang salah dari laptop adiknya yang katanya berubah menjadi lambat dan Adrian sendiri jyga belum tahu lambat dalam hal apanya.


“Jaringan aja ini sepertinya,”


“Ya sudah perbaiki. Tapi itu aku barusan mengetik materi tugas kenapa keyboard lama juga? Biasanya tidak,”


“Keberatan mungkin,”


“Berat apa sih? Memang aku kasih dia beban, Ian? Hmm?”


“Ya terlalu banyak isinya, jadi kerja dia melambat. Minta beli baru pada Daddy, aku dukung,”


Auristella langsung menampar lengan kakak keduanya itu yang seenak hati menyuruhnya untuk minta belikan laptop pagi pada Devan. Kedua orangtuanya memang tidak ada yang pelit, tapi bukan berarti Ia bisa memanfaatkan itu.


“Apa salahnya? Pasti dibolehkan Daddy, dia banyak uang,”


“Bagaimana kalau kamu saja? Aku minta uang padamu, untuk belikan laptop,”


“Tidak ada, untuk modal nikah, modal masa depan,” ujar Adrian dengan ketus. Lagi-lagi Auristella menampar lengan kakaknya.


“Sekalian saja lepas tanganku ini, Auris, jangan tanggung-tanggung cuma dipukul,”


Auristella tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Adrian yang sudah kelewat kesal. Sedang dibantu malah disakiti.


Adiknya itu benar-benar memancing emosi.


“Cepat kasih uang untuk aku. Akan aku belikan laptop, aku janji,”


“Minta Daddy lah, uangnya banyak, atau minta pada Mommy karena Mommy jyga tidak kalah banyak uangnya,”


“Tidak, nanti mereka bingung kenapa aku tiba-tiba minta uang,”


“Ya katakan pada mereka kalau kamu perlu laptop baru,”


“Tapi apa mereka akan memberikannya? Mereka tau laptop aku baik-baik saja,”


“Kalau mereka liat laptop kamu benar-benar harus diganti, tidak mungkinlah mereka diam saja,”


“Tapi ini tidak rusak, ini cuma eror sebentar saja ‘kan?”


Adrian mengangkat kedua bahunya. Ia sudah coba untuk menyambungkan jaringan internet di laptop Auristella tapi tidak tersambung juga. Ia lihat jaringan internet di ponselnya baik-baik saja.


“Coba lihat di handphone kamu, Wifi tersambung tidak?”


Auristella segera memeriksa jaringan di ponselnya sendiri dan Ia mengangguk. “Iya, tersambung. Jaringannya baik-baik saja tapi kenapa laptopku tidak?”


“Ya makanya minta belikan yang baru,“


“Kamu jangan mengajariku untuk menghabiskan uang Daddy dan Mommy ya!“


Adrian terbahak mendengar ucapan adiknya itu. Adrian pikir aeiknya akan langsung menghubungi Devan meminta uang untuk mebeli laptop baru.


“Daddymu banyak uang. Kirim saja uangnya ke aku, nanti aku carikan yang bagus,”


“Tidak usah! Aku bisa beli sendiri. Nanti kalau kamu yang pegang uangnya, kamu belikan laptop bekas untukku,”


“Hahahaha kamu tau saja niatku,”


“Errghhh keterlaluan!”


“Tidak-tidak, aku bercanda. Aku carikan yang bagus, serius,”


“Aku tidak percaya,”


Auristella sekarang mencubit lengan Adrian yang langsung berseru kesakitan. Auristella kalau sudah mengeluarkan jurus cubitan mautnya, bisa langsung membuat Adrian angkat tangan jarena benar-bsnar meninggalkan perih di kulit.


“Kasian yang jadi suamimu nanti ya. Bisa-bisa belum seminggu kamu jadi istrinya, badan dia sudah biru-biru akibat kamu cubit,”


“Kamu berlebihan. Lebih kasian yang jadi istrimu nanti. Setiap hari harus menghadapi laki-laki yang tidak jelas seperti kamu, Ian,”


*******


Angel mengernyit ketika mengetahui nomor kakaknya diblokir padahal Ia tidak pernah melakukan itu. Seketika Ia langsung punya dugaan kalau yang telah memblokir nonor sang kakak adalah suaminya. Angel langsung membatalkan blokiran itu kemudian menghela napas pelan.


Andrean keluar dari kamar mandi dengan penampilannya yang sudah segar karena sudah mandi. Kemudian makanan datang ke kamar mereka. Pagi ini mereka memutuskan untuk sarapan di kamar saja.


“Ayo kita makan, Ean,” ajak Angel pada suaminya yang saat ini sedang menyisir rambut di depan cermin. Andrean menganggukkan kepalanya lantas berjalan ke sofa kamar.


Mereka berdua makan di sofa dengan menghadap jendela yang telah dibuka bersama dengan pintu balkoni sehingga udara segar langsung bisa mereka rasakan.


“Aku berhasil membuatmu kembali tertidur semalam, Angel,”


“Iya, terimakasih ya atas bantuanmu. Kalau aku tidak dipeluk olehmu, aku rasa tidak akan tidur sampai pagi ini karena aku memang tipe orang yang akan sulit tidur kalau sudah bangun,”


“Tidak perlu terimakasih, Sayang. Aku hanya tidak ingin kamu kurang istirahat, aku tidak ingin kamu kelelahan, dijahati, aku tidak ingin kamu merasa terganggu, semua itu jangan sampai terjadi,”


Dari ucapan Andrean barusan, yangs epertinya sedang menyinggung sesuatu, nampaknya ada yang dilakukan oleh Gesty yang Andrean anggap bisa mengganggu Angel. Oleh sebab itu nomornya diblokir oleh Andrean.


“Hei kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa yang kamu pikirkan tentang aku?” Tanya Andrean yang sudah mulai menikmati sarapannya sementara sang istri malah menatapnya dalam diam.


Angel langsung mengerjapkan kedua matanya ketika ditegur oleh suaminya itu. Ia sedang menerka-nerka benarkah Andrean yang memblokir nomor kakaknya? Karena yang Ia ingat, Ia tidak pernah melakukan itu.


“Kenapa, Angel?”

__ADS_1


Angel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan mulai menyantap sarapannya juga.


“Kamu baik-baik saja?” Tanya Andrean yang tak akan bisa tenang kalau sudah melihat istrinya tidak fokus.


“Iya, tapi ada yang mau aku tanyakan padamu, kamu kira-kira keberatan atau tidak ya menjawab pertanyaanku?”


“Tidak, apa yang mau kamu tanyakan, Sayang? Tanyakan saja, jangan ada yang dipendam, tidak baik. Kita sudah menikah, dan komunikasi dalam sebuah pernikahan itu benar-benar sangat penting,”


“Kamu yang memblokir nomor kakakku ya, Ean?” Tanya Angel dengan hati-hati dan senyum meringis. Sebenarnya tidak enak juga bertanya soal itu, tapi Ia ingin tahu kalau memang Andrean yang melakukannya, apa alasan yang melandasi Andrean bertindak seperti itu. Karena bukan hanya sekali Andrean melakukannya.


Andrean menghembuskan napas kasar kemudian menyeruput air minum sebelum menjawab pertanyaan sang istri. Angel mengamati suaminya yang nampaknya tidak keberatan untuk menjawab, karena setelah minum Andrean langsung membuka mulutnya untuk memberikan jawaban “Iya, aku yang sudah memblokir nomor kakakmu itu,”


“Kenapa? Aku boleh tau tidak? Aku tidak pernah melakukannya, karena aku tidak mau hilang komunikasi dengan kakak ataupun ayah setelah aku menikah,”


Andrean langsung meraih tangan istrinya kemudian Ia genggam dengan erat. Ia tatap istrinya dalam-dalam dan menatap Angel dengan serius.


“Sayang, aku melakukannya ada tujuan, tentu saja. Dan aku yakin kamu sudah menerka jawabanku,” ujar Andrean yang tidak mau istrinya salah paham.


“Apa yang kakak kirim ke aku dan kamu melihatnya? Apa itu membuatmu kesal?”


“Oh tentu saja, makanya aku blokir langsung nomor dia. Jadi aku punya alasan, Sayang. Aku kesal ketika dia mengusik kamu, dan tujuan aku memblokir nomor dia supaya dia tidak punya akses untuk mengusik kamu. Kalau dibiarkan terus menerus, dia bisa semakin parah mengusikmu,”


“Tapi—“


“Tidak usahlah kamu pikirkan tentang itu. Dia memang pantas diblokir nomornya, bahkan dia sendiri pun pantas diblokir dari hidup kamu,”


“Tapi aku tidak punya siapapun selain ayah dan kakak, aku menyayangi mereka. Bagaimana kalau mereka ingin menghubungiku dan tiba-tiba tapi tidak bisa karena diblokir nomornya,”


“Mereka menghubungi kamu tujuannya apa? Mau memastikan kamu baik-baik saja? Mau bertanya kabar? Tidak ‘kan? Coba jawab apa yang mereka katakan kalau mereka menghubungi kamu?”


Angel menunduk, apa yang dikatakan pleh suaminya benar. Kalau mereka menghubunginya, tidak ada yang namanya menanyakan kabar, mereka tidak pernah memastikan Ia baik-baik saja. Yang ada justru meminta dan meminta. Sebenarnya tidak masalah bagi Angel karena Angel tahu hasil kerja kerasnya itu untuk mereka juga. Makanya Ia sampai rela bekerja lagi demi mendapatkan uang supaya Ia tetap bisa menghidupi ayah dan kakaknya itu. Tapi yang membuat Angel sedih, terkadang mereka sampai memaksa sampai tidak paham bagaimana keadaannya sekarang. Ia memang dicukupi oleh Andrean, akan tetapi Ia tidak bisa bersikap seenak hati dengan semua yang diberikan Andrean untuknya.


“Daripada mereka membuat kamu sakit hati, sedih, lebih baik blokir saja kontak mereka. Dengan begitu hidup kamu akan tenang, tanpa diganggu oleh mereka, Angel,”


“Tapi aku tidak bisa benar-benar meninggalkan mereka karena mereka perlu aku, Ean,”


Andrean memijat pangkal hidungnya. Ia benar-benar tidak paham kenapa istrinya bisa sebaik ini. Memang ayah dan kakaknya itu keluarga untuk Angel tapi kalau jahat, wajar kalau Angel kecewa dan memilih untuk menjaga jarak daripada hatinya terus-terusan disakiti. Tapi yang terjadi justru Angel membuka akses untuk mereka bersikap seenak hati. Angel selalu pura-pura kuat dan itu membuat Andrean kesal.


“Kamu tidak perlu meninggalkan mereka, kamu hanya perlu jaga jarak, kamu boleh baik, tapi jangan lupa utamakan perasaan diri sendiri,”


Andrean mengusap pipi Angel dengan lembut setelah itu lanjut menikmati sarapannya. Andrean berharal istrinya paham kenapa Ia sampai bebruat seperti itu yang mungkin kesannya jahat, tapi Andrean hanya ingin menjaga istrinya dari hal buruk apapun itu.


********


“Ayah, aku lapar, buka pintu kamar sialan ini! Aku tidak mau ada di sini lebih lama lagi, buka pintunya ayah!”


Sudah siang bahkan menjelang sore tapi tidak ada tanda-tanda pintu kamar akan dibuka sementara Gesty sudah benar-benar tidak nyaman lagi terkurung di sana. Perutnya lapar, dan keringkongannya juga kering. Lagi-lagi Ia dikurung karena sikapnya sendiri.


Tidak lama Ia berkata seperti itu, tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh sang ayah dan itu membuat Gesty senang luar biasa.


Tapi bukan berarti Ia tidak kesal lagi dengan ayahnya. Begitu mereka berhadapan satu sama lain, Gesty melemparkan tatapan tajamnya.


“Ayah benar-benar keterlaluan! Harusnya aku tidak berhak mendapat hukuman apapun!“


“Hei kamu dengar ya!”


Gesty tersentak kaget ketika ayahnya mencengkram dagunya dengan cukup kuat, sambil membalas tatapan tajamnya.


“Seharusnya kamu bersyukur Ayah keluarkan dari sini. Andai saja Ayah tega, kamu sudah ayah biarkan mati membusuk di sini. Kamu jangan kurang ajar pada ayah, kalau kamu tidak mau ini terulang lagi. Paham kamu?!”


*****


“Aku yakin Angel suka,”


“Ya, semoga. Terimakasih sudah membantuku,”


Andrean mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan orang kepercayaannya, Abraham. Lelaki itu selalu bisa diandalkan. Tidak sia-sia Andrean langsung mengatakan niat baiknya kepada Abraham.


“Semoga setelah Angel dekat dengan pengawasanku, tidak ada lagi yang mengganggu Angel. Aku ingin hidup istriku itu tenang,”


Andrean menatap jam tangannya. Sebentar lagi saatnya Angel pulang, jadi Ia harus segera ke kafe dimana Angel bekerja sebagai pelayan.


“Aku pergi dulu, sekali lagi terimakasih,”


Abraham tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Abraham tersenyum menatap kepergian Andrean. Ia kagum pada lelaki itu. Kelihatannya saja dingin, tak acuh dengan apapun, tapi ternyata sangat menyayangi istrinya. Tahu kalau sang Istri punya keinginan kuat untuk berkegiatan di luar rumah, menghasilkan sesuatu, Andrean berinisiatif untuk membuka kafe yang dimana Angel akan berperan sebagai pemiliknya nanti.


“Dia begitu menyayangi istrinya dan aku salut. Diluar kelihatan keras, dingin, tapi ternyata di dalam begitu menyayangi istri. Andrean…Andrean….aku kagum dengan cara kamu mencintai Angel. Tanpa banyak omong langsung melaksanakan niat yang bertujuan untuk kebaikan istrinya,”


*******


“Angel, dua hari lagi datang ke party ulang tahunku ya. Aku mohon kamu datang supaya kita bisa bersenang-senang bersama,”


Angel tersenyum mendapatkan undangan melalui lisan agar hadir di sebuah acara yang tak lain adalah acara ulang tahun Gaby, teman sesama pekerja.


“Okay aku akan datang. Terimakasih undangannya ya, Gab,”


“Iya, sekarang kamu mau pulang? Ayo aku antar sampai di rumah,”


“Hmm lain kali ya, Gab. Aku menunggu dijemput,”


“Oh dijemput suamimu ya? Okay tidak apa-apa, kalau begitu aku pulang sendiri,”


“Iya, terimakasih tawarannya. Kamu hati-hati di jalan ya,”


“Jangan lupa datang!”


Angel tertawa mendengar Gaby bicara dengan tegas. Supaya Gaby tenang dan untuk menegaskan, Angel langsung bersikap memberikan hormat.


“Siap, aku tidak akan lupa dengan undanganmu,”


Gaby sudah melajukan motor setelah pamit sekaligus menyampaikan undangan acara ulang tahunnya kepada sang teman.


Sementara Angel masih menunggu suaminya, yang tak lama dari pulangnya Gaby sudah datang menjemputnya. Angel tersenyum ceria. Begitu mobil berhenti Ia langsung masuk mobil dan menyapa suaminya.


“Hai, Ean,”


“Hai, Angelku. Semua aman hari ini?”


“Aman, tenang saja,”


“Okay, tidak ada teror meneror lagi ‘kan, Sayang?”


“Tidak ada, semua aman terkendali. Terimakasih ya untuk perhatiannya. Kamu selalu mau memastikan aku baik-baik saja,”


“Tentu, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Semua akan aku lakukan demi memastikan kamu aman, kamu baik-baik saja,”


“Termasuk datang ke rumahku lalu memarahi Ayah, Ean?”


Andrean yang tadinya akan melajukan mobilnya meninggalkan kafe Angel langsung menggagalkan niatnya itu.


Andrean langsung menoleh ke sampingnya, dan menatap Angel yang kini tersenyum menatapnya. Angel sudah tahu kalau Ia datang ke rumahnya, tapi ada yang salah dari ucapan Angel. Andrean merasa penting sekali untuk meluruskan kesalahpahaman yang pasti dibuat oleh ayah atau kakaknya Angel.


“Sayang, kamu salah paham. Aku datang ke sana bukan untuk marah-marah, percaya lah padaku,”


“Tapi—“


“Apa yang mereka katakan padamu? Hmm? Setelah mengancam kamu, memaksa kamu untuk memberikan apa yang mereka mau, sekarang mereka berusaha membuat hubungan kita hancur ya?”


“Tidak-tidak, bukan begitu. Aku hanya bertanya padamu, Ean,”


“Kamu bukan lagi bertanya. Kamu pasti sudah tau semuanya, dan itu dari mereka. Aku yakin pasti mereka yang memberitahu kamu kalau aku datang ke rumah ‘kan? Dan pasti mereka juga yang bilang ke kamu kalau aku marah-marah padahal kenyataannya tujuan aku datang ke sana untuk lagi-lagi memberikan peringatan untuk mereka supaya mereka berhenti menyiksa batin kamu, Angel. Aku tidak marah-marah! Kamu jangan percaya pada mereka. Jangan mau hubungan kita dibuat kacau oleh siapapun itu. Sungguh aku paling tidak bisa kalau kamu salah paham padaku, percaya padaku, Angel, aku tidak marah pada mereka, dan aku datang ke sama juga tujuannya untuk kamu, Sayang,” jelas Andrean seraya menggenggam tangan Angel dengan begitu erat.


Angel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia tahu Andrean datang ke rumahnya karena punya tujuan yang baik, makanya Ia tidak menyalahkan Andrean.


“Aku tidak menganggap bahwa kamu salah, Ean. Aku hanya bertanya, kamu datang ke rumah dan marah-marah atau tidak? Setelah dapat jawaban kamu, aku paham dan aku percaya padamu,”


“Tidak, mereka tidak mengganggu aku,”


“Aku harap juga teror itu tidak datang lagi,”


“Iya, semoga,”


“Aku takut mereka mengganggu kamu lagi, dan aku takut teror itu datang lagi untuk kamu,”


“Tidak, semoga tidak,”


“Soal teror itu, jujur aku masih penasaran sekali siapa yang mengirimnya. Aku belum ketemu dengan identitas orang jahat itu,”


“Tidak usah dicari, biarkan saja lah dia mau berbuat apa. Aku sudah tidak mau peduli,”


“Bagaimana mungkin kamu tidak peduli, Angel? Kamu saja masih dihantui dengan rasa takut akan teror itu,”


“Aku akan berusaha untuk tidak takut lagi, Ean. Aku janji padamu, asalkan kamu tidak usah lagi mencari siapa pelakunya. Tidak penting juga, nanti dia malah bahagia kalau dicari,”


Mendengar permintaan Angel yang ingin Ia berhenti mencari tahu siapa pelaku dari teror yang Ia terima.


“Kamu tau soal pelaku teror itu ya, Sayang?”


“Hm? Tidak, aku tidak tau siapa yang meneror aku. Kalau aku tau, pastilah aku beritahu kamu,”


“Aneh saja menurutku. Harusnya kamu dukung aku untuk mencari siapa pelakunya tapi kamu malah menyuruh aku untuk berhenti mencari tahu. Makanya aku pikir kamu tau siapa pelakunya,”


“Tidak-tidak, aku tidak tau apapun, Ean,” ujar Angel yang langsung panik mendengar ucapan suaminya. Andrean sepertinya curiga kalau Ia sudah tahu siapa pelaku teror untuk ya. Memang Ia tahu tapi tidak mungkin Ia beritahu pada Andrean. Reaksi Andrean nanti pasti sangat marah. Bisa-bisa Andrean datang lagi ke rumahnya dan memberikan pelajaran untuk ayahnya.


“Tapi aku penasaran siapa yang mengirimkan teror itu. Kenapa dia bisa sejahat itu padamu. Aku benar-benar tidak habis pikir, Sayang,”


“Tidak usah penasaran lagi. Semakin dicari, dia semakin senang berulah. Sudah, biarkan saja ya. Kamu tidak perlu mencarinya lagi. Aku baik-baik saja. Aku tidak akan takut lagi, kamu tenang ya,”


“Okay kalau memang kamu melarang aku untuk mencari tau lagi siapa pelakunya. Tapi aku harap teror itu tidak datang lagi. Karena kalau datang lagi, aku akan tetap cari tau siapa pelakunya biar aku kasih pelajaran untuk dia,”


“Astaga, nggak usah, Ean. Biar saja, dia yang dapat dosa, dia yang dapat balasan. Nggak usah kamu cari tau,”


*******


“Jangan! Jangan diterima,”


“Tuan yang terhormat, Tolong jangan berikan apapun untuk kakakku Angel kalau nama pengirimnya tidak jelas, karena Angel pernah mendapatkan teror,”


Auristella baru saja sampai di kediamannya. Dan Ia langsung bertemu dengan seorang pengirim barang yang sedang bicara dengan security rumahnya, lelaki itu meminta supaya security mau menerima barang yang Ia antar karena itu tugasnya.


“Tapi saya ditugaskan untuk mengantarkan ini. Dan nama penerimanya Angel,”


“Okay, siapa nama pengirimnya? Tolong sebutkan sekarang, kalau perlu foto orangnya,”


Auristella tidak mau kejadian yang pernah dialami Angel kembali terulang. Ia tidak tega ketika Angel harus ketakutan mendapatkan teror itu.


“Kalau anda tidak bisa memberitahuku siapa nama pengirimnya, bagaimana wajahnya, maaf aku menolak kiriman itu,”


Peringatan dari Auristella berhasil membuat orang itu pergi dengan motornya. Lelaki itu melaju dengan cepat meninggalkan Auristella yang tersenyum miring dan geleng-geleng kepala.


“Saya memang sudah menolaknya, Nona,” ujar Jhon.


“Iya, aku bantu untuk menolaknya. Kita harus lebih pintar menghadapi orang yang punya niat jahat. Enak saja dia mau membuat Angel ketakutan lagi. Aku yakin di dalam kotak yang dia bawa ada sesuatu yang membuat Angel ketakutan lagi. Pokoknya siapapun di rumah ini jangan sembarangan menerima sesuatu ya, apalagi untuk Angel karena dia dalam situasi yang tidak aman sekarang. Seseorang ada yang punya niat jahat pada Angel,”


“Siap, Nona,”


“Sampaikan ucapanku tadi pada semua yang berjaga ya, terimakasih,”


Setelah berkata seperti itu Auristella melangkah memasuki rumahnya dan disambut oleh Lovi dan Devan yang belum berkata pada siapapun kalau Devan sudah menyelesaikan pekerjaannya di Jepang lebih cepat dari rencana. Devan dan Lovi langsung pulang ke rumah tanpa memberitahu anak-anak mereka sehingga menjadi kejutan.


“Wow Mommy dan Daddy sudah pulang ternyata. Kenapa tidak bilang kalau pulang sekarang?”


“Sengaja untuk memberi kejutan, Sayang. Bagaimana? Kamu terkejut ‘kan?”


“Jelas, Mom. Aku terkejut sekali. Aku pikir kalian belum pulang hari ini,”


“Baru kamu yang terkejut dan keliatan senang Mommy dan Daddy sudah pulang, ketiga kakakmu belum,”


“Aku yakin mereka juga akan sangat senang, akan terkejut. Mereka juga merindukan kalian, Mom, Dad. Sama seperti aku yang sudah merindukan kalian. Rasanya lama sekali padahal tidak sampai satu minggu ya. Tapi seperti satu tahun berpisah dengan kalian,”


“Hahahah, kamu berlebihan, Sayang. Serindu itu kah?”


Devan mencium kening putrinya dan kembali memeluk Auristella dengan erat. Auristella benar-benar kelihatan merindukan pelukan ayahnya yang selama ini begitu menyayanginya, menganggapnya ratu, menganggapnya berlian yang perlu dijaga dengan begitu baik.


“Bagaimana suasana di rumah? Semuanya aman, Sayang?”


“Aman, Mom,”


“Tidak ada masalah?”


“Tidak,”


“Tidak ada pertengkaran ‘kan selama Daddy dan Mommy pergi?”


“Oh tidak, jelas semua aman terkendali, semua baik-baik saja,”


“Kalau kamu dan Andrean tidak bertengkar, Mommy percaya. Tapi kalau kamu dan Adrian tidak bertengkar? Wow, itu sesuatu yang mustahil. Apa ucapanmu bisa Mommy percaya, Sayang?”


“Hahahah sejujurnya kalau aku dan Ian memang bertengkar terus, Mommy. Tapi kalau aku dengan Andrean atau Andrean dengan Angel tidak pernah bertengkar,”


“Nah sudah bisa Mommy tebak. Pertengkaran kalian tidak akan pernah bisa dihentikan, kecuali kalau sudah tua sepertinya,”


“Kenapa kalau tua tidak bisa bertengkar, Mom? Bisa, selagi masih ada kekuatan,”


“Jangankan bertengkar, duduk saja sudah susah, Auris, ingat orang juga susah,” ucap Devan yang mengundang tawa Auristella.


“Oh iya benar juga kata Daddy. Orangtua sudah sakit-sakitan ya, tidak kepikiran lagi dengan bertengkar,”


“Tapi nanti kalau kalian sudah sama-sama berkeluarga, punya kehidupan masing-masing, Daddy yakin pertengkaran kalian nantinya akan berkurang. Kenapa? Karena kalian ‘kan sudah sibuk dengan hidup sendiri-sendiri, sibuk dengan pasangan, sibuk dengan anak, sibuk dengan pernikahan masing-masing lah intinya,”


“Iya sepertinya begitu, semoga ya, Dad,”


“Jangan, kalau aku tidak bertengkar dengan Ian, hidupku sepi sekali, Mom, Dad,”


“Tidaklah, nanti juga ada yang membuat hidupmu tidak kesepian lagi,” ujar Lovi seraya menaik turunkan kedua alisnya.


“Maksud Mommy?”


“Iya ‘kan sudah punya pendamping hidup nanti, sudah punya anak juga,”


“Ya ampun, Mommy. Itu masih lama, memangnya aku boleh ya menikah sekarang?”


“Hei ngomong apa kamu?”


Auristella terbahak ketika Devan menatapnya dengan tatapan tajam sambil mengangkat dagunya.


“Aku hanya bertanya, Dad,”


“Kamu bertanya hal yang sudah kamu ketahui jawabannya, Sayang,”


“Hanya untuk memastikan saja boleh aku menikah muda?”


“Ya tidak boleh lah, memang siapa yang sudah mau menikahimu sekarang? Hah? Katakan pada Daddy dan Mommy, maka akan kami datangi dia. Apa yang dia punya? Hanya cinta? Tidak ada kerja keras? Semua keperluan masih minta pada orangtua? Oh kalau begitu mohon maaf, Daddy tidak bisa diam saja. Berani sekali dia mengajak kamu menikah muda disaat dia sendiri belum ada persiapan,”


“Ya ampun, padahal aku cuma bertanya, pembahasannya jadi jauh, Dad,”


Auristella menggaruk pelipisnya. Ia takut melihat reaksi Devan yang langsung serius menanggapi pertanyaannya. Devan mengira sudah ada yang berani mengajak putrinya menikah disaat sang putri bertanya apakah boleh dirinya menikah muda.

__ADS_1


“Kamu sengaja memancing Daddymu untuk mengaum, Auris. Jadi begitulah kira-kira reaksi Daddy kalau kamu tanya boleh menikah muda atau tidak,”


“Ya boleh sih, asal selesai kuliah dulu. Itu juga masih muda ‘kan? Dan laki-lakinya punya modal, jangan cuma modal cinta. Nanti kamu mau diberi makan apa? Bagaimana dia menghidupi kamu? Dan ingat, kerja keras itu juga harus dimiliki oleh calon pasanganmu,”


“Siap, Dad. Akan aku cari yang sesuai dengan harapan Daddy dan Mommy,”


“Jangan sekarang memikirkan pernikahan, Sayang. Selain karena kamu masih harus fokus dengan pendidikan, pemikiran dan sikapmu juga belum dewasa. Sulit kalau belum dewasa tapi sudah menikah. Ini bukan hanya tentang usia saja ya. Tapi pola pikir dan sikap dewasa itu penting sekali. Ada yang usianya masih muda tapi dua hal itu dia sudah punya, tapi ada juga yang usianya sudah matang dan dia belum punya keduanya. Yang Daddy liat, kamu masih muda, pola pikir dan sikap dewasa belum kamu miliki, Sayang. Jadi nanti ya,”


“Iya, memang siapa juga yang mau menikah sekarang, Dad?”


“Kalau Angel, dia memang terbilang masih muda, tapi pendidikannya sudah hampir selesai, kalau membicarakan bagaimana pola pikir dan sikapnya, kita semua sudah sama-sama tau ya. Makanya tidak heran kita memilih dia untuk menjadi pendamping Andrean. Terbukti dengan kedewasaan yang dia punya, dia bisa menyeimbangi suaminya,”


“Iya aku paham, Dad,”


“Selamat si—“


“Hah? Daddy Mommy sudah sampai di rumah? Ya ampun, aku pikir belum hari ini. Tidak ada kabar apapun dari kalian berdua,”


“Hei, selamat apa tadi? Lanjutkan dulu,”


“Selamat siang eh ini sudah sore, iya sore maksudku, Auris. Maklum, aku terkejut melihat Mommy Daddy sudah pulang jadi lupa melanjutkan kalimat. Jadi kapan Daddy Mommy sampai di rumah?”


“Belum lama, sekitar satu atau dua jam lah,”


“Kenapa tidak meminta aku untuk datang ke bandara? Aku ingin menjemput kalian,”


“Tidak perlu, merepotkan nantinya,”


“Astaga, Mommy jangan bicara begitu. Mana pernah orangtua dianggap merepotkan oleh anaknya sendiri? Tidak pernah lah, kalau ada yang beranggapan begitu, berarti anak itu bukan anak yang baik. Aku lebih merepotkan Mommy Daddy, sudah dilahirkan, dibesarkan, diberikan makanan bergizi dan enak dari dalam kandungan, pendidikan yang layak, tapi kalian tidak pernah mengatakan bahwa aku ini merepotkan. Padahal kenyataannya aku sangat-sangat merepotkan kalian. Sayang sekali aku tidak menjemput kalian di bandara tadi. Seharusnya kirim pesan padaku, Mom, Dad, biar aku datang menjemput,”


“Tidak apa, ada driver juga. Kamu ‘kan sibuk kuliah, kami tidak mau mengganggu. Jadi bagaimana hari-harimu tanpa Daddy, Ian? Hmm?”


“Kesepian, aku rasanya kurang teman. Ean ada sih, tapi ‘kan yang lebih menyenangkan itu Daddy, suasana lebih terasa hidup kalau dengan Daddy ketimbang Andrean,”


Adrian memeluk Devan dengan erat. Walaupun sudah dewasa tapi kalau rindu ingin memeluk, Adrian tidak akan sungkan melakukannya walaupun kata adiknya “Ih manja sekali, sudah bau tanah juga!”


Adrian tidak peduli yang penting rasa rindunya meluap setelah bisa bertemu dengan Devan yang keadaannya baik-baik saja dan Ia bisa memeluk Devan.


Setelah itu Ia memeluk Lovi. Ia juga senang melihat Lovi baik-baik saja, kelihatan bahagia setelah pergi menemani suaminya bekerja.


“Mommy makin keliatan muda ya,”


“Ah kamu bisa saja. Mau apa ini? Kalau memuji biasanya ada mau ‘kan?”


“Hahahaha Mommy kalau bicara suka benar ya, Ian. Mau apa kamu?”


“Heh sembarangan! Aku emang mau memuji Mommy. Apa yang aku katakan barusan kenyataan. Mommy keliatan semakin muda, semakin bahagia. Mommy mulia sekali menjadi istri. Mau rela pergi ke tempat yang jauh hanya untuk mendampingi Daddy. Wah luar biasa. Aku semakin ingin mencari pendamping hidup seperti Mommy,”


“Kalau bisa jauh lebih baik dari Mommy,” ujar Lovi. Ia yakin di luar sana masih banyak perempuan yang jauh lebih baik darinya, dan Lovi berharap salah satunya bisa dimiliki oleh Adrian.


“Aamiin, tapi seperti Mommy saja sudah lebih dari cukup, aku sudah bersyukur sekali. Karena Mommy itu sempurna,”


“Mommy manusia biasa, Adrian. Tidak ada manusia yang sempurna,”


“Tapi menurut pandanganku begitu, Mom. Makanya Daddy sangat beruntung seharusnya,”


“Oh tentu saja Daddy sangat bersyukur. Tidak ada hal yang tidak Daddy syukuri di dalam hidup ini, Ian, apalagi hadirnya Mommy. Itu berkat luar biasa untuk Daddy,”


“Mommy juga tidak pernah berhenti bersyukur punya suami yang luar biasa, anak-anak yang luar biasa juga. Hidup Mommy ini rasanya sudah lengkap tidak kekurangan apapun. Selagi dengan kalian, Mommy rasa Mommy akan baik-baik saja walaupun dihantam badai apapun,”


Disaat mereka sedang berbincang hangat di ruang tamu, tiba-tiba ada terdengar suara langkah kaki.


Tidak lama kemudian muncullah wajah Andrean dan Angel yang langsung tersenyum melihat keberadaan Lovi dan Devan.


“Wow Mommy Daddy sudah pulang ternyata. Sejak kapan? Sudah lama kah? Tidak mengabari aku padahal aku akan menjemput Mommy Daddy,”


“Kamu sama dengan Ian ya. Sama-sama berniat menjemput kami. Sengaja tidak bilang-bilang supaya bikin kalian kaget,”


“Aku pikir bukan hari ini, Mom,” ujar Andrean seraya tersenyum.


“Hahaha, ini kejutan, Sayang. Memang sengaja tidak mau bilang-bilang kalau akan sampai hari ini. Bagaimana rumah ini? Aman ya tidak ada Mommy dan Daddy?”


“Aman, yang di sini semuanya aman, Dad,”


“Terimakasih ya, kamu selalu bisa diandalkan,”


“Kalian kelihatannya lelah, silahkan masuk kamar masing-masing untuk beristirahat. Nanti malam kita makan bersama seperti biasa. Kalian berdua ‘kan sebentar lagi pindah, jadi tidak boleh melewatkan momen bersama satu kalipun,”


“Hmm Mommy, aku mau bicara sesuatu pada Mommy, Daddy, Ian dan Auris,”


Alih-alih pergi ke kamar, Andrean mengajak mereka yang Ia sebut namanya barusan untuk duduk dan Angel juga mengikuti.


“Sepertinya penting, ada hal apa, Sayang?” Tanya Lovi dengan sorot mata yang penasaran.


“Angel belum siap untuk meninggalkan rumah ini, mengingat belakangan ini ada yang meneror Angel. Di rumah kami nantinya memang tidak hanya kami berdua, tapi sepertinya Angel lebih aman di sini. Sampai aku dan Angel benar-benar siap barulah kami pindah, bolehkah kalau aku ambil keputusan itu?”


“Astaga, Andrean,”


Mereka tidak menyangka kalau Andrean akan bicara seperti itu. Padahal keputusan Andrean itu sudah tepat sekali, dan memang yang diinginkan oleh orang satu rumah yang tidak rela Andrean dan Angel pergi dari rumah itu.


“Memang itulah yang Mommy mau, semuanya mau. Sepi kalau berkurang personel kita. Waktu kamu berkata bahwa kalian ingin pindah, Mommy sedih tapi Mommy tidak bisa berbuat apa-apa karena itu sudah menjadi keputusan kalian sebelumnya. Setelah kalian berubah pikiran, kita semua senang sekali. Keselamatan Angel yang utama. Kalau di sini ‘kan ramai orang, banyak yang akan menjaga Angel,”


“Iya, Mom. Aku memikirkan Angel. Dia masih belum bisa melupakan trauma itu. Masih ada rasa takut, jadi aku tidak mau memaksakan Angel supaya mau pindah. Kami berdua sudah sepakat akan pindah kalau memang sudah sama-sama siap,”


“Iya itu bagus. Jangan dipaksa kalau memang Angel belum siap,” ujar Devan.


“Yeayy Angel tidak jadi pindah. Aku senang sekali. Sudahlah jangan pindah saja sekalian biar kita sama-sama terus, Angel,”


“Akan tetap pindah, Auris. Tapi tidak sekarang,” ucap Andrean yang langsung membuat Auristella merengut.


“Ih kenapa mau tetap pindah sih? ‘Kan di sini lebih menyenangkan karena banyak orang,”


“Ya justru itu kalau ramai-ramai, Mommy dan Daddy kasihan tidak bisa tenang,”


“Jangan bicara begitu, Ean. Kami senang kalau kita berkumpul. Sudah, sekarang tidak usah memikirkan pindah dulu. Di sini rumah kalian, rumah kita, jadi jangan sungkan untuk tetap bertahan di sini. Memang itulah yang Mommy inginkan. Jujur Mommy sulit melepaskan kalian. Mommy ingin bersama kalian lebih lama lagi, ya paling tidak sampai Mommy punya cucu lah jadi Mommy ada kesempatan mengurusnya sebentar sebelum kalian bawa kabur ke rumah kalian,”


“Hahahaha Mommy kenapa menyebutnya kabur? Itu ‘kan anak mereka, Mom,”


Auristella tertawa paling keras mendengar ucapan Lovi yang bicara dengan wajah seriusnya. Sempat merasakan satu rumah dengan cucu pasti menyenangkan, Lovi sudah bisa membayangkannya. Ia sempat berharap Andrean dan Angel pindah ketika mereka sudah punya anak saja, tapi ternyata mereka punya keputusan untuk pindah di akhir pekan ini. Ia bisa apa selain setuju. Ia tahu anak-anaknya punya hak untuk menentukan jalan hidup mereka masing-masing.


Berhubung Andrean sudah menikah dan mau hidup tanpa orangtua, jadi Andrean mengambil keputusan untuk memboyong istrinya keluar dari rumah orangtuanya. Berat sekali untuk Lovi menerima keputusan itu.


Lalu barusan tiba-tiba Andrean berubah pikiran karena memikirkan keselamatan dan juga kenyamanan istrinya yang masih belum berani hidup tanpa adanya keluarga di rumah mereka. Lovi senang karena dengan Angel memilih tetap tinggal di rumah ini, artinya Angel benar-benar sudah menganggap keluarga suaminya itu adalah keluarganya juga yang bisa membuatnya aman dan tenang.


“Ya sudah kalau begitu aku dan Angel pergi ke kamar dulu,”


“Iya-iya, silahkan. Jangan pikirkan pindah dulu ya,” ujar Lovi seraya mengedipkan salah satu matanya ke arah Angel yang langsung tersenyum.


“Iya, Mommy,”


Andrean dan Angel segera bergegas ke kamar mereka, sementara Adrian dan Angel masih bertahan di ruang tamu bersama kedua orangtua mereka.


“Mommy, Daddy, jadi Angel itu masih teringat terus dengan kiriman bangkai untuk dia. Dan sampai sekarang Andrean juga belum tau siapa yang jahat melakukan itu. Kasihan Angel, awal-awal setelah kejadian itu dia menangis. Aku ikut emosi ya pada orang jahat itu. Kenapa sih dia jahat pada Angel? Memang Angel salah apa coba? Aku tidak habis pikir. Seharusnya kalau memang Angel berbuat kesalahan, dibicarakan lah baik-baik, jangan malah mengirim hal-hal negatif seperti itu,” ujar Auristella berapi-api menjelaskan pada kedua orangtuanya tentang teror yang diterima oleh istri dari kakaknya itu.


“Apa itu saingan bisnis Daddy ya? Maksudku, ada orang yang tidak suka dengan pencapaian Daddy, atau tidak suka dengan keluarga Daddy, akhirnya Angel jadi korban,”


“Akan Daddy selidiki. Daddy berharap pelakunya tidak ada sangkut paut dengan Daddy. Karena Daddy akans angat merasa bersalah,”


“Kalaupun memang benar pelakunya melakukan itu karena benci pada Daddy, atau apa yang Daddy punya, ya sudah biarkan saja, Dad yang mengurusi semuanya,”


“Jangan dibunuh, Dad! Kemanusiaan jangan dilupakan,”


Devan tertawa mendengar pesan dari anak keduanya. Ia menepuk kedua bahu Adrian untuk menenangkan.


“Aman-aman, Daddy tidak akan menggunakan cara itu,”


“Ingat punya anak istri di rumah, Dad,”


“Iya selalu ingat, Ian,”


“Jangan bikin ulah yang bikin anak istri jadi kepikiran,”


“Ya ampun, memang siapa sih yang mau bikin ulah? Hmm? Tidak ada, Daddy hanya ingin meminta orang itu untuk berhenti mengganggu keluarga Daddy kalau memang pelakunya itu berulah karena Daddy,”


“Daddy banyak musuhnya, jadi hidup kurang tenang,”


“Ssst tidak boleh bicara begitu. Memang siapa sih yang mau punya musuh? Hmm?”


Lovi menegur anak perempuannya yang baru saja mengeluh kalau hidupnya kurang tenang karena sang ayah punya banyak musuh.


“Heh Auris, asal kamu tau ya. Di dunia ini, mau sebaik apapun, tiap manusia pasti punya haters, alias pembenci. Jadi mau baik mau jahat sebenarnya sama saja. Pasti ada yang tidak suka dengan kita, pasti ada yang benci kita. Bedanya hanya di jumlah saja aku rasa. Kalau orang baik, yang tidak sukanya hanya sedikit, yang benci hanya sedikit, dan kalau orang jahat kebalikannya. Kamu paham ‘kan? Jadi jangan menyalahkan Daddy lah. Daddy kaya, sukses, keluarganya dipandang orang harmonis, mungkin kehidupan Daddy di pikiran orang lain adalah kehidupan yang tanpa celah, akhirnya mereka benci pada Daddy,”


“Iya benar kata Ian dan Mommy. Daddy juga kalau boleh memilih tidak akan mau punya pembenci, Auris. Tidak enak, hidup selalu waspada jadinya, tapi ya mau bagaimana lagi? Yang benci kita itu pasti ada saja. Mereka iri dengan pencapaian kita, mereka iri dengan apa yang kita punya. Akhirnya jadi membenci,”


“Iya aku heran dengan orang-orang yang iri. Kenapa tidak fokus saja dengan tujuan hidup masing-masing? ‘Kan lebih tenang, lebih damai rasanya. Kalau rasa iri dijadikan motivasi untuk lebih maju lagi sih tidak apa-apa, aku mendukung. Tapi masalahnya di dunia ini sebagian besar manusia malah menyalahgunakan rasa iri. Yang harusnya jadi motivasi, jadi cambukan supaya usaha lebih keras dan mencapai apa yang diinginkan, malah rasa iri itu disimpan di hati, lalu akhirnya tumbuh lah rasa benci itu,”


“Sabar-sabar, jangan emosi. Tenangkan dirimu wahai adikku yang jelek seperti ikan nemo,”


Adrian memegang kedua bahu adik satu-satunya itu. Adrian bisa melihat emosi Auristella masih ada setelah bercerita tentang teror yang diterima oleh Angel.


“Kita berdoa saja semoga teror itu tidak datang-datang lagi,”


“Kalau teror itu datang lagi tolong daddy cari tau yang benar, Dad,”


Devan langsung bersikap hormat pada istrinya yang baru saja punya permintaan tolong supaya Ia mencari tahu siapa yang sudah berani meneror Angel hingga membuat Angel ketakutan.


********


Angel melihat suaminya tidak bergerak sama sekali dari posisinya ketika ponsel berdenting. Angel disergap rasa penasaran. Sementara suaminya terlelap tenang dengan wajah yang tenang membuat Angel juga segan untuk memberitahu suaminya bahwa ada pesan masuk. Angel berdehem pelan untuk mengetahui apakah suaminya benar sudah tertidur atau belum. Ternyata suaranya berdehem tidak membuat Andrean membuka mata sedikitpun.


“Kasihan kamu, Ean. Kelihatannya lelah sekali,” gumam Angel seraya mengusap rahang suaminya dengan lembut tanpa niat mengganggu.


Angel lagi-lagi mendengar denting tanda pesan masuk di ponsel suaminya malam ini. Ia yang penasaran akhirnya bergegas untuk mengambil ponsel Andrean dan diam-diam membaca pesan yang masuk itu.


“Tidak apa-apa ‘kan aku baca pesannya? Baru kali ini juga aku melakukannya,”


Sempat ragu melakukan itu, tapi Angel pikir tidak ada salahnya. Yang Ia lihat itu adalah ponsel suaminya sendiri. Dan Ia takut ada suatu hal yang penting makanya pesan itu masuk di malam hari. Makanya Ia semakin yakin untuk membaca pesan tersebut.


-Selamat malam, Andrean. Maaf mengganggu waktumu-


Pesan pertama sudah dibaca oleh Angel, dan itu berasal dari orang yang nomornya dinamakan Abraham oleh Andrean.


-Desain kafe mau kamu yang mempersiapkan atau perempuanmu? Hahaha, aku tunggu jawabannya ya, Andrean-


Angel mengernyit bingung setelah membaca pesan yang kedua. Ia tidak paham apa yang sebenarnya dibicarakan oleh seseorang bernama Abraham ini.


“Kafe? Kafe apa? Terus perempuan yang disebut ini siapa ya?”


Disaat Angel sedang kebingungan dan bertanya-tanya dalam hati, Andrean mengubah posisi tidurnya menjadi telungkup dan itu membuat Angel panik. Angel cepat-cepat mengembalikan ponsel suaminya di nakas, kemudian Ia berbaring masih dengan rasa penasaran yang tersisa.


“Angel, kenapa kamu belum tidur?”


Angel langsung menoleh ketika suaminya bertanya. Andrean kelihatan bingung melihatnya yang belum terlelap sementara Andrean sudah sempat tadi, walaupun sebentar.


“Iya aku belum mau tidur,”


“Tidurlah, jangan kurang tidur. Nanti kepalamu sakit,”


“Iya, tapi besok ‘kan aku libur kerja. Jadi tidak apa-apa kalau tidurnya sedikit lebih malam, Ean,”


“Oh besok kamu libur ya? Mau pergi kemana? Barangkali ada tempat yang mau kamu kunjungi,”


“Aku pikir di rumah saja, Ean. Aku mau istirahat. Tapi kalau memang mau pergi, nanti aku katakan padamu ya,”


Andrean menganggukkan kepalanya sambil tersenyum setelah itu mengusap kepala istrinya sebentar.


“Ya sudah aku mau lanjut tidur lagi,”


Angel mengangguk, alih-alih membahas pesan yang barusan Ia baca, Angel membiarkan suaminya untuk lanjut istirahat.


Setelah suaminya memejamkan mata, Angel mengubah posisi menjadi miring membelakangi Andrean.


“Aku masih kepikiran soal pesan tadi. Abraham itu siapa? Kafe apa yang dimaksud Abraham? Dan perempuan mana?”


“Angel, kamu baik-baik saja?”


“Hah? Iy—iya, aku—aku baik-baik saja. Memang kenapa, Ean?”


“Aku dengar kamu bicara tapi pelan sekali, dan aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas,”


Angel langsung menggigit bibir bawahnya. Ia pikir hanya bergumam di dalam hati tapi ternyata gumamannya keluar dari mulut dan itu sampai ke telinga Andrean.


“Tidak, aku tidak bicara apapun,”


“Kamu yakin? Apa yang kamu pikirkan?”


“Tidak ada,”


“Kenapa bicara sendiri tadi?”


Andrean akan tak acuh pada orang lain, tapi kalau pada istrinya sendiri Ia tidak bisa. Selalu ada rasa ingin memastikan Angel baik-baik saja, Ia selalu ingin tahu apa yang Angel lakukan, apa yang Angel pikirkan. Ketika Angel berbaring memunggunginya, dan Ia mendengar suara pelan Angel, Ia bisa menebak ada yang sedang Angel pikirkan.


“Kalau ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan padaku, silahkan. Aku akan jadi pendengar yang baik,”


Angel langsung menganggukkan kepalanya. Momen dimana Ia merasa curiga suaminya tengah mempersiapkan sesuatu bersama yang entah berupa apa, ternyata benar begitu. Dan kafe di depannya ini menjadi bukti.


“Astaga, jujur aku sempat curiga padamu. Aku pikir—kamu sedang mempersiapkan kejutan untuk—maaf—perempuan lain, ternyata—“


Andrean tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Kemudian Ia menekan kedua pipi Angel dan tak lupa menyematkan kecupan di bibirnya.


“Tidak apa, Sayang. Kamu boleh sepuas hati mencurigai aku, tapi perlu aku tegaskan. Aku tidak ingin macam-macam di belakangmu, cukup kamu, tidak ada yang lain,”


“Kamu suka dengan kafe yang aku buat untukmu ini?”


“Aku sangat menyukainya. Terima kasih, Ean, tapi seharusnya kamu tidak perlu menyiapkan ini untukku karena aku rasa, aku tidak pantas mendapatkannya,”


Andrean langsung merangkum wajah Angel kemudian menggelengkan kepalanya sambil berkata “Kamu jangan bicara seperti itu. Semuanyang aku berikan untukmu memang pantas kamu dapatkan, Sayang. Maaf ya sempat membuatmu bingung atau bahkan curiga. Aku memang niat memberimu kejutan. Aku sengaja membuatkan kafe ini untukmu supaya kamu tidak perlu bekerja pada orang lagi. Aku ingin kamu bekerja tidak di bawah tekanan orang lain. Dengan adanya kafe sendiri kamu bisa bebas mengatur jam kerjamu, kamu tidak akan kelelahan,”


Angel mengangguk dengan senyum harunya. Ia langsung memeluk sang suami yang sudah membuatnya bahagia sekali hari ini. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Andrean sudah mempersiapkan kejutan yang luar biasa untuknya. Andrean mewujudkan mimpi yang selama ini Ia pendam karena Ia tahu bahwa untuk memiliki usaha sendiri rasanya tidak akan mungkin. Tapi ternyata Andrean mewujudkan itu.


“Terimakasih, Andrean. Terimakasih untuk semua kebaikanmu. Aku menyayangimu,”


“Kamu tidak perlu mengucapkan terimakasih karena apapun yang membuat kamu bahagia akan aku usahakan, dan aku juga sangat menyayangimu,”


“Aku mencintaimu,”


Angel lebih mengeratkan pelukannya dan Andrean pun melakukan hal serupa sambil menjawab “Aku juga sangat mencintai kamu, Sayang, semoga kamu bahagia dengan apa yang aku berikan ini. Dan maaf kalau masih ada kurangnya ya,”


“Astaga, ini tidak ada kurangnya sedikitpun. Dibuatkan kafe, dan ini bagian dari mimpiku. Mana mungkin aku merasa kurang?”


“Aku harap kamu benar-benar bahagia, Sayang,”


“Iya tentu, aku benar-benar bahagia. Kamu luar biasa ya mau membuat aku bahagia? Usahamu tidak main-main,”


“Ya, makanya aku tidak mengizinkan siapapun membuat kamu sedih atau sakit hati. Karena aku tau kebahagiaan kamu itu sederhana, jadi siapapun yang tidak membuat kamu bahagia setidaknya jangan membuatmu sedih atau kecewa,”


“Terserah padamu mau mulai aktif kapan di kafe ini. Kalau belum siap dalam waktu dekat tidak apa, dan ingat pesanku ya, jangan pernah kamu abaikan kesehatan diri kamu sendiri dan juga anak kita,” ujar Andrean sambil mengusap perut istrinya dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2