
“Kakakmu dan ayahmu kabarnya baik-baik saja?”
“Ya, Ian. Terimakasih sudah baik menanyakan mereka,”
“Tentu, mereka juga keluargaku. Aku akan baik pada orang yang baik,”
Angel tersenyum, Adrian tidak perlu tahu apa saja yang dikatakan oleh kakaknya barusan. Pasti penilaian Adrian terhadap kakaknya akan berubah. Pasti sikap Adrian juga akan berbeda.
“Kamu besok mau jalan-jalan ke air terjun?”
“Oh iya, aku tidak mau ketinggalan tentunya,”
“Angel, kamu kenapa di sini? Tidak tidur? Aku cari-cari, kamu buat aku khawatir. Ternyata malah bicara berdua di sini dengan Ian,”
Adrian dan Angel terkejut ketika tiba-tiba Andrean masuk ke ruang makan. Keduanya langsung tersenyum.
“Hai Ean,” Angel menyapa suaminya yang rambut sedikit berantakan, wajah kusut khas bangun tidur.
“Ayo tidur, kenapa malah di sini sih?”
“Aku tidak bisa tidur makanya aku ke sini. Lalu tiba-tiba Ian datang untuk ambil minum. Ya sudah kita mengobrol di sini,” ujar Angel menjelaskan pada suaminya yang bingung melihat Ia dan Adrian malah bicara berdua di ruang makan, alih-alih tidur.
“Ini sudah tengah malam, Angel. Jangan dituruti rasa tidaj mau tidur itu. Ayo kita ke kamar, tidur. Dan kamu juga Ian. Tidurlah, dipaksa dengan cara pejamkan mata. Nanti juga tidur,”
“Sebenarnya tadi sudah sempat tidur sebentar tapi aku terbangun karena aku merasa haus,” ujar Adrian.
“Ya sudah berhubung ini belum pagi jadi tidur lagi lah,“
“Iya iya iya, ini aku mau tidur,”
Adrian beranjak lebih dulu meninggalkan meja makan, tersisa lah Angel yang kini menatap Andrean masih dengan posisi duduk.
“Kamu kenapa bangun?”
“Aku sadar kamu tidak ada di sebelahku makanya aku terbangun, dan aku khawatir mencari kamu. Ternyata malah di sini dengan Ian,”
“Ya hanya mengobrol, karena kebetulan sama-sama belum tidur, Ean,”
“Ya sudah ayo tidur,”
Andrean mengulurkan tangannya ingin mengajak istrinya ke kamar namun Ia mendapatkan penolakan dari istrinya itu.
“Ayolah, Sayang. Kenapa kamu masih nyaman di sini padahal jelas-jelas di kamar lebih nyaman. Kamu harus segera tidur, Angel. Kamu mau sakit? Hmm? Kamu harus ingat apa kata dokter. Kamu tidak boleh kekurangan istirahat, pola istirahat, pola makan, itu semua harus diatur dengan baik,”
Diingatkan soal ucapan Dokter, Angel langsung beranjak meninggalkan kursi yang Ia duduki.
“Okay ayo kita tidur,”
“Baru ingat ya kamu itu tidak boleh kurang istirahat karena kasihan bayi kita kalau sampai tengah malam begini ibunya belum juga beristirahat,” ujar Andrean yang diangguki oleh Angel.
“Iya aku minta maaf,”
“Okay, Sayang. Kamu tidak perlu meminta maaf, hanya dengarkan saja apa kata dokter, itu sudah lebih dari cukup,”
“Tapi aku memang benar-benar belum mau tidur,”
“Dicoba dulu, pejamkan matamu lalu diam. Aku yakin nanti perlahan kamu akan dijemput oleh alam mimpi, okay?”
“Okay,”
Angel langsung menggenggam tangan Andrean dan mereka berjalan ke kamar untuk beristirahat. Sekarang Andrean sudah tenang. Tadi Ia khawatir sekali istrinya tiba-tiba menghilang. Tanpa pikir panjang Ia segera keluar dari kamar mencari sang istri yang ternyata sedang mengobrol dengan adiknya di meja makan. Ia pikir Angel menghilang atau dihilangkan, Andrean lumayan takut juga mengingat ini tempat asing bagi mereka. Dan belum hilang dari ingatan bagaimana Angel diteror dengan jahatnya menggunakan bangkai hewan.
Ketika Angel hilang dari kamar tadi, jujur saja pikiran buruk sudah menguasai Andrean. Lelaki itu takut seseorang yang jahat sudah melakukan sesuatu pada istrinya.
“Selamat malam, Ean,”
“Malam, ingat ya jangan keluar-keluar kamar lagi. Pejamkan matamu sekarang kita tidur dan bangun besok pagi untuk menjelajah daerah sini, kita akan pergi menghampiri air terjun, okay?”
“Okay, Ean,”
Angel langsung memejamkan matanya dengan posisi memeluk sang suami. Walaupun Ia belum bisa tidur tapi Ia melakukan apa yang disebutkan oleh suaminya barusan yaitu memaksakan diri untuk tidur dengan cara memejamkan mata.
Kurang lebih satu jam Angel memejamkan mata tapi masih belum ada di alam mimpi. Padahal Andrean sudah tertidur lagi. Angel menghembuskan napas pelan sambil memarahi dirinya sendiri di dalam hati.
“Ayo tidur-tidur, Angel! Kamu harus ingat kalau kamu tidak boleh kekurangan istirahat. Lagipula kenapa sih tidak bisa tidur? Ayolah tidur sekarang, bodoh!” Batin Angel.
Setelah dua jam berkutat dengan ketidakmampuannya untuk tertidur, akhirnya Angel bisa tidur juga dengan wajahnya yang damai, deru napas teratur, dan masih memeluk suaminya.
*******
“Hei bayar hutang kalian! Jangan sembunyi di dalam rumah!”
Geno mengamati orang yang datang ke rumahnya itu diam-diam melalui jendela. Geno tentu tidak akan keluar dari rumah untuk menemui mereka karena Ia tidak punya uang untuk membayar hutang.
“HEI GENI GESTY KELUAR SEKARANG ATAU KAMI BUKA SECARA PAKSA RUMAH KALIAN!”
Geno langsung menegang, Ia tidak mau kalau sampai pintu rumahnya dibuka secara paksa yang akhirnya nanti malah merusak tapi Ia tidak punya keberanian untuk menemui mereka karena Ia belum pegang uang. Ia takut dicaci maki, atau bisa saja diperlakukan dengan keras karena belum bisa membayar hutang.
Tiba-tiba Gesty datang dari kamarnya karena mendengar suara yang mengusik telinganya.
Ia melihat sang ayah yang sedang mengamati dari balik jendela yang ditutup oleh tirai.
“Ayah sedang apa?”
“Ssst diam kamu! Mereka datang menagih hutang kita,”
“Astaga, sudah ditagih lagi,”
“Ya tentu saja karena memang sudah jauh dari jatuh tempo,”
“Lalu bagaimana? Mereka dibiarkan saja berteriak seperti tu? Telinga kita bisa rusak, Yah. Lagipula tidak enak juga kalau sampai ada yang mendengar,”
“Tidak ada yang peduli,“
“Ayah saja yang keluar menemui mereka. Minta mereka untuk sabar,”
“Kamu seenaknya menyuruh ayah? Kenapa tidak kamu saja? Kamu yang menghabiskan yang itu lebih banyak,”
“Tapi ayah menggunakannya juga ‘kan, dan Ayah perlu ingat, dimana-mana orangtua itu selalu ingin maju paling depan, maju paling awal untuk menghadapi apapun bukan malah menyuruh anaknya. Aduh, ayah ini bagaimana sih? Tidak punya hati? Kenapa malah anaknya yang disuruh untuk menemui para penagih hutang itu?”
“Ya karena kamu paling banyak menikmati uang dari mereka!”
“Sama saja, Ayah. Kita sama-sama menggunakan uang itu,”
Ayah dan anak itu terus-terusan bicara pelan supaya orang-orang yang sedang berada di luar tidak mendengar interaksi mereka.
“Ayah, cepat keluar!”
“Sembarangan kamu. Enak saja menyuruh ayah. Lebih baik kamu saja, biar kamu yang menghadapi amarah mereka, biar kamu yang disakiti oleh mereka. Ayah tidak akan mau!” Setelah berkata seperti itu, Geno langsung bergegas ke kamarnya meninggalkan Gesty yang menggeram kesal.
“Dasar ayah tidak bertanggung jawab! Hanya bisa berhutang lalu giliran ditagih, aku yang harus menemui mereka. Apa yang akan aku katakan pada mereka? kalau seandainya mereka menyakiti aku bagaimana? Kalau mereka membunuh aku bagaimana? Hih, jangan sampai! Seharusnya memang Angel ini yang membayar hutang. Karena dia punya uang yang banyak jadi harus dia yang tanggung jawab,”
Gesty bergegas ke kamarnya mengambil ponsel untuk menghubungi sanga dik. Angel harus tahu bahwa ada yang datang ke rumah untuk menagih hutang, dan Gesty ingin adiknya yang membayar hutang tersebut karena Angel mampu melakukannya.
“Sialan! Kenapa teleponku dimatikan?!”
Gesty mencengkram ponselnya emosi karena panggilannya malah ditolak oleh Angel. “Dia semakin besar kepala! Tidak tau diri! Bisa-bisanya dia melupakan keluarganya sendiri,”
******
“Ean, ada apa dengan ponselku? Kenapa kamu melihatnya dengan serius?”
Andrean terkesiap ketika didatangi oleh istrinya. Ia dengan cepat mengirimkan pesan yang sudah Ia ketik untuk kakaknya Angel yang barusan menghubungi Angel.
“Kakak kamu telepon,”
“Oh ya? Kamu jawab teleponnya?”
“Tidak, aku hanya mengirimkan pesan, lalu aku blokir kontaknya,” ujar Andrean dengan santai sambil menyerahkan ponselnya di tangannya kepada sang pemilik.
“Astaga, kenapa kamu blokir? Nanti kalau aku tau kabar mereka bagaimana?”
“Kamu kenapa, Angel? Orang yang mengganggu sudah seharusnya diblokir supaya tidak ada akses apapun untuk mengganggu kamu,”
“Jangan, Ean,”
“Sayang, kontaknya sudah pernah aku blokir lalu kenapa kamu unblokir?”
“Ya karena aku tidak mau kehilangan akses untuk komunikasi dengan kakak dan ayahku, Ean,”
“Astaga, Angel bisa tidak kamu pikirkan kesehatan kamu sendiri? Kamu pikirkan keadaan kamu sekarang. Kalau kamu terus menerus diganggu oleh mereka bagaimana kamu bisa hidup tenang, hidup bahagia hmm?”
“Iya tapi mereka tetap keluargaku, Ean,”
“Aku tau, Sayang. Tapi mereka menghubungi kamu tujuannya untuk mengusik, kamu bisa stres memikirkan mereka terus,”
“Kamu jangan bicara seperti itu. Aku menyayangi keluargaku!”
Andrean terperangah ketika Angel membentak. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Angel akan bersikap seperti itu padahal Ia hanya ingin Angel tenang, tidak diganggu oleh keluarganya sendiri.
“Angel, kamu membentakku?”
Angel langsung menatap suaminya penuh rasa sesal. Ia benar-benar tidak ada maksud untuk membentak suaminya.
Ia hanya terlalu eksal ketika suaminya memblokir kontak sang kakak, dan seolah tidak ingin sekali bila Ia masih berkomunikasi dengan kakak dan juga ayahnya.
“Padahal aku hanya tidak mau mereka mengganggu kamu. Tapi kamu memberikan akses. Ya sudah kalau memang itu mau kamu. Maafkan aku kalau kesannya aku terlalu ikut campur,” ujar Andrean setelah itu beranjak meninggalkan kamar karena kebetulan pintu kamar juga diketuk oleh Auristella.
“Ayo kita masuk bus kita ‘kan mau jalan-jalan, ke air terjun itu, Ean,”
“Iya tunggu sebentar aku ambil handphone,”
Andrean hampir saja meninggalkan ponsel genggamnya di nakas. Ia segera mengambilnya tanpa menatap Angel yang saat ini sedang membeku, Andrean keluar dari kamar begitu saja tanpa mengatakan apapun pada istrinya.
Andrean melewati Auristella yang masih berdiri di depan pintu kamar. Auristella merasa ada yang aneh antara Angel dan kakaknya.
“Angel, ada apa sama kamu dan Ean?” Tanya Auristella pada Angel yang langsung terkesiap mendapat pertanyaan dari adiknya itu.
“Hmm?“
“Kamu dan Ean ada masalah ya? Kelihatannya begitu,”
“Tidak, Auris
“Oh benarkah? Tapi Ean tampak dingin padamu. Dan kamu juga diam saja, wajah kalian kelihatan seperti orang yang lagi ada masalah. Benar ya dugaanku?”
“Hahahaha tidak, Ris. Aku dan Ean tidak ada masalah,”
Angel berusaha menutupi. Padahal sebelumnya Ia baru saja terlibat adu pendapat dengan Andrean dan berujung Ia membentak Andrean.
“Ya sudah ayo kita naik ke bus. Nanti kita ditinggal,”
Angel menganggukkan kepalanya. Ia langsung mengambil tas kecil miliknya yang Ia isi dengan dompet dan ponsel genggam setelah itu Ia keluar dari kamar. Ia berjalan dengan Auristella menghampiri bus yang sudah siap untuk berangkat.
“Ean kenapa kamu meninggalkan istrimu sendiri sih?”
Begitu tiba di dalam bus, Auristella langsung menegur kakak tertuanya itu. Biasanya Andrean selalu ingin dekat dengan istrinya. Dugaan kalau Angel dan Andrean sedang ada masalah semakin kuat. Auristella semakin yakin kalau ada sesuatu yang membuat situasi di antara Angel dan juga Andrean jadi dingin.
Tadi Andrean pergi begitu saja dari kamar, raut wajahnya juga datar tapi seperti menahan rasa kesal. Angel juga diam saja tadi, tidak bicara apapun pada suaminya ketika memutuskan untuk pergi lebih dulu.
“Kalian ada masalah?” Tanya Auristella pada sepasang suami istri itu.
“Tidak ada,” Andrean jawab dengan tegas. Menurut Andrean Ia dan Angel memang tidak mempunyai masalah apa-apa tapi kalau Angel menganggap pembahasan tadi adalah sebuah masalah, Ia bisa apa selain menerima saja. Angel tidak mau ketika Ia sebagai suami membatasi interaksi antara Angel dengan keluarganya yang suka sekali mengganggu Angel.
“Kalian yakin?”
“Iya, aku merasa tidak punya masalah apapun dengan Angel,”
“Aku juga,” jawab Angel.
“Tapi kenapa dingin ya?”
“Dingin bagaimana maksud kamu, Auris? Sudahlah jangan terlalu ikut campur urusan kakak sendiri,”
“Ya justru karena kamu adalah kakakku makanya aku ingin ikut campur sedikit. Aku hanya ingin tahu kamu dan Angel kenapa? Itu saja yang buat aku penasaran,”
“Ya tidak ada apa-apa, Ris,”
“Auris, sudah-sudah, jangan banyak bicara, kita siap untuk jalan,” Devan menengahi perdebatan antara Auristella yang tidak terima dilarang ikut campur padahal Ia tidak ikut campur terlalu jauh Ia hanya penasaran dengan penyebab dinginnya Andrean dan Angel.
“Iya siap, Dad,”
“Kalau ada masalah pasti mereka tidak mau lah duduk bersebelahan, itu buktinya mau,” ujar Adrian yang justru memperpanjang pembahasan padahal adiknya sudah tak membahas lagi.
“Iya sih, kamu benar,” jawab Auristella.
“Kamu dan Adrina kalau berdebat pasti tidak mau dekat-dekat ‘kan?”
“Apa sih? Kok jadi aku dan Adrina yang dibawa-bawa?”
Auristella tertawa mendengar ucapan Adrian yang tidak terima ketika Ia dan Adrina diserupakan dengan Andrean juga Angel.
__ADS_1
“Biasanya kalau sepasang kekasih atau suami istri lagi berdebat itu suka jauh-jauhan,”
“Duh Auris, sepertinya kamu pengalaman sekali. Sering ya bertengkar dengan kekasih? Hmm?”
“Ian! Aku pukul mulutmu sampai maju ke depan ya?”
Tawa Adrian pecah seketika. Ia senang mendengar kakaknya kesal karena ucapannya. Lagipula Adrian yang mulai lebih dulu memulai.
Jelas-jelas Ia belum memiliki kekasih, malah diejek sering bertengkar dengan kekasih makanya jadi tahu gerak-gerak sepasang kekasih kalau lagi ada masalah.
“Yang berdebat, boleh diturunkan dari bus ‘kan, Dad?” Tanya Andrean.
“Oh boleh-boleh, silahkan keluarkan saja mereka yang berdebat, yang boleh ikut hanya yang tenang-tenang saja,”
“Ian dulu yang mulai, Dad. Dia mengejek aku padahal jelas-jelas aku tidak punya kekasih,”
“Ya sudah diamkan saja daripada kamu tanggapi nantinya jadi panjang, tidak selesai-selesai,”
Auristella menganggukkan kepalanya walaupun sebenarnya Ia tidak mau kalah. Ia kesal ketika mulutnya disuruh diam padahal yang menyebalkan itu kakaknya.
“Adrina, harus sabar ya. Angel sudah mulai kebal, Aunty harap kamu belajar untuk kebal juga menyaksikan pertengkaran mereka,”
Adrina terkekeh dan menganggukkan kepalanya. Ia sudah bisa dibilang terbiasa. Karena memang sudah kenal sejak kecil. Hanya saja memang tidak setiap hari menyaksikannya. Ternyata menyenangkan juga, karena Ia tak pernah menyaksikan itu di rumah sebab anak satu-satunya.
******
“Aku hubungi Angel tadi, tiba-tiba dia katikan lalu dia blokir nomorku. Entahlah, kenapa dia bersikap seperti itu padahal biasanya tidak. Aku bingung itu suaminya atau justru dia sendiri? Kalau dia sendiri, berarti dia sudah jahat. Dia tidak mau menerima panggilanku, dia juga memblokir nomorku,”
“Lalu sekarang kamu mau kemana?”
Geno bertanya pada anaknya yang sudah berpenampilan rapi kelihatan ingin pergi. Gesty sudah tidak bekerja lagi, dan kelihatan santai tidak ada usaha untuk mencari pekerjaan baru.
“Mau ke rumah temanku, Yah,”
“Apa? Kamu mau senang-senang dengan temanmu? Iya?! Bodoh! Bukannya cari pekerjaan baru,”
“Aku belum menemukannya,”
“Ya cari saya kamu menemukan pekerjaan yang baru. Jangan mudah menyerah,”
“Ayah itu kenapa sih?! Menuntut aku untuk kerja terus semtara ayah di rumah saja! Sekalipun pergi tidak jelas pergi kemana! Minum, main perempuan, iya ‘kan?!”
Geno menampar pipi anaknya yang sudah lancang bicara seperti itu. “Kamu sudah keterlaluan! Kamu tidak berhak berkata seperti itu apda atah!”
Gesty menggertakkan giginya kesal lalu bergegas pergi meninggalkan rumah dengan hati yang panas. Panggilan Geno Ia abaikan begitu saja.
“GESTY! JANGAN PERGI KAMU!”
“GESTY!”
“GESTY! KURANG AJAR KAMU YA!”
Walaupun Geno sudah mengeluarkan suaranya yang keras tapi Gesty tetap saja berjalan mengabaikan ayahnya padahal ayahnya sampai sakit tenggorokan memanggil Ia berulang kali dengan suara yang keras
“Anak kurang ajar! Tidak tahu diuntung. Disuruh untuk mandiri malah maunya mengemis terus!”
Gesty langsung naik mobil temannya yang sudah datang menjemput. Ia menghembuskan napas lega setelah berhasil keluar dari rumah dan duduk dengan tenang di mobil.
“Kenapa? habis bertengkar lagi dnegan ayahmu?”
“Iya, biasalah. Dia menyuruh aku untuk bekerja,”
“Sepertinya, setelah adikmu itu menikah, kamu yang jadi sasaran ayahmu ya?”
“Ya kamu benar, Letta. Memang aku yang sekarang jadi pengganti adikku. Dia hiduo enak, sekentara aku kebalikannya,”
“Kalau mau hidup enak mungkin kamu harus jadi adikmu dulu, atau paling tidak kamu berubah menjadi anak yang baik seperti adikmu—“
“Letta bisa jangan bandingkan aku dengan dia tidak? Hmm? Di rumah ayahku sudah membandingkan aku dengan anak itu, lalu sekarang kamu juga melakukan hal yang sama. Kamu ini temanku atau teman Angel sebenarnya? Hah? Jadi maksud kamu, aku ini harus jadi anak yang baik dulu, artinya selama ini aku jahat ya?”
“Ya…aku tidak bilang kamu jahat sebenarnya. Tapi aku bilang, kamu mungkin harus, berubah menjadi seperti adikmu supaya nasibmu seberuntung dia. Lihatlah dia sekarang. Katamu, dia menikahi pria kaya raya ‘kan? Suaminya kaya, orangtuanya juga kaya. Nah, kamu juga jangan mau kalah. Cari pria yang kaya, yang keluarganya juga kayak, bisa menerima kamu apa adanya itu lebih penting lagi,”
“Ya masalahnya aku cari dimana? Cari di tempat sampah?!”
Letta tertawa mendengar jawaban Gesty yang sebenarnya juga mau mendapatkan pasangan yang seperti Andrean. Tapi masalahnya tidak semudah itu.
“Ya sudah kalau kamu tidak bisa mendapatkannya, maka adikmu juga seharusnya tidak bisa ya,”
“Tapi kenyataannya dia bisa,”
“Iya sayang sekali ya. Dia bisa dan kamu tidak bisa,”
“Malah sekarang dia mengandung,”
“Apa?! Wow kebahagiaannya sudah lengkap, Gesty. Kamu kalah jauh hahahaah,”
“Sialan kamu, Let! Aku juga tidak mau hidup sengsara serba kekurangan seperti ini,”
“Aku ada tawaran menarik untukmu. Barangkali kamu mau menjadi waitres,” ujar Letta sambil fokus menyetir mobil.
“Apa? Kamu punya tawaran pekerjaan untukku? Kamu yakin?”
“Iya, mana mungkin aku menawarkannya padamu kalau aku tidak benar-benar yakin ada tawaran itu. Kamu mau atau tidak? Barangkali kerja di tempat yang ini kamu bisa menjerat pria kayak rata seperti suaminya Angel,”
“Ya kalau tidak bisa dapat pria kayak lain, lama-lama nanti aku yang menjerat suami dia,”
“Astaga, hahahaha. Apa yang kamu katakan barusan, Gesty? Dia adikmu, apa kamu tega merebut suami dari adikmu sendiri?”
“Diansaja tega menelantarkan kakak dan ayahnya di sini dengan hidup serba kekurangan,”
“Tapi bukankah dia masih mengirimkan uang untuk kamu dan ayahmu?”
“Tapi kurang!”
“Bersyukur lah, Gesty. Tanpa kamu bekerja, dia masih punya rasa kasih sayang untuk kalian berdua,”
“Kamu membela Angel terus, kamu teman dia ya?”
“Tidak, jangan bicara seperti itu. Aku temanmu, Gesty. Tapi aku sedikit kesal ketika mendengar kamu tidak bersyukur seperti ini. Aku pikir Angel sudah berhenti mengirimkan uang untuk kamu dan Paman Geno makanya kamu bicara seperti tadi, tapi ternyata dia masih mengirimkan uang. Itu tandanya dia masih menyayangi kalian. Lagipula yang aku tau sebenarnya ya, tidak ada tanggung jawab untuk seorang anak membiayai orangtua dan kakaknya. Mau membiayai atau tidak itu tergantung hatinya dia saja. Kalau dia baik mau membiayai ya syukurlah. Tapi kalau tidak, ya tidak masalah,”
“Tapi dia ‘kan sudah banyak uang ya seharusnya dia banyak juga lah mengirimkan uang untuk aku dan ayah,”
“Ya mungkin dia tidak berani menggunakan uang dari suaminya, Gesty. Uang suaminya itu ‘kan untuk keperluan mereka berdua, kalau dikirim yang banyak untuk ku dan palan Geno, Angel otomatis tidak enak hati pada suaminya. Cari uang ‘kan tidak mudah,”
“Ya aku tau! Aku sudah merasakannya maka dari itu aku malas cari uang lagi,”
*******
Andrean menegur Angel yang sedang fokus dengan ponselnya. Andrean pikir, mungkin istrinya itu sedang berkomunikasi dengan orangtua atau kakaknya jadi fokus menatap ponsel.
“Iya aku tau,”
“Ya kalau tau simpan dulu lah handphone kamu itu,”
Andrean bicara sangat datar pada Angel, biasanya tidak seperti itu. Jada bicaranya yang seperti ini mengingatkan Ia ketika masih menjadi temannya Angel, dan awal-awal mereka menikah.
Angel langsung menyimpan ponselnya di dalam tas kecil lalu memfokuskan pandangan ke bebatuan yang hendak Ia lalui menuju air terjun.
Walaupun dengan perasaan kesal setelah berdebat dengan Angel karena permasalah memblokir kontak Gesty tadi, tapi Andrean tetap berusaha untuk menjadi suami yang baik dengan menjaga Angel dari belakang. Andrean berjalan di belakang Angel dan matanya juga selain fokus dengan langkahnya sendiri, fokus juga dengan pangkah istrinya. Ia lihat Angel menunduk terus dan ternyata menatap ponsel makanya Ia suruh untuk berhenti sibuk dengan ponsel karena itu akan membahayakan keselamatannya.
“Mereka itu kenapa sih? Sepertinya benar ada masalah ya?”
Auristella melihat interaksi di antara Andrean dan Angel yang tampak berbeda. Dugaan kalau mereka sedang ada masalah semakin kuat.
“Jarang bicara berdua, biasanya ‘kan sering bahkan setiap waktu. Sekarang kenapa beda ya?”
Auristella melangkahkan kakinya sambil memikirkan kira-kira masalah apa yang sudah membuat Andrean maupun istrinya jadi saling diam dan dingin seperti ini.
“Okay kita sudah tiba,”
suara Devan lumayan keras tapi kalah dengan suara derasnya air terjun.
“Yeayy terimakasih Daddy Mommy sudah mengajak aku ke sini. Aku mau langsung berkenalan dengan airnya,”
“Sama-sama, iya boleh. Hati-hati ya,” pesan Devan pada anak perempuannya yang minta dipegang tangannya ketika hendak turun ke dalam kolam alami tempat dimana air terjun tumpah ruah.
“Angel, kamu yakin mau ikut masuk? Itu dingin, kamu kuat atau tidak?”
“Kuat, kamu tidak perlu khawatir,”
“Lebih baik tidak usah, kamu cukup nikmati pemandangan air terjunnya saja daripada bahaya untuk kamu,”
“Memang bahayanya apa? Aku tidak lompat-lompat, tidak tidur di atas air, tidak—“
“Iya iya aku tau, aku hanya khawatir. Tapi kalau kamu memang susah untuk diatur ya sudah terserah kamu ya,” ujar Andrean. Sebenarnya sudah lama Andrean ingin bicara seperti itu karena jujur menurut Andrean selama hamil ini Angel jadi sulit diarahkan. Angel bisa dibilang jadi sosok yang suka keras kepala, susah untuk diberitahu bahwa ini kurang baik untuknya. Padahal apapun yang Ia katakan tujuannya untuk kebaikan Angel juga, bukan sebaliknya.
“Biarkan Angel ikut mencoba air terjunnya, Ean. Kamu jangan terlalu khawatir takutnya malah membuat Angel jadi merasa dikekang. Angel hanya hamil, Sayang. Bukan sakit, biarkan dia ikut menjelajah,”
Lovi yang tahu perasaan anaknya hanya tentang khawatir kepada sang istri langsung mengajaknya bicara pelan-pelan memberi pengertian. Lovi mengusap bahu Andrean dengan lembut.
“Iya, Mom. Aku hanya khawatir,“
“Iya Mommy tau maksud kamu, Sayang. Tapi biarkan Angel mencoba secara langsung air terjunnya dan kamu boleh ikut dia juga, sekaligus menjaganya. Kalau hanya memperhatikan memang kurang lengkap rasanya, Ean. Harus mencoba langsung. Jarang ‘kan bisa menyatu dengan alam seperti ini,”
Andrean menganggukkan kepalanya. Ia langsung menghampiri Angel. Menikmati air terjun yang dingin sekali sambil Ia menjaga istrinya.
“Tolong foto aku dan Drina,”
Adrian meminta tolong pada Auristella yang sedang sibuk bermain serangan air dengan Angel.
“Ah kamu ganggu saja,”
“Foto untuk kenangan, adikku tersayang. Nanti kamu kalau mau foto denganku juga boleh, tenang saja,”
“Hih aku tidak kau foto dengan kamu,”
“Untuk kenang-kenangan, kamu tetap tidak mau? Padahal jarang ‘kan kita foto bersama apalagi dengan latar air terjun seperti ini. Sekarang tolong foto aku dan Adrina dulu,”
Auristella langsung mengabadikan momen Adrina dan Adrian dari mulai Adrian yang merangkul Adrina hingga kepala mereka melekat satu sama lain, lalu pose yang paling manis adalah ketika Adrian menggendong Adrina di belakang.
Awalnya sempat ada pertentangan dari Adrina namun Adrian memaksa Adrina untuk naik ke atas punggungnya.
“Kamu yakin? Aku berat, Ian,”
“Tidak apa, ayo cepatlah,”
“Okay jangan marah kalau kamu keberatan ya,”
“Mana mungkin aku marah,”
Adrina langsung naik ke atas punggung Adrian dan mereka tertawa bersama saat itulah Auristella mengabadikan dengan kamera ponsel Adrian.
Angel yang mengamati kebersamaan Adrian dan Adrina tersenyum. Dalam hati Ia berdoa yang terbaik untuk hubungan mereka.
“Mereka serasi ‘kan?”
Tiba-tiba Andrean merangkul bahu Angel yang masih mengamati kebersamaan Adrian dengan Adrina. Angel menoleh ke samping kanannya dan Ia tersenyum sambil mengangguk.
“Ya mereka serasi,”
“Menurut aku juga begitu,”
“Kamu tidak mau foto dengan aku, Ean?”
“Kamu memangnya mau? Sudah tidak marah padaku lagi? Hmm?”
Mendengar pertanyaan dari suaminya, rasa bersalah kembali datang. Angel bisa melihat sorot kecewa di mata suaminya masih ada. Tidak seharusnya Ia sampai membentak Andrean hanya karena Andrean memblokir kontak Gesty. Padahal selama ini Andrean selalu bicara baik-baik kepadanya, tapi entah kenapa tadi Ia hilang kendali. Seharusnya Ia juga bisa bicara baik-naik kepada suaminya yang tidak salah apapun karena niat Andrean bersikap tegas seperti tadi untuk memastikan Ia menjalani kehidupannya dengan tenang tanpa ada gangguan dari pihak manapun.
“Ean, aku minta maaf padamu. Maaf sudah menyakiti hati kamu, maaf sudah melontarkan ucapan yang tidak enak dan nada yang tinggi tadi. Aku benar-benar minta maaf, Ean. Aku akui kalau aku salah. Aku tidak seharusnya membentak kamu karena kamu hanya melakukan tugas suami dengan benar yaitu ingin memastikan istrinya tenang, aman, dan nyaman. Aku lepas kendali tadi. Aku mohon maafkan aku ya, Ean?”
Mendengar permintaan maaf istrinya, Andrean tersenyum dan mencium punggung tangan Angel dengan mesra.
“Sayang, kamu tidak salah. Aku yang salah, mungkin aku terlalu berlebihan ya? Aku minta maaf sudah membuat kamu merasa dijauhi dari keluarga kamu, aku tau apa yang kamu pikirkan tadi,”
Angel menatap Andrean penuh sesal. Ia akui semoat terbesit di benaknya bahwa Ia dijauhkan oleh suaminya sendiri dari keluarga. Gesty dan Geno adalah keluarga yang Angel punya saat ini oleh sebab itu Angel sangat menyayangi mereka.
“Sekali lagi aku minta maaf, Ean. Aku tidak bermaksud untuk membuat kamu merasa bersalah seperti ini. Aku minta maaf,”
“Iya, kita saling meminta maaf dan memaafkan ya?”
Angel menganggukkan kepalanya. Andrean tersenyum lalu mengecup kening sang istri. “Aku mencintaimu, Angelku,”
“Wow drama romantis berakhir dengan bahagia, momen mereka sudah berhasil aku abadikan. Okay aku simpan, dan akan aku kirimkan pada kalian sebagai pemeran drama romantis barusan. Selamat ya untuk kalian berdua karena kalian, kami yang menjadi penonton merasa iri,”
Andrean dan Angel terkejut saat tiba-tiba Adrian berseru seperti itu menyeimbangi suara air terjun sambil Adrian bertepuk tangan.
Angel dan Andrean tertawa. Mereka tidak menyangka kalau ternyata Adrian, Auristella, Adrina, bahkan kedua orangtua mereka Lovi dan Devan menyaksikan interaksi mereka barusan, bahkan melihat adegan Andrean mencium kening Angel juga. Sungguh, Angel benar-benar malu di balik tawa kecilnya sekarang. Sementara Andrean santai saja. Ia mencium istrinya sendiri, bukan perempuan lain jadi menurutnya tak ada yang salah.
“Terimakasih sayang-sayangku, sudah memberikan tontonan yang gratis dan menyenangkan hati,” ujar Lovi sambil mengedipkan kedua matanya ke arah Andrean dan Angel.
Mereka semua tertawa tanpa terkecuali. Liburan kali ini memang terasa sangat berbeda. Selain karena mereka sudah sangat lama tidak berlibur bersama, liburan kali ini berbeda sebab mereka sudah sama-sama dewasa, masih akrab, dan di antara lima anak itu ada dua yang sudah menjadi sepasang suami istri jadi pasti suasana liburannya berbeda tapi bukan ke arah yang tidak menyenangkan, justru sangat menyenangkan.
__ADS_1
“Ian, nanti kamu dan Adrina bakal begitu juga?”
“Ya mungkin,”
“Ih tidak cocok!”
“Kenapa tidak cocok?! Bilang saja kamu tidak suka kalau aku bahagia ‘kan?”
“Tidak cocok, titik,”
“Ian, biasa lah. Kamu seperti baru kenal adikmu saja. Sekarang lagi keras, tapi nanti kalau sudah jadi juga lama-lama mencair. Sekarang ‘kan masij mode posesif,”
“Oh iya Mommy benar,” ujar Adrian seraya mengangkat salah satu alisnya menatap Lovi. Belajar dari pengalaman Andrean yang menikahi Angel. Perlu beberapa waktu dulu untuk Auristella beradaptasi dengan status baru kakaknya, dan juga belajar menerima istri dari kakaknya. Tapi tidak lama kemudian Auristella sudah bisa mencair, malah baik sekali dengan Angel. Adrian yakin nanti ketika Ia punya istri, ‘ujian’ dari Auristella juga seperti itu.
“Sekarang foto aku dan Angel, Ian,”
“Kenapa aku? Itu yang masih single saja,” ujar Adrian seraya menunjuk ke arah adik satu-satunya itu.
“Hei sembarangan kamu ya kalau bicara. Kalau aku single, lalu kamu apa? Memang kamu sudah punya kekasih? Memang kamu sudah menikah? Hmm? Belum ‘kan? Ya sudah jangan sombong tolong ya! Kamu saja yang memotret mereka, tadi aku ‘kan sudah,”
Tawa Adrian meledak ketika Auristella tidak terima disuruh mengabadikan momen Andrean dan Angel karena Ia masih single.
“Jadi tidak ada yang mau membantu aku dan Angel ini ya?” Tanya Andrean pada kedua adiknya.
Auristella dan Adrian langsung sigap meraih ponselnya. “Mau-mau, Ean.” Mereka juga kompak menjawab seperti itu.
Andrean tersenyum, kelihatan kalau dua adiknya tidak mau membuat Ia kecewa jadi berlomba untuk menuruti permintaannya.
“Okay terimakasih ya, adik-adikku,”
“Sama-sama, kakakku,”
“Jadi siapa ini yang memfoto mereka?” Tanya Auristella pada Adrian yang sama-sama memegang ponsel Andrean juga.
“Ya sudah kamu saja. Kamu pintar memotret,”
“Tidak biasanya memuji, ada apa memangnya? Kamu punya permintaan ya?”
“Astaga, kamu mengira yang tidak-tidak ya,”
“Ya karena kamu tidak biasanya memuji aku, jadi aku pikir kamu sedang memiliki suatu permintaan,”
“Permintaanku adalah, kamu diam, mulutmu diam maksud aku,”
Auristella mendengus sambil merotasikan bola matanya. Setelah itu Ia fokus memotret Andrean dan Angel yang sudah siap dengan pose mereka masing-masing.
“Yang mesra, Ean,”
Andrean kelihatan kaki di depan kamera, jadi Adrian arahkan. Akhirnya Andrean langsung merangkul bahu istrinya. Tadi Ia melihat adiknya melakukan itu kepada Adrina jadi sekarang Ia ikuti.
“Tumben kamu mau difoto, Ean,” ujar Angel seraya berganti pose.
“Ya karena kamu, dulaya ada kenang-kenangan juga ‘kan? Kamu suka kalau kita punya kenangan,”
“Iya tentu, karena belum tentu bisa terulang lagi,”
“Bisa, Sayang. Berdoa saja untuk kesehatan kita semua, semoga kita juga panjang suaminya, jadi kita bisa kembali lagi ke sini,”
“Aku aminkan,”
“Ayo yang lebih mesra boleh. Kalian ‘kan sudah menikah jadi tidak perlu malu-malu,” ujar Auristella yang semangat membuat kakak kakak pertama nya juga sang istri untuk kelihatan lebih mesra di depan kamera yangs iap memotret mereka.
“Ayo cium juga boleh iya ‘kan, Auris?”
Auristella menahan tawa dan menganggukkan kepala. Adrian langsung saja menyuruh mereka untuk berpose lumayan ekstrem berciuman di bawah air terjun, walaupun air terjun itu sepi hanya mereka saja tapi yang namanya beradu bibir di alam terbuka menghadirkan rasa tak nyaman di antara mereka ditambah lagi mereka tidak hanya berdua. Maksudnya ada orangtua yaitu Devan dan Lovi, ada Adrian, Adrina dan Auristella.
“Aku sangat mendukung kalian lebih mesra di depan kamera. Kamu sangat jarang foto, Ean. Ayolah berikan kesan yang beda di pemotretan kali ini,”
“Pemotretan pasca pernikahan di bawah air terjun, wow konsep yang menarik,” ujar Adrian sambil bertepuk tangan.
“Hahahaha ya kamu benar, Ian. Nanti kamu konsep foto pasca pernikahannya dimana?”
“Di pasar mungkin, biar beda,”
Mereka yang mendengar perkataan asal Adrian langsung tertawa. Menganggap kalau Adrian itu bercanda.
“Kenapa kalian tertawa?”
“Ya habisnya lucu, masih bertanya kenapa tertawa?”
“Ya memang aku asal jawab saja sih tadi. Cuma kalau dipikir-pikir konsep seperti itu menarik juga ‘kan, Dad? Aku foto dengan istriku di tengah suasana orang belanja,”
“Ya…boleh-boleh. Terserah kamu, karena kamu yang menikah. Kamu boleh tanya seperti itu kalau Daddy yang mau menikah,”
“Hei maksud kamu bicara begitu apa? Kamu mau menikah lagi? Hmm?” Lovi menggeram kesal. Suaminya tidak bermaksud bicara ke arah sana tapi Lovi salah menangkap maksudnya segingga Devan tertawa.
“Astaga, Lov. Mana mungkin aku menikah lagi? Aduh kamu ini terlalu jauh berpikirnya. Tidak mungkin, Lov. Aku sudah merasa kebahagiaan aku setelah dianugrahi kalian, itu sudah lebih dari cukup dan aku sangat berterimakasih pada Tuhan yang begitu baik padaku,”
“Oh aku pikir mau ada rencana menikah lagi,”
”Aunty lucu kalau sedang memarahi Uncle,” ujar Adrina seraya terkekeh. Ia jadi ingat Mommy dan Daddy nya kalau sedang berdebat juga sama seperti Devan dan Logi. Yang satu menghadapi dengan tenang, yang sayu lagi suka berapi-api padahal belum paham maksudnya apa.
“Ayo kalian mau berpose seperti apalagi?“
Andrean dan Angel saling menatap satu sama lain kemudian menggeleng kompak. Jujur mereka bingung. Kaku juga kalau sedang foto malah diamati oleh orang selain yang memotret.
“Daddy, Mommy, Ian dan Adrina boleh tutup mata saja tidak? Jangan memperhatikan kami. Lebih baik kalian foto juga masing-masing,”
Yang disebut namanya barusan langsung mengalihkan pandangan ke arah lain sebab Andrean sudah meminta mereka untuk tidak mengamati.
“Dasar si dingin. Diperhatikan oleh orangtuanya, oleh keluarganya sendiri saja masa tidak mau,”
Devan terkekeh mendengar istrinya menggerutu. Menyaksikan gerak gerik Andrean dan Angel sedang berfoto memang menyenangkan makanya mereka tadi nyaman menjadi penonton. Tapi ternyata Andrean merasa terganggu. Entah merasa terganggu atau hanya malu saja diperhatikan dengan lekat.
Andrean mencium pelipis Angel dan Auristella langsung memotret itu. Ekspresi wajah Angel yang kaget mengundang tawa Auristella.
“Ean kalau mau cium bilang-bilang dulu sebelumnya jangan mendadak bikin Angel kaget,”
“Iya maaf,”
“Iya tidak apa, Ean. Kamu tidak perlu meminta maaf karena kamu tidak salah.
“Lalu sekarang bagaimana lagi, Ris?” Tanya Andrean yang masih juga sedikit merasa kaku walaupun yang tadi mengamatinya dan Angel sudah sibuk dengan air terjun lagi sambil mengobrol satu sama lain.
“Ya terserah kamu, Ean. Mau pose bagaimanapun tu bebas karena Angel ‘kan istrimu,”
“Ya sudah sekarang kita saling berhadapan dan memeluk pinggang ya, Angel?”
“Okay boleh, aku ikut saja. Aku bahagia kamu mau foto, bahkan jadi pengarah gaya juga sesekali,”
Andrean tersenyum sambil menaikkan salah satu alisnya. “Bagaimana? Aku sudah pantas jadi pengarah gaya?”
“Sudah,”
Interaksi mereka itu sengaja diabadikan oleh Auristella melalui kamera ponsel. Auristella tersenyum mengamati keduanya yang saat ini sedang tertawa karena obrolan yang aneh sebenarnya “Kalau begitu aku alih profesi saja ya?“
“Hahahaha itu boleh,”
Tiba-tiba Andrean menggendong Angel tapi dengan gaya bridal style alias Angel di depannya, berhubung Angel sedang hamil jadi posisi itulah yang aman menurut Andrean.
Auristella semangat mengabadikan itu, lalu Andrean segera menurunkan Angel karena Angel takut jatuh katanya.
“Padahal aku tidak akan mungkin membiarkan kamu jatuh, Sayang,”
“Ya tapi aku takut kamu tidak kuat membawa aku, berhubung aku ini sudah sangat berat ya. Aku ‘kan lagi hamil, Ean,”
“Ya terus masalahnya apa, Sayang? Aku tidak apa-apa, tidak berat sedikitpun. Aku masih sangat kuat menggendong kamu. Bahkan, kalau anak kita sudah lahir nanti, aku kuat menggendong kalian bersamaan,”
“Oh benarkah? Aku yakin setelahnya badanmu tidak bisa bangun selama satu minggu,”
“Ah berlebihan, tidak mungkin lah, Sayang,”
“Okay Ean, hasil foto bagus-bagus semua kamu bisa lihat. Dan kamu bilang tadi, kamu kuat menggendong Angel dan anak kalian bersamaan? Okay nanti buktikan,”
“Ingatkan aku melakukan tantangan itu ya,” ujar Andrean sambil terkekeh.
“Jangan, Ean! Kamu apa-apaan sih? Itu bukan hal yang patut dilakukan. Memang gunanya untuk apa? Tidak ada ‘kan? Hanya membuat lelah badan saja,”
“Itu dilihat dulu hasil fotonya, bagaimana menurut kalian berdua?”
Andrean dan Angel langsung menilai hasil potret Auristella yang ternyata memang benar bagus.
“Wow maksimal ya hasil foto yang kamu ambil, Ris. Terimakasih ya,”
“Sama-sama, semoga memuaskan ya menggunakan jasa saya. Ditunggu bayarannya di rekening saya. Tuan Andrean, hafal rekening saya ‘kan? Atau kalau tidak hafal, masih menyimpan ‘kan?“
Andrean tahua diknyanitu bercanda, tapi Ia benar-benar melakukan pengiriman uang sekarang, di depan mata Auristella dan Angel.
“Ini serius?“ tanya Auristella.
“Memang aku pernah bercanda?”
“Wow! Aku punya penghasilan pertama dari Eam dan Angel, yeayyy! Terimakasih untuk kalian berdua semoga uang kalian semakin banyak, dan kehidupan kalian bahagia selalu. Sering-sering saja menyuruh aku untuk foto ya,”
“Iya, tadi hampir saja posisi kamu diambil oleh Ian ‘kan? Untungnya kamu yang memotret aku, coba kalau Ian? Wah uangnya untuk Ian,”
“Aku akan mengambil alih. Enak saja dia. Sudah banyak uang malah mengambil hak adiknya,”
“Tapi kalau seandainya dia yang memfoto aku dan Angel tadi, artinya itu memang akan menjadi uang dia ‘kan?”
“Hmm benar juga, ya sudah tidak perlu diingat-ingat lagi. Yang terpenting sekarang aku berhasil dapat penghasilan pertama darimu dan didapatkan dengan cara yangs angat mudah yaitu memotret. Wow pekerjaan yang paling mudah menurutku sepanjang berkarir,”
“Memang kamu sudah berapa lama berkarir? Hmm? Sudah berapa kali berganti profesi?”
“Hahahahah Ean, aku hanya bercanda. Ini pekerjaan pertamaku. Okay aku akan cek berapa yang kamu kirim padaku. Berapapun itu aku sangat bersyukur, sekali lagi terimakasih ya,”
“Iya sama-sama,”
“Angel, terimakasih ya,”
“Jangan berterimakasih padaku, ‘kan yang mengirimkan uang adalah Ean aku hanya mendukungnya,”
“Tapi kamu istrinya, dan aku sering dengar uang suami itu untuk istri,”
“Tidak juga, uang Ean yang milik Ean, aku hanya diberikan. Berapapun Ean mau memberi, aku terima dengan senang hati,”
“Tidaklah, Sayang. Apa yang aku punya itu pasti punya kamu juga. Benar kata Auris. Daddy dan Mommy juga seperti itu kesepakatannya,”
“Aku juga nanti begitu,”
“Astaga, sudah mau menikah sekarang? Hmm?”
Auristella langsung menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan sang kakak. Ia hanya menyampaikan kalau di masa depan, Ia akan membuat kesepakatan seperti itu juga.
“Ayo kita naik ke permukaan, sudah dingin ‘kan pasti?”
Devan menginterupsi anak-anaknya untuk segera meninggalkan air terjun karena pasti semua sudah merasa dingin.
Dan benar saja, semuanya langsung menuruti apa kata Devan. Mereka langsung duduk di bebatuan dan segera mengeringkan badan dengan handuk masing-masing.
“Lama-lama dingin ya,”
“Memang sebenarnya air di situ dingin, Dad. Hanya saja, kita terlalu menikmati, jadi tidak merasakan dingin,”
“Iya benar kata Ian, Uncle. Tadi aku kalau tidak disuruh Uncle berhenti, aku sepertinya masih di bawah air terjun itu,”
“Menyenangkan ya mengobrol dengan aku di bawah air terjun?”
Adrina mendengus ketika Adrian bertanya seperti itu kepadanya sambil menaik turunkan alisnya.
“Kamu terlalu percaya diri. Aku menyukai air terjunnya, Ian. Bukan kamu, paham ‘kan?”
“Hih dasar gengsi! Bilang saja kamu nyaman lama-lama denganku di bawah air terjun,”
“Ya lah terserah kamu mau bicara apa yang penting kamu senang,”
“Duh kenapa kamu peduli dengan kesenanganku, Drina?“
“Ya habisnya aku tidak kuat kalau harus debat denganmu nanti pasti kalah. Yang bisa mengalahkan kamu adalah Auristella,”
********
Tiga orang penagih hutang sudah datang lagi ke rumah Gesty dan Geno. Tapi mereka bertiga tidak menemukan ayah dan anak itu. Dugaan mereka, bahwa Geno dan putrinya itu sedang pergi meninggalkan rumah. Maka dari itu mereka menunggu di sisi rumah yang sekiranya aman untuk menjadi tempat persembunyian sampai Gesty dan Geno pulang dan mereka berdua tidak terlanjur pergi kalau sampai melihat ada tiga orang penagih hutang, malu?! Hah?!”
Ketika melihat Gesty baru pulang dengan diantarkan oleh sebuah mobil dan Gesty hampir saja membuka kunci pintu rumah, tapi mereka langsung menyergap Gesty tak mengizinkan Gesty untuk pergi kemana-mana.
“Bayar dulu hutangmu bodoh! jangan pikirkan hal lainnya gimana?”
“Jangan minta padaku, mint pada ayah yang pegang uang banyak,”
“Hei yang berhutang itu kalian berdua jadi kenapa malah tidak mau bayar?! Hah?! Cepat bayar sekarang! Jangan lari dari tanggung jawab!”
__ADS_1
“Tapi aku tidak punya uang, Sialan!”