Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 192


__ADS_3

Andrean menatap anaknya dengan jengah. Tadi mereka meminta untuk bermain di atas ranjang. sekarang tidak bisa diam. Ingin turun ke lantai sendiri hingga membuat Andrean khawatir.


"Adelia, sebenarnya apa maumu? Tadi..."


"Mungkin mereka bosan di sini," jawab Angel menengahi. Ia geli sendiri melihat frustasinya Andrean pada anak mereka.


Ada benarnya juga ucapan Angel. Andrean menghela napas sebelum akhirnya meraih Axelia dalam gendongan. Axelion tampak merengek pula ingin di gendong.


"Aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin meninggalkanmu di sini,"


Pandangan Andrean kembali mengarah pada Angel. Kondisi istrinya masih membuat Ia khawatir. Meninggalkan Angel sendirian di dalam kamar bukanlah pilihan yang tepat.


"Ah, aku hubungi Mama saja,"


Andrean meraih ponselnya di atas nakas namun Angel menginterupsi.


"Jangan, kamu selalu mengandalkan orang lain ya dalam mengurus mereka?"


“Tidak juga, Sayang. Tapi aku rasa aku perlu bantuan,”


"Ean, buka pintunya!!"


Sepasang suami istri itu menoleh ke arah pintu yang diketuk dengan kasar. Suara Auristella membuat Andrean mendengus.


'Ganggu saja,'


Andrean kembali meletakkan Axelia di atas ranjang. Ia lupa kalau resikonya lebih besar. Lovi belum bisa menjaga mereka sepenuhnya.


"Ean!! Cepat buka pintunya!!"


Andrean membuka pintu. Ia menatap sinis Auristella. Dagunya terangkat angkuh.


"Jangan sampai pintu kamarku hancur karena kamu, Auris. Apa yang kamu mau?" Ucapnya dengan wajah yang datar. Andrean benar-benar kesal. Ia seperti tawanan yang sedang disergap polisi.

__ADS_1


Auristella tidak menjawab, Ia berjalan meninggalkan Andrean sebentar untuk mengambil nampan yang ada dimeja tak jauh dari kamar Andrean. Lalu menyerahkannya pada Andrean.


"Makanan untuk Angwl. Mommy yang menyuruhku untuk mengantar itu,"


Andrean menerimanya dengan kening berkerut. Ia menunduk untuk menatap makanan di nampan tersebut.


"Biasanya diantar pelayan. Sekarang kamu merangkap sebagai pelayan juga di samping menjadi anak Daddy dan Mommy?"


Andrean sengaja menyulut amarah gadis itu. Usil tak mengucap 'Terimakasih' pada Auristella. Gadis itu akan kesal, Andrean yakin sekali.


"Kurang ajar kamu, Ean. Aku tidak akan menuruti Mommy lagi. Seharusnya aku lempar saja makanan itu ke tempat sampah," dengan santai Auristella membuat kakaknya kalah telak. Memangnya Andrean saja yang bisa membuatnya marah?


Mereka tidak menyadari kalau Angel mulai kesulitan menjaga anaknya. Ia sedang sakit dan yang harus Ia jaga bukan hanya satu anak. Ditambah lagi keduanya benar-benar aktif hingga Angel merasa sangat khawatir mereka akan jatuh dari ranjang.


Auristella mengerinyit saat dilihatnya Angel bangkit dari posisinya. Matanya membulat ketika menangkap objek yang membuat Angel terlihat panik. Kedua keponakannya sudah berada di pinggir ranjang.


"EAN!! ANAKMU SEBENTAR LAGI JATUH!!" teriakan Auristella yang memekakkan telinga berhasil membuat Andrean panik. Ia langsung berbalik untuk masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar dengan kencang menggunakan kakinya hingga Auristella terkejut di luar sana. Keningnya hampir saja menjadi korban pintu itu.


Andrean tidak memedulikan adiknya. Pemandangan di depannya benar-benar membuat Andrean khawatir. Ia langsung meletakkan nampan di atas nakas, lalu membawa kedua anaknya dalam gendongan.


Kedua pangeran dan putri kecil itu terkekeh. Seolah mereka baru saja melakukan hal yang konyol. Andrean sebenarnya kesal, namun melihat mereka baik-baik saja semua rasa kesal itu meluap.


Layaknya orang tua pada umumnya, Andrean lega mendapati anaknya tidak berhasil terjun bebas dari ranjang yang cukup tinggi. Andrean tidak bisa membayangkan sebesar apa rasa sakit yang akan dialami anak-anaknya kalau sampai mereka jatuh dari ranjang.


"Kalian semakin nakal, ya! Daddy hukum kalian,"


Andrean kembali meletakkan keduanya di atas ranjang. Lalu menggelitiki perut mereka hingga tawa mungil memenuhi kamarnya. Angel tersenyum melihat itu semua. Bagaimana gemasnya Andrean terhadap Axelion dan Axelia, sampai tawa geli yang tak kunjung berhenti dari anaknya membuat Angel sangat bahagia.


Melihat anaknya yang mulai terengah, Andrean menghentikan sikap jahilnya itu. Kini Ia melihat Angel yang ternyata sudah duduk.


"Angel, kamu kenapa bangun?"


Angel mendengus sebal. Kenapa lelaki ini baru sadar? Dia sudah sejak tadi duduk memperhatikan Ia dan anak-anak mereka.

__ADS_1


"Berbaringlah! Jangan seperti itu lagi, Angel! Kondisimu belum pulih,"


"Aku khawatir melihat mereka sudah di sudut ranjang. Sampai tidak sadar kalau tubuhku sudah tidak berbaring lagi," kata Angel dengan kekehannya yang terdengar mengalun indah di telinga Andrean.


*****


"Dimana cucu mommy? Kamu tidak membawa mereka?"


Begitu sampai di lantai bawah, Auristella sudah dicecar oleh Mamanya. Auristella malas membawa dua anak nakal nan menggemaskan itu.


"Mereka baru saja membuat ulah. Biarkan saja Andrean menghukum mereka,"


Lovi terkejut begitu mendengar kalimat putrinya. Apa lagi yang dilakukan kedua cucunya itu? Kenapa mendengar kata 'menghukum', membuat Lovi merinding?


"Apa yang dilakukan Andrean pada mereka?" tanya Lovi dengan khawatir. Ia tidak akan memaafkan Andrean kalau sampai lelaki itu menyakiti Axelion dan Axelia.


"Mommy tidak bertanya mengenai kesalahan mereka?" tanya Auristella. Kenapa Lovi langsung bertanya mengenai hukuman yang diberikan Andrean? Tidakkah Ia penasaran dengan perbuatan cucunya yang dilihat jelas oleh Auristella?


"Mereka mau turun dari ranjang. Untung saja mereka masih dilindungi oleh Tuhan,"


Lovi menggeleng tidak menyangka kalau kedua anak itu semakin menjadi sikapnya.


"Tidak ada yang terluka, bukan?"


Rasa khawatirnya belum hilang. Ia tidak sanggup melihat mereka kesakitan.


"Mereka tidak apa-apa. Tapi..."


Mendengar kata terakhir Auristella, lovi menatap putrinya waspada.


"Tapi, jantung Andrean hampir lepas marena ulah anak-anaknya itu. Ya ampun, aku sudah bisa membayangkan mereka nanti besar akan seperti apa, pasti usil dan gemar membuat kita khawatir,”


**********

__ADS_1


__ADS_2