
Auristella merangkul lengan kakaknya. Seperti biasa, mereka selalu terlihat hangat. Sementara orang lain yang melihat tidak tahu betapa kesalnya Andrean saat ini. Mati-matian Ia menahan tangannya untuk tidak mendorong sang adik jauh-jauh darinya.
Bagaimana Ia tidak kesal? Setelah belanja snack, perawatan, kini Auristella mengajaknya ke mall. Padahal sebelum berangkat, Andrean sudah meyakinkan Auristella bahwa mereka tidak akan pergi lama-lama. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Sudah tiga jam lebih mereka menghabiskan waktu.
"Kamu mau beli apa lagi?"
"Baju,"
"Baju mu sudah luar biasa banyak, Auris,"
Auristella tersenyum lebar. Ia tak menampik bahwa memang bajunya sangat banyak. Fashion nya selalu Ia perbarui sehingga bajunya tidak terhitung jumlahnya. Banyak pakaian yang hanya dipakai sekali, dua kali. Karena Ia sudah merasa bosan, biasanya Ia berikan pada siapapun sebut saja pekerja di rumahnya, atau siapapun yang mau.
"Tabung uang yang diberikan Daddy. Jangan dihabiskan buat bersenang-senang terus,"
Auristella mencibir, "Kamu bisa menabung uang pemberian Daddy karena kamu 'kan sudah punya penghasilan sendiri. Sementara aku? Belum!"
"Boleh dipakai uangnya, tapi jangan---"
"Astaga, iya-iya, kamu kenapa jadi mengaturku sih?"
Andrean menghela napas jengah. Bagaimana dia tidak mengatur? Auristella itu adiknya. Jadi hal yang wajar kalau Ia melakukan itu lagipula untuk kebaikan Auristella juga.
"Bagaimana caranya supaya sukses menjadi founder sekaligus owner sebuah aplikasi belajar online? Aku juga mau sukses seperti kamu dan punya banyak uang," Auristella memulai topik obrolan lain disela langkah mereka yang menjelajahi mall.
Andrean mengendikan bahunya. Ia selalu bingung bila ditanya seperti itu, sama halnya ketika orang bertanya bagaimana caranya supaya menjadi orang genius hingga belum genap tiga puluh tahun sudah mau mendapat gelar PhD diiringi dengan kesuksesan karir juga.
"Ikuti apa kata hati mu. Lakukan apapun yang kamu suka," Hanya itu yang bisa menjadi jawaban Andrean.
Ia suka belajar, hingga akhirnya sebentar lagi Ia mendapat gelar PhD di usianya yang ke dua puluh sembilan tahun. Ia juga suka hal-hal baru. Ia memilih untuk tidak mengisi jabatan tertinggi di perusahaan Daddy nya melainkan mencoba untuk menciptakan sebuah aplikasi belajar online. Sekarang aplikasi itu sudah semakin berkembang.
"Ikuti kata hati dan lakukan apa yang disukai. Hmm...tidak heran kamu menentang Daddy yang menginginkan kamu menjadi bagian dari perusahaannya,"
Andrean mengangguk tak mengelak ketika adiknya berpendapat begitu. Ia ingin melakukan semua hal dengan sepenuh hati. Kalau dipaksa, apapun itu pasti tidak akan berjalan dengan baik.
Auristella dan Andrean memasuki sebuah distro. Ada empat baju yang dipilih Auristella. Setelah itu mereka membayar.
__ADS_1
Di saat itulah Andrean bertemu dengan Angel. Gadis itu menyadari kehadirannya bersama Auristella.
"Oh kamu sedang belanja juga, Angel?" Sapa Auristella. Andrean melirik beberapa shopping bag yang ada di tangan Angel.
Gesty menatap adik tirinya seolah bertanya 'mereka siapa?'
Angel hanya menggeleng, tak ingin jujur. Entah mengapa Ia belum siap saja jika ayah dan kakaknya tahu bahwa Andrean adalah lelaki yang dijodohkan dengannya. Sebenarnya ayahnya percaya pada ucapan Andrean yang mengatakan bahwa Angel adalah calon istrinya tapi Angel masih saja tidak mengakui. Karena Angel takut Ayah atau kakaknya mengganggu Andrean serta keluarga mereka. Ia tahu betul bagaimana sifat mereka berdua. Apalagi bila mereka tahu bahwa Andrean dan keluarganya bukanlah orang sembarangan.
Andrean mengeluarkan black card nya untuk membayarkan baju milik sang adik. Ia hampir saja ingin melakukan hal serupa untuk baju-baju yang di pegang Angel. Namun seketika Ia berubah pikiran. Untuk apa Ia membayarkan belanjaan kakak tirinya Angel? Ia yakin itu bukan milik Angel. Rasanya tidak mungkin Angel belanja sebanyak itu.
*****
"Angel itu calon istrimu 'kan?"
Setelah menutup pintu mobil, Auristella tiba-tiba saja bertanya seperti itu.
Andrean hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara karena jujur Ia masih terkejut dengan pertemuannya dan Angel yang tidak disengajai tadi.
"Kenapa kamu tidak membayarkan belanjaan dia? Kamu tidak seperti para lelaki di novel-novel yang aku baca. Kamu irit sekali, Ean. Kamu takut uang mu habis? Huh! Kasihan juga Angel nanti punya suami yang---"
"Jelas-jelas dia yang sedang belanja tadi,"
"Kakaknya yang belanja. Bukan dia. Jadi untuk apa aku membayarkan nya?"
"Oh jadi itu kakak nya Angel? Kamu kenapa bisa tahu?"
Andrean mengedikan bahunya. Sebenarnya Ia hanya menebak kalau itu adalah sosok kakak tiri Angel yang disebutkan Mommy nya beberapa waktu lalu. Dan Ia ingat bahwa kakaknya Angel juga turut andil dalam menyumbang kesakitan Angel selama ini.
******
Lovi sedang menikmati sore harinya di taman sembari menunggu sang suami pulang bekerja.
Dengan satu mug blueberry tea, Ia duduk sembari menatap tanaman-tanaman yang ada di sekelilingnya. Musim semi tidak membuatnya menghindar dari taman terbuka di kediamannya.
"Nona, kenapa? Ada masalah kah? Seperti biasa, Nona bisa bercerita padaku,"
__ADS_1
Serra, maid yang sudah menemaninya sejak lama bahkan ketika pernikahannya dengan Devan tidak baik-baik saja dulu-kini menyapanya dengan penuh perhatian.
Lovi tersenyum, kemudian menggeleng. "Aku baik-baik saja, Serra. Kamu bisa temani aku di sini,"
Lovi mengisyaratkan Serra untuk duduk di sebelahnya. Serra yang tetap saja masih canggung meskipun Ia sudah lama bersama Lovi pun menggeleng. Ia ingin berdiri saja.
"Tidak apa, Serra. Duduk lah di sini. Kita bisa berbincang lebih nyaman kalau kamu duduk," ujar Lovi sembari menarik pelan tangan Serra. Akhirnya wanita itu duduk.
"Aku punya Auris tapi sekarang kami semakin jarang quality time. Jujur aku rindu dengan momen-momen berdua dengannya,"
"Ya begitulah kalau anak-anak sudah besar, Nona. Kita pasti akan merasa kehilangan. Apalagi kalau nanti mereka sudah punya kehidupan masing-masing,"
"Iya, aku tidak sabar dengan itu tapi aku juga sedih kalau harus berpisah dengan mereka,"
"Kan belum ada tanda-tanda, Nona," ucap Serra dengan tawa ringannya.
"Andrean akan menikah,"
Sontak empat kata itu membuat Serra terkejut. Ia menatap Lovi bingung sekaligus menuntut penjelasan. Lovi terkekeh menyadari rasa penasaran Serra yang begitu terpancar dari tatapannya.
"Aku menjodohkan Andrean dengan Angel. Menurutku mereka sangat serasi. Kalau menurutmu bagaimana?"
"Nona, se--se--serius?" Serra sampai gagap karena terlalu terkejut. Andrean yang terlihat begitu santai sekalipun dicecar terus masalah jodoh, rupanya akan segera memiliki pendamping hidup dan itu pilihan orangtuanya.
Lovi mengangguk cepat, berusaha meyakinkan Serra.
"Iya, aku serius, Serra. Bagaimana menurutmu?"
"Sangat serasi, Nona. Pendapatku sama dengan Nona,"
Lovi tersenyum lebar. Bahkan Serra saja sependapat dengannya. Angel memang yang terbaik.
"Pernikahan nya sebentar lagi, Nona?"
"Hmm.. doakan saja secepatnya ya. Aku berharap secepatnya. Tapi Andrean dan Angel sepertinya keberatan,"
__ADS_1