Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 34


__ADS_3

Usai menumpahkan kerinduannya tepat di depan pusara sang Ibu, Angel beranjak. Ia menatap makam Ibunya lamat-lamat seraya berdoa sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkan tempat terakhir Ibunya itu.


Sebelum Ia keluar dari pemakaman, Ia mengunjungi makam Neneknya terlebih dahulu yang kebetulan tidak jauh dari makam sang Ibu.


Sama seperti di makam Ibunya, Angel juga berdoa di makam sang Nenek untuk ketenangannya di alam sana. Kemudian sempat bercerita sedikit mengenai bagaimana kehidupan pernikahannya selama empat hari ini. Sebab Ia ingat betul, betapa antusias nya Nenek ketika tahu bahwa Ia akan menikah.


"Nenek, bahagia kah di sana? Nenek sudah lihat pernikahan aku dengan Andrean 'kan? Bagaimana menurut Nenek?"


Semilir angin yang membelai halus wajahnya hingga Ia merasa damai, itu seperti jawaban Nenek untuknya.


"Terimakasih atas izin yang sudah Nenek berikan padaku sebelum menikah dengan Andrean. Sekarang aku bahagia. Tunggu aku di sana ya, Nenek. Aku sangat menyayangi Nenek. Terimakasih atas semua yang sudah Nenek berikan padaku terutama setelah Ibu tidak ada. Lagi-lagi aku mohon maaf, tidak bisa berada di samping Nenek di saat-saat terakhir Nenek berada di dunia ini,"


Angel tersenyum menghapus air matanya, "Aku mencintai Nenek dan menyayangi Nenek,"


Hari sudah menuju senja. Angel memutuskan untuk segera pergi dari pemakaman.


Saat Ia menunduk untuk menghapus air mata yang masih tersisa di sudut matanya, Ia tidak sengaja menubruk seseorang. Ia mengangkat wajah untuk menatap sosok di depannya.


"Ayah,"


Angel terkejut mendapati ayahnya di sini. Untuk apa Ayah ke sini? Apa ada seseorang yang ingin Ayah temui? Siapa orang itu?


Angel bertanya-tanya. Ayahnya datang ke sini tentu untuk mendatangi makam seseorang.


"Ayah ingin berkunjung ke makam siapa?"

__ADS_1


"Bukan urusanmu!"


Angel mengerjap mendapati tatapan tajam ayahnya. "Maaf, Ayah. Aku permisi,"


Sebelum Angel benar-benar menghilang, Geno mengeluarkan suara dalamnya hingga berhasil menghentikan langkah sang putri.


"Bagaimana hidupmu sekarang? Bahagia?"


Angel menoleh dan Ia mendapati ayahnya yang menatap dirinya dengan datar.


Angel mengangguk, "Iya, Ayah. Aku bahagia. Aku harap, Ayah juga selalu bahagia,"


"Ingat siapa yang turut andil dalam menghadirkan kebahagiaan mu itu. Kalau Ayah tidak menyetujui pernikahanmu, tidak akan ada kebahagiaan, seperti apa yang kamu katakan tadi,"


"Hanya itu yang kamu berikan?"


Terasa ada yang menyumbat tenggorokan Angel setelah Geno bicara seperti itu. Apakah kini Ia memiliki hutang budi pada ayahnya?


Geno tiba-tiba saja terkekeh pelan. "Cukup bantu Ayah saat Ayah merasa kesulitan. Jangan lupa kalau kamu bahagia saat ini karena ada Ayah yang berperan juga. Bagi setiap kebahagiaan yang kamu dapat,"


Usai mengatakan itu, Geno mengibas tangannya, menyuruh Angel untuk pergi.


Angel tidak bisa menahan sesak di dadanya. Sejauh ini hanya rasa terimakasih yang bisa Ia berikan untuk ayahnya.


Ternyata ayahnya tidak seperti kebanyakan orangtua di dunia ini yang sudah merasa cukup setelah melihat anak-anak mereka bahagia. Ayahnya meminta kebahagiaan yang Ia rasakan sekarang.

__ADS_1


Tapi kalau bahagia yang Ia maksud bukan dari segi materi apa Ayahnya akan tetap menerima? Sebab bahagia yang mengerubungi hatinya saat ini adalah bagaimana Ia dihargai layaknya manusia oleh suami dan juga keluarganya, betapa beruntungnya Ia ketika mereka semua benar-benar menerima kehadirannya dengan baik.


*****


Angel memasuki rumah suaminya. Saat Ia melewati ruang tamu, kebetulan ada Auristella dan dua temannya. Satu perempuan dan satu lagi adalah laki-laki.


Angel mengangguk sekilas pada mereka. Kalau menyapa dengan mulut, Ia masih canggung apalagi tatapan Angel yang masih saja belum bersahabat dengannya.


"Kamu darimana saja? Katanya kuliah. Ean sudah pulang sejak tadi," begitu balasan sapa dari Auristella untuk Angel.


"Maaf, aku permisi,"


Angel berjalan cepat meninggalkan Auristella dan kedua temannya yang menatap Ia dengan sorot bingung sekaligus penasaran. Mungkin dalam benak mereka bertanya-tanya, siapa Angel dan apa hubungannya dengan Andrean juga Auristella.


"Dia siapa?"


"Angel, istri Andrean,"


"Hah?! Yang benar? Ck! Kamu sih tidak mengundang aku. Jadi aku tidak kenal dengannya,"


"Sengaja tidak mengundang kamu. Bisa-bisa bukannya pengantin yang kamu perhatikan tapi malah Ian," gerutu Auristella yang mengundang tawa geli Ryn, fans setia Adrian.


"Adrian ada project apa saat ini?"


"Mana aku tahu. Aku bukan managernya. Lagipula dia jarang cerita tentang hal itu padaku. Paling dengan Mommy saja,"

__ADS_1


__ADS_2