
“Cari tahu siapa yang sudah dengan sengaja menabrak istriku. Aku bisa lihat dengan mata kepalaku sendiri tadi bahwa dia sengaja membuat Angel terjatuh,”
Setelah dokter memastikan keadaan Angel dan kandungannya baik-baik saja, Andrean langsung berinisiatif untuk menyuruh tangan kanannya mencari tahu pelaku yang sudah membuat Angel masuk rumah sakit sekarang ini dan Ia sebagai suami dibuat cemas luar biasa tapi beruntungnya keadaan Angel baik-baik saja walaupun Ia disarankan untuk istirahat total dulu. Mengingat Angel sangat terkejut tadi dnegan kejadian yang menimpanya ditambah lagi dengan kecemasan Angel akan keadaan bayinya. Kalau keadaannya sendiri justru tidak Ia pikirkan.
“Baik, Tuan,”
Andrean langsung memyimpan ponselnya kembali di dalam saku celana kemudian Ia masuk lagi ke ruangan dimana Angel sedang beristirahat.
“Ean, kapan kita pulang? Bukankah seharusnya aku boleh pilang ya? Aku tidak apa-apa, aku dan anak kita baik-baik saja,”
“Dokter menyarankan kamu untuk di sini duku, Angel, dan aku juga ingin kamu istirahat di rumahs akit dulu untuk memastikan kamu baik-baik saja,”
__ADS_1
“Tapi semua sudah dipastikan, Ean, jadi kenapa aku harus di sini? Aku lebih nyaman di rumah. Di sini aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa, hidupku terasa membosankan,”
“Jangan bicara seperti itulah, Sayang. Inid emi jebaikanmud an juga malaikat kecil kita. Aku mohon kamu sabar sebentar ya. Aku ingin kamu di rumah sakit dulu supaya lebih mudah dipantau oleh dokter ataupun perawatnya jadi kalau seandainya terjadi sesuatu yang merupakan efek dari kejadian tadi, kamu bsia cepat ditangani oleh mereka,”
Andrean meminta Angel untuk sabar sedikit. Andrean tahu Angel adalah tipe orang yang tidak begitu nyaman di rumah sakit. Karena Ia akan mati gaya, tidak tahu harus melakukan apa, merasa jenuh berbeda kalau di rumah.
“Kamu kenapa keluar tadi?”
“Aku baru saja bicara dengan temanku. Memang ada apa?”
“Apa kamu mengira kalau aku barus aja bicata dengan seorang perempuan melalui telepon? Hmm?”
__ADS_1
“Oh tidak-tidak. Aku bersumpah aku tidak beprikir ke arah sana, Andrean. Kemaoa kamu bicara begitu? Huh?”
Andrean tertawa ketika melihat wajah kesal Angel. Ia tergoda untuk menyentuh dagu Angel kemudian Ia kecup singkat.
“Oha ku pikir kamu cemburu. Tidak apa kalau cemburu, Sayang. Justru itu yang aku tunggu karena kamu tipe yang jarang cemburu terjadang aku inhin juga dicemburui,”
“Ya masalahnya, aku harus cemburu pada siapa? Hmm? Kamu saja tidak pernah kelihatan dekat dengan perempuan manapun. Kamu terlalu dingin untuk dunia luar. Jadi bagaimana aku mau cemburu? Tapi sebenarnya pernah, mungkin kamu saja yang tidak sadar,”
“Ah tidak pernah,” jawab Andrean seraya menggelengkan kepalanya. Ia tidak pernah mendapati Angel cemburu, itu yang Ia ingat.
“Wajtu aku lihat pesan dari Abraham tentang kamu yang lagi mempersiapkan suatu kejutan untuk perempuan yang kamus ayangi. Jujur aku cemburu saat itu, dan aku bertanya-tanya siapa orang itu? Tapi ternyata kamu sedang mempersiapkan kafe untuk aku supaya mimpiku terwujud aku punya tempat usaha sendiri. Dan kamu tidak mau aku kelelahan. Ya ampun, aku memiliki suami yang tak hanya manis di wajah saja tapi manis juga perlakuannya kepada aku sebagai pasangan,”
__ADS_1
“Di kepalamu tidak terbesit siapa sosok itu?”
Angel langsung menggelengkan kepala. Ia terlanjur cemburu dan penasaran tapi memang tak ada satu nama pun yang terbesit di pikirannya siapa perempuan yang Andrean sayangi dan menjadi alasan untuk Andrean mempersiapkan sesuatu yang istimewa untuknya.