
******
"Dad, tidurnya di luar saja. Jangan di sini. Aku merasa sesak nanti," ujarnya beralasan padahal ranjang orangtuanya itu begitu luas. Ia hanya tidak ingin diganggu ketika bermanja dengan Angel.
"Ini kamar Daddy. Kenapa jadi Daddy yang diusir?"
Angel menata bantal yang akan digunakan untuk tidur. Setelah memiliki adik, Axelia tidak pernah lagi meminta untuk tidur di kamar orangtuanya. Sekarang, Ia menginginkan itu lagi. Tentunya menimbulkan perdebatan. Anzelia tidak menerima kehadiran kakak keduanya di ranjang Mommy dan Daddy-nya.
"Kamu tidur di boks mu saja. Jangan di sini,"
"Hey, jangan mengusir begitu. Tidur sama-sama di sini. Kamu dan Auris sama saja," Angel menengahi kedua anaknya. Anzelia membalas tatapan tajam Adelia dengan mata mengerjap lucu.
Anzelia dibaringkan dekat dengan Angel. Sementara Axelia di samping Andrean. Kedua anak kecil itu tidur di ditengah-tengah orangtuanya.
"Aku dekat Mommy,"
Saat Axelia akan bangkit menyingkirkan adiknya, tangan Andrean menahan perut sang anak.
"Daddy sedang lelah dan sangat mengantuk. Jangan buat Daddy kesal. Sekarang, tidur!"
---------
Angel bangun lebih dulu seperti biasanya. Ia melihat kedua anak dan suaminya yang masih terlelap. Perempuan beranak tiga itu tersenyum begitu melihat kakak dan adik yang gemar bertengkar malah saling memeluk ketika tidur.
Adrian terlihat begitu posesif memeluk leher adiknya. Dan Anzelia juga sangat manja, Ia melingkarkan tangan mungilnya di perut sang kakak. Mereka sangat menggemaskan bila sedang akur seperti ini.
Angel keluar dari kamarnya untuk menghampiri anak sulungnya. Adelion tidak ada lagi di kamarnya, mungkin sudah berada di lantai bawah. Kalovi sekalipun libur, axelion tetap rajin bangun pagi dan biasanya Ia akan bergabung dengan kakeknya yang gemar lari pagi bersama supir, pengawal dan pekerja laki-laki yang lainnya.
"Lion di bawah?"
Angel bertanya pada pelayan yang tengah membersihkan kamar anaknya.
"Iya, Nona. Tadi sedang sedang sarapan,”
"Okay, terima kasih,"
Angel pergi ke lantai bawah. Benar, anak pertamanya sudah mandi dan tengah mengenakan kaus kaki.
"Wow, sudah tampan anak mommy," pujinya dengan takjub. Ia mencium pipi Axelion sebagai ucapan 'selamat pagi'
"Sudah makan?"
"Sudah,"
"Ingin olahraga?"
"Ya, ikut Grandpa. Tapi hari ini kita akan naik sepeda,"
"Grandpa nekat ya? sudah tua tapi masih saja ingin naik sepeda," sahut Lovi yang belum selesai menata meja makan.
Angel mengusap kepala anaknya lalu datang ke dapur untuk membuat sarapan Anzelia. Sarapan suaminya sudah dihidangkan oleh Lovi di meja makan. Angel hanya tinggal membuat teh atau susu hangat, sesuai permintaan suaminya nanti setelah bangun.
"Pergi dulu ya?" ujar Devan pada orang-orang penghuni mansion itu. Ia keluar seraya menggenggam tangan sang cucu.
"Ya, hati-hati."
"Lion pakai sepeda sendiri? tidak ingin duduk bersama Grandpa saja?"
"Tidak, lion ingin sendiri,"
Devan mengangguk dan Ia mengisyaratkan pekerjanya untuk menyiapkan dua sepeda miliknya dan Axelion.
"Kalau lelah, katakan pada Grandpa ya?"
"Aku sudah biasa, Grandpa. tidak akan lelah, tenang saja," ujarnya dengan datar. Devan menanggapinya dengan terkekeh.
*******
"Jangan ganggu Mommy. Lebih baik membantu,"
Anzelia merusak tatanan pakaian yang sudah diatur Angel. Angel menjulurkan kemeja sekolah milik Axelia pada Anzelia. Anak perempuannya itu menggeleng dan langsung menjauh dari Angel.
Pandangan Angel beralih pada anak keduanya yang entah sibuk dengan apa. "lia, apa yang kamu lakukan? biasanya kalau sudah tenang begitu, ada sesuatu yang kamu lakukan,"
Axelia menunjukkan boneka yang tengah Ia bongkar. "Astaga, kenapa dirusak seperti itu?"
"Bukan dirusak, Mommy. Ini diperbaiki,"
Angel berdecak seraya menggeleng pelan. Ia memilih untuk kembali menyibukkan diri. Terserah anaknya saja. Asal Ia tidak saling mengganggu dengan Anzelia.
"Seharusnya tidak perlu diperbaiki. Kalau sudah rusak, masih ada mainan yang lain."
"Tidak, ini mainan kesayanganku. Kalau dibelikan yang baru, aku akan senang,"
Angel menoleh sebentar, tahu betul anaknya tengah memberi kode agar dibelikan mainan yang baru.
"Minta belikan saja pada Daddy,"
"Tidak mau, Lia masih kesal dengan Daddy,"
Adelia dengan penuh tenaga membongkar mainannya sendiri tanpa bantuan apapun.
"Untuk apa membuat lelah diri sendiri? aku bingung dengan Lia," ujar Axelion heran. Padahal masih banyak mainan yang lain, tapi kenapa memilih untuk menyulitkan diri sendiri? Adiknya aneh sekali.
"Lion, tarik yang kuat!" titahnya pada sang kakak agar membantu Ia membuka bagian kaki robot.
"Tidak, memang mudah? seharusnya menggunakan alat khusus untuk melakukannya,"
Tanpa banyak bicara Axelia mencobanya sendiri. Terbuka, tapi malah jadi rusak. Angel dibuka secara paksa tidak dengan alat. Boneka itu terpelanting kalovi Axelia terlalu keras menariknya.
Melihat itu anzelia terbahak. Ia memperhatikan robot kakaknya yang sudah bernasib menyedihkan.
Axelia bersiap memiting kaki adiknya agar berhenti tertawa. Ia kesal kalau sedang seperti ini malah ditertawakan bukan dibantu.
"Mainanku rusak kamu malah tertawa. Nanti bonekamu, aku beri makan cokelat lagi ya?"
"Nanti Mommy suruh kamu mencucinya lagi," Angel menyahuti ancaman anaknya.
------------
Hari ini axelion dan axelia ikut Andrean bekerja. Sementara Anzelia mulai menjalani sekolah bayi ditemani oleh Angel.
Setelah mereka pulang sekolah, Andrean langsung membawa kedua putranya ke kantor.
"Sebelum pulang nanti, kita beli mainan dulu ya, Dad?"
"Huh? sudah mau lagi minta sesuatu pada Daddy? kemarin kamu kesal," ujar Andrean menggoda anak keduanya.
Andrean sedang mengerjakan tugas yang tadi diberikan oleh gurunya seraya mengajarkan materi yang tidak dipahami oleh adiknya.
"Ini aku paham, tapi yang ini---"
"Paham? lalu kenapa tadi tidak bisa mengerjakan contoh soal yang aku berikan?"
"Malas,"
Andrean melirik kedua anaknya yang tengah berdebat. Dilihatnya Axelion mengulurkan buku pada Axelia.
"Kalau paham, kerjakan! tidak boleh malas. Beli mainan kamu tidak pernah malas,"
Dengan bibir tertekuk Axelia mengerjakan dua soal yang diberikan sang kakak. "Tugasku saja belum dikerjakan, sekarang malah disuruh kerjakan yang lain,"
"Coba kerjakan soal yang aku berikan, kalau sudah benar-benar mengerti pasti tidak kesulitan untuk mengerjakan tugas sekolah,"
"Aku buktikan sekarang,"
Axelia mulai berkutat dengan buku tugasnya. Ia membaca soal dari Axelion dengan teliti. Lalu berpikir untuk menjawabnya dengan benar.
"Ayo yang benar jawabnya. Nanti Daddy belikan mainan yang banyak,"
Andrean menyemangati anaknya. Terbukti berhasil kalovi Axelia langsung duduk tegap padahal tadi mengerjakannya dengan posisi malas-malasan.
Mainan, cokelat atau makanan manis yang lain akan selalu menjadi daya tarik untuk anak yang gagal menjadi bungsu itu.
******
"Kalau boneka dimana?"
Andrean dan Axelion sontak menoleh saat Axelia bertanya seperti itu. Mereka baru saja sampai di pusat belanja mainan dan hal pertama yang Ia tanyakan pada pelayan di tempat tersebut adalah mengenai letak boneka.
"Kamu baik-baik saja?" Andrean jadi takut sendiri. Ia meletakkan punggung tangan di kening Axelia. Sepertinya semua normal. Ia takut terjadi sesuatu pada anaknya.
"Baik, memang kenapa?"
"Boneka untuk Auris,"
“Tumben baik,”
Mulut Andrean dan Axelion membulat seraya mengangguk. Senyum Andrean tersungging, tangan kokohnya mengusap kepala Axelia.
"Tidak biasanya kamu perhatian seperti ini. Kenapa tiba-tiba ingat Anzel?" tanya sang ayah.
"Aku pernah mengotori bonekanya. Sebenarnya sudah aku cuci, tapi aku masih merasa bersalah,"
*******
Dalam perjalanan pulang, Anzelia sudah tertidur. Sehingga begitu sampai di kamar, Angel tidak perlu lagi menimangnya agar tidur siang.
Seraya menunggu anaknya bangun tidur, Angel melanjutkan kegiatannya kemarin, yaitu memasukkan pakaian yang sudah terlipat ke dalam lemari.
Risiko bila sudah memiliki anak adalah seperti itu. Sesibuk apapun seorang Ibu, bila anak sudah merengek pasti kesibukan itu akan segera ditinggalkan.
Selain pakaian, Angel juga mengembalikan mainan anak kedua dan ketiganya yang berkumpul di atas meja rias miliknya. Entah sejak kapan benda itu berubah fungsi. Padahal boks khusus mainan sudah disiapkan bahkan banyak sekali.
"Angel, sedang apa? makan siang dulu,"
Angel menoleh saat pintu kamar dibuka. Angel berdiri dan menimbulkan kepalanya di celah pintu yang terbuka sedikit.
"Aku nanti saja makannya, Ma."
"Benar? setelah pulang dari menemani Auris sekolah memang tidak lapar?"
"Tadi aku sudah makan salad buah yang dibawa,"
"Oh, okay."
Angel menoleh pada anaknya yang melenguh dalam tidur. Rupanya hanya berbalik badan kemudian terlelap lagi dengan mulut mungilnya yang sedikit terbuka.
"Jangan bangun dulu ya, Sayang? pekerjaan Mommy belum selesai sementara kakak kalian dan Daddy tidak lama lagi akan pulang,"
----------
"Lion, bisa bantu aku tidak?"
"No, sorry. Aku harus menyelesaikan ini,"
"Aku tidak paham"
"Angel kamu tidak mendengarkan guru menjelaskan. Malah sibuk mengobrol,"
Andrean mencibir kesal pada Areta, yang datang-datang langsung minta dibantu. Salahnya sendiri tidak mendengarkan penjelasan guru.
"Aku juga pintar. Aku ajarkan,"
"Tidak! aku mau Lion yang menjadi gurunya,"
Dari pembicaraan itu Axelion semakin yakin kalau sebenarnya Areta tidak benar-benar ingin belajar. Hanya mengganggu dirinya yang sedang mengerjakan tugas dari guru. Kalau memang dia butuh untuk diajarkan seharusnya tidak keberatan kalau Axelia yang melakukan itu.
"Lklm itu sombong, aku tidak. Belajar denganku saja, Areta." bujuk Axelia yang ditolak tegas oleh areta untuk kedua kalinya.
"Siapapun yang mengajarkan tidak masalah. Yang terpenting niatmu," ujar axelion dan kembali fokus dengan tugas yang harus diselesaikannya.
"Main saja terus. Kalau tidak memperhatikan memang tidak akan paham. Sudah minta diajari malah request guru lagi. Lia juga bisa membantu kamu. Tidak harus aku," gerutu Axelion lagi.
******
"Dimana si kembar? tidak ikut lagi?"
"Tidak, langsung pulang tadi,"
Dashinta menyambut kedatangan atasannya dengan pertanyaan itu. Ia kira mereka akan datang lagi seperti kemarin.
"Sering-sering dibawa ke sini bisa menjadi hiburan juga, Boss."
Andrean hanya bisa tersenyum. Sudah sering Ia mendengar kalimat itu dari para karyawan maupun staff-nya. Ia senang Angel kedua anaknya bisa menciptakan energi yang positif untuk mereka yang terkadang letih bekerja seharian.
"Dimana berkas yang harus aku lihat?"
Dashinta mengikuti Andrean masuk ke dalam ruangan lelaki itu untuk mengambil berkas yang dimaksud Andrean.
****
"Lipn, tunggu! berhubung kita memiliki tugas kelompok. Jadi kapan dikerjakan?"
"Bahas besok saja. Aku sudah mau pulang,"
"Lion--"
"Apa, Areta?" Adelia menyahuti. Ia bertanya dengan wajah menyebalkan dari dalam mobil.
"Aku tidak bicara dengan kamu,"
__ADS_1
"Sepertinya ada yang aneh dengan kamu. Sudah lama kita berteman baik, sekarang malah sering marah padaku. Memang aku salah apa?"
"Lagi tidak mood saja berteman dengan kamu,"
Axelia memutar bola matanya malas. Ia segera mengisyaratkan kakaknya untuk segera masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput mereka.
"Hati-hati pulangnya, Bye!" pamit Axelia seraya mendengus.
Axelia kesal juga lama-lama. Seingatnya Ia tidak punya salah apapun tapi kenapa dua hari ini areta terlihat seperti sedang memusuhinya? aneh!
"Bahas besok, Adrina."
Akhirnya areta mengangguk. Ia menjauh dari kedua temannya itu. Lalu menunggu supir yang menjemputnya sampai di sekolah.
---------
"Aduh rajinnya Daddyku ini,"
Axelia menggeleng takjub melihat Axelion yang pagi ini sudah membersihkan mobil. Tidak biasanya Ia serajin itu. Benar-benar kejadian langka. Jadi pantas saja Axelia sedikit heran.
"Ada apa, Dad?"
"Maksudmu?" tangan axelion masih bekerja keras menyabun setiap bagian mobil yang kerap dipakainya untuk bekerja itu.
"Kenapa mau mencuci mobil?"
"Sedang ingin,"
Axelia merendahkan tubuhnya di samping Axelion yang sedang membilas ban mobil. "Jangan di sana. Nanti bajumu basah,"
Andrean menarik tangan anaknya. Namun Axelia tetap nyaman pada posisinya. .
Sengaja, Ia malah menyiram air mendekati tubuh Axelia. Lama-lama membuat tubuh Axelia basah. Kalau seperti itu, Ia pasti akan menjauh.
"Daddy, kenapa diarahkan ke Axelia airnya? mobil yang lagi dicuci bukan Axelia!"
"Siapa yang menyuruhmu di sana?"
******
******
Tidak ada yang tahu kalau Axelion dan Axelia tengah pergi membawa mobil yang sudah bersih. Axelia mengajak ayahnya untuk mengeringkan mobil dengan cara berkeliling di lingkungan mansion. Itu alasannya agar bisa keluar dari mansion dan tidak kebosanan lagi.
"Seharusnya setelah mobil bersih, disimpan dengan baik," cibir axelion yang sebenarnya masih menolak ide anaknya itu. Sejujurnya Andrean malas sekali keluar, Ia ingin istirahat.
"Kita pulang sekarang!"
"Nanti, Daddy! sekarang boys time. Nikmati saja, jangan marah-marah terus. Bagaimana kalau kita ke--"
"Jangan banyak permintaan, Lia. Katamu tadi hanya jalan sebentar, sekarang kenapa malah minta ke lain tempat?"
"Bagaimana kalau aku menemani Daddy minum kopi?"
"Di coffee shop?"
"Iya!"
"Tidak, Daddy sudah kurang suka kopi,"
Padahal bukan seperti itu kenyataannya. Bila tidak ada Angel, Ia khawatir tidak bisa mengendalikan diri. Aroma kopi yang begitu menusuk hidung akan membuat Axelia lupa kalau Angel sudah memperingati berulang kali agar sedikit mengurangi kebiasaan buruknya itu.
******
Usai bermain dengan Anzelia sebentar, kembali menyerahkan Azelia pada Serry. Anak itu sedang makan tapi Angel meminta pembelaan padanya sampai rela meninggalkan makanan kesukaannya, ikan salmon yang dibuat seperti nugget.
"Nanti kita main lagi," serunya.
Anzelia makan sambil bermain. Sesekali mulutnya akan menghembuskan makanan dari dalam mulut, pertanda Ia sudah tidak ingin lagi melanjutkan makannya.
"Padahal masih banyak," gumam Serry melihat anak itu belum makan setengah dari yang disiapkan.
Anzelia menolak untuk makan lagi tapi malah menggigit mainan berupa boneka jerapah yang bentuknya lentur, pemberian Axelia kemarin. Anzelia lagi sedang-sedangnya menyukai benda menggemaskan itu.
"Nona kecil sudah mau tumbuh gigi ya? wah, Mommy harus tahu itu,"
Serry akan mengatakannya kalau Angel sudah selesai menyiapkan makanan di dapur. Serry membuka pelan mulut Axelia, lalu diperhatikannya lamat-lamat.
"Ada apa, Serry, dengan mulut anzel?"
"Oh, Nona Angel. Sepertinya Nona kecil sudah mau tumbuh gigi,"
"Ya, memang. Sejak beberapa hari lalu aku sudah menyadarinya. Ada gigi yang mulai terlihat,"
*******
"Sayang..."
"Ya? berhubung anak-anak sudah tidur, saatnya kamu memanjakan aku. Punggungku nyeri semua, Lov. Boleh tolong pijit?"
Angel yang tadinya ingin mempersiapkan diri sebelum tidur, langsung berbalik arah. Ia menuruti keinginan suaminya.
"Kamu terlalu lelah bekerja. Hanya punggung saja yang sakit, bukan?"
"Yang lain juga sebenarnya,"
"Apa yang sakit? nanti aku--"
Andrean membalikkan tubuhnya dengan tiba-tiba lalu mencium istrinya tanpa persetujuan.
"Bibir aku yang sakit. Seharian belum bertemu bibir istriku,"
-------
"Dad, aku sudah tumbuh gigi," seru Angel dengan senang seraya mengangkat kedua tangan anzelia. Andrean langsung menggendong anaknya.
"Aku baru tahu,"
"Iya, aku lupa memberi tahumu,"
Axelion mencoba untuk membuka mulut Anzelia. Tapi Ia menolak, menahan mulutnya dengan kuat.
"Padahal Daddy mau lihat, Sayang." dengusnya kesal. Ia tidak menyadari kalau bukan Angel yang mengatakannya. Padahal setiap hari Anaelia selalu bersamanya.
"Perlu perayaan tidak, Angel?"
"Huh? untuk apa?"
" Angel sudah tumbuh gigi,"
Angel memukul lengan suaminya yang tampak serius. Angel malah tertawa seolah ucapannya tadi adalah guyon.
"Aku serius, angel."
"Itu masih lama, Angel."
"Aneh kamu ini,"
*******
Angel sedang menyiapkan semua perlengkapannya dan Andrean untuk beberapa hari ke depan.
Rencananya, nanti malam Ia dan suaminya akan terbang menuju London angel Andrean harus menyelesaikan urusan pekerjaan di sana, dan Andrean minta untuk ditemani. Setelah memiliki anak lagi, Andrean tidak pernah manja seperti ini. Biasanya kalau ada perjalanan bisnis, Ia akan pergi bersama orang-orang kantornya yang juga terlibat.
Ketika Angel menolak, Andrean mengatakan bahwa Ia sangat menginginkan Angel untuk ikut, anggap sebagai bulan madu katanya.
"Tapi bagaimana dengan Auris?"
"Angel, hanya sebentar. Ada kedua neneknya di sini,"
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan mereka," Angel tampak sedih ditengah bimbangnya. Satu sisi Ia ingin memenuhi keinginan suaminya tapi di sisi lain, Angel harus mengemban tanggung jawabnya sebagai Ibu.
"Sudah lama kita tidak pergi berdua, Angel. Kamu tidak mau?"
Dengan segala bentuk bujuk rayunya, akhirnya Angel menyerah. Ia akan memenuhi permintaan suaminya. Mereka pergi berdua dan meninggalkan ketiga anaknya di mansion.
"Tidak perlu membawa baju banyak, angel."
"Aku juga tahu. Memang aku pernah membawa baju banyak kalau tidak membawa anak pergi?"
Andrean menggeleng seraya menggusar kepalanya. Ia membantu Angel dalam menyiapkan peralatan mandi.
Pintu kamar terbuka. Axelion dan adik keduanya masuk. Mereka memperhatikan kedua orangtuanya lamat-lamat. Sulit sekali membiarkan Daddy dan Mommy mereka untuk pergi. Kalovi sebelumnya mereka hampir tidak pernah berpisah.
"Nanti jangan lupa sering telepon axelia ya, Mom?"
Axelia mengikuti kakaknya untuk duduk di tepi ranjang. Mereka melihat kesibukan Angel dan Andrean dalam diam.
"Pasti, Sayang."
"Adrian kesal, kenapa tidak diajak juga. Pasti Daddy dan Mommy akan berlibur,"
"Kamu curiga saja. Daddy bekerja,"
Usai dengan kegiatannya yang ringan-ringan, Andrean menghampiri kedua putranya. Ia membawa Andrean dan adiknya itu ke tengah ranjang lalu memeluk mereka sangat erat sekaligus memberikan ciuman yang bertubi-tubi.
"Jangan bersedih. Nanti kita akan sering menghubungi kalian. Memberi tahu kalau kita sudah datang ke tempat ini dan itu, sudah berjelajah kuliner, sudah--"
"Daddy, kenapa malah membuat Lia semakin ingin pergi juga?! sudah cukup, tidak perlu dilanjutkan,"
Axelion terkekeh geli. Ia menggigit bibir bawahnya menahan gemas. Tidak terasa, mereka sudah besar. Dulu saat ingin ditinggal bekerja saja mereka pasti merengek sampai akhirnya axelion menunda keberangkatannya. Sekarang, kedua anak itu mulai mengerti bahwa tidak selamanya axelion dan angel berada di samping mereka. Ada saatnya harus hidup mandiri angel kedua orangtua harus menyelesaikan pekerjaan yang hasilnya juga untuk mereka.
"Daddy dan Mommy hati-hati ya,"
"Kalian juga hati-hati dan jangan nakal," sudah berapa kali pesan itu disampikan. Baik oleh Angel maupun Andrean.
"Jangan ganggu Auris ya, Adrian. Kasihan dia kalau menangis tidak ada Mommy," satu lagi kalimat yang sudah beberapa kali diucapkan Angel. Angel siapapun tahu bahwa axelia gemar sekali membuat adiknya menangis. Angel akan kepikiran kalau anaknya saling bertengkar.
Axelia meletakkan tangannya di pelipis seraya berseru, "Siap Mommy!"
Axelion menyisir rambut depan kedua anak kembar itu menggunakan jemari kokohnya. Seraya memperhatikan keduanya yang tampak serius.
"Belajar untuk menjaga Auris. Kalau nanti Mommy dan Daddy sudah tidak ada di dunia, lalu kalian--"
Andrean segera memeluk ayahnya sangat erat. Ia menggeleng di dada Andrean. Axelia pun melakukan hal yang sama. Mereka tidak ingin mendengar kalimat itu. Walaupun masih kecil, tapi keduanya sudah mengerti kalau yang dimaksud Andrean adalah perpisahan untuk selamanya, ketika Andrean dan Angel tidak ada lagi di sisi mereka sampai kapanpun.
"Tidak boleh bicara seperti itu, Daddy!"
--------
Kedua anaknya yang laki-laki mengatakan ingin melihat keberangkatan mereka. Tapi rupanya rasa kantuk tak bisa ditahan lagi. Mereka tertidur sebelum Angel dan Andrean pergi. Andrean dan Adrian mengikuti jejak adik bungsu mereka yang sudah terlelap jauh lebih dulu.
Akhirnya untuk berpamitan, Andrean dan Angel hanya bisa mencium mereka satu persatu. Tidak cukup sekali, mereka melakukan itu berulang kali. Angel beberapa hari ke depan akan merasa sangat rindu dengan ketiga malaikat kecil mereka.
"Mommy dan Daddy pergi ya, Sayang."
Lovi dan Devabn akan menjadi teman mereka tidur selama Angel dan Andrean tidak ada. Usai melepas sepasang suami istri itu pergi menuju bandara, Lovi, Axelion, dan Devan kembali memasuki mansion untuk melanjutkan istirahat mereka. Andrean dan Angel sengaja mengambil jadwal penerbangan malam seperti ini Angel harus puas memeluk dan mencium ketiga anak mereka sebelum rindu melanda.
******
"Grandpa, tidak bekerja?"
"Memang kenapa? tidak suka melihat Grandpa di sini?"
"Aduh Grandpa sensitif sekali. Aku hanya bertanya,"
Devan yang tengah menikmati kopi paginya segera membawa Axelia ke atas pangkuan. Cucunya itu memperhatikan apa yang sedang Ia baca.
"Kalau Grandpa tidak bekerja, aku senang sekali. Karena sekarang mansion jadi sepi. Tidak ada Mommy dan Daddy," Axelia mulai mencurahkan isi hatinya. Semalaman Ia merasa kesal dan sedih pada Andrean serta Angel yang pergi tanpa membangunkan dirinya. Seharusnya Ia bisa melihat Mommy dan Daddy-nya pergi.
Devan yang memberi pengertian padanya. Andrean dan Angel sengaja tidak membangunkan karena melihat Axelia yang tidur begitu pulas, kasihan kalau sampai terbangun. Yang terpenting mereka sudah tahu kalau Angel dan Andrean akan pergi.
"Biasanya memang seperti ini suasana mansion. Daddy dan Grandpa bekerja,"
"Ya, tapi entah kenapa rasanya sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya,"
"Grandpa tidak bekerja?" Axelion ikut dalam pembicaraan. Ia bertanya sambil mengunyah pancake yang dibuat devan.
"Maunya seperti itu?"
"Kalau boleh,"
"Boleh, apa yang tidak untuk cucu Grandpa?"
"YEAAYY GRANDPA LIBUR,"
Devan terkekeh melihat tingkah mereka berdua yang menggemaskan. Devan pikir tidak ada salahnya menghilangkan kesedihan mereka dengan cara seperti ini. Lagipula Ia sangat jarang meninggalkan pekerjaan. Ini permintaan kedua cucunya jadi tidak ada masalah sama sekali. Mereka sedang menyesuaikan diri tanpa Andrean dan Angel jadi harus ditemani terlebih dahulu.
"Kita hanya diam saja di mansion? ingin pergi kemana?"
"Main!"
"Main?"
Axelion mencibir adiknya yang begitu cepat menjawab. Kalau ditanya seperti itu pasti jawabannya 'main'.
"Dimana?"
"Wahana,"
"Grandpa rasanya tidak sanggup membawa kalian ke sana. Pasti akan sangat Riuh bila sudah melihat wahana. Bisa-bisa Grandpa pingsan," Devab menyampaikan rasa khawatirnya. Walaupun belum pernah membawa cucunya ke wahana bermain, tapi Raihan tahu betul konsekuensinya. Mereka akan sulit diatur. Kalau Ia masih muda, pasti tidak sulit untuk memenuhinya. Tapi Ia sudah renta, akan kesulitan dalam menghadapi kedua anak yang sangat aktif itu.
__ADS_1
"Ayolah, Grandpa. Setelah itu kita ke panti,"
"Ke panti?"
"Iya, aku baru sekali ke sana. Dan sekarang ingin lagi. Aku akan bermain dengan mereka yang ada di panti,”
"Ke panti saja ya?" sebenarnya Devan akan memenuhi permintaan Adrian yang ingin bermain di wahana tapi Ia harus menggoda cucu keduanya dulu.
"Hanya ke panti?"
Devan mengangguk seraya menahan senyumnya. Axelia sudah menekuk wajah sedemikian rupa dan itu terlihat sangat menggemaskan.
"Ya, sudah, Grandpa. Tidak perlu kalau Grandpa akan kelelahan di sana," putus Axelion dengan dewasa, tidak memaksa kehendak.
Axelia menghela napas pelan sebelum menjawab," Iya, Grandpa. Kita ke panti saja."
"Baiklah, kita ke wahana dan panti. Bagaimana?"
"Benar?" tanya Axelia memastikan.
Devan mengangguk dan langsung dipeluk oleh kedua cucunya. "Terima kasih, Grandpa."
*****
Benar dugaannya tadi. Ia dibuat kelelahan dalam menjaga kedua singa kecil itu. Mereka kesana kemari sesuka hati tanpa memikirkan kakeknya yang sudah kepayahan.
"Sudah, yang tadi terakhir."
"Sekali lagi, Grandpa. Masih ada wahana yang belum kita coba,"
Axelia menunjuk wahana yang bukan untuk anak seusianya. Axelion mengangguk setuju begitu adiknya mengeluarkan pendapat bahwa mainan itu sangat menyenangkan.
"Astaga, itu tidak boleh dicoba oleh anak kecil,"
"Boleh, Grandpa." jawabnya keras kepala.
"Coba aku tanya," axelion mendekati salah seorang petugas yang menjadi penjaga di wahana tersebut. Raihan dan Axelia memperhatikan keberanian anak itu.
Tak lama axelion kembali lagi. Ia menggeleng lemah pada adiknya. Devan bersorak senang dalam hati.
"Grandpa sudah katakan kalau itu bukan untuk anak kecil. Ayo, kita ke panti."
Walaupun rasanya sudah sangat lelah tapi devan ingin menuntaskan keinginan cucu-cucunya untuk mengunjungi tempat itu. Mereka akan berbagi juga di sana. Devan sudah menghubungi orang-orang suruhannya untuk menyiapkan segala sesuatu yang sekiranya diperlukan oleh penghuni panti.
Sementara kedua kakaknya bermain, anzelia ditinggal bersama kedua neneknya. Ia memperhatikan lovi yang sedang merawat kukunya seraya mengajak Ia berbicara, dan devan yang tengah menikmati siaran televisi.
"Kamu diam saja. Tidak ada Kakakmu jadi kesepian ya?"
Anzelia tersenyum seolah membenarkan ucapan devan. Padahal sebenarnya Ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan.
"Tidur saja ya? matamu sudah terlihat mengantuk,"
Tanpa menjawab, Ia menjulurkan tangannya pada Devan. Anak itu sudah menyadari tidak ada Mommy-nya. Sehingga hanya pada nenek dan kakeknya Ia bisa manja. Beruntung Anzelia tidak menyulitkan. Ia tidak pernah menangis saat Angel dan Andrean berbicara melalui telepon. Justru Anzelia selalu tersenyum hangat seolah memberikan ketenangan pada kedua orangtuanya yang selalu cemas memikirkan ketiga anak mereka yang ditinggal.
------
"Angel, aku pergi dulu ya? kamu mau jalan-jalan sendiri atau tunggu aku saja?"
Di hari kedua Andrean dan Angel berada di London, pagi-paginya Andrean sudah siap untuk menghadiri pertemuan lagi. Ia berusaha semaksimal mungkin dalam menggunakan waktu yang ada untuk terus bekerja. Barangkali bisa pulang lebih cepat dari perkiraan.
Angel sedang meneguk air minum. Sejak kedatangan mereka, Angel merasakan sakit di perutnya. Andrean sempat membawa istrinya ke rumah sakit untuk diperiksa dan hasilnya tidak ada yang salah. Angel hanya sedang mengalami konstipasi dan diharuskan banyak minum air putih.
"Tunggu kamu saja," jawab Angel. Andrean sudah bersiap keluar. Tapi sebelumnya, Ia menyempatkan diri untuk memberi kecupan di kening Angel, hal yang tidak pernah Ia lewatkan.
"Hati-hati ya," pesan lelaki itu pada istrinya.
******
Queen Mary's garden adalah taman bunga mawar di London yang menyuguhkan suasana romantis dengan lebih dari dua belas ribu koleksi bunga mawar yang beragam bentuk dan jenisnya.
Angel memilih tempat itu untuk relaksasi pikirannya. Ia dan Andrean menikmati pemandangan yang begitu menawan itu seraya menyantap makanan di kafe yang ada di Queen marry's garden.
"Auris pasti senang kalau dibawa ke sini,"
"Iya, dia begitu menyukai bunga,"
"Tapi kalau Axelia, sudah bisa dipastikan cepat-cepat minta pulang. Dia lebih suka wahana bermain daripada melihat pemandangan cantik ini,"
Angel dan Andrean sedang membayangkan kalau ketiga anak mereka ikut merasakan suasana di sana. Pasti akan sangat menyenangkan walaupun mereka berbeda selera tempat.
Axelia dan Axelion memang kurang menyukai tempat-tempat yang cantik seperti ini. Apa lagi kalau diajak berfoto, pasti ada saja alasannya. Kalau mengunjungi wahana bermain, akan beda cerita. Diminta foto oleh Angel ratusan kali juga tidak akan masalah.
"Nanti malam mau pergi ke tower bridge?"
"Mau!"
Sudah lama sekali Andrean tidak melihat istrinya mengeluarkan rengekan seperti tadi. Masih menggemaskan seperti dulu.
*******
Hari ini sekolah Axelia mengadakan lomba kebersihan kelas dalam rangka merayakan ulang tahun sekolah.
Semua anak begitu semangat dalam berpartisipasi. Mereka bahu membahu menjadikan kelas bersih tanpa kotoran sedikitpun.
Axelia tengah mengganti taplak meja. Amelia menawarkan diri untuk membantu Axelia yang tampak kesulitan mengatur posisi taplak agar tepat.
Axelia menerima tawaran itu. Ia dan Amalia akhirnya bekerja sama untuk mempercantik meja guru. Sementara yang lain juga berbagi tugas.
Axelion dan Revin sibuk membuat dinding menjadi bersih dan indah dengan hiasan yang menarik.
"Lion, aku bantu ya?"
"Ini sudah hampir selesai,"
*****
Andrean dan Angel terbangun menjelang malam. Andrean menjauhi tubuh istrinya yang sedari tadi Ia dekap hangat.
Andrean benar-benar menganggap bahwa ini adalah bulan madu mereka. Sehingga tidak kenal waktu Ia membuat Angel mabuk kepayang akan sentuhannya.
"Terima kasih, Sayang...." bisik Andrean sebelum Ia mengecup bibir Angel. Andrean bangkit untuk membersihkan tubuhnya dari jejak percintaan tadi. Kalovi nanti malam Andrean akan membawa Angel untuk datang ke tower bridge.
Setelah Ia bersih, Angel baru akan dibangunkan. Andrean membiarkan istrinya untuk beristirahat sebentar.
********
******
Andrean dan Angel benar-benar menikmati suasana malam di tower bridge. Angel tidak ingin momen istimewanya lewat dari potretan kamera. Sehingga beberapa kali Ia meminta pada Andrean untuk mengabadikan dirinya. Tak jarang juga Angel meminta bantuan pada orang lain untuk memotret kebersamaannya bersama sang suami.
Setelah euforianya habis, Angel sengaja menghubungi devan agar bisa berbicara dengan ketiga anaknya.
Tidak membutuhkan waktu lama, panggilannya pun dijawab. Dan wajah yang Ia lihat pertama kali adalah Andrean.
"Hallo, Mommy."
"Hai, Sayang. Kalian sedang apa?"
"Aku menonton televisi, seperti biasa."
"Kedua adikmu?" Andrean ikut menghadirkan wajahnya. Ia tidak melihat keberadaan Axelia dan Amzelia di dekat Axelion.
Axelia yang sedang berkutat dengan boneka nyanya langsung berlari mendekati sang kakak. Lalu lovi datang seraya menggendong Anzelia yang baru saja mengganggunya menjahit.
"Ini mereka,"
"Mommy, aku rindu sekali," pekik Axelia. Dengan cepat Ia merebut ponsel dari tangan axelion. Kakaknya itu hanya bisa menghela napas pelan.
Angel dan Andrean tersenyum melihat ketiga anaknya di sana. Anzelia hanya bergumam, tapi senyumnya menggambarkan bahwa Ia senang bisa melihat kedua orangtuanya.
"Mommy dan Daddy dimana?"
Angel mengarahkan kameranya ke sekeliling. Melihat Tower bridge, Axelia langsung berseru riuh.
"Bagus ya, Mom, bagus sekali tempatnya. Pasti Mommy sudah ratusan kali berfoto di sana,"
Andrean menahan tawa setelah mendengar kalimat polos anaknya. Entah polos atau memang sengaja membuat Mommy-nya malu.
"Tentu saja, Mommy tidak akan puas berfoto di sini,"
"Aku mau juga," Axelia menekuk wajahnya. Anzelia di sampingnya menatap Axelia. Anak perempuan itu tampak menenangkan Axelia dengan cara mengusap wajahnya.
Angel dan Andrean dibuat tersenyum haru di sana. Mereka senang melihat ketiga anaknya baik-baik saja, tidak bertengkar. Walaupun tidak tahu sebelum mereka menelpon tadi telah terjadi apa di antara Anzelia dan Axelia.
"Selamat bersenang-senang, Mommy, Daddy. Cepat pulang ya, kami menunggu dengan setia," axelion tersenyum tipis ketika mengatakannya. Sedingin apapun Andrean, bila sudah rindu, pasti akan tetap menjadi mellow juga. Apalagi ini rindu dengan orangtua.
----------
Axelia bersorak senang saat waktu makan siang tiba. Begitu gurunya keluar, anak itu langsung membuka bekal yang dibawakan sang nenek.
Axelion menyelesaikan tugasnya yang tinggal sedikit lagi. Anak itu berbeda dengan adiknya. Apapun harus diselesaikan dengan cepat dan sekaligus agar tidak ada lagi beban ketika melakukan kegiatan yang lain. Kalau Axelia, yang terpenting mengisi perut terlebih dahulu, baru setelahnya menyelesaikan tugas.
"Hmm....Enak sekali. Tapi masih enak masakan Mommy. Aduh, aku rindu dengan masakan Mommy," gumamnya seorang diri seraya menikmati tempura kesukaannya.
"Tentu saja enak, apalagi gratis,”
*****
"Aduh, Tuan kecil ini kalau tidak ada Grandma banyak maunya,"
Bito menggumam seraya mengusap pelipisnya. Gawat kalau sampai mereka berakhir di wahana bermain dulu, tidak langsung sampai di mansion.
"Jangan macam-macam. Kita dibiasakan untuk langsung pulang setelah sekolah,"
"Bito, lagipula kenapa Grandma tidak menjemput?"
"Tadi, Nona Anzel demam. Langsung dibawa ke rumah sakit. Jadi aku sendiri yang menjemput kalian,"
"Ya, Tuhan. Anzel sakit?"
"Ya, mungkin karen terlalu rindu dengan Mommy dan Daddy-nya,"
“Ya ampun biasanya baik-baik saja,"
"Aku selalu tidak tega kalau melihat anak bayi sakit,"
****
Axelion keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang jauh lebih segar. Sebelum bergabung dengan Angel di ranjang, Ia mengenakan pakaiannya terlebih dahulu di walk in closet.
"Melihat apa, Angel?"
"Hmm? tidak, aku hanya penasaran dengan isinya,"
"Jangan, nanti kamu sakit kepala,"
Andrean naik ke atas ranjang. Aroma yang begitu menenangkan langsung singgah di hidung Angel.
Andrean meraih iPad yang ada di tangan istrinya lalu meletakkan benda tersebut di nakas. Di sana banyak pekerjaannya. Angel belum tentu mengerti.
Ponsel Andrean bergetar hingga mengalihkan perhatian keduanya. Angel meraih benda tersebut kalovi posisinya ada di samping kepala Angel, Ia baru saja berselancar di ponsel suaminya.
"Mama telepon,"
"Angkat," Andrean meminta istrinya saja yang mengangkat. Ia memilih untuk bergelung di dalam selimut seraya memeluk erat pinggang istrinya. Hanya ini yang bisa Ia lakukan untuk menghilangkan rasa penat setelah seharian bekerja.
"Hallo, Ma?"
"Angel, Mama hanya ingin memberi tahu, Auris sakit..."
"Astaga," Angel yang sebelumnya berbaring sontak terbangun, lilitan tangan Andrean di pinggangnya sampai terlepas.
"Sakit apa, Ma?"
"Demam. Auris harus dirawat, Angel."
Mata Angel berkaca. Ia menggigit bibir bawahnya cemas. Detak jantung Angel tidak beraturan lagi. Otaknya sudah memikirkan segala kemungkinan yang saat ini tengah dirasakan oleh sang putri.
Anzelia sakit, lalu tidak ada orangtua yang menemani. Kasihan sekali anaknya. Tidak terasa, air mata Angel jatuh juga.
"Angel, ada apa?" Andrean ikut panik melihat istrinya yang sudah menangis.
"Anzel dirawat di rumah sakit. Kita pulang sekarang ya, Ean? aku benar-benar khawatir,"
*********
"Orangtuanya sudah dihubungi, Nyonya?"
"Sudah, Dokter. Tapi yang terjadi pada cucu saya tidak--"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Angel sudah ditangani semoga cepat pulih. Saya hanya menyarankan agar orangtuanya datang ke sini, mendampingi dia."
Lovi dan Debab bingung akan berbicara apa lagi. Mereka tidak tahu hal apa yang dilakukan Angel dan Andrean setelah mendengar kabar mengenai Anzelia. Entah memutuskan untuk pulang atau tetap pada rencana awal kalovi panggilan tadi berakhir secara sepihak.
Semoga saja Andrean dan Angel tahu hal terbaik yang seharusnya mereka lakukan. Lovi dan devan hanya bisa berdoa serta mendampingi cucu perempuannya. Ini untuk pertama kalinya Anzelia sakit sampai harus mendapat perawatan di rumah sakit.
Suhu tubuh Anzelia belum normal. Ketika dibawa ke rumah sakit, anzelia tidak terlalu demam. Saat ini justru sebaliknya. Hal itulah yang membuat lovi dan devan khawatir luar bias pada Anzlia. Bahkan kedua kakaknya juga seperti itu. Walaupun suka bertengkar dengan Anzelia, Axelia tetap datang dan dia tepat no satu.
“Semoga saja Anzel bisa secepatnya tumbuh,”
“Iya kita berdoa aaja, Ean. Aku berusaha yakin semua baik-baik aja, Tuhan kan maha baik,”
__ADS_1
“Ada-ada saja baru juga ditinggal tapi salah satu dari mereka sakit, semoga nggak ada susul-menyusul,”