
Hari ini adalah akhir pekan. Dan Lovi baru saja pulang dari Jepang usai menghabiskan waktu di sana selama tiga hari bersama sang suami. Ia pulang lebih dulu, sementara Devan masih berada di negeri Sakura itu. Tadinya Devan akan pulang bersama sang istri, sama halnya ketika berangkat. Namun rupanya ada hal yang belum benar-benar selesai. Hingga akhirnya terpaksa Ia membiarkan Lovi pulang sendiri. Ia sudah meminta Lovi agar menunggu, namun istrinya itu sudah tidak sabar untuk pulang. Lovi sudah memiliki rencana usai tiba di rumahnya.
Ia mengajak ketiga anaknya serta Angel dan Adrina untuk menghabiskan akhir pekan di sebuah mall di pusat kota Manhattan dimana mereka menetap saat ini.
"Senang sekali bisa jalan-jalan menghabiskan waktu dengan para anak muda. Aku merasa kembali muda," ucapannya itu membuat Adrina terkekeh, begitupun yang lain.
"Seharusnya Mommy mu ikut bersama kita, Adrina,"
"Mommy belum benar-benar sembuh, Aunt," ujarnya usai terkekeh meringis.
"Oh iya, tapi kondisinya semakin membaik 'kan?"
"Iya, hanya saja masih sedikit lemas,"
"Hmm itu wajar. Karena biasanya aku pun begitu setelah sakit,"
"Ayo dimakan. Apa aku terlalu banyak bicara ya sampai kalian lupa menikmati hidangan?" Lovi terkekeh setelah berucap seperti itu. Kebahagiaan benar-benar menghampirinya. Ia senang bisa berkumpul dengan ketiga anaknya dan juga dua teman dekat dari kedua anak kembarnya itu.
"Seharusnya kita hanya pergi berempat, Mom,"
"Auris," Lovi menegur anak bungsunya itu. Usia sudah dua puluh tahun lebih tapi sikapnya masih seperti anak kecil. Ia jadi tidak enak pada Adrina dan Angel. Jelas-jelas Ia yang meminta keduanya untuk turut bergabung. Agar nanti bila sudah jadi keluarga tidak ada rasa canggung lagi.
Eh,
Keluarga?
Membayangkan nya saja sudah membuat Lovi tersenyum. Sayang yang ada dibayangannya baru tentang Andrean dan Adrian. Sementara gambaran pendamping Autistella belum Ia pikirkan.
"Menyenangkan kalau punya anak menantu dua dan anak perempuan satu. Aku punya banyak teman,"
"Aduh, Mom. Sejauh itu pikiranmu, Mom?"
"Jauh? Tidaklah, Auris. Mommy yakin tidak lama lagi itu akan terwujud. Iya 'kan, Angel, Adrina?"
"Uhuk uhuk,"
Angel terbatuk setelah Lovi mengajukan pertanyaan itu. Entah mengapa Ia menjadi canggung. Seolah baru saja dicecar oleh Lovi 'kapan kamu siap dinikahi?' padahal bicara Lovi tadi begitu santai bahkan terkesan bergurau.
"Kalau aku masih lama, Aunt. Tidak tahu kalau Angel," sahut Adrina yang memang belum mengetahui bahwa sepasang manusia yang duduk berhadapan -tak lain adalah Andrean dan Angel-sudah dijodohkan.
"Iya, Angel tidak lama lagi,"
Bukan Angel yang menjawab, tapi Adrian. Lelaki itu tersenyum miring menatap Angel yang sedari tadi memilih diam, terlihat sangat sungkan untuk bergabung dalam pembicaraan.
"Oh ya? Siapa kekasihmu, Angel?"
Adrina tampak antusias bertanya pada Angel. Sementara yang ditanya dibuat gelagapan. Senyum canggung yang terlihat menggelikan terpatri di wajah Angel.
"Sudah-sudah, jangan membahas itu. Kalian tidak lihat wajah Angel sudah merah?"
Lovi menegur Adrian dan Adrina yang kompak menggoda Angel. Mereka kompak melihat ke arah Angel, tak terkecuali Andrean. Andrean mengalihkan tatapan saat Angel meliriknya sekilas. Lelaki itu juga sama dengan Angel, lebih memilih untuk menjadi pendengar.
__ADS_1
****
Andrean harus mengantarkan Adrina dan Angel karena Adrian terpaksa pulang lebih dulu untuk memenuhi undangan teman sesama artis yang melangsungkan acara tunangan. Ia baru ingat kalau ada undangan untuk menghadiri itu setelah di telepon oleh manager dan asisten nya.
Lovi pulang bersama Auristella. Mereka berdua dijemput oleh driver. Sementara Andrean diminta oleh Lovi untuk mengantar Adrina dan Angel.
Angel membuka pintu mobil di belakang namun cepat-cepat Adrina menahannya. Ia tersenyum lebar pada Angel.
"Aku duduk di sini ya. Kamu di depan,"
Angel kemudian mengangguk. Ia memenuhi permintaan Adrina. Di dalam mobil hanya Adrina yang aktif mengajak Angel dan Andrean bicara.
"Ah ternyata tidak asik satu mobil dengan kalian berdua. Berbeda sekali kalau dengan Adrian," keluh Adrina karena sepasang manusia di depannya hanya menjawab seadanya bila Ia tanya.
"Hmm tapi Adrian itu menyebalkan. Tidak seperti kamu, Andrean," lanjut gadis itu dengan tawa kecilnya.
"Andrean, tertawa bisa tidak sih? Aku seperti bicara pada batu,"
Angel melirik Andrean yang baru saja diprotes oleh Adrina. Lelaki itu memang diam saja. Angel mengumam dalam hati, "Tidak bisa dibayangkan sedingin apa pernikahan kami nanti,"
Angel merasa bodoh telah memikirkan itu sekarang. Ia menggeleng dan hal itu berhasil mencuri perhatian Andrean. Lelaki itu bertanya, "Kenapa?"
Namun Angel hanya menjawab dengan gelengan kepala dan senyum kecilnya. Tidak mungkin Ia bilang kalau sudah memikirkan pernikahannya bersama Andrean.
"Andrean, biasanya laki-laki seperti kamu itu sulit mencari kekasih. Tapi apa itu berlaku buatmu?"
"Hmm sepertinya iya. Karena yang aku lihat selama ini kamu selalu sendiri, tidak pernah dekat dengan seorang perempuan," Adrina menjawab sendiri pertanyaan nya.
Andrean menatap Adrina dari kaca di depannya. Di tatap tajam dan dingin oleh Andrean, Adrina terkekeh seraya meringis.
*****
"Kenapa harus mengantar aku dulu? Rumah kita berdekatan. Seharusnya kamu mengantar Angel lebih dulu,"
Adrina masih nyaman bersama Andrean. Ia pikir, Angel dulu yang akan diantar sampai rumahnya. Rumah Andrean dan dirinya sangat dekat, jadi Andrean tidak akan bolak-balik bila mengantar Angel terlebih dahulu.
"Sudah sampai,"
Andrean menghentikan mobilnya di depan kediaman Adrina. Gadis itu menghembuskan napas pelan.
"Okay, thanks ya, Andrean,"
"Hmm, Angel,"
"Ya?"
"Aku masuk dulu ya,"
"Iya, Adrina,"
"Kalian berdua hati-hati,"
__ADS_1
Andrean hanya menggumam sementara Adrina mengangguk tersenyum seraya menolehkan sedikit badannya ke belakang.
"Tidak mau menitip salam untuk Adrian?"
"Hah? Ck! Apa-apaan sih, Andrean?! Untuk apa menitip salam?! Bisa besar kepala, dia,"
Adrina tidak menyangka Andrean akan bicara seperti itu padanya. Tumben Andrean bisa menggoda orang lain hingga kesal.
"Kamu yang membuat adikku sedih kemarin?"
"Sedih? Sejak kapan dia bisa sedih?"
Adrina tidak jadi keluar dari mobil karena Ia bingung dengan ucapan Andrean. Kapan dia membuat Adrian sedih?
"Mungkin kamu dekat dengan seseorang?" Gumam Andrean dengan singkat menebak.
"Kamu itu kalau bicara yang jelas. Jangan sedikit-sedikit, aku masih bingung,"
Tidak hanya Adrina, Angel pun bingung dengan pembicaraan Andrean. Ia memang tidak ada urusannya sama sekali. Tapi penasaran juga kenapa Adrian bisa sedih? Anak yang selalu terlihat riang itu bisa sedih juga hingga membuat kakaknya merasa terganggu. Kalau tidak terganggu, tidak mungkin Andrean bicara seperti ini pada Adrina yang Ia duga adalah penyebab dari apa yang dialami Adrian.
"Aku---"
"Sepertinya Adrian sedih kemarin karena kamu. Maksudku, mungkin kamu baru saja menjalin hubungan dengan seseorang dan Adrian tahu. Jadi dia---"
"Hahahahha,"
Adrina terbahak mendengar penjelasan Andrean. Adrian cemburu? Sejak kapan? Mereka setiap bertemu selalu berdebat. Tidak ada tanda-tanda juga kalau selama ini Adrian serius menyukainya. Yang Ia pikir malah Adrian hanya bercanda saja kalau tengah menggodanya, bukan karena lelaki itu benar-benar menyukainya.
"Kami berteman, Andrean."
"Tapi seperti sepasang kekasih, heh?"
Adrina mendengus kesal. Ia membuang mukanya saat Andrean menatapnya dengan senyum miring.
"Kalau ternyata Adrian menganggapmu lebih dari teman, bagaimana?"
Andrean yakin, kalau Adrian tahu Ia telah bicara seperti itu pada Adrina, adiknya itu pasti akan marah besar.
Entah apa sebenarnya pertemanan yang terjadi antara Adrian dan Adrina. Mereka itu seperti saling terikat tapi entah apa yang mengikat. Hanya bersahabat tapi kalau dilihat seperti sepasang kekasih. Justru pertengkaran mereka itu yang membuat orang berpikir bahwa hubungan mereka sangat romantis dan berwarna.
"Kalau disuruh memilih, lebih baik aku menyukaimu daripada menyukai Adrian. Dia adalah laki-laki yang tidak pernah serius,"
"Hmm?" Angel reflek mengangkat alisnya. Tak menduga kalau Adrina akan bicara seperti itu.
Sementara Andrean terlihat tidak terganggu sama sekali dengan ucapan frontal Adrina yang baru saja Ia dengar.
"Dia menyebalkan juga. Bagaimana perempuan akan jatuh cinta?"
"Justru itulah letak keunikan Adrian yang mungkin tidak pernah kamu temui dalam diri laki-laki lain. Benar 'kan?"
Adrina terdiam setelah Andrean menjawabnya seperti itu. Matanya menatap Angel seolah mencari pembelaan. Angel sebagai perempuan pasti juga merasakan hal yang sama dengannya. Sebab Angel juga sudah mengenal bagaimana Adrian selama ini. Angel juga pasti setuju dengan ucapannya.
__ADS_1
Seharusnya nya begitu. Tapi nyatanya tidak. Jujur Angel malah mendukung Andrean dalam membela Adrian. Bukan karena Ia cemburu pada Adrina. Melainkan, Ia tahu Adrian tidak seburuk yang dipikirkan Adrina. Andrean dan Adrian tak bisa disamakan. Mereka memiliki karakter yang berbeda. Dan Angel tak memungkiri bahwa Ia juga menyukai karakter Adrian yang justru lebih membuatnya nyaman jika mereka bertemu dibanding bila Ia bersama Andrean. Adrian adalah lelaki yang menyebalkan memang. Tapi dia hangat, bisa membuat orang di sekitarnya nyaman dengan segala tingkah laku nya. Sementara Andrean berbanding terbalik dengan sang adik.
Terlepas dari itu semua, berteman dengan mereka berdua adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Angel.