Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 43


__ADS_3

Kepada seluruh pekerja, diharapkan datang tepat waktu. Sebelum kafe dibuka akan diadakan briefing terlebih dahulu.


-HRD Mc Kafe-


Email berupa pemberitahuan itu langsung masuk ke dalam memo di ponsel Angel agar Angel terus mengingatnya.


Angel sengaja mengatur alarm agar Ia dibangunkan pukul tiga dini hari. Sekarang adalah hari pertama Ia bekerja. Sehingga begitu membuka mata, Ia langsung membersihkan kamar terlebih dahulu, tersisa ranjang yang belum dirapikan sebab masih ada Andrean yang tidur di sana. Setelahnya, Ia turun ke dapur untuk memasak dibantu dengan maid, namun tetap Ia leader nya. Maid yang biasanya bertugas memasak layaknya chef merasa diringankan pekerjaan nya oleh Angel.


"Nona Angel kenapa terlihat terburu-buru?"


"Aku mulai bekerja hari ini,"


Angel melepas apron yang dipakainya. Kemudian menatap mereka yang membantunya.


"Ya ampun, Nona Angel. Kenapa malah memasak? Ya sudah, lebih baik Nona Angel segera bersiap,"


Angel mengangguk, kemudian Ia beranjak kembali ke kamar, tidak membantu menghidangkan makanan. Ia menyiapkan perlengkapan suaminya. Setelah itu, barulah Ia memutar tumitnya menuju kamar mandi.


******


"Ini Angel yang memasak?"


Auristella menginterupsi maid yang sedang menghidangkan sarapan di meja makan.


Mereka semua mengangguk, "Iya, Nona Auris,"


"Bukannya hari ini dia mulai bekerja? Kenapa malah memasak?"


Auristella meneguk air minum. Ia menoleh saat bahunya ditepuk lembut. Terlihat sosok Lovi yang sudah mandi.


"Angel tidak mendengarkan ucapan Mommy rupanya. Dia masih memasak. Astaga, anak itu,"


"Gatal sekali tangannya ingin memasak ya,"


Lovi menatap makanan di atas meja dengan gelengan pelan. Angel mungkin memasak dengan keadaan tidak tenang karena takut terlambat datang ke tempatnya bekerja, dan entah kapan juga Angel bangun. Yang jelas pukul lima pagi Ia sudah selesai memasak.


"Jam tiga Nona Angel sudah bangun. Tapi bersih-bersih kamar dulu, barulah memasak," lapor salah satu maid pada Lovi.


"Aku selalu terlambat untuk membantu,"


"Tidak, Nona Lovi,"


Bukan salah Lovi, tapi memang mereka saja yang terlalu pagi untuk membuat sarapan.


*****


"Hari ini kamu mulai bekerja ya?"

__ADS_1


Angel mengangguk disela kegiatan makannya saat kembaran sang suami bertanya.


"Pergi dengan siapa? Kalau tidak diantar Andrean, denganku saja. Kebetulan pagi ini aku ada live music,"


Angel menoleh pada suaminya. Tadi, Andrean mengatakan tidak bisa mengantar dirinya di hari pertamanya bekerja. Karena ada pekerjaan. Angel tidak masalah sama sekali. Lagipula Ia terbiasa menggunakan transportasi milik pemerintah negaranya setiap berangkat kerja.


"Bagaimana? Pergi denganku saja,"


Angel meminta pendapat suaminya sebelum menjawab. Namun Andrean tak bereaksi apapun. Lelaki itu fokus menyantap sarapannya.


Jadi, Ia harus apa?


"Iya, Angel. Dengan Adrian saja. Biar kamu tidak terlambat. Masuk jam berapa?"


"Delapan, Mom,"


Adrian menyentuh layar ponselnya untuk melihat waktu. Tertera pukul tujuh.


"Aku jamin tidak akan terlambat,"


Adrian membujuk istri dari kakaknya itu. Ia live music pukul setengah sembilan, masih lumayan lama. Jadi lebih baik mengantar Angel ke tempatnya kerja dulu, baru setelahnya Ia ke tempat live music.


"Iya, aku pergi dengan Adrian," putus Angel.


Andrean melirik suaminya yang ternyata menatapnya usai Ia menjawab.


Andrean terlihat mengangguk samar. Angel menghela napas lega. Ia pikir Andrean keberatan kalau Ia pergi dengan Adrian.


"Tapi aku tidak mengganggu waktu kamu 'kan?"


"Tidak sama sekali,"


"Auris hari ini tidak kemanapun?"


Auristella menggeleng saat ditanya Daddynya. Hari ini Ia hanya memiliki satu kelas dan diadakan secara online karena pengajar yang berhalangan hadir.


"Andrean bagaimana?"


"Aku ada pekerjaan pagi ini, Dad. Tidak bisa mengantar Angel,"


Devan mengangguk. Ia terbiasa bertanya pada anaknya satu persatu setiap pagi mengenai rencana mereka pada hari itu. Lalu setelahnya berpesan, "Hati-hati, ya."


"Angel, kenapa masih memasak?"


Lovi menatap Angel dengan tatapan tajamnya. Ia sengaja terlihat galak agar Angel tak lagi menjadi chef mereka.


Angel terkekeh, "Iya, Mom,"

__ADS_1


"Iya apa? Kamu hanya perlu mengurus keperluan Andrean saja, Angel,"


"Iya, Mom. Akan aku lakukan,"


Hari tanpa berkutat dengan perkakas dapur adalah hal yang aneh bagi Angel. Tapi Ia akan mencoba. Lagipula Ia juga merasa sedikit kesulitan pagi ini. Apa karena Ia belum terbiasa lagi sibuk dengan pekerjaan rumah sebelum pergi bekerja?


******


Angel tampak anggun sekalipun mengenakan pakaian seorang barista. Rambutnya diikat menjadi satu dengan beberapa helai yang jatuh, kemudian Ia memakai topi dengan logo kafe.


Angel tersenyum menatap dirinya di cermin. Penampilan baru baginya selama Ia menjadi barista. Semoga Ia bisa nyaman dengan apa yang Ia lakukan sekarang ini.


"Hai, Angel,"


Angel tersenyum menoleh ke belakang saat Ia disapa oleh seorang perempuan yang juga tersenyum padanya. Ia mengangguk singkat, "Hai,"


"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya. Berapa usia mu kalau aku boleh tahu?"


Angel menyebut usia nya menggunakan jari. Dua dan delapan, Ia hanya berbeda satu tahun dengan suaminya.


Perempuan itu mengangguk. "Sudah cukup matang. Tidak salah 'kan kalau aku bertanya apa kamu sudah menikah atau belum?"


Senyum Angel masih terukir, Ia menggeleng. Tidak masalah sama sekali. Lagipula Ia memang tak ada niat untuk menutupi statusnya saat ini.


"Aku sudah menikah,"


"Kamu cantik sekali," puji perempuan itu seraya tersenyum menatap Angel.


"Terimakasih. Kamu juga cantik," balas Angel dengan wajah merona. Hari pertama bekerja sudah ada orang yang memujinya. Ah, semoga ini hari yang baik untuk mereka berdua ke depannya.


"Kita berteman sekarang,"


Tangan perempuan itu terulur memperkenalkan dirinya, "Aku Jovinka,"


Angel menerima uluran tangannya, "Hai, Jovinka,"


"Kita berteman sekarang,"


Angel tersenyum lebar. Ia sudah memiliki teman bahkan disaat Ia baru mulai bekerja.


"Jangan sungkan. Aku pun baru di sini mengingat kafe juga baru dibuka,"


Angel mengangguk pelan. Jovinka menyentuh bahunya setelahnya berlalu,


"Ayo, kita briefing dulu sebelum kafe buka,"


Angel mengangguk dengan cepat. Ia sudah siap untuk bekerja sesuai dengan permintaan kakaknya. Ah lebih tepatnya bukan hanya permintaan tapi sudah pemaksaan. Tapi seperti biasa, setiap melakukan apapun, Angel tak pernah merasa terpaksa sedikitpun agar hasil yang Ia peroleh baik.

__ADS_1


__ADS_2