Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 81


__ADS_3

Andrean dan Angel sama-sama sudah berbaring terlentang menghadap langit-langit kamar. Keduanya terdiam, tidak tahu ingin membahas apa. Angel yang biasanya pandai mengangkat topik obrolan bersama suaminya, sekarang justru nyaman dengan keterdiamannya. Sementara Andrean memang tipe orang yang harus dipancing dulu untuk mengobrol sekalipun dengan istrinya sendiri. Ditambah lagi Angel sedang sakit jadi memang sebaiknya diam supaya Angel bisa istirahat.


Suasana hening tiba-tiba diisi dengan denting ponsel Andrean lagi. Angel dan Andrean spontan menoleh nakas di sebelah kepala Andrean. Ponsel Andrean ada di nakas itu dan Andrean segera meraihnya.


Angel meneguk salivanya menelan rasa penasaran. Tapi sulit, kepalanya berputar ke samping kanan dan matanya melirik suaminya sedang sibuk apa di ponsel.


Angel melihat suaminya sedang mengetik tapi Angel tidak tahu apa kalimat yang diketik oleh suaminya itu. Dugaan Angel, Andrean sedang membalas pesan Abraham.


Setelah itu, Andrean menoleh ke arah Angel yang langsung memutar kepalanya menjadi menatap ke atas lagi, tidak ke samping.


“Sayang, kenapa belum tidur?”


“Hmm? Aku belum bisa tidur,”


“Kenapa? Kamu memikirkan sesuatu? Tinggal dulu lah semua beban pikiran kamu itu. Fokus dengan kesehatan kamu. Kamu jangan sampai kurang istirahat,”


“Iya, kamu sendiri belum tidur,”


“Aku juga sama, belum bisa tidur. Tapi aku ‘kan tidak sakit jadi tidak apa-apa kalau tidurnya sedikit terlambat, atau kurang tidur,”


“Ya tidak boleh lah. Kita sama-sama manusia. Kalau aku harus istirahat yang cukup, berarti kamu juga harusnya begitu, Ean,”


“Sayang, aku orang yang kuat,”


“Terus maksud kamu, aku lemah ya?”


“Tidak, aku tidak bilang kamu lemah, Angel. Kamu juga kuat, buktinya kuat menghadapi kerasnya dunia,”


“Kerasnya dunia? Maksud kamu?”


“Iyalah, kamu itu kuat, mandiri, dunia kamu keras dan kamu bisa melewati itu semua. Itu artinya kamu hebat!”


“Ya terus kenapa kamu bilangnya kamu orang yang kuat? Seakan-akan aku nggak kuat,”


“Ya sudah sekarang kita buktikan saja siapa yang lebih kuat,”


Tiba-tiba Andrean mendekat ke arah Angel. Ia menindih istrinya itu dan kini tersenyum sambil menatap.


“Mau kita buktikan siapa yang lebih kuat? Hmm?”


“Tidak, kamu memang lebih kuat karena kamu laki-laki,”


“Oh menyerah sebelum membuktikan?”


Melihat senyum miring Andrean, Angel langsung mendorong pelan wajah Andrean. “Jangan macam-macam, ini sudah malam,”


“Justru itu, Sayang. Karena sudah malam, jadi kita bebas membuktikan siapa yang lebih kuat,”


“Ean, aku mau tidur. Jangan ganggu,”


“Tapi kenyataannya kamu tidak tidur, aku diam, kamu juga ikut diam. Harusnya kamu tidur, Sayang,”


“Aku tidak bisa tidur,”


“Apa yang mengganggu pikiran kamu sampai kamu sulit untuk tidur? Hmm?”


“Tidak ada, tapi—“


“Jujur padaku, pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu ya?”


Andrean mencium bibir Angel sekilas tapi posisinya masih sama, tepat berada di atas Angel.


Angel berusaha untuk menyingkirkan namun Andrean tetap mempertahankan posisinya. “Aku akan menyingkir kalau kamu tidur, okay?”


Walaupun menindih, tapi Andrean tidak mungkin menyakiti istrinya. Hanya sebagian badannya saja yang menindih dan itupun Ia tahan bobot badannya sendiri dengan satu lengannya.


“Jangan paksa aku kalau aku belum bisa tidur,”


Angel kelihatan kesal dan kali ini mendorong Andrean lumayan keras hingga akhirnya posisi Andrean berpindah menjadi berbaring terlentang dan kedua lengan Angel menekan dada Andrean.


“Wow kamu kuat juga mendorong aku, Angel,”


“Kamu lengah sih, jadi kalah ‘kan,” ujar Angel dengan nada kesal setelah itu berbaring memunggungi Andrean.


“Kamu kenapa, Sayang? Aku buat salah ya?”


“Tidak,”


“Lalu kenapa kelihatannya lagi menyimpan kesal padaku? Hmm? Apa itu yang membuatmu sulit tidur?”


“Apa kamu tidak mau menceritakan sesuatu padaku?”


Sejenak Andrean terdiam. Angel bertanya seperti itu pasti ada sebabnya. Ia menduga Angel tengah mencurigai sesuatu. Makanya memberi kode supaya Ia bercerita. Tapi Ia bingung apa yang harus Ia ceritakan. Ia tidak tahu apa yang sedang mengganggu pikiran Angel.


“Angel, aku bingung. Aku tidak punya sesuatu yang harus aku ceritakan padamu, tapi kalau kamu mau tau sesuatu kamu boleh tanya padaku sekarang,”


“Oh ya sudah kalau memang tidak ada yang mau kamu ceritakan. Aku hanya ingin tau saja, barangkali ada yang mau kamu ceritakan,”

__ADS_1


“Aku tidak tau apa yang harus aku ceritakan padamu, belum ada hal yang aku rasa perlu kamu tau, tapi kalau misal kamu mau tau sesuatu jangan sungkan tanyakan padaku. Aku akan berusaha untuk menjawab,”


“Dengan jujur?”


“Iya dengan jujur, Sayang,”


“Hmm…”


Andrean melihat Angel menganggukkan kepalanya. Lalu perempuan itu tidak bersuara lagi. Andrean rasa pembicaraan ini belum selesai. Ia yakin ada yang sedang dicari tahu oleh Angel tapi anehnya Angel tidak bertanya langsung kepadanya. Jujur Ia bingung apa yang harus Ia ceritakan pada Angel. Sementara Angel sepertinya sedang meminta Ia untuk menceritakan suatu hal kepadanya.


“Angel, apa kamu sudah tidur?”


“Belum,”


Andrean langsung memeluk Angel dari belakang. Kemudian Ia mencium bahu Angel yang masih berbaring memunggungi dirinya.


“Kamu kenapa, Sayang?”


“Tidak apa-apa, kenapa bertanya seperti itu?”


“Sepertinya kamu yang harus cerita padaku, bukan aku. Karena untuk sekarang, aku tidak punya hal yang bisa aku ceritakan pada istriku ini,”


“Yakin?”


“Iya, kamu sendiri bagaimana? Ada yang mau diceritakan kepadaku? Mungkin tentang apa yang kamu pikirkan sekarang,”


Angel terkekeh lalu menyentuh rahang suaminya yang kini berada di atas pipinya. Andrean menempelkan pipi mereka, dalam posisi yangs angat dekat seperti ini, Andrean benar-benar dibuat jatuh cinta dengan harumnya Angel.


“Andai saja aku bisa membawa harum kamu ini kemana-mana aku pergi ya, pasti hariku menyenangkan terus,”


“Memang aku harum ya?”


“Jangan ditanya,”


Andrean mencium pipi kemudian turun ke tengkuk dan bahu Angel yang langsung melenguh kegelian.


“Diam, jangan mengganggu aku, Ean,”


“Biasanya tidak bicara begitu. Aku semakin curiga kamu sedang menyimpan rasa kesal padaku ya?”


Angel berdecak pelan. Kenapa harus Ia yang dituntut untuk terbuka? Seharusnya Andrean lah yang terbuka, menceritakan apa maksud Abraham, dan siapa yang mereka bahas sebenarnya?


“Kamu sudah mencintai aku atau belum, Ean?” Tanya Andrean yang entah kenapa khawatir kalau Andrean sedang dekat dengan perempuan lain dan Abraham tahu makanya dua kali menyinggung ke arah sana.


“Kamu sudah tau jawabannya,”


“Kita istirahat ya, jangan membicarakan apapun lagi,”


Angel memilih untuk menelan pikiran negatifnya sendiri. Karena apa yang Ia pikirkan belum tentu seperti itu kenyataannya.


Angel memejamkan mata karena Ia mulai mengantuk. Dan tak lama kemudian Ia terlelap, Andrean yang menyadari istrinya sudah tertidur dengan wajah yang damai, deru napas teratur langsung menjauhkan pipi mereka. Bisa-bisa Angel tidak nyaman kalau terus seperti itu posisi mereka. Akhirnya Andrean berinisiatif untuk memberi jarak di antara mereka, tapi tangan Andrean masih melingkari pinggang istrinya itu.


“Selamat malam, Sayang. Semoga keadaanmu membaik besok. Dan semoga tidak ada masalah apa-apa di antara kita yang sedang kamu tutupi ya,”


*********


“Nanti aku pulang mungkin sedikit terlambat ya, Angel. Kamu jangan khawatir, banyak yang harus aku urus di luar kantor hari ini,”


Setelah sarapan bersama, Andrean pamit pada Angel yang pagi ini masih juga demam, bahkan kelihatan lemah. Beda dari semalam yang masih ada energinya walaupun mulai demam dan perutnya sakit.


Akhirnya barusan Angel dan Andrean sarapan di kamar. Andrean berinisiatif untuk membawakan sarapan ke kamar karena tidak ingin istrinya keluar kamar duku untuk sementara waktu, dan pesan Mommy nya juga seperti itu.


Andrean menyuapi Angel sambil menyuapi dirinya sendiri. Permintaan Angel untuk makan sendiri diabaikan oleh Andrean. Lelaki itu ingin tangannya ini berguna untuk istrinya. Selama ini rasnaya Angel saja yang berguna untuknya. Apa-apa tentangnya selalu diurusi oleh Angel, ketika Angel lemah sudah seharusnya Ia melakukan hal yang sama.


Setelah makan bersama sambil menonton televisi, akhirnya Andrean pamit berangkat bekerja.


“Memang kamu mau mengurus apa kalau aku boleh tau?”


“Pekerjaan, Sayang. Tidak ada yang lain tentu saja,”


“Jadi pulang malam ya?”


“Oh tidak, aku tidak mau sampai malam. Hanya lebih sore dari biasanya saja,”


“Oh okay hati-hati ya,”


Andrean menganggukkan kepalanya. Ia lantas menunduk untuk memberikan kecupan di kening Angel yang panas.


“Ingat ya pesan-pesanku ini, Angel. Kamu jangan keluar kamar, istirahat saja di kamar, okay? Jangan melakukan kegiatan apapun, kalau kamu mau sembuh,”


“Aku mau sembuh,”


“Ya makanya dengar perkataan aku. Kamu harus istirahat full. Dan satu lagi, kalau sampai nanti malam demam kamu tidak turun juga, aku akan membawa kamu ke rumah sakit ya,”


“Hmm? Jangan, aku biasa demam begini. Dan pasti sembuh tanpa ke rumah sakit. Kamu tidak perlu khawatir, Ean. Aku sering sakit demam, kamu juga ‘kan pasti? Jadi tidak perlu lah ke rumah sakit. Ini penyakit yang biasa, wajar, semua orang sering mengalaminya aku yakin,”


“Kamu jangan membantah. Aku mau kamu secepatnya sembuh tidak tunggu nanti-nanti. Jangan terlalu menganggap penyakit itu enteng, Angel. Apapun sakitnya, harus segera diobati, jangan karena sudah sering sakit, kamu menganggap bahwa penyakit itu tidak berbahaya. Kita tidak akan tau apa yang terjadi karena kita orang awam. Yang paham ‘kan dokter,”

__ADS_1


“Tapi aku kalau sedang padat kegiatannya, suka sakit demam, batuk, flu. Jadi itu sudah biasa. Mengikuti cuaca juga ‘kan,”


Andrean berdecak pelan. Tak lagi merespon ucapan istrinya, Angel meraih ponsel di nakas, Ia simpan di saku celananya setelah itu keluar dari kamar.


“Ih Andrean kenapa jadi galak begitu sih? Aku tidak mau ke rumah sakit karena aku baik-baik saja, dia yang terlalu khawatir. Sudah aku tegaskan tadi, aku sering sakit begini dan pasti sembuh,” gumam Angel yang masih bertahan di atas tempat tidurnya. Kepalanya pening, dan Ia ingin melanjutkan tidurnya namun tiba-tiba pintu kamarnya dibuka.


Angel menoleh, Angel pikir suaminya kembali lagi ke kamar karena ada barang yang tertinggal tapi ternyata Auristella yang datang.


“Hai, Angel. Sudah makan?”


“Hai, sudah, kamu sendiri?”


“Sudah tadi makan dengan Daddy, Mommy, dan Ian seperti biasa. Aku doakan semoga kamu cepat sehat seperti sedia kala ya, jangan sakit. Kasihan kakakku itu. Dia kelihatan khawatir sekali denganmu, Angel,”


“Iya, Auris. Terimakasih untuk doanya,”


“Auris, kamu jangan ganggu Angel. Ayo cepat keluar,”


Andrean tidak berhasil mencegah langkah adiknya yang bersikeras untuk menghampiri Angel di kamar. Mereka bertemu di anak tangga. Akhirnya terpaksa Andrean naik lagi ke lantai atas menyusul langkah kaki Auristella yang begitu cepat. Andrean hanya tidak ingin adiknya mengganggu istirahat Angel.


“Memang siapa sih yang ganggu? Aku hanya ingin tau bagaimana keadaannya,”


“Ya sudah ayo keluar, aku antar kamu ke kampus mau tidak?”


“Hah? Serius? Mau-mau, benar ya?”


“Iya, jadi ayo kita berangkat sekarang nanti aku terlambat,”


“Kalaupun terlambat, kamu yang punya kantor memang siapa yang berani memarahimu,”


“Auris, aku juga hidup dengan aturan, tidak bisa seenak hati dalam bersikap,”


Auristella menganggukkan kepalanya. Ini nasehat terselubung untuknya. Andrean kalau memberi nasehat memang suka sambil mencontohkan, dan Angel paham.


“Iya-iya, aku tau aku sering terlambat masuk ke kampus. Ini kamu lagi menasehati aku ‘kan?”


Andrean terkekeh lalu mengacak dengan pelan puncak rambut adiknya itu.


“Ya sudah ayo kita pergi dari kamar ini, biarkan Angel istirahat,”


Andrean merangkul bahu adiknya, dan mengajaknya untuk berjalan keluar dari kamar. Sebelum menutup pintu, Andrean melambai pada istrinya.


“Bye, Sayang. Baik-baik di rumah ya,”


“Iya, kamu juga baik-baik di luaran sana,”


Andrean tersenyum sambil menaikkan salah satu alisnya. Pintu ditutup oleh Andrean sehingga Angel tak melihat Andrean bersama Auristella lagi.


“Aku tidak tau sekarang harus apa. Benar-benar mati gaya kalau di rumah. Masih lebih baik di rumah dalam keadaan sehat, aku bisa punya kegiatan, aku bisa mengerjakan apapun yang aku mau, sekarang keadaanku sakit jadi tidak bisa melakukan apapun. Kepalaku saja pening sekali,”


*********


“Siapa itu? Kenapa dia membunyikan klakson mobilnya, Ean? Mungkin itu kenalan kamu,”


Andrean menghentikan mobilnya, ketika satu mobil asing tiba-tiba berhenti di sebelah mobilnya dan membunyikan klakson seperti menyapanya, tak lama kemudian salah satu jendela mobil itu terbuka.


“Hai, Andrean,”


“Oh Alena, hai. Kamu tinggal di sekitar sini juga?” Tanya Andrean yang merasa bingung setelah bertemu dengan mantan teman kuliahnya sesaat setelah Ia meninggalkan kawasan tempat tinggalnya. Gerbang masuk bahkan baru beberapa meter Ia lewati.


“Aku tadinya mau datang ke rumah kamu. Selagi aku ada di sini,”


“Aku mau memberikan undangan reuni secara langsung,”


“Kapan acaranya? Aku akan datang kalau memang ada peluang,”


“Akhir pekan ini ya,”


Perempuan bernama Alena itu mengambil undangan yang tadinya akan Ia antar ke rumah teman kuliahnya dulu.


“Beruntungnya aku bertemu kamu di sini ya jadi bisa memberikan undangan itu secara langsung ke tanganmu. Datang ya, semua datang,”


“Okay aku usahakan, terimakasih,”


“Kalau begitu aku pamit, bye,”


Andrean menganggukkan kepalanya membiarkan Alena pergi lebih dulu dengan mobilnya yang berwarna putih itu.


“Bisa-bisanya tidak sengaja bertemu dengan mantan,”


“Hei sembarangan, dia bukan mantanku ya,”


“Oh begitu, karena kalian keliatan akrab. Bahkan dia sampai mau datang ke rumah kita untuk memberikan undangan tu secara langsung,”


“Ya apa salahnya dia datang ke rumah? Kedatangan dia ada tujuannya, Auris, dan tujuannya adalah menyerahkan secara langsung acara reuni yang digelar,”


“Apa kalian masih sering komunikasi?”

__ADS_1


“Tidak lah, aku saja baru kali ini bertemu dia lagi. Setelah lulus, aku tidak pernah lagi bertemu dengan dia,”


__ADS_2