Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 45


__ADS_3

"Kamu terlihat semakin berbeda ya setelah menikahi Angel,"


Suasana makan malam yang hangat kembali terjadi di istana Devan. Seperti biasa, si aktif menjadi pembicara, Adrian kali ini tetap menjalani tugasnya dengan baik yaitu menghadirkan topik obrolan.


Dan kali ini yang menjadi topik lnya adalah Andrean. Sebagai adik, yang tahu luar dalam Andrean, Adrian melihat Andrean itu semakin hari semakin berubah.


Maksudnya bukan berubah ke arah yang negatif justru sebaliknya. Andrean kelihatan hangat, tidak dingin, tampak mengurangi kesibukan di luar rumah juga. Intinya sosok Andrean mulai berubah lebih ke arah yang postif dan Adrian senang akan hal itu.


"Ya makanya kamu juga menikah lah supaya bisa berubah juga,"


"Memang aku power ranger, Dad? Daddy mau aku berubah menjadi apa? Hmm?" Tanya Adrian seraya tersenyum menatap ayahnya yang baru saja menyindir. Dirinya yang belum juga menikah memang belakangan ini sedang gencar-gencarnya diolok oleh Devan maupun Lovi.


"Sepertinya Mommy sama Daddy udah mulai pengen mantu lagi ya?"


"Iya, kurang kalau hanya satu," jawab Lovi dengan santai.


Memiliki Angel sebagai menantu, membuatnya bahagia. Sedasa ada teman, selain Auristella. Tapi jujur Lovi tidak sabar kedua anak lelakinya menikah sehingga Ia punya dua menantu perempuan, nanti menantu laki-laki menyusul.


"Ya doakan aja, Mom,"


"Mommy selalu doakan yang terbaik untuk anak-anak Mommy, tidak ketinggalan Angel juga tentunya,"


Angel tersenyum mendengar itu. Bahagia sekali ketika benar-benar disayang oleh keluarga duaminya. Di rumahnya sendiri, Ia tak mendapatkan itu, tapi di rumah ini Ia berhasil mendapatkannya tanpa Ia minta. Makanya Angel tak pernah berhenti untuk bersyukur ketika mendapatkan suami seperti Andrean, dan keluarganya yang mau menerima semua kekurangannya.


"Tapi serius, kamu jadi Andrean yang beda. Lebih hangat, sering di rumah ya sepertinya? Apa mungkin cepat rindu istri?"


"Diam, Ian. Jangan mengomentari apapun,"

__ADS_1


Tawa Adrian pecah setelah mendapatkan peringatan itu dari sang kakak kembar. Justru semakin dilarang, Ia akan semakin menyebalkan.


"Apa Angel yang membuat kamu jadi seperti ini, Ean?"


"Iya, siapa lagi? Semua karena Angel,"


"Ah ternyata benar dugaanku. Untuk Angel, terimakasih ya sedikit demi sedikit kamu berhasil membuat Andrean jadi manusia yang normal,"


Andrean melayangkan tatapan tajam ke arah adiknya. Apakah selama ini Ia bukan manusia yang normal? Ia rasa tak ada bedanya antara Ia dengan manusia pada umumnya. Bisa ditegaskan bahwa Ia adalah manusia yang normal, layaknya manusia lain.


"Jadi tidak begitu sadis lagi kalau natap, udah cair sedikit, sering di rumah kalau aku perhatikan, ya walaupun masih ada sisa-sisa Andrean yang cuek dinginnya. Tapi aku bersyukur ada yang beda setelah kamu menikahi Angel. Memang kalau boleh tau apa yang dia lakukan sampai kamu beda?"


"Memang ada yang beda ya?"


"Iya, kamu tidak menyadari itu?"


Andrean diam, sebenarnya Ia hanya ingin memenuhi permintaannya Angel saja, tapi entah kenapa Ia nyaman menjadi Andrean yang sepeeti sekarang, tidak begitu kaku seperti dulu, yang hidupnya hanya fokus pada pendidikan dan karir selebihnya tak mau ambil pusing. Jarang berinteraksi walaupun dengan keluarga sendiri.


Angel berkata seperti itu sambil tersenyum. Detik itu juga Andrena tersenyum cukup lebar. Angel yang melihatnya langsung terkekeh puas.


"Wah terimakasih sudah menuruti permintaan aku, jangan terlalu dingin lagi ya, jangan terlalu cuek juga. Maksud aku, tidak perlu seperti Adrian yang superaktif itu, tetap jadi dirimu sendiri, tapi aku ingin sekali melihatmu versi lebih hangat, jadi lebih menyenangkan juga hubungan kita, Ean,"


"Ya,"


"Ke yang lain bisa?"


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Sering senyum, kalau diajak bercanda jangan sungkan untuk tertawa, jangan terlalu cuek atau dingin, aku ingin melihatmu seperti itu, tapi bukan hanya ke aku saja, ke semua orang di rumah ini bisa? Biar kamu tidak diejek oleh adikmu Adrian yang sering kamu sebut menyebalkan itu,"


"Aku rasa aku berbeda kalau sama kamu saja,"


Angel terkekeh menutupi kegugupannya. Ia juga berusah menahan semburat merah di pipinya.


"Tapi mereka juga pasti senang kalau kamu lebih hangat, lebih terbuka, jangan dingin-dingin, nanti lama kelamaan jadi es batu,"


"Kamu bisa melucu juga ternyata,"


Andrean mencubit pelan pipi Angel dan itu membuat Angel terkekeh. Angel merasa jantungnya berdegup tidak menentu. Andrean yang sepeeti ini, benar-benar membuatnya nyaman. Dan tanpa sadar mereka semakin akrab, semakin dekat, tidak begitu kaku seperti sebelumnya.


"Melamun saja! Apa yang kamu pikirkan. Melamun sambil senyum-senyum lagi,"


Auristella menegur kakak tertuanya itu yang mengaduk sarapannya sambil tersenyum tipis. Kapan lagi melihat tingkah aneh Andrean itu kalau bukan detik ini. Aneh, tapi membuat Auristella senang, jujur.


"Lagi memikirkan apa, Ean?"


"Tidak ada, Mommy,"


"Mommy senang kamu jadi berubah menjadi sosok yang lebih hangat setelah menikah dnegan Angel. Artinya Angel sudah membawa pengaruh postif untuk kamu ya. Andrean yang dinginnya luar biasa, jarang senyum, tak acuh, terkadang kesannya mengintimidasi, sekarang jadi lebih hangat,"


"Memang harus begitu lah, apalagi dengan istri. Kamu kalau dengan Angel masih dingin, harang senyum? Jarang bicara? Parah sekali, jangan begitulah,"


"Jangan bicara hal yang sebenarnya kamu tidak tau, Ian. Aku tidak suka mendengar," ujar Andrean dengan ketus.


"Dengan kita saja sudah mulai menyenangkan, mulai asyik, apalagi dengan istri. Daddy yakin Andrean ini sosok yang menyenangkan untuk istrinya sendiri, bagaimana menurutmu, Angel?"

__ADS_1


"Daddy benar," jawab Angel.


Perlahan hubungannya dengan Andrean mulai menghangat. Lebih terbuka satu sama lain, lebih akrab lagi tak selayaknya orang asing seperti awal-awal menikah.


__ADS_2