
Andrean baru saja menidurkan kedua putranya. Mereka seolah tidak ingin terpejam dan terus mengajak Andrean berinteraksi. Bibir kecil mereka sudah bisa memberikan senyuman untuk untuk Andrean. Lelaki itu dibuat terharu dan tidak menyangka kalau akan memiliki anak dalam usia yang masih tergolong muda. Tapi Ia bahagia karena anugerah yang diberikan Tuhan padanya tidak main-main. Ia sangat bersyukur memiliki dua lelaki kecil itu.
Andrean kembali duduk di samping Angwl yang masih terpejam. Sudah tiga jam perempuan itu keluar dari ruang operasi, namun kesadarannya belum juga pulih.
Andrean mengusap lembut tangan Angel yang ditanam jarum infus. Andrean mengecupnya seraya memejamkan mata. Andrean begitu khawatir akan perempuan itu sekarang.
Perlahan tangan dalam genggamannya bergerak. Andrean menatap wajah Angel yang meringis. Tak lama kelopak matanya terbuka sempurna. Angel ingin menggunakan tangannya untuk mengusap kening, Namun Andrean menahannya karena disana masih perlu perhatian khusus mengingat keberadaan jarum infus tersebut.
"Gunakan tanganku bila perlu. Bagian mana yang sakit?"
Andrean mengangsurkan tangannya untuk mengusap kepala Angel yang masih berdenyut. Angel hanya diam menatap kegiatan suaminya itu.
"Tanganmu masih di infus," jelas Andrean walaupun Angel tidak bertanya.
"Aku masih punya tangan yang lain, Ean,"
"Ya, tapi aku yang ingin melakukannya. Memangnya salah?"
"Romantis sekali Tuan tampan ini," ucap Angel yang ternyata sudah bisa menggoda padahal kondisinya masih lesu.
"Dimana mereka?" tanya Angel pada Andrean.
Andrean menunjuk box bayi menggunakan dagunya.
"Baru saja tidur setelah menyusu,"
Angel mengerinyit menatap Andrean.
"Mereka mengonsumsi susu formula?"
"Ya, Angel. Karena kamu belum juga bangun. Sementara mereka sudah merengek lapar sejak tadi,"
__ADS_1
Raut wajah Angel berubah sedih. Seolah Ia baru saja melakukan sebuah kesalahan.
"Maafkan aku,"
Andrean menggeleng dengan tegas kemudian beralih merangkum wajah cantik Lovi dengan lembut.
"Mereka mengerti kalau Mommy nya belum bisa memberi makan,"
"Lahap?"
Andrean mengangguk tanpa ragu. Kedua putranya sangat menikmati susu yang di berikannya atas peraturan dokter.
"Setelah mereka bangun, kamu harus menyusuinya," ucap Andrean.
Tentu saja Angel mengerti. Ia juga tidak sabar memberi kedua putranya makanan yang berasal dari dirinya sendiri. Angel merasa sangat berarti sekarang. Karena Ia diperlukan oleh anaknya.
"Kamu?"
"Aku? lahap minum susu?" tanya Andrean layaknya orang bodoh.
Angel berdecak kesal saat menyadari pikiran yang sedang berkeliaran di otak suaminya itu. Pasti melenceng dari sesuatu yang benar. Padahal Angel bertanya pada Andrean 'apakah Ia juga sudah makan seperti halnya anak mereka?'
"Ternyata kamu lebih bodoh daripada aku," ucap Angel dengan tatapan sinisnya. Ia menarik selimutnya hingga menutupi seluruh permukaan wajah.
"Bangun, Angel!"
Andrean menyentuh lengan Angel kemudian berbicara dengan nada yang cukup kencang. Hingga salah satu anak mereka menangis karena terkejut.
Angel langsung menurunkan selimutnya kemudian menatap Andrean sangat tajam dengan aura permusuhan. Siapapun yang mengganggu ketenangan anaknya akan menjadi musuh Angel.
"Tanggung jawab, Andrean!"
__ADS_1
"Aku sudah menikahimu," jawabnya dengan santai. Angel dibuat mengusap dada.
"Anakmu menangis,"
"Aku tahu, Angel. Dan itu bukan karena aku,"
Sepasang manusia yang baru menjadi orang tua itu malah berdebat mengacuhkan putra mereka yang menangis. Bahkan sekarang bukan hanya salah satunya saja. Keduanya seolah ingin menarik perhatian kedua orang tuanya. Dan itu seperti peringatan untuk Angel dan Andrean agar selesai berdebat.
"Cepat bawa mereka kemari!"
Andrean langsung menuruti perintah Istrinya. Membawa keduanya dalam gendongan.
"Jangan sekaligus kamu membawa mereka, Andrean. Aku merinding melihatnya,"
Setelah Andrean meletakkan anaknya di atas ranjang luas yang sama dengan Angel, Devan berdecak menanggapi ucapan Istrinya.
"Aku lelaki kuat, Angel,"
Tidak ingin melanjutkan perdebatan, Angel langsung membuka kancing depan pakaiannya untuk mengeluarkan sumber makanan anak mereka.
"Aku beri nama Axelion dan Axelia sesuai kesepakatan kita," ucap Andrean di sela kegiatannya yang memperhatikan betapa lahapnya mereka dalam menyantap susu yang diberikan Angel.
"Aku suka dengan nama itu. Terimakasih sudah mendengar saranku,"
"Semua untukmu, Angel. Apa lagi yang kamu inginkan? hm? Aku pasti bisa memenuhinya,"
"Apapun?" tanya Angel dengan ragu.
"Ya, apapun," jawab Andrean dengan yakin. Bahkan gerak tubuhnya terlihat sangat percaya diri. Ia bisa memenuhi semua keinginan Angel.
Angel tersenyum ketika mengingat momen dimana Ia melahirkan beberapa waktu lalu. Ia masih tidak menyangka kalau Ia sudah melewati momen mengharukan itu.
__ADS_1
***********