
"Aku ganti dengan bunga yang lain!"
Angel menjauhi tubuh suaminya. Memilih untuk sibuk sendiri melihat-lihat bunga yang lain. Andrean menyadari kalau Ia sudah menyulut emosi Lovi.
Andrean kembali mendekat, dan menarik pinggang istrinya. Memeluk perempuan itu dari belakang adalah hal kesukaan Andrean. Di saat seperti itu Ia merasa sangat melindungi Angel dengan tubuh tegapnya. Andrean meletakkan dagunya di bahu Angel.
"Sayang, bunga mawar bahaya buat kedua anak kita juga. Mereka bisa saja terluka ketika menyentuhnya,"
Andrean memberi pengertian selembut mungkin.
"Aku menyesal tidak memikirkan ini dari awal," gumam Andrean. Tatapannya menuju bunga mawar sialan yang sudah membuat jemari istrinya terluka. Ia menyipit tajam seolah menghakimi makhluk hidup itu.
"Ya sudah, akan diganti bunga apa?"
Angwl berbalik sehingga tangan Andrean terlepas dari pinggangnya. Ia mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban.
"Aku tidak tahu akan diganti bunga jenis apa. Nanti aku tanyakan pada seseorang yang mengerti tentang ini,"
"Jangan kamu tanam bunga bangkai di sini! aku tidak mau!"
Andrean tak mampu lagi menahan tawanya. Wajahnya memerah, bahkan sudut matanya sampai berair.
Angel diam dengan wajah bingung.
apa yang lucu ?
"Sayang, bagaimana mungkin aku menanam sesuatu yang bau?"
"Kenapa tawamu begitu menggelikan?"
"Aish! tidak senang kalau suamimu bahagia?"
Angel terkekeh dan melompat untuk naik ke atas tubuh suaminya. Andrean terkejut namun secepat mungkin Ia meraih tubuh kecil istrinya. Kini, Ia menggendong Angel seperti koala. Perempuan itu tampak bahagia ketika Andrean memperlakukannya seperti ini.
"Jangan tiba-tiba seperti tadi ya, Angel. Aku takut tanganku tidak siap, lalu kamu jatuh,"
Tidak ada bentakan hanya nasihat halus yang diberikan lelaki itu. Angel sangat bahagia mendapat perlakuan manis seperti ini. Dimana Andrean sangat mengayominya dengan sepenuh hati.
Andrean membawa istrinya masuk ke dalam rumah. Ia menurunkan Angel di atas pantry. Dengan posisi ini Angel lebih tinggi dari suaminya. Sehingga Ia bebas memainkan rambut lebat Andrean.
"Sebelum kita pergi ke bungalow, kamu masak dulu ya? aku lapar,"
Tangan kecil Angel berhenti bergerak, Ia menatap Andrean.
"Memangnya sudah ada bahan makanan di sana?"
tunjuknya pada lemari pendingin super besar yang ada di sudut dapur.
"Sudah, tapi belum banyak. Kita akan menambahnya nanti,"
"Siap! kamu mau makan apa? jangan yang terlalu sulit ya. Aku takut mereka bangun,"
Yang dimaksud Angel adalah kedua anaknya. Mereka akan tidak sabaran kalau angel terlalu lama menghampiri mereka yang baru bangun tidur. Mereka akan menangis ketika angel tidak terlihat oleh mata mereka.
"Ya, sayang. Masaklah sesuatu yang mudah menurutmu. Untuk makanan mereka? masih ada?"
"Aku khawatir makanan yang di bawa dari mansion tadi tidak segar lagi. Aku harus masak untuk makan sore Lipn dan Lia,"
Angel turun dan menyentuh lembut wajah suaminya yang tampak tidak rela mereka melepas keintiman.
Angel mulai menelusuri dapur barunya. Mencari bahan-bahan untuk dibuat nasi goreng.
Ia menoleh sebentar pada Andrean yang berdiri di belakangnya.
"Kalau aku masak nasi goreng, mau?"
Andrean tentu saja mengangguk antusias. Ia sudah merindukan nasi goreng perempuan itu. Bila Angel memasak nasi goreng, maka ingatan Andrean kembali terlempar pada kejadian sebelum hubungan mereka membaik.
Ia datang menghampiri kamar angel yang saat itu belum Ia akui sebagai istri. Lantas meminta angel untuk memasak karena Ia sangat lapar.
Di malam itu, mereka semakin dekat. Bahkan setelah menikmati hidangan yang disajikan angel, Ia langsung membawa angel ke kamar untuk menikmati hidangan berbeda dari istrinya.
Ah! ketika mengingat momen itu, Andrean selalu saja tersenyum sendiri. Angel yang akan berbalik untuk mencari tempat diletakkannya piring dan sendok, mengernyit ketika melihat andrean yang seperti orang gila.
"Andrean? kamu kenapa masih diam di sana? senyum-senyum pula. Kamu tidak sakit bukan?"
"SAYANG! AKU MENCINTAIMU!"
Tanpa diduga oleh angel, Lelaki itu berjalan cepat mendekatinya lalu meraih tubuh angel dalam pelukan hangatnya.
Angel masih bingung. Sepertinya Andrean memang sakit.
"Hei! lepas! masakanku belum selesai,"
"Tidak mau," rengek lelaki itu yang malah mengundang decakan angel.
"Kamu lapar, aku harus masak. Jangan ganggu aku!"
Angel menepuk lengan suaminya yang masih nyaman melingkari pinggangnya.
"Tunggu di sana saja!!" titah angel seraya menunjuk ruang makan.
Dengan bersungut-sungut, lelaki itu berjalan ke meja makan. Andrean bosan menunggu. Ia melihat angel yang sedang menumis nasi di atas penggorengan.
Andrean memutuskan pergi ke kamarnya yang sudah siap ditempati. Ia mengisyaratkan Serry untuk pergi. Setelah menutup pintu, Ia beranjak ke atas ranjang. Andrean bergabung dengan anaknya yang masih lelap dalam tidur.
Ia berbaring di tengah mereka. Andrean tengkurap memperhatikan kedua malaikat kecilnya. Tangannya bergerak untuk mengusap wajah mungil anak sulungnya. Setelah mengecup bibir Axelion, Ia beralih pada Axelia dan melakukan hal yang serupa.
"Kenapa kalian tidur terus?" gumamnya.
Tangan Andrean mengusap kepala anaknya. Rambut mereka yang lembut mampu membuat Andrean terbuai sampai akhirnya jatuh tertidur. Ia tidak tahu kalau di bawah sana angel bingung mencarinya.
__ADS_1
"Serry? kamu meninggalkan anak-anakku?"
Serry tersenyum melihat kepanikan Nonanya. Tentu saja Ia tidak setega itu.
"Tuan Andrean yang menemani mereka,"
mendengar penjelasan Serry, angel menggeleng. Pantas saja Andrean tidak ada lagi di ruang makan.
"Tolong masukkan hidangannya ke dalam piring ya. Aku akan memanggil Andrean untuk makan,"
"Ya, Nona."
Serry mulai melaksanakan perintah angek. Ia memindahkan nasi goreng yang masih panas itu ke dalam piring. Dan menyajikan makanan cucu Devan dan Lovi itu.
*********
Angel membuka pintu dengan pelan. Matanya langsung menangkap ketiga sosok yang paling disayanginya.
Ia mengeleng begitu menyadari kesalahan Andrean. Bagaimana bisa lelaki itu tidur di tengah sementara kedua anaknya berada di tepi ranjang. Beruntung Ia cepat datang.
Ia memindahkan Adelion di samping Adiknya. Kini mereka berada ditengah orang tuanya.
"Ean, bangun lalu makan!"
Angek menyentuh lengan suaminya. Tak ada respon sama sekali. Sepertinya Andrean terlampau mengantuk.
"Ean, cepat bangun!"
Andrean mengerang lalu membelakangi angel dan kedua anaknya. Angel menggeram gemas. Memang seperti itulah sikap Andrean kalau tidurnya merasa diusik. Ia akan mencari tempat ternyaman dan tenang.
Angel meletakkan lututnya di atas ranjang lalu menarik kulit lengan lelaki itu hingga si pemilik berteriak kesakitan.
Andrean berbalik dengan tiba-tiba dan punggungnya hampir membentur kedua anaknya. Tapi angel dengan sigap menepuk punggung suaminya agar bergeser. Angel akan berubah menjadi garang kalau anaknya kesakitan.
"Kamu ingin menindih mereka?!"
Andrean meringis seraya bangun. Ia mengusap lengannya yang masih terasa perih.
"Sakit, Sayang."
"Sulit sekali membangunkanmu!"
"Aku mengantuk dan...."
Angel mengangkat sebelah alisnya menunggu kelanjutan ucapan suaminya.
"lapar," cicit lelaki itu sangat pelan seperti anak kecil yang tertangkap basah berbohong. Tidak ada lagi kata malu untuknya bertingkah seperti ini. Toh, angel juga tidak masalah dengan Ia yang manja.
"Sebelum kamu makan, aku mau mengatakan sesuatu,"
Sepertinya pembicaraan ini akan berjalan serius. Oleh karena itu Andrean memaku fokusnya pada sang Istri.
Oh Astaga! Andrean kira angel ingin membicarakan sesuatu yang mengerikan untuk didengarnya.
Angel menghela napas lega.
"Maaf, Sayang. Aku lupa,"
"Kamu nyaman tidur di tengah ranjang. Lalu anak kamu di letakkan di pinggir. Untung pas aku datang, mereka tidak apa-apa," gerutu perempuan beranak dua itu. Ia harus memperingati Andrean agar Ia tidak seperti itu lagi pada anak mereka. Angwl tidak ingin anak-anaknya berada dalam bahaya.
"Aku akan pasang pembatas kalau begitu. Untuk berjaga-jaga kalau aku buat kesalahan seperti ini lagi,"
"Jadi kamu niat untuk mengulangi kesalahan yang sama?"
"Tidak, angel. Kalau seandainya mereka main di atas sini, maka kita tidak perlu khawatir lagi mereka akan terjatuh,"
"Oh, benar juga ya,"
*************
Angwl sedang membaca buku di saung bungalow dimana terdapat ikan-ikan kecil di bawahnya yang berkeliaran dengan bebas.
Angwl bisa bersantai karena kedua anaknya tertidur, Sementara Andrean sedang mandi. Sehingga Ia bisa dengan bebas menggunakan sedikit waktu luangnya untuk kembali melakukan hal yang sangat disukainya itu.
Ia tersenyum ketika menemukan salah satu bagian cerita yang menurutnya lucu. Angel menggoyang kakinya pertanda kalau Ia sangat menikmati kegiatannya saat ini.
"ANGEL?! DIMANA KAMU?!"
"ANGEL!!"
"ANGEL!!"
Andrean berteriak dengan wajah panik karena tidak menemukan Angel dimana pun. Ia menggendong Andrean yang sedang menangis. Suara Axelion yang melengking membuat Ia khawatir.
Angel langsung berdiri di atas papan yang menjadi pijakannya sedari tadi. Setelah meletakkan bukunya, angwl langsung menghampiri sumber suara.
"Ada apa, Ean?" tanya angwl.
Andrean yang sedang berada di ruang keluarga, berbalik mendengar suara istrinya. Ia menghela napas lega.
Angel langsung meraih putra sulungnya. Menimang balita itu agar tenang. Andrean menatapnya dalam diam. Hatinya masih bergemuruh entah karena apa.
"Kamu dimana tadi?"
"Aku ada di saung, baca buku. Maaf aku tidak tahu kalau Lion menangis,"
Andrean mengusap kasar wajahnya. Ia menggigit lidahnya yang ingin mengeluarkan kata-kata tajam, Andrean berusaha menahannya Tapi tidak bisa. Andrean terlalu khawatir. Ia khawatir akan Axelion dan juga Angel yang tiba-tiba saja menghilang dari kamar. Ia ketakutan saat pikiran buruk menguasainya. Ia kira Angel sudah meninggalkannya.
"Lain kali jangan ulangi hal ini lagi, Angwl. Kalaupun kamu mau membaca, maka cari tempat yang dekat dengan mereka," pesannya pada angel. Perempuan itu bisa merasakan suara dalam suaminya yang menandakan kalau lelaki itu sedang menahan sesuatu yang buruk dalam dirinya.
"Kamu marah padaku?"
__ADS_1
"Tentu saja, Sayang. Kamu sudah membuatku khawatir,"
Rasa khawatir yang sudah melampaui batas menjadikannya marah. Angel menunduk dengan tubuh yang masih menimang Axelion.
"Maafkan aku, Ean."
Tanpa menjawab, Andrean pergi meninggalkan istri dan anak sulungnya. Ia masuk ke dalam kamar dan menghampiri boks anaknya. Axelia rupanya sudah bangun namun Ia sedang sibuk menggigit mainan lunak steril miliknya.
"Hei, Tampan! sejak kapan kamu bangun?" sapa Andrean dan mengeluarkan Axelia dari sana.
Ia akan selalu merasa tenang bila berinteraksi dengan anaknya. Mungkin dengan Ia bermain bersama Axelia, rasa kesalnya bisa hilang perlahan.
Andrean mengangkat tubuh Axelia tinggi-tinggi untuk mengecup perut anak itu. Axelia tertawa saat kepala ayahnya masuk ke dalam baju yang Ia kenakan.
Bulu halus di wajah Andrean membuat perut axelia kegelian. Lelaki itu mengusap-ngusapkan dagunya semakin gencar sampai anaknya kesulitan untuk menghentikan tawa.
Tangan mungil axelia menarik rambut Andrean. Mungkin itu bisa dijadikan senjata dalam mengalahkan ayahnya.
Walaupun kecil, nyatanya tangan putra bungsunya itu berhasil membuat Andrean memekik. Rambutnya terasa ingin rontok.
"Sakit, sayangku. Nanti rambut Daddy habis, kamu tidak punya Daddy tampan lagi,"
Tingkat percaya dirinya meningkat. Andrean berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan anaknya. Axelia dan Axelion tidak boleh melihat wajah marah dan sedihnya.
Andrean membawa Axelion ke tempatnya tadi. Ia duduk di atas jembatan kayu lalu memangku Axelion.
"Kenapa kamu menangis, Sayang?"
Axelion diam namun tangannya menunjuk-nunjuk ikan yang ada di bawah mereka.
Angel menangkap telunjuk kecil itu lalu menciumnya.
"Jawab dulu pertanyaan Mommy,”
Angel menggelitiki leher putranya yang langsung disambut tawa geli anak laki-laki itu.
"Kamu lapar?"
Axelion langsung mengangguk. Angel tertawa lebar melihatnya. Ia mengapit pelan pipi anaknya menggunakan bibir.
Angel menggendong anaknya menuju dapur. Ia meminta Serry untuk mengambil stroller axelion. Ia akan menyiapkan makan untuk putra sulungnya itu.
Ketika Serry membawa axelion pergi dari jangkauan Ibunya, anak itu menangis.
"Biarkan saja, Serry. Mungkin dia mau melihat aku menyiapkan ini,"
Mata angel melirik bubur yang sedang disaringnya. Axelion mengangguk seolah Ia paham betul dengan kalimat angel.
"Kamu tinggal saja. Axelion biarkan di sini,"
"Ya, Nona. Kalau perlu bantuanku, jangan ragu untuk memanggilku,"
************
Angel menggeleng dengan perasaan kesal yang berusaha Ia tahan. Axelion membuang-buang bubur nasi yang ada di mulutnya. Kemudian Ia tertawa setelah mulutnya kosong.
"Jangan seperti itu makannya," gumam perempuan itu.
Axelion merengek saat dagunya dibersihkan oleh Sang Mommy.
"Jangan kotor seperti ini, Sayang. Mommy tidak suka melihatnya,"
Dengan tangan yang terus bekerja, angel menasihati Axelion. Anak laki-laki itu hanya bergumam tak jelas.
Perempuan itu larut dalam kesibukannya. Ia tidak menyadari kehadiran suami dan putri bungsunya.
"Lia tidak kamu beri makan?"
Angel menoleh kaget lalu terdiam kaku.
"Seharusnya kamu beri makanan untuk mereka dengan adil. Jangan hanya salah satu saja yang kamu utamakan,"
Angel mengernyit bingung. Kenapa suaminya ini jadi sensitif setelah kejadian tadi? Ini bukanlah masalah yang besar. Ia pikir Axelia sedang sibuk bermain dengan suaminya dan belum lapar, oleh karena itu angel belum memberi makan untuk axelia.
Andrean mengulurkan axelia yang ada di dalam gendongannya pada sang Istri.
"Aku kira kalian sedang bermain,"
"Ya kalaupun dia bermain, sudah seharusnya kamu tahu jadwal makan dia. Kalau sudah waktunya makan, apapun kegiatan yang dilakukan haruslah dihentikan agar dia bisa makan tepat waktu,"
Andrean mulai nyaman dengan mode menyebalkan. Ia memberi nasihat seolah hanya Ia yang tahu semua tentang anak mereka. Tanpa diberitahu pun, angel sudah fasih dengan semua hal yang berkaitan dengan anaknya.
Sayangnya, angel tidak ingin melanjutkan perdebatan ini. Lelaki itu hanya ingin kesempurnaan. Oleh karena itu, angel harus belajar untuk beradaptasi. Lain kali, Ia tidak boleh meninggalkan anak mereka yang sedang tertidur untuk membaca buku sebentar.
Andrean kembali ke kamar untuk mengambil laptop dan berkas-berkas pentingnya. Ia akan bekerja sembari melihat kedua anaknya makan.
Ia duduk di sofa yang terbuat dari kayu bernuansa village. Lalu mulai bergelut dengan pekerjaannya.
Hanya tangan angel yang bergerak. Mulut perempuan itu diam dan memilih sibuk untuk menyuapkan makanan ke dalam mulut anaknya.
Axelion dan adiknya yang sudah bisa berjalan, semakin susah untuk dikendalikan. Mereka akan bergerak sangat aktif di setiap saat. Bahkan ketika makan pun, kaki keduanya seakan tak pernah lelah kesana-kemari membuat sekelilingnya berantakan.
Mereka mulai mendekat pada andrean. Menyentuh kertas-kertas yang ada di dekat Andrean. Lelaki itu belum menyadarinya. Angel berusaha menarik kedua tangan anaknya namun mereka malah ingin menangis.
"Jangan! nanti Daddy marah," bisiknya pada kedua anak laki-laki itu.
Angel ketakutan saat kertas-kertas yang dipegang anaknya mulai berhamburan dan kusut. Bahaya kalau sampai Andrean mengetahui hal itu.
Angel merutuki sikap Andrean yang seperti ini. Sudah tahu anaknya itu selalu penasaran dengan segala sesuatunya. Kenapa pula harus bekerja di dekat mereka? sebenarnya bukan salah mereka juga. Seharusnya andrean lebih paham dengan kebiasaan anak-anaknya.
Bunyi kertas yang di remas membuat andrean menoleh. Ia langsung menatap datar ke arah axelion dan adiknya.
__ADS_1