Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 47


__ADS_3

Angel tersenyum menatap Andrean yang terlelap di sebelahnya dengan wajah yang tenang, walaupun kesan dingin tidak pernah bisa lepas dari wajah suaminya itu.


Melihat dada Andrean yang tidak terselimuti seluruhnya berhasil membuat Angel mengingat momen berharga semalam. Kemudian tanpa sadar Ia tersenyum dengan rona merah di kedua pipinya.


Andrean benar-benar memperlakukannya dengan begitu lembut, sehingga Ia terlena. Dan tidak ada rasa tertekan sedikitpun untuk memberikan haknya Andrean.


“Aku sudah benar-benar jatuh cinta sekali pada Andrean. Dan aku takut kehilangannya,” batin Angel sambil tangannya bergerak ingin memberikan sentuhan lembut di pipi Andrean. Ketika berhasil, kulit wajah Andrean yang mulus, dan dingin langsung menyambut telapak tangan Angel.


“Aku tidak menyangka, aku akan dipertemukan dengan laki-laki seperti kamu, Ean. Terimakasih sudah baik kepadaku, sudah menerima semua lebih dan kurangnya aku. Terimakasih untuk semuanya. Aku benar-benar bersyukur bisa memiliki kamu, Ean. Harapanku sekarang cuma satu, semoga kita seperti ini terus ya,” gumam Angel dengan matanya yang berkaca. Hidupnya yang selama ini penuh luka, diciptakan oleh ayah dan kakaknya sendiri, dimanfaatkan, diperbudak bahkan, semua hak-haknya diambil, tidak pernah dihargai, semua sudah Ia lewati. Dan Ia tidak menyangka akan dipertemukan dengan Andrean yang ibaratnya adalah pangeran tiba-tiba datang, mengulurkan tangan kepadanya, menjanjikan kebahagiaan, dan sekarang lagi dan akan terus mengusahakan kebahagiaan itu.


Angel yang tidak sadar kalau sudah menangis dibuat terkejut karena tiba-tiba tangannya digenggam oleh si pemilik wajah yang barusan Ia usap dengan lembut.


“Hmm? Kamu sudah bangun, Ean?”


“Menurutmu?”


“Aku pikir—“


“Aku baru bangun, dan aku bangun karena ada yang mengusap wajahku. Lalu aku melihat kamu yang menangis. Sebenarnya ada apa? Aku menyakitimu ya?”


Andrean langsung mendekat ke arah Angel dengan menumpu badannya memggunakan siku bagian kiri. Ia perhatikan mata Angeld ari dekat. Benar, Angel menangis tapi bibirnya tersenyum. Andrean jadi bingung sekarang.


“Kamu sebenarnya kenapa, Angel?”


“Aku tidak apa-apa,”


“Yang benar?”


“Iya, aku serius,”


“Lalu kenapa kamu menangis?”


Andrean kemudian menatap ke arah jam dinding. “Ini bahkan baru pukul lima, tapi kamu sudah buang-buang air mata. Janganlah, sayang air mata kamu itu. Terlalu mahal untuk dibuang sia-sia. Apapun yang ada dalam diri kamu itu mahal sekali harganya, Angel, jadi jangan sia-siakan,”


Angel terkekeh mendnegar ucapan Andrean yang berkata serius denganw ajah cemasnya. Padahal Angel menangis karena bahagia bukan karena sedih atau Andrean menyakitinya.


“Aku tidak apa-apa, kamu tdiak perlu khawatir,”


“Lalu kenapa kamu menangis? Tolong jawab pertanyaanku dengan jujur, bisa?”

__ADS_1


“Aku hanya sedang bersyukur saja, dan berdoa pada Tuhan,” ujar Angel menjawab pertanyaan suaminya yang tetap ingin tahu alasan Ia menangis. Walaupun Angel sudah berulang


kali mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


“Nah sudah kujawab pertanyaan kamu, jadi bisakah beri aku sedikit jarak? Kita terlalu dekat, Ean,” ujar Angel seraya mendorong pelan dada suaminya itu supaya tidak terlalu dekat dengannya. Jujur Ia masih suka gugup kalau ada di posisi yang sangat dekat seperti sekarang ini bersama suaminya.


Andrean tersenyum tipis melihat kegugupan di mata Angel dan juga gelagatnya. Akhirnya Andrean menyingkir, tapi sebelum itu Andrean memberikan satu kecupan di kening Angel.


Angel membelalakkan matanya. Andrean mengecupnya di kening tanpa aba-aba, wajarlah kalau Ia terkejut.


“Kenapa tidak mau dekat denganku, Angel? Apa aku bau?”


Tanya Andrean sambil menghidu aromanya sendiri di bagian ketiak tapi tidak, Ia tidak bisa mendapatkan aroma tidak enak di tubuhnya.


“Tidak-tidak, aku tidak bilang kalau kamu bau, Ean,”


“Tapi kenapa tidak mau dekat denganku? Hmm? Kenapa kamu mau aku menyingkir?”


“Ya karena—karena aku—itu—“


Amdrean mengangkat salah satu alisnya menunggu jawaban Angel yang lengkap, bukan hanya sepatah dua patah kata saja.


“Karena apa, Sayang?”


Angel terperangah kaget, ekspresinya yang menurut Andrean lucu berhasil membuat perut Andrean tergelitik. Andrean tertawa sambil memegangi perutnya sementara Angel yang menjadi bahan tertawaan mendengus kesal.


“Kenapa kamu menertawakan aku, Ean? Memang apa yang lucu coba? Cepat katakan sekarang,”


“Ya bagaimana aku tidak tertawa? Kamu keliatan kaget begitu aku memanggilmu dengan sebutan sayang. Memang salah ya? Kenapa keliatan kaget seperti tadi? Ada yang aneh kah dengan panggilan itu? Bukannya wajar ya? Aku suamimu,”


“Kamu tidak pernah memanggilku dengan mesra seperti itu yang aku ingat. Jadi aneh di telingaku,”


“Oh jadi kamu mau aku lebih sering memanggilmu dengan sebutan sayang ya? Begitu?”


Angel menggelengkan kepalanya cepat sambil menggerakkan tangan kanannya juga. Andrean salah paham ternyata. Ia tidak menuntut Andrean apa-apa.


“Tidak, aku tidak minta seperti itu,”


“Tapi kalau aku kau, berarti boleh?”

__ADS_1


“Ya—ya—memangnya kenapa tidak boleh? Itu hak kamu mau memanggilku dengan sebutan apapun, asal tidak yang buruk panggilannya,”


“Apa aneh di telinga? Aku yang dingin ini memanggilmu dengan sayang?”


“Terserah kamu saja, Ean,” jawab Angel dengan lembut sambil tersenyum.


“Kalau tidak biasa akan sulit, jadi senyaman kamu saja, aku tidak pernah mempermasalahkan panggilan,”


Andrean tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lantas Ia beranjak meninggalkan tempat tidur dan mengulurkan tangan ke arah istrinya.


“Ayo bangun, kita jalan pagi sambil mencari makanan,”


“Ini masih pagi sekali, aku malas untuk jalan sekarang,” ujar Angel dengan wajah penuh permohonan agar suaminya tak mengajak Ia meninggalkan tempat tidur sekarang.


“Oh begitu, ya sudah nanti saja kita keluar hotelnya. Sekarang kita mengobrol dulu. Oh iya, kamu belum menjawab pertanyaanku yang tadi ‘kan?”


Andrean kembali ke tempat tidur tapi tidak berbaring lagi. Hanya duduk, dan menatap Angel yang masih berbaring nyaman.


“Soal apa?”


“Tadi aku bertanya apa alasanmu menangis?”


“Tadi aku sudah jawab. Aku hanya sedang bersyukur dan berdoa,”


“Bersyukur dan berdoa tentang apa?”


“Tentang kamu tentunya,”


Andrean mengangkat salah satu alisnya karena bingung. Kenapa istrinya membawa-bawa dirinya.


“Tentang aku?”


“Iya, aku bersyukur punya suami seperti kamu, aku bersyukur ada di titik sekarang. Dan aku berdoa supaya selamanya seperti ini,”


“Kalau begitu kita sama,” lugas Andrean dengan senyum tipisnya.


“Sama?”


“Ya, aku juga selalu bersyukur memilikimu, dan nggak pernah lupa berdoa supaya kita seperti ini terus. Aku tidak mau kehilangan perempuan seperti kamu,”

__ADS_1


“Harusnya aku yang merasa begitu, Ean, bukan kamu. Karena aku bukan siapa-siapa, aku perempuan biasa saja, sementara kamu laki-laki yang luar biasa. Harusnya aku yang takut kehilangan kamu,”


“Aku pun takut kehilangan kamu, Sayang. Kata siapa kamu bukan siapa-siapa? Kata siapa kamu perempuan biasa saja. Jangan suka menilai diri sendiri rendah, Cantik,”


__ADS_2