
“Astaga, Angel,”
Andrean menemukan Angel yang terduduk di di tempat yang tidak seharusnya. Andrean yakin telah terjadi sesuatu pada Angel. Dengan cepat Ia berlari menghampiri Angel. Beruntungnya Ia datang tepat waktu sehingga Ia bisa melihat keadaan Angel sekarang dan Ia bisa membantu Angel yang sempat Ia lihat sedang menangis tapi begitu Ia menghampiri, dengan cepat Angel menghapus air matanya.
“Ada apa denganmu, Angel? Katakan padaku dipa ayang sudah membuatmu seperti ini? Hmm?”
“Aku—aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja, Ean,” jawab Angel seraya tersenyum tapi senyumnya itu kosong. Mata Angel juga merah. Andrean tahu bahwa istrinya tidak baik-baik saja.
“Kamu kenapa, Sayang? Siapa yang sudah membuatmu seperti ini? Hmm? Siapa? Katakan padaku sekarang. Aku tidak suka kamu dibuat lemah seperti ini,”
“Aku baik-baik saja,”
Angel akan bangkit berdiri dan Andrean langsung membantunya. Setelah ituberdiri dengan baik Angel langsung tersenyum menatap suaminya itu.
“Aku baik-baik saja,” ujarnya sekali lagi meyakinkan sang suami.
“Aku tau ada suatu hal yang sedang berusaha kamu tutupi, iya ‘kan?”
“Tidak ada, aku—“
“Apa ini karena kakakmu? Atau mungkin ayahmu? Apa yang mereka lakukan? Hmm? Cepat katakan padaku, Angel. Apa mereka datang dan mengusikmu lagi? Astaga, apa perlu aku masukkan mereka ke balik jeruji besi ya?”
Andrean sudah terlalu geram dengan Gesty ataupun Geno dan entah kenapa Ia yakin kalau apa yang terjadi pada Angel sekarang ini karena ulah mereka.
“Kamu baik-baik saja?”
“Ya, aku baik-baik saja,”
“Tolong jujur padaku, Angel. Kenapa kamu tiba-tiba jatuh? Kenapa kamu duduk di bawah?
Aku melihatmu menangis tadi,”
“Tidak, aku tidak—“
“Jangan berbohong, Angel. Aku bisa melihatnya tadi, bahkan sekarangpun aku bisa tahu kalau kamu sedang sedih walaupun kamu sudah berusaha untuk menutupinya, percuma kamu menghapus air mata kamu itu, Sayang,”
Angel terkekeh mengusir sedih di wajahnya. Lalu Ia mengusap bahu Andean yang seperti biasa akan terlihat marah kalau istrinya tidak baik-baik saja dan menduga kalau itu karena perbuatan orang lain.
“Kamu baik-baik saja? Yakin?”
“Iya aku yakin kalau aku baik-baik saja,”
“Ayo sekarang kita pulang y? Pekerjaanmu di kafe sudah selesai bukan?”
Angel menganggukkan kepalanya. Ia benar-benar merindukan tempat tidur. Setelah diserang oleh sang kakak, ia butuh ketenangan.
“Iya aku mau pulang,”
“Okay kita sekarang pulang ya,”
Andrean membukakan pintu mobil untuk sang istri kemudian mempersilahkannya untuk masuk ke dalam mobil.
“Sayang, aku harap setelah sampai di rumah kamu mau jujur ya. Aku tidak mau kamu hanya diam saja, aku masih penasaran kenapa kamu bisa seperti tadi keadaannya. Pasti ada seseorang atau bahkan lebih yang sudah membuatmu seperti tadi. Aku ikut sedih melihatnya. Aku khawatir juga, Sayang,”
“Tidak apa, jangan khawatir. Aku baik-baik saja,”
“Kamu harus jujur sebenarnya apa yang kamu alami tadi? Hmm?”
Angel tidak mungkin jujur kalau memang kakaknya lah yang telah membuatnya seperti tadi. Jatuh terduduk dan menangis, itu semua karena Gesty yang marah karena keinginannya tidak terpenuhi, dan malah membawa-bawa anaknya yang tidak punya kesalahan apapun. Jangankan berbuat kesalahan, lahir saja belum. Angel kesal anaknya dibawa-bawa dan kakaknya malah tidak terima.
“Aku tidak mengalami apapun, kamu tenang saja tidak perlu khawatir,”
“Kamu pikir, apa aku akan percaya? Hmm? Kamu jelas-jelas sudah mengalami sesuatu yang tidak aku ketahui apa itu bentuknya. Tapi kamu tidak mau jujur, sayang sekali kamu berusaha menyembunyikannya dariku. Padahal aku ini suamimu dan aku berhak tahu apa saja yang sudah kamu alami, Sayang,”
“Kalau kamu tau, kamu akan semakin membenci kakakku, Ean. Dan aku tidak mau itu terjadi,” batin Angel seraya menunduk dan memainkan jari jarinya satu persatu.
“Jadi kamu tidak mau jujur?”
“Aku sudah jujur, aku baik-baik saja,”
Andrean menganggukkan kepalanya. Reaksinya barusan bukan berarti Ia percaya. Justru Ia semakin yakin kalau istrinya tengah menutupi sesuatu.
“Padahal aku penasaran, tapi kamu tidak mau jujur,” batin Andrean.
“Aku harus apa supaya kamu jujur? Hmm? Kamu selalu berusaha tampil baik-baik saja, padahal yang aku inginkan adalah kamu terbuka tentang apapun yang kamu alami,”
******
“Kenapa kamu pulang ke rumah dengan wajah seperti itu? Apa yang membuatmu kesal? Huh?”
“Ayam diam! Jangan banyak tanya apapun padaku karena aku juga tidak meminta ayah bertanya,”
Gesty memarahi ayahnya yang baru saja bertanya tentang kenapa Ia pulang dengan wajah kesal.
“Ayah tebak, pasti ini ada hubungannya dengan Angel. Benar ‘kan? Memang apa yang dia lakukan? Hmm?”
“Aku ingin kandungannya tidak baik-baik saja. Pasti dia akan dibenci oleh suaminya dan juga keluarganya karena dia tidak bisa menjaga kandungannya dengan baik,”
“Jangan macam-macam, Gesty. Biar bagaimanapun, itu keponakanmu. Jangan bertindak gegabah. Kamu tidak punya hak untuk melakukan sesuatu yang membahayakan untuk anak itu. Dia berhak hidup,”
__ADS_1
Gesty langsung menatap ayahnya sambil tersenyum sinis kemudian Ia bertepuk tangan. “Wow! Jadi ayah sekarang sudah membela Angel? Iya? Bagus, Ayah! Bela terus anakmu itu,”
“Bukan begtu maksud ayah. Kalau untuk mencelakai anaknya, ayah rasa itu sudah keterlaluan. Sebenci apapun kita pada Angel ataupun anaknya, jangan sampai mencelakai dia yang belum lahir. Kamu manusia, dia pun manusia berhak hidup. Jangan mencelakainya, itu pesan dari ayah,”
“Aku tidak peduli! Aku tidak peduli ayah mau bicara apa. Intinya aku tidak suka ketika Angel hidup bahagia, hidup lengkap, semuanya tercukupi sedangkan aku sebaliknya. Dia sudah punya semuanya, Ayah. Mulai dari uang, pasangan, sejarang anak. Sementara hidupku seperti ini dari dulu sampai sekarang,”
“Ya karena kamu tidak punya tekad untuk merubah hidupmu sendiri, jadi nikmatilah,”
Setelah berkata seperti itu, Geno pergi ke kamarnya meninggalkan Gesty yang langsung menghentakkan kedua kakinya merasa marah mendengar ucapan sang ayah.
“Aku tidak suka ayah membela dia! Ayah mulai ada di pihak Angel dan aku tidak pernah terima dengan itu. Hidup Angel terlalu sempurna! Seharusnya dia juga menderita seperti aku! Dari semua hal, Angel sudah berhasil memilikinya,”
*******
“Angel, di wajahmu kenapa ada warna merahnya? Biasanya kamu jarang menggunakan blush on,”
Angel dan Andrean tak sengaja bertemu dengan Auristella yang akan pergi. Pertemuan mereka terjadi di depan pintu.
“Angel langsung menyentuh wajahnya sendiri, dan Andrean segera memperhatikannya. Tiba-tiba Auristella mencubit lengan kakak tertuanya itu.
“Apa kamu tidak sadar kalau wajah istrimu sedikit kemerahan?”
“Aku benar-benar tidak menyadarinya, bagaimana kamu tay, Ris?”
“Ya karena aku tau Angel hampir tidak pernah menggunakan pemerah pipi,”
“Tapi pipinya ‘kan memang kemerahan, alami, bukan dibuat-buat,”
“Ini berbeda, Andrean! Kenapa kamu terlalu polos sih? Polos atau tidak peduli?! Hah?!”
Andrean langsung mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Sungguh, Ia tidak sadar kalau wajah istrinya kemerahan. Justru adiknya lah yang membuat Ia sadar. Kalau diperhatikan memang iya, ada kemerahan di pipi Angel yang berusaha Angel tutupi.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Aku semakin penasaran,” batin Andrean dengan rahang yang mengeras.
“Apa ada yang menamparmu, Angel?” Tanya Auristella dengan kedua mata yang memicing.
“Hmm? Tidak-tidak. Aku tidak ditampar oleh siapapun,”
“Apa kamu jujur? Karena terlihat sekali seperti habis ditampar,” tanya Auristella yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Angel.
“Ya sudah anggaplah Angel jujur, Ris,” ucap Andrean yang jelas menyindir Angel yang berbohong.
“Hmm baiklah, kalau ada apa-apa, kamu jangan sungkan untuk cerita pada kamu, Angel. Ingat, kami ini keluargamu. Jadi kalau ada hal apapun yang kamu alami baik itu menyenangkan ataupun menyedihkan jangan sungkan untuk membaginya pada kamu,”
Angel menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Auristella akan melangkah pergi namun dipanggil oleh Andrean.
“Tidak mengatakan apapun tahu-tahu pergi. Mau kemana kamu? Hmm?”
“Siapa?”
“Teman satu kelompok, Ean. Kami harus mengerjakan tugas kelompok,”
“Pukul berapa kamu sampai rumah?”
“Ya aku tidak tahu. Aku belum bisa memastikan itu sekarang,”
“Aku tidak minta kepastian, yang aku minta adalah perkiraan kamu saja, Ris,”
Auristella langsung membuang napas kasar dan wajahnya merengut. Angel yang melihat itu langsung tertawa.
“Yang sabar, Ris. Begitulah punya kakak laki-laki, dia hanya ingin menjagamu, memastikan kamu baik-baik saja,”
“Ish suamimu itu menyebalkan!” Jawab Auristella.
“Jadi perkiraanmu sampai di rumah pukul berapa? Dan apa aku perlu menjemputmu?”
“Tidak usah, aku akan pulang diantar teman atau aku bisa minta dijemput Daddy, driver, siapapun lah. Perkiraan aku sampai rumah mungkin pukul tujuh malam?”
“Ya sudah, hati-hati ya. Kalau kamu perlu dijemput jangan lupa hubungi aku,”
“Okay, kakak pertamaku yang tampan, bye,”
“Hati-hati! Dan langsung pulang. Kalaupun mau singgah di suatu tempat, jangan lupa beritahu,”
“Iya siap,”
“Bye, Ean, Angel,”
Auristella mlangkah dengan senyum riangnya meninggalkan Andrean dan Angel yang langsung saling menatap satu sama lain kemudian terkekeh.
“Aku rasa dia tidak hanya mengerjakan tugas kelmpok tapi bertemu dengan kekasihnya,”
“Jangan sembarangan menuduh. Barangkali dia memang benar-benar mengerjakan tugas kelompok saja,”
“Tapi dari senyumnya saja sudah berbeda, Sayang,”
“Ya kalaupun Auris mau bertemu dengan seseorang, tidak masalah. Dia ‘kan sudah dewasa,”
“Tapi dia belum dibolehkan untuk menjalani hubungan yang istimewa oleh Daddy dan Mommy, Sayang,”
__ADS_1
“Ya aku mengerti, tapi sekedar bertemu tak apa ‘kan?”
“Tidak,”
“Hahahaha benar-benar posesif sekali kakaknya Auris ini,”
“Ya untuk kebaikannya juga, Sayang. Biar dia fokus mengejar impian dulu, kami berharapnya seperti itu,”
“Aku juga ingin punya kakak yang baik,”
“Anggap aku kakaknu kalau begitu. Sebenarnya kamu bisa menganggap aku apapun, kakak, adik, teman, bahkan orangtua. Kamu mau menganggap aku apapun tidak masalah, Sayang,”
“Aku anggap kamu senagai kakek artinya boleh?”
Seketika raut wajah Andrean berubah menjadi datar, yang sebelumnya tersenyum hangat tiba-tiba berubah dan itu mengundang tawa geli Angel.
“Hahahaha aku bercanda, Ean. Jangan anggap setius perkataanku ya,”
“Kenaoa harus kakek, Sayang? “
“Bukankah kamu sendjri bilang kalau aku boleh menganggap kamu apapun?”
“Ya—-kamu benar. Hanya saja, kenapa harus kakek? Hmm tapi baiklah, tak apa. Kamu mau menganggap aku kakek juga tidak masalah,”
“Karena kakek sudah lama meninggal, jauh sebelum nenekku. Jadi terkadang aku merindukannya,”
Andrean langsung merangkul bahu sang istri kemudian mengusap kepala bagian belakangnya dengan lembut.
“Iya, Sayang. Kamu mau menganggap aku kakek juga tak masalah, ya walaupun aku masih jauh dari kakek-kakek,”
Angel tertawa, kalau dipikir-pikir perkataan suaminya itu tepat sekali. Andrean masih muda, masih jauh untuk menjadi seorang kakek. Tapi tidak menyangka juga kalau Andrean akan pasrah menerima apapun anggapan istrinya. Ia dianggap orangtua tak masalah, kakak atau adik pun tak masalah, bahkan dianggap kakek juga tidak masalah. Andrean tahu, Angel banyak kehilangan sosok yang Ia sayang, bukan hanya kehadiran saja, tapi juga perannya. Jadi tak masalah kalau Angel mau menganggap Ia adalah sosok yang telah hilang itu, baik hilang kehadirannya atauapun perannya.
*******
“Adrina, kalau sedang bersama aku, bisa simpan dulu ponselmu? Kita habiskan waktu dengan mengobrol saja, kalau kamu malah sibuk dnegan ponsel, ya kalau begitu untuk apa kira di sini sekarang?”
Adrian menatap Adrina dengan tatapan dalam. Adrina langsung meletakkan ponselnya dengan cepat di atas meja kemudian tersenyum.
“Kamu sendiri tadi sibuk dengan ponsel,”
“Tapi aku cuma sebentar saja, chat dengan Auris,”
“Oh, baiklah,”
“Jadi kamu cemburu kalau aku sibuk dengan ponsel? Hmm?”
Adrina berdecak pelan. Adrian justru tertawa karena mengira dugaannya itu benar seratus persen.
“Aku hanya tidak mau kalah saja,”
“Ya itu artinya kamu cwmburu dnegan ponselku,”
“Tidak! Cemburu apa maksudmu?”
“Jujur saja,”
“Ian tolong ya jangan menyebalkan dulu. Aku lagi fokus menunggu makananku datang,”
Adrian langsung menutup mulutnya rapat-rapat kemudian menganggukan kepalanya. Ia tidak akan membuat suasana hati Adrina berubah ditengah kebersamaan mereka.
“Sebenarnya kenapa kamu tiba-tiba mengajak aku pergi makan berdua?”
“Bukankah itu hal yang wajar? Kita ‘kan juga sering bersama,”
“Tapi aneh saja tiba-tiba kamu datang ke rumah lalu mengajak aku pergi,”
“Ya karena aku ingin kita lebih dekat, menikah yuk,”
“Astaga, Adrian! Bicara apa kamu?! Tidak ada pembukaan tiba-tiba mengajak aku untuk—“
“Ya daripada aku tiba-tiba aja kamu bertamasya kan tidak lucu. Lebih baik mengajakmu menikah lah,”
Adrina menggelengkan kepala tak habis pikir. Adrian beda dari yang lain. Alih-alih menggunakan cara romantis, Adrian justru sebaliknya. Tiba-tiba mengajaknya untuk makan berdua, lalu mengajaknya untuk menikah.
Mengajak menikah begitu santai, seperti tak ada niat dan keseriusan. Adrina dibuat kepala tak habis pikir oleh Adrian.
“Yang sering aku lihat di film ya, laki-lakinya itu memberikan bunga, atau minimal kata-kata romantis lah ketika akan mengajak perempuan menikah. Kamu kenapa beda ya?”
“Dari dulu sampai sekarang Adrian memang selalu beda,” jawab Adrian sambil tersenyum miring dan menaik turunkan akedua alisnya bergantian.
“Astaga, Ian,”
“Oh jadi kamu mau aku romantis ya?”
“Ya maksud aku, kamu kenapa mengajak aku menikah seperti tak ada keseriusan sih? Kamu niat atau tidak sebenarnya? Hah?” Tanya Adrina dengan mata melotot tajam.
“Aku niat, Drina,”
“Ya tapi kenapa—“
__ADS_1
Adrina aampai kehilangan kata-kata. Sementara Adrian masih mempertahankan senyum dan tatapannya yang usil menyebalkan.
“Okay, tunggu sebentar,” ujar Adrian sambil merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan satu buah kotak kecil.