Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 153


__ADS_3

“Angel, aku pikir kamu belum datang ke kafe karena keadaanmu belum stabil, apa kamu sudah baik-baik saja pasca masuk rumah sakit?”


Angel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia sudah baik-baik saja. Dalam satu minggu dua kali Ia dirawat di rumah sakit tapi sekarang Ia baik-baik saja. Tapi wajar kalau orang-orang terdekatnya merasa khawatir, tidak terkecuali pegawainya yang bekerja di kafe miliknya.


“Aku baik-baik saja,”


“Oh iya kemarin sempat ada yang datang ke kafe, dia mengaku sebagai kakakmu. Aku katakan saja bahwa kamu tidak datang,”


“Kakakku?”


Helen menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Angel yang langsung memghembuskan napas dengan kasar.


“Untuk apa lagi kakak datang? Aku benar-benar bingung sebenarnya tujuan kakak datang itu apa,”


“Dan perlu kamu tau. Dia kelihatan kesal saat aku menjawab bahwa kamu sedang tidak datang ke kafe,”


“Jelas aaja kakak kesal karena dia datang tentu ada tujuan, dan ketika tidak bertemu denganku maka tujuannya tidak bisa terlaksana. Lagi-lagi tujuannya adalah uang, aku rasa begitu,”


“Hmm ya sudah, Helen. Terimakasih ya, aku akan hubungi dia,”


“Apa dia benar kakakmu?”


“Ya mungkin, akan aku tanyakan langsung padanya, benar atau tidak dia yang datang ke sini,”


Angel segera masuk ke ruangannya. Baru juga Ia duduk, tiba-tiba ada panggilan masuk dari suaminya. Ia langsung menerima panggilan dari suaminya itu.


“Halo, Ean,”


“Sayang, apa benar kamu mengirimkan makanan untukku ke kantor?”


“Hmm? Tidak-tidak, aku tidak melakukannya,”


“Lalu siapa yang mengirimkan makanan untuk aku ini?”


“Aku tidak tau, Ean. Aku tidak mengirimkan apapun padamu,”


Tidak hanya Andrean, Angel jadi ikut bertanya-tanya siapa yang sudah mengirimkan makanan untuk Nadrean? Angel tidak melakukannya.

__ADS_1


“Mendadak aku jadi cemas, Sayang,”


“Tidka usah dimakan kalau pengirimnya tidak jelas. Aku takut itu makanan berisi racun,”


“Iya, tapi ini benar bukan kamu yang mengirim? Kalau kamu, akan aku makan sekarang juga,”


“Tidak, Ean. Aku tidak mengirimkan makanan atau apapun, lagipula kamu sendiri yang bilang kamu hari ini tidak pelru membawa makanan karena mau makan bersama rekanmu,”


“Ah iya aku lupa. Okay kalau begitu aku passtikan ini bukan darimu, akan aku buang sekarang juga,”


“Beruntungnya kamu tanyakan dulu padaku, tidak langsung kamu makan,”


******


Andrean terkejut ketika melihat ada Adrina di ruang tamu. Adrina pun terkejut karena tiba-tiba ada yang datang, ketika Ia sedang sibuk dengan ponsel.


“Adrina, kenapa sendirian di sini? Mau menemui Ian?” Tanya Andrean pada sahabat masa kecilnya yang cenderung lebih dekat dengan adiknya itu.


“Iya, tapi Ian belum datang. Kira-kira dia dimana ya?”


“Sudah coba menghubungi Ian?” Tanya Andrean sambil duduk di salah satu sofa yang berhadapan dengan Adrina.


“Coba aku yang menghubunginya,” ujar Andrean singkat sambil meraih ponselnya di saku.


Andrean mencari kontak adik keduanya itu laku segera menghubungi dan di dering pertana langsung dijawab oleh Adrian. Kening Andrean mengernyit.


Adrina bilang, ketika dirinya menghubungi Adrian, tidak ada jawaban. Tapi berbeda dnegannya yang langsung dijawab oleh Adrian.


“Halo, Ean,”


“Kamu dimana?”


“Jalan menuju rumah,”


“Okay, ada menunggumu,”


“Siapa?”

__ADS_1


“Nanti kamu tau sendiri. Langsung ke rumah ya,”


“Ya semoga saja Auris tidak minta singgah-singgah dulu ke minimarket untuk beli makanan,”


“Hati-hati, secepatnya sampai rumah,” pesan Andrean setelah itu Ia mengakhiri sambungan telepon.


Angel turun ke lantai bawah hendak mengambil air minum, dan juga mengambil cokelat di kulkas. Tidak sengaja Ia mendnegar suara suaminya bicara di ruang tamu, Ia langsung menghampiri dan ternyata suaminya sedang bersama Adrina.


Angel mengamati mereka dalam diam, lalu memilih untuk pergi ke dapur dengan perasana tidak menentu.


“Biasanya Andrean akan langsung datang ke kamar menemui aku kalau sudah pulang bekerja. Ini kenapa malah diam dulu di ruang tamu? Bersama Adrina juga. Memang Ian kemana? Kenapa Adrina malah bicara dengan Ean? Bukannya selama ini lebih banyak mengonrol dnegan Ian ya?”


Kenyataan kalau Adrina pernah menyimpan perasaan untuk Andrean, sebenarnya masih mengusik pikiran Adrina walaupun Adrina sendiri sudah menegaskan perasaan itu tidak ada lagi, Adrina sekarang murni menganggap Andrean sahabatnya, bahkan Adrian juga mengatakan demikian yang tujuannya untuk membuat Ia yakin.


Tapi tetap saja ketika melihat Andrean ada interaksi dengan Adrina, seperti saat ini memgonrol hanya berdua, rasa cemburu di hari Angel selalu datang walaupun Ia percaya Andrean mencintainya dan Andrean tidak akan berpaling. Kalau memang yang diinginkan Andrean adalah Adrina, seharusnya jauh sebelum menikahinya, Andrean sudah memilih Adrina mengingat mereka sudah kenal sejak kecil, bahkan orangtua mereka sangatlah dekat. Tapi kenyataannya Andrean menikahinya, meskipum tidak bisa dielak kenyataan bahwa Andrean menikahinya karena keinginan Lovi dan Devan juga, bukan murni dari Andrean. Tapi Andrean bisa mencintainya walaupun menikah karena keinginan orangtua.


Angel sudah mengambil air minum dan juga cokelat, setelah itu Ia akan kembali ke kamar, namun mendengar tawa Adrina, Angel mendengus dan kakinya malah berputar ke ruang tamu. Ia mengamati Adrina dan Andrean dalam diam. Adrina sedang bercerita tentang kesalnya Adrian akunat tak jadi pulang dengannya dan itulah alasan Adrina datang karena ingin meminta maaf. Angel lihat duaminya hanya mendengarkan saja, sementara yang banyak bicara Adrina.


“Aku tidak mau dia marah, tapi kalau dia marah lucu juga kalau dipikir-pikir,”


Angel memghembuskan napas kasar. Cukup sampai di situ saja yang ingin Ia dengar, Ia tidak mau terlalu lama mendengar obrolan mereka, apalagi melihat kebersamaan mereka. Ia akan memutar badannya menuju tangga namun Ia dikejutkan oleh Lovi.


“Astaga, Mommy aku kaget,”


Lovi terkekeh sambil mengusap kedua bahunya “Mommy minta maaf ya, Sayang,”


“Iya tidak apa, Mom,”


“Kamu sedang apa dibalik dinding? Memperhatikan Andrean dan Adrina? Kenapa tidak gabung saja?”


Tebakan Lovi telat. Jelas saja tepat seratus persen karena Angel berdiri di balik dinding, dan sebelumnya menghadap ke ruang tamu yang dimana ada Andrean juga Adrina di sana.


“Tidak, Mom. Aku mau ke kamar makan cokelat. Tadi penasaran saja siapa yang datang dan ternyata Adrina,”


“Oh begitu ya sudah makan lah cokelatnya,”


Angel tersenyum dan setelah itu berlalu meninggalkan Lovi untuk kembali ke kamar, berusaha abai dengan apa yang Ia lihat barusan. Ia harus selalu mengingatkan dirinya sendiri abwha Andrean itu miliknya, dan hubungan antara Andrean juga Adrina hanya sebatas sahabat, tidak lebih. Dulu pikiran positif itu selalu tertanam, tapi setelah tahu Adrina pernah menyukai Andrean, Angel mulai sulit untuk mengendalikan pikiran negatifnya sendiri.

__ADS_1


“Angel stop! Adrina sudah tidak menyukai suamimu lagi, jangan berpikir yang tidak-tidak! Apa ini karena kamu sedang hamil juga ya jadi rasa takut kalau milikmu diambil itu semakin besar!”


Angel memijat pelipisnya setelah itu berjalan ke balkon kamarnya. Supaya pikiran dan hati tenang ada baiknya Ia diam dulu di sana. Melihat langit, dan diterpa dengan udara sore hari.


__ADS_2