
“Auris sulit dihubungi ya, Dad? Sebenarnya ada apa? Dia sengaja kah mengabaikan telepon atau pesan dariku?”
“Tidak lah, Auris benar-benar menikmati liburannya. Dia jarang memeriksa ponselnya jadi kamu jangan salah paham, Ian,”
Adrian mendengus pelan. Walaupun sering bertengkar dnegan adiknya tapi ketika berpisah walaupun hanya sebentar dan jaraknya dejat tapi tetap saja Ia merasa rindu dengan adiknya itu dan juga mengkhawatirkan keadaannya. Sudah dua kali panggilannya tak terjawab dari pagi sampai malam ini. Entah kemana adiknya itu.
“Dia benar-benar berlibur atau perang sih sebenarnya?”
Mereka semua yang ada di meja makan tertawa. Saat ini Adrian tengah makan malam dengan orangtuanya, Andrean, dan Angel.
Mereka merasa terhibur dengan Adrian yang menggerutu akibat adiknya mengabaikan telepon maupun chat darinya.
“Sabar, seperti kata Daddy, Auris sedang menikmati liburannya,” ujar Andrean.
“Iya aku tau, Ean. Taoi memangnya susah ya merespon pesan dariku? Kalau mengangjat telepon mungkin tidak sempat tapi menjawab pesan apakah sesulit itu juga? Tidak sampai satu menit padahal,”
“Dia juga sambil kuliah, pasti selain sibuk menikmati liburan, dia juga sibuk kuliah, Ian,” ujar Lovi yang juga membela putri semata wayangnya, Auristella yang sedang bersenang-senang menikmati liburannya seorang diri.
“Kebetulan ada Revano juga di sana, apa Daddy sudah cerita? Daddy lupa,”
“Hah? Kenapa bisa ada Revano di sana, Dad?”
Ada pembahasan menarik. Dengan cepat Adrian memberikan reaksi atas penjelasan dari ayahnya itu.
“Daddy sudah bercerita pada Mommy,” ujar Lovi.
“Iya Daddy lupa,”
“Tapi ternyata padamu belum?”
Adrian langsung menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Devan. “Daddy sepertinya belum cerita soal itu padaku, Dad,”
“Okay, jadi Auris bertemu dengan Revamo di sana, tidak sengaja. Revano datang bersama ayahnya yang ingin mengurus pekerjaan sekaligus mereka ingin berlibur. Lalu bertemu lah Auris dan Revano di sebuah kafe. Auris bercerita seperti itu pada Daddy,”
“Astaga rupanya dia sibuk liburan dengan Revano. Hmm pantas saja ya dia tidak menerima telepon dariku dan tidak membalas pesanku,”
“Itu memang karena sedang sibuk menikmati liburan sambil kuliah saja, Ian, tidak ada hubungannya dengan Revano,” ujar Lovi.
“Iya tapi karena terlalu menikmati liburannya bersama Revano jadi dia lupa, Mom,”
“Tidak, Sayang, sebentar lagi dia akan membalas pesanmu percayalah pada Mommy,” ujar Lovi yang tahu akan perasaan anak keduanya yang kesal karena panggilan dan pesan darinya diabaikan oleh sang adik padahal Ia hanya ingin tahu kabar Auristella saja, karena Ia sebagai kakak laki-laki ingin memastikan adik perempuannya dalam keadaan baik-baik saja.
“Kebetulan yang unik bisa bertemu dengan Revano ya, Dad. Jangan-jangan mereka berjodoh,”
Devan menatap Adrian dengan datar sementara Adrian tertawa. Ia langsung meminta maaf pada ayahnya itu.
“Maaf, Dad, tapi barangkali saja mereka benar-benar berjodoh. Karena kebetulannya unik sekali ya. Padahal tidak ada kesepakatan sebelumnya kan?”
“Ya namanya mebetulan itu bsia saja terjadi kapanpun dan dimanapun, Ian. Tidak ada kaitannya dengan jodoh,”
“Sepertinya Daddy tidak senang kalau Auris berjodoh dengan Revano?”
“Kata siapa? Dafdy setuju saja selagi dia bisa menjadi pendamping yang baik untuk Auristella. Tapi kalau membicarakan jodoh sejarang sepertinya terlalu jauh lah,”
“Iya, aku saja belum menikah,”
“Ya makanya nikah!” Sahut Lovi dengan melirik anaknya.
“Kata Adrina nanti dulu, Mom,”
“Kapan?”
“Kami sudah membicarakan itu. Kalau dalam waktu dekat sepertinya belum,”
“Dia masih ragukah padamu? Takut kamu bercandai?”
“Tidak-tidak, dia tidak ragu lagi padaku. Tapi entahlah, dia ada pertimbangan lain sehingga belum bisa dalam waktu dekat. Pendidikannya belum selesai, Mom,”
“Ah iya, hargailah keputusannya, Ian,”
“Kalau didahului Auris bagaimana?”
“Enak saja dia, kasih aku satu buah rumah dulu baru aku tidak kesal melihat dia menikah lebih dulu hahaha,”
“Dasar kakak muka uang!”
Adrian tertawa mendengar ejekan Andrean. Tentu Ia hanya bercanda, tapi itu akan Ia katakan pada Auristella sebagai salah satu kesulitan yang harus dilewati oleh Auristella dan jadi pertimbangan kalau benar-benar ingin mendahuluinya. Adrian yang usil akan beraksi. Tapi nantinya Ia akan tetap setuju dan terima keputusan Auristella kalau memang Auristella siap lebih dulu menikah. Ia tidak akan melarang, asal Ia ingin memastikan Aursitella benar-benar yakin dan siap.
“Apa kamu serius, Ian? Apa kamu akan meminta rumah kalau Auris ingin mendahului kamu?”
__ADS_1
“Ahahaha apa kamu percaya, Angel? Hmm?”
“Aku pikir serius,”
“Tidak lah, tapi aku akan mengatakan itu pada Auris supaya dia kesal padaku. Dan kalau sia menyanggupi, artinya dia sial dan yakin. Tentu saja aku tidak akan mempersulit adikku sendiri, Angel. Dia berhak bahagia dengan pilihannya,”
“Kalau Auris mendengar itu, pasti sangat bahagia. Kalian selalu bertengkar kalau bertemu tapi ketika berjauhan kalian sungguh manis,” ujar Angel.
Angel sebenarnya sudah tahu kalau mereka sebenarnya hangat, harmonis, saling menyangi dan melengkapi satu sama lain. Tapi giliran bertemu selalu saja berdebat. Hampir tidak pernah yang akur, saling mengungkapkan rasa sayang itu dengan tindakan. Tapi kalau sudah berjauhan pasti dengan terang-terangan mengungkapkannya, terbukti dari berisiknya mulut Adrian ketika panggilan dan pesannya diabaikan oleh sang adik.
*****
“Daddy tahu kalau kamu ada di sini,”
“Oh ya? Lalu apa reaksinya?”
“Sepertinya Daddy berpikir kalau aku sengaja diam-diam berlibur dengan kamu tanpa memberitahu Daddy. Setelah aku jelaskan, beruntungnya Daddy memahami dan percaya padaku,”
Mendengar cerita yang disampaikan olej Auristella, Revano langsung tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
“Apa? Jadi Daddymu berpikir seperti itu? Bagaimana mungkin? Kamu saja tidak memberitahu aku kemana kamu akan pergi. Dan kalau aku tahu kamu liburan ke sini, aku tentu tidak akan bersama ayahku, aku ingin menghampirimu sendiri saja,”
“Kenapa begitu?”
“Ya supaya lebih menyenangkan liburan denganmu saja,”
“Oh jadi msksudmu kalau dnegan ayahmu tidka menyenangkan?”
“Bukan begitu maksudku, Auris. Kalau ada ayah, sebentar-sebentar aku disuruh kembali ke hotel. Kalau ayah sudah selesai mengurus pekerjaannya, dan dia sudah si hitel, aku akan disuruh ke hotel untuk menemaninya. Menyebalkan bukan? Sementara kalau aku hanya sendiri, tidak ada yang akan mengganggu,”
“Jahatnya kamu, Revano. Ya jelas saja Ayahmu ingin kamu menemaninya di hitel jarena memang seharusnya begitu, temani orangtua selagi masih bisa ditemani,”
“Dewasa sekali, apa kamu tidak pernah merasa kesal dnegan orangtua? Padahal mereka sering mengganggu waktu kita. Misalnya kita sedang asyik dnegan teman tiba-tiba diminta untk pulang tepat waktu, diberikan pesan terus menerus harus menjadi orang yang sukses padahal tanpa diberi pesan seperti itu terus aku juga tahu,”
“Semua itu demi kebaikan kamu, selagi orangtua masih ada justru seharusnya kita bersyukur karena kita masih punya pengarah, Revano. Aku juga dulu sempat berpikir terkadang orangtuaku terlalu mengekang, tapi seiring berjalannya waktu aku sadar kalau semua yang mereka lakukan demi kebaikanku,”
“Tapi kita tidak bisa liburan bebas berdua, Ris karena ada ayahku,”
“Memang kamu pikir aku mau berdua denganmu? Hmm?”
Auristella bertanya sambil menaikkan salah satu alisnya. Revano langsung mendengus dan memalingkan muka.
“Aku hanya bercanda, Revano,”
“Jadi kamu senang kan kalau berdua denganku?”
“Tidak juga, biasa saja. Tidak senang dan tidak sedih,”
“Aku pikir senang,”
“Hahaha ya ga ya aku senang lah. Karena tidak sengaja bertemu dengan temanku, tidak sengaja ini benar-benar kebetulan yang lucu,”
“Aku rasa kita berjodoh, Ris,”
******
“Ayah mengalami kecelakaan, baru saja dibawa ke rumah sakit. Aku dihubungi oleh seseorang yang melaporkan bahwa ayah ditabrak oleh sebuah mobil,”
“Apa? Kakak serius? Lalu dimana ayah sekarang? Tolong kirimkan alamatnya padaku, Kak. Apa kakak sudah di rumah sakit?”
“Tidak lah, untuk apa? Lagipula aku sedang bekerja,”
Angel tidak menyangka kalau kakaknya tidak langsung ke rumah sakit. Sesibuk apapun Ia kalau orangtua sakit tentu akan langsung meninggalkan kesibukan itu.
“Ya sudah tolong kirimkan alamat rumah sakitnya sekarang padaku,”
Angel sedang berada di kafe untuk memantau kafenya seperti biasa. Setelah mendapat kabar bahwa ayahnya berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan, tanpa berpikir panjang Ia langsung bergegas meninggalkan kafe. Ia harus secepatnya melihat keadaan Geno.
****
“Daripada aku mengurusnya di rumah sakit lebih baik aku pulang saja setelah bekerja. Lagipula aku lelah mencari uang!” Ujar Gesty sesaat setelah mengirimkan alamat rumah sakit dimana ayahnya mendapatkan perawatan kepadanya Angel yang akan menjenguk ayahnya.
Gesty memilih untuk tak ambil pusing. Ia biarkan saja Angel yang menjenguk ayahnya serta mengurusnya kalau perlu. Ia sudah lelah mencari uang, lagipula terlalu malas mengurus orang sakit walaupun yang sakit itu adalah ayahnya sendiri.
Ketika akan melanjutkan pekerjaan terakhir sebelum pulang, Ia mendapatkan panggilan dari Angel yang segera Ia terima.
“Kenapa lagi? Sudah aku kirimkan alamat rumah sakitnya,”
“Kakak serius tidak akan datang ke rumah sakit? Anak ayah ada dua, ayah akan sedih kalau hanya salah satunya saja yang datang melihat keadaannya,”
__ADS_1
“Tidak, aku akan langsung pulangs elesai vekerja. Kamu saja yangd atang menjenguk ayah kalaupun urus juga ya,”
“Ya Tuhan, kakak bicara seperti itu pada ayah kakak sendiri,”
“Jangan ajari aku, Angel, seolah kamu adalah orang paling baik di dunia ini. Lagipula ayahmu tidak kritis, dia sudah ditangani,” ujar Gesty dengan tegas setelah itu sambungan telepon pun sengaja Ia akhiri.
*****
Angel menggelengkan kepalanya setelah bicara dengan sang kakak. Sekarang Ia dalam perjalanan. Ia menghubungi Gesty karena ingin kakaknya juga datang ke rumah sakit supaya ayah mereka merasa bahagia diperhatikan oleh kedua anaknya tapi sayang Gesty menolak dengan keras.
“Kenapa kakak bisa tega sekali pada ayah? Ayah itu orangtuanya tapi dia tega sekali tak mau peduli pada ayah yang sekarang ini kondisinya sedang tidak baik-baik saja,”
Angel tidak habis pikir dengan kakaknya. Tapi Ia berharap ayahnya tidak mempermasalahkan ketidakhadiran Gesty nanti. Sebenarnya ini hal yang biasa terjadi. Setiap kali Geno sakit, Gesty memang tidak mah peduli. Semua urusan tentang ayahnya yang sakit Gesty serahkan kepada Angeld an selama ini Angel tak pernah mempermasalahkan itu. Karena menudutnya sudah menjadi kewajiban seorang anak untuk merawat orangtua.
Setelah tiba di rumah sakit Angel langsung mencari ruangan dimana ayahnya mendpaatkan perawatan. Begitu Ia membuka pintu, ternyata sedang ada dokter. Angel segera mendekati tempat tidur ayahnya itu. Setelah bicara dnegan sang ayah, dokter dan perawat keluar dari ruangan.
Angel langsung tersenyum menyapa ayahnya yang bebraring lemah di atas tempat tidurnya. “Ayah, bagaimana keadaanmu? Maaf aku terlambat datang, Ayah,”
“Ayah baik-baik saja, darimana kamu tahu ayah ada di sini?”
“Kakak yang memberitahuku barusan, Ayah,”
“Lalu simana Gesty sekarang? Apa dia datang juga?”
“Hmm kakak sepertinya tidak datang, Ayah. Tapi tidak apa bukan? Aku ada di sini untuk ayah, jadi kalaupun kakak tidak datang, ayah tidak pelru sedih ya,”
“Dia memberitahu kamu kalau ayah mengalami jecelakaan dan sedang dirawat di rumah sakit ini tapi dia tidak datang? Benar-benar keterlaluan anak itu. Ternyata dia memberitahu kamu karena memang mau mengandalkan kamu saja, dia tidak mau peduli pada ayahnya sendiri. Semakin kurang ajar saja dia,”
Angel mengusap lengan ayahnya yang mendadak terlihat emosi karena anaknya yang bernama Gesty. Angel tidak mau ayahnya merasa sedih ataupun kesal karena Gesty mengabaikannya padahal Gesty juga anaknya.
“Aku harap ayah tidak masalah kalau hanya ada aku di sini. Aku akan menemani ayah, jadi ayah tidak pelru memikirkan kakak ya. Ayah fokus saja pada kesembuhan ayah,”
“Ayah ingin pulang,”
Angel pangsung tersenyum kemudian mengamati kaki juga tangan ayahnya diperban. “Ayah, bagaimana ayah bisa pulang sedangkan kondisi ayah belum memungkinkan untuk pulang ke rumah. Aku mohon ayah bersabar ya. Sebentar lagi ayah akan pulang. Kalau ayah mau cepat pulang maka ayah harus cepat sembuh,”
“Kenapa kamu tetap mau datang ke sini padahal kamu membenci ayah?”
Kening Angel mengernyit ketika mendengar ucapan ayahnya itu. Kemudian Ia menggelengkan kepalanya membantah ucapan Geno.
“Ayah, aku tidak pernah membenci ayah, yolong jangan pernah bicara seperti itu. Aku tidak mungkin membenci ayahku sendiri. Seperti apapun ayahku, aku bersyukur memiliki ayah, dan aku tidak akan pernah membenci ayah,”
“Tapi terimakaish ya sudah mau datang ke sini, ayah tidak menyangka. Ya walaupun sebenarnya bukan hal yang aneh ketika kamu peduli pada ayah karena memang selama ini kamu seperti itu,”
“Aku harus peduli pada ayah karena cuma ayah satu-satunya orangtua yang aku punya,”
“Tapi ayah sudah jahat padamu,”
“Apapun yang pernah ayah lakukan tidak akan pernah membuat aku jadi benci pada ayah atau aku tidak mau lagi peduli pada ayah,”
******
“Padahal aku sudah berulang kali menghubunginya tapi tidak ada jawaban,”
“Mungkin Nona Angel sedang sibuk,”
“Sibuk apa? Tempat dia sibuk adalah di kafe ini, tapi dia tidak ada di kafe ini dan entah dia kemana,”
Andrean bingung ketika sampai di kafe tak menemukan keberadaan Angel, dan ada pegawai Angel yang mengatakan bahwa Angel pergi tapi ketika Andrean hubungi tak ada jawaban dari Angel. Sejujurnya Andrean merasa khawatir,
“Kemana kamu, Sayang? Aku khawatir,”
Andrean kembali berusaha menghubungi istrinya. Tidka mendapatkan jawaban juga. Entah harus mencari tahu kemana dia sekarang.
“Apa Angel sudah pulang ke rumah? Tapi seharusnya dia bilang dulu padaku, lagioula biasanya pulang bersama,”
Andrean menghubungi Mommy nya untuk bertanya apakah sang istri sudah berada di rumah atau belum.
Panggilannya langsung dijawab oleh Lovi “Halo, Ean. Ya ada apa, Sayang?”
“Mom, apa Angel sudah pulang ya?”
“Angel? Tidak, dia belum ada di rumah. Biasanya kamu yang menjemput di kafe lalu kalian pulang bersama,”
“Tapi Angel tidak ada di kafe, Mom,”
“Astaga, lalu kemana Angel, Ean? Kamu sudah tanyakan pada pegawainya?”
“Sudah, mereka melihat Angel pergi tapi tidak tahu kemana,”
__ADS_1