
Andrean dan Angel istrinya makan siang di restoran yang dekat dengan penginapan. Mereka menikmati makan siang berupa salah satu makanan khas Turki yaitu kebab.
“Kamu nyaman atau tidak tinggal di rumah keluargaku? Sepulang dari Turki kita siap-siap pindah ke rumah kita, kamu keberatan tidak?”
“Hmm? Pindah ke rumah kita?”
Andrean menganggukkan kepalanya. Ia sudah mempersiapkan rumah masa depannya jauh sebelum menikah. Ia ingin memboyong istrinya ke sana kalau memang sudah siap.
“Rumah kamu yang benar, Ean,”
“Tidak, rumah kita. Oh tidak-tidak, bisa dibilang itu rumahmu. Karena sebentar lagi aku akan menandatangani berkasnya untuk penyerahan rumah itu ke tangan kamu,”
“Andrean, jangan. Itu bukan hak aku. Itu punya kamu jadi jangan kamu serahkan apa yang jadi milik kamu ke tanganku. Aku nggak ada hak apa-apa, Ean,”
Andrean terkekeh pelan. Bagaimana mungkin Angel mengatakan bahwa apa yang menjadi miliknya tidak perlu diserahkan kepada Angel. Karena Angel tidaj punya hak apapun.
Andrean merasa Angel salah kalau berpikir dia tidak punya hak apa-apa. Angel istrinya, wajib Ia cukupi dalam segala hal. Dan apa yang Ia berikan untuk Angel, semuanya dilandasi dengan ketulusan.
“Aku bekerja untuk masa depan. Jadi ketika aku sudah punya istri, bahkan anak, mereka harus mencicipi hasil kerja kerasku. Tujuan aku bekerja supaya masa depanku cerah, anak istri bisa aku cukupi, jadi kamu jangan pernah sekali lagi mengatakan kamu tidak ada hak apapun, Angel. Kamu harus ingat, kamu istriku,”
“Aku dinikahi laki-laki luar biasa seperti kamu saja sudah sangat bersyukur. Kamu baik, keluargamu juga tidak kalah baik. Aku tidak mau menuntut apapun. Aku ini orang yang tidak punya apa-apa ketika disandingkan dengan kamu yang luar biasa baik, itu sudah lebih dari cukup untuk aku,”
Begitu besar rasa tahu diri yang ada dalam diri Angel. Ia tidak merasa bekerja untuk mendapatkan rumah yang akan mereka tempat nantinya. Yang lelah bekerja untuk mendapatkan rumah tersebut adalah Andrean. Jadi tangannya tidak pantas menerima itu.
“Aku tidak senang mendengar ucapanmu. Jadi jangan ulangi kata-kata itu lagi,” ujar Andrean dengan dingin. Andrean tidak suka ketika istrinya merendahkan dirinya sendiri, menganggap bahwa Ia tidak seberharga itu karena tidak punya apa-apa.
“Aku juga lahir ke dunia ini tidak punya apa-apa, dan nanti mati juga tidak bawa apa-apa ke alam selanjutnya. Jadi aku dan kamu itu sama, tidak ada bedanya. Semua yang aku punya sekarang, itu semuanya titipan, dan yang dititip itu tidak mau aku nikmati sendiri, di dalamnya ada hak orang yang membutuhkan, hak keluargaku, hak istri dan anakku nantinya. Tolong terima apapun yang aku berikan ke kamu dengan tulus, Angel,”
Setelah berkata seperti itu Andrean meraih tangan istrinya dan menggenggam dengan erat. Angel perlu tahu bahwa Andrean tidak suka ketika Angel merasa dirinya tak punya hak apa-apa. Angel merasa bersyukur karena dirinya yang bisa dibilang tidak seberuntung Andrean dalam hal keluarga dan juga harta dipertemukan dengan Andrean yang berkebalikan dari itu semua. Andrean punya keluarga yang sangat mendukungnya, mereka baik sekali, mereka semua juga berkecukupan, Andrean sendiri tidak pekerja keras. Sedangkan Angel hanya punya yang terakhir saja.
Jadi bersatunya Angel dengan Andrean itu anugerah yang luar biasa untuk Angel yang kali ini mendapatkan keberuntungannya lewat percintaan. Angel pernah merasa bahwa hidupnya tidak pernah beruntung. Sekarang tidak ada alasan lagi untuk Angel kembali berpikir seperti itu.
“Hai Andrean,”
__ADS_1
Si pemilik nama dan juga istrinya spontan menoleh ketika ada yang menghampiri mereka mereka dan itu adalah perempuan dengan blezer dan celana cutbray. Perempuan itu tersenyum hangat ke arah Andrean yang bingung. Perlu beberapa detik untuk Andrean mengingat siapa sosok perempuan itu? Andrean yakin Ia dikenal oleh perempuan tersebut makanya disapa.
“Kamu sepertinya lupa denganku ya?”
“Jujur, iya tapi aku sedikit tidak asing melihat wajahmu,”
“Aku Aurelie. Masih lupa? Astaga, satu organisasi saat kuliah bachelor degree di kampus. Tetap lupa ya?”
“Ah iya, Aurelie. Aku sudah ingat,”
Perempuan yang memperkenalkan dirinya sebagai Aurelie itu langsung mengulurkan tangannya ke arah Andrean yang menerima dengan senang hati walaupun raut wajahnya tak tetap datar.
“Kenalan lagi kalau begitu biar semakin ingat. Namaku Aurelie,”
Andrean tersenyum tipis mendengar ucapan perempuan itu. Ia pun menyebut namanya sendiri.
“Andrean, bagaimana kabarmu?”
“Baik,”
Aurelie juga mengulurkan tangan ke arah Angel yang dengan senang hati memperkenalkan dirinya tanpa status. Hanya nama, sebab Andrean belum memperkenalkannya senagai istri dan entah kenapa Angel tidak percaya diri menyebut bahwa dirinya adalah istri Andrean.
“Namaku Angel,”
“Hai, Angel. Cantik sekali kamu, aku senang kenal denganmu,”
“Terimakaish, kamu pun tidak kalah cantik, dengan pakaian formalmu itu apalagi,” ujar Angel tidak segan memuji Aurelie. Angel jujur, Aurelie memang menawan sekali. Wanita pekerja yang anggun sekali di matanya.
“Oh—wow, aku jadi malu,”
“Angel istriku, Rel,”
“Oh ya? Wah, kalian sudah menikah? Aku baru tau,”
__ADS_1
“Duduklah, silahkan. Tidak enak ‘kan bicara sambil berdiri,”
Angel mempersilahkan Aurelie untuk bergabung dengannya dan Andrean. Ayrelie langsung duduk ketika dipersilahkan.
“Ya baru tau karena aku juga baru bicara tentang itus ekarang kepadamu ‘kan,”
“Aku tidak menyangka ada perempuan yang berhasil meluluhkan hatimu yang keras seprrti batu karang di pantai, Andrean,”
Andrean mengangkat sedikit sudut bibirnya mendengar ucapan Aurelie. Dari keinginan orangtua, sekarang berubah menjadi benar-benar nyaman bersama Angel, begitu mencintai Angel, sampai tidak mau membayangkan sedikitpun akan ditinggalkan oleh Angel. Membayangkannya saja tidak mau apalagi benar-benar sampai terjadi tidak ada Angel di hidupnya. Andrean yakin hanya warna putih dan abu-abu saja hidupnya, seperti sebelum ada Angel.
“Kalian menikah sudah berapa lama?”
“Terhitung baru, mau setengah tahun lah kurang lebih,”
“Ke sini bulan madu ya?”
“Bisa dibilang begitu,”
“Aku diakan semoga secepatnya bawa anak kembali lagi ke sini ya,”
“Kami belum memiliki anak, Rel,”
“Ya makanya aku doakan semoga segera diberikan keturunan lalu diajak ke sini lagi, mudah-mudahan bertemu aku karena aku ingin berkenalan dengannya,”
Angel terkekeh, sudah jauh juga pembicaraan teman suaminya itu. Tanda-tanda akansegera memiliki anak saja belum ada.
“Kamu sendiri bagaimana? Sudah dipertemukan dengan jodohmu?”
Aurelie langsung terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Angel dan Andrean menyimpulkan Aurelie tetap bahagia, kelihatan santai, dengan status belum menikah yang disandangnya sekarang. Dan jujur mereka senang karena Aurelie kelihatan tidak tersinggung dengan pertanyaan Andrean.
“Belum lah, kamu liat aku berlenggang santai sendirian sekarang, tanpa siapapun,”
“Ya sudah, nikmati hidupmu yang sekarang. Jangan menjadikan apapun sebagai beban pikiran. Di dunia ini bukan ajang perlombaan. Siapa yang paling cepat menikah, siapa yang paling cepat punya anak. Nikmati saja apa yang bisa kamu nikmati sekarang, tidak perlu memikirkan apa kata orang. Jodoh sudah ada yang menentukan. Kalau sudah waktunya pasti akan dipertemukan,”
__ADS_1
“Wah momen langka kamu bicara lumayan panjang lebar kepadaku, Andrean, bahkan menasehatiku, hahaha,”