Semua karena Angel

Semua karena Angel
Bab 77


__ADS_3

“Ya sudah jangan melakukan apa-apa lagi kepada Angel. Yang terakhir tadi gagal, aku akan berulah lagi kalau dia menjadi anak yang kurang ajar lagi. Awas saja kalau dia laporan hal yang aneh-aneh pada suaminya, akan aku beri pelajaran yang lebih lagi,”


Devan mengetatkan rahangnya ketika mendengar pembicaraan Geno, ayah kandung Angel dengan seorang pria yang tidak Ia kenali siapa. Devan berdiri di balik pintu rumah yang sengaja dibiarkan terbuka.


Setelah Geno bicara seperti itu, orang tersebut pamit pergi. Geno akan beranjak masuk ke dalam rumah namun Devan berdehem sambil keluar dari tempat persembunyiannya dan kebetulan Geno juga akan menutupi pintu rumah.


“Mau apa ke sini? Mau marah-marah, berlaku tidak sopan seperti anakmu? Hmm?”


Devan tersenyum miring mendengar pertanyaan itu. Karena Ia masih menghargai Geno sebagai sesama manusia, masih menghargai Geno sebagai ayah dari Angel makanya Ia tidak langsung memberi tinju di mulut Geno yang kurang ajar. Kedatangannya ke sini bukan untuk bersikap tidak sopan, tapi hanya ingin menuntut penjelasan kenapa Geno bisa setega itu meneror putrinya sendiri.


“Anakku datang ke sini bukan untuk marah-marah tanpa sebab, aku yakin itu. Aku kenal bagaimana perangai Andrean. Dia datang ke sini pasti tujuannya untuk menegur kamu ‘kan?”


“Ya, padahal dia tidak ada hak,”


“Dia punya kewajiban untuk menjaga istrinya, memastikan istrinya bahagia. Jadi ketika ada yang mengusik, dia tidak akan segan memberi peringatan. Tapi sepertinya peringatan dari anakku itu tidak berpengaruh apa-apa ya?”


“Tau apa kamu?! Hah?!”


“Kau pikir aku bodoh? Aku tau yang menyuruh orang untuk meneror menantuku itu kamu ‘kan?! Jawab jujur!”


Geno tersenyum miring dan geleng-geleng kepala. Ternyata Devan tahu soal teror itu. Setelah anaknya yang datang ke rumah ini memberinya peringatan, sekarang ayahnya juga datang. Satu hal yang Geno tahu, Angel benar-benar dianggap berharga oleh Andrean dan keluarganya.


“Kalau ya, memang kenapa?”


“Kamu tega sekali ya. Kamu sadar tidak yang kamu buat ketakutan, yang kamu buat tertekan itu anak kandungmu sendiri! Kenapa kamu begitu tega?! Apa salah menantuku itu padamu dan pada Gesty? Dia sudah berusaha baik, tolong lah kalau mau jahat pada Angel, pergi jauh-jauh saja. Angel tidak perlu kalian, yang hanya bisa menyakiti. Tolong pergi saja daripada membuat menantuku stres,”


“Angel harus tau darimana dia berasal, dia tidak boleh melupakan keluarganya disaat dia sudah hidup serba enak sekarang,”


Devan menghembuskan napas kasar. Sebenarnya Devan bukan tipe laki-laki yang mudah menahan emosi, tapi karena orang yang ada di depannya ini adalah bagian dari keluarganya juga, jadi Ia masih menjadikan itu sebagai pertimbangan untuk tidak meninju Geno sampai terbaring di lantai. Devan masih kuat melakukan itu.


“Memang siapa yang melupakan kalian? Hah? Angel tidak pernah lupa kalau kalian keluarganya. Angel bahkan selalu berusaha untuk bersikap baik pada kalian ‘kan? Tapi kalian mungkin yang tidak bersyukur, terlalu banyak menuntut sementara Angel punya kehidupan yang baru sekarang, bersama suaminya. Angel tidak bisa terus menerus kalian tekan, biarkan dia bahagia. Kalau kalian tidak bisa membahagiakan dia setidaknya jangan menyakiti. Biar menjadi tugas Andrean membahagiakan istrinya disaat ayah dan kakaknya sendiri membuatnya sedih,”


“Tidak usah bicara panjang lebar padaku. Muak mendengarnya, kamu tidak pantas ikut campur,”


“Aku harus ikut campur karena Angel adalah anakku juga. Lagipula aku bingung ya, kamu dan anakmu yang satu itu punya peran penting apa sih di dalam hidup Angel? Kenapa terlalu menuntut Angel harus terus ingat dengan kalian, Angel harus patuh pada kalian, apa kalian lupa dulu Angel bahagia dengan ibu dan neneknya tapi setelah mereka meninggal kalian datang dan membuat Angel makan hati terus menerus. Aku menyayangkan takdir hidup anak menantuku itu. Takdir yang menyedihkan harus dia terima. Yang seharusnya disayang, dicintai oleh ayah dan juga kakaknya, ini malah sebaliknya,”


Tiba-tiba Geno mendorong dada Devan hingga Devan mundur. Lalu Geno menatap Devan dengan tatapan tajam menusuk sambil berkata “Diam! Sudah aku katakan barusan, kamu tidak berhak untuk ikut campur,”


Gigi geraham Devan saling beradu satu sama lain hingga bentuk rahangnya kian tegas. Kedua tangan Devan mengepal. Devan berusaha menahan desakan ingin memberi pelajaran lewat serangan fisik pada lelaki di depannya yang tidak punya hati.


“Pergi dari rumahku sekarang! Pergi!”


“Bolehkah aku berkata bahwa kamu dan anakmu yang satu lagi itu adalah manusia yang tidak tau diri, tidak tau rasa bersyukur? Hmm?”


“Pergi dari rumahku sekarang! Aku tidak mau mendengar omong kosongmu itu, tidak ada yang penting,”


Geno seolah lupa siapa Devan ini. Banyak sekali peran Devan dalam kehidupan Angel, yang otomatis berdampak positif juga untuk dirinya. Devan dan Lovi selalu bersikap baik, tidak pernah bosan memberikan bantuan dalam hal apapun itu, terlalu banyak sampai tidak bisa Angel hitung. Itulah sebabnya Angel selalu berusaha untuk menjaga perasaan Andrean dan keluarganya, Angel tidak mau mengecewakan mereka yang sudah begitu baik. Tapi sayangnya sang ayah dan kakak, tidak mau peduli soal itu. Dengan mereka bersikap jahat dan tega seperti ini kepada Angel, sudah cukup membuat orangtua Andrean kecewa.


“Baiklah, aku akan pergi. Tapi dengarkan ini baik-baik ya. Kalau kamu mengusik hidup keluargaku, terutama Angel, kamu akan berurusan denganku! Ingat baik-baik ucapanku ini ya. Kamu tentu tau aku bisa melakukan apapun, jadi aku bukan hanya mengeluarkan omong kosong saja,”


Setelah bicara seperti itu, Devan bergegas pergi meninggalkan kediaman Angel sebelum akhirnya Angel angkat kaki dari rumah itu karena diboyong oleh Andrean setelah mereka resmi menjadi sepasang suami istri.


*******


“Auris, kamu yakin aku tidak apa-apa pakai gaun ini? Bukankah ini terlalu terbuka ya untukku? Ini ‘kan malam, Ris,”


Angel menatap gaun yang baru saja diberikan oleh Auristella kepadanya. Angel benar-benar bimbang memakai atau tidak.


“Tidak, ini cocok untukmu. Acaranya ‘kan party ulang tahun, jadi gaun ini tepat,”


“Tapi aku ada gaun, yang menurutku lebih membuat aku merasa percaya diri. Kalau ini—“

__ADS_1


“Hei, kamu harus percaya diri mengenakan apapun, karena kamu harus tau satu hal, kamu itu diberkati wajah yang cantik dan badan yang bagus. Kamu itu menarik, Angel!”


“Iya tapi ini—-“


“Ssttt sudah-sudah! Kamu dengar aku baik-baik ya. Kamu cantik dengan gaun ini dan aku yakin Ean akan menyukai penampilanmu, percayalah padaku. Ini belum aku pakai kalau tidak salah. Buat kamu saja karena menurutku lebih cocok kalau kamu yang pakai,”


Melihat Angel yang ragu, Auristella langsung mencubit pelan lengan Angel. “Kamu harus percaya diri, Angel! Kamu itu cantik. Pakai baju apapun cantik, aku serius,”


“Baiklah, terimakasih ya, Ris,”


“Okay sama-sama, Cantik,”


Angel terkekeh meringis. Angel masih ragu dengan gaun yang saat ini ada di tangannya. Gaun itu berwarna silver, bertali sekecil kelingking di kanan dan kiri bahunya, ada taburan swarovski di bagian dada dan pinggang. Gaun ini sangat cantik menurut Angel, tapi karena Angel tidak terbiasa mengenakan baju yang terbuka apalagi malam hari, jadi Angel ragu sekarang


“Ayo sekarang bersiaplah. Aku juga mau bersiap pergi dengan Daddy, Mommy dan Ian,”


“Tapi masih nanti acaranya, jam delapan, sekarang masih jam enam,”


“Oh iya ya, okay kalau begitu aku siap-siap dulu ya,”


Angel tersenyum dan mengangguk. Auristella sudah kembali ke kamarnya sendiri, dan Angel segera menutup pintu kamarnya, disusul dengan terbukanya pintu kamar mandi menampilkan suaminya yang baru saja mandi.


“Sayang, itu kamu bawa baju siapa?”


“Barusan Auris memberikan aku baju ini. Bagaimana menurutmu, Ean?”


“Ya sudah pakai saja,”


Belum dilihat oleh Andrean tapi Andrean sudah mengizinkan. Andrean tahu baju adiknya itu bagus-bagus. Dan Auristella tahu fashion, pasti tahu apa yang cocok untuk kakak iparnya itu.


“Serius aku pakai?”


“Biar aku yang keringkan rambutmu, Ean,” ujar Angel seraya meletakkan baju pemberian Auristella di atas ranjang lalu Ia mendekati sang suami. Ia mengambil alih handuk yang dipegang oleh suaminya itu.


“Okay, terimakasih, Sayang,” ucal Andrean dengan hati yang senang. Angel adalah orang yang peka. Angel tahu Andrean terkadang malas mengeringkan rambut.


********


“Mommy, aku punya ide yang bagus soal pakaian Angel malam ini. Dia ‘kan mau datang ke acara ulang tahun temannya ya, aku beriman baju yang cocok menurutku, baju pesta yang aku beli tapi seingatku belum aku pakai, Mom,”


“Bajunya seperti apa? Bagus ‘kan?”


“Ya bagus, Mom. Apa Mommy ragu dengan baju-bajuku yang semuanya bagus itu?”


“Hahahaha pkay Mommy salah bicara,”


“Baju apa yang kamu berikan untuk Angel, Ris? Jangan bilang baju untuk tidur,” tanya Adrian yang tiba-tiba ikut masuk dalam pembicaraan antara adik dan mommynya itu, disaat Ia sedang berbincang dengan Devan.


“Mana mungkin aku berikan baju untuk tidur kepada Angel yang lagi mau datang ke pesta ulang tahun. Kamu pikir aku bodoh? Hah? Dia tidak bilang konsep acaranya memakai baju tidur jadi tidak mungkin lah aku berikan baju tidur,”


“Lalu, baju apa yang kamu berikan untuk Angel?”


“Okay kamu bisa deskripsikan bajunya tidak?”


“Aku ada fotonya, Ian,”


Auristella langsung meraih ponselnya yang terletak di atas meja, lalu Ia membuka galeri foto. Yang Ia ingat, Ia pernah memotret baju tersebut, Ia berharap belum dihapus.


“Semoga tidak dihapus olehmu ya? Kamu ‘kan suka hapus-hapus isi galeri. Galeri aku saja pernah jadi korban,”


“Hahahaha itu tidak sengaja,”

__ADS_1


“Hah memang kamu anaknya usil,”


“Tidak-tidak, ini ada,”


Auristella langsung senang berhasil menemukan foto yang Ia cari. Ia segera memperlihatkan foto tersebut kepada mommy dan kakaknya.


“Astaga, tidak ada yang lebih seksi lagi, Ris?”


“Ini terlalu terbuka menurut Mommy,”


“Hahaha memang ini seksi ya?” Tanya Auristella disela tawanya usai melihat reaksi kagetnya Adrian dan juga Lovi.


“Sayang, Mommy rasa Angel akan kena marah Andrean kalau dia mengenakan baju ini, mengingat selama ini Angel tidak pernah aneh-aneh dalam hal berpakaian. Dan Andrean sendiri juga suka pakaian yang sederhana saja, tidak aneh-aneh,”


“Tapi menurutku ini cocok sekali untuk Angel, Mom. Apa pendapat Mommy dan Ian berbeda?”


“Bagus, memang ini gaun yang bagus dan tentunya mahal, aku tau. Tapi ini—seperti—seperti bukan Angel yang aku kenal kalau Angel memakainya. Karakter Angel terlalu polos bila harus berpenampilan seperti ini. Ya walaupun bagus-bagus saja sih,” ujar Adrian yang sempat kehabisan kata-kata. Menurut pandangan Adrian, baju yang Auristella berikan kepada Angel itu memang bagus, dan Ia tahu harga baju adiknya tidak pernah murah. Tapi mengingat yang akan mengenakannya adalah Angel, jadi aneh saja membayangkan Angel akan mengenakan ini.


“Coba menurut pandangan Daddy bagaimana?” Tanya Auristella seraya memperlihatkan foto di galerinya itu kepada Devan yang tetap saja fokus makan disaat anak dan istrinya sedang membicarakan tentang baju.


“Hmm bagus, tapi benar kata Mommy dan Ian. Kalau Angel memakainya, maka Angel akan kelihatan beda, dan tidak cocok dengan karakter Angel yang selama ini kita lihat,”


“Nah justru itu yang aku kau, Daf. Aku mau Angel tampil beda, tampil lebih berani, lebih wow! Ideku bagus ‘kan?”


“Dasar sinting!”


“Hahahaha, kenapa kamu keliatannya kesal, Ian?”


“Aku tidak kesal, aku hanya heran saja kenapa kamu mau Angel tampil beda dengan baju seperti itu?”


“Ya karena aku bosan lihat penampilan Angel yang begitu-begitu saja, tidak pernah beda,”


“Mommy berharap Ean tidak kesal ya, apalagi sampai marah pada Angel,”


“Tidak mungkin lah Ean marah pada istrinya hanya karena baju, Lov. Dia laki-laki yang sepertinya tidak punya emosi,”


“Hahahaha mana ada manusia tanpa emosi, Dad. Ah Daddy suka ada-ada saja,” ujar Adrian.


“Ya karena Daddy sangat-sangat jarang melihatnya marah, bahkan sepertinya tidak pernah,”


“Iya kalau memang Ean tidak suka lihat Angel mengenakan baju itu, Mom, pasti akan Ean bicarakan dengan baik-baik tanpa emosi,”


“Hmm iya juga ya, rasanya tidak mungkin Ean sampai memarahi istrinya hanya karena perkara baju. ‘Kan mudah kalau memang tidak suka, bisa langsung menyuruh Angel untuk ganti baju yang menurutnya lebih baik, lebih tepat,”


Auristella menganggukkan kepalanya sambil berkata “Tapi aku berharap dia tidak keberatan supaya istrinya tampil beda di pesta kali ini,”


“Tampil beda tapi kalau jadi pusat perhatian orang lain terutama laki-laki, pasti Ean tidak mau lah. Dia cemburu istrinya jadi objek mata orang lain, terutama kaum laki-laki.


“Aku tidak sabar dengan reaksi Ean, hahahaha,”


“Ssst berisik! Jangan bikin malu, ini di tempat makan, ada orang lain yang sedang makan juga,”


Auristella spontan menutup mulutnya sendiri setelah mendapat teguran dari Adrian karena kelepasan tertawa cukup keras.


“Kamu sengaja ya membuat kakak pertama kamu itu cemburu? Supaya bertindak posesif pada istrinya?”


“Tidak, Daf,”


“Ah tapi yang Daddy liat kamu sengaja, Sayang,”


“Tidak, menurut aku baju itu cocok untuk Angel, Dad. Dia akan tambah cantik kalau memakai gaun itu, Dad. Tapi sayangnya dia tidak percaya diri. Entah apa yang membuatnya tidak percaya diri padahal dia cantik, aku yang perempuan saja kagum, apalagi setelah menikah aura Angel itu beda,”

__ADS_1


__ADS_2