
“Ean, siapkan tiket liburan lagi untukku, Ean, aku mohon, kamu ‘kan kakak yang negitu baik hatinya,”
“Ulang tahunmu kemarin sudah aku herikan tiket liburan bahkan beraama teman-temanmu juga, sekarang minta liburan lagi? Lalu bagaimana dnegan kuliahmu? Apa akan kamu abaikan begitu saja? Hmm? Jangan terlalu banyak berlibur, Ris,”
Andrean memberikan jawaban yang bijaksana atas permintaan adiknya yang ingin diberikan tiket liburan lagi oleh kakak pertamanya itu. Belum lama ini, ketika Auristella berulang tahun, Andrean dan Angel memberikan hadiah berupa tiket luburan untuk Auristella dan teman-temannya. Sekarang Auristella ingin berlibur lagi. Tidak bersama teman-temannya juga bukan masalah, asal Ia bisa berlibur.
“Bagaimana? Boleh?”
“Bagaimana dengan kuliahmu? Jawab dulu pertanyaanku,” ujar Andrean masih fokus dengan makanannya. Kali ini Ia makan sendiri sepulang bekerja karena istrinya menemani Lovi pergi menghadiri acara pernikahan anak dari teman Lovi. Tiba-tiba adiknya datang ke ruang makan. Memang sudah Andrean duga ada sesuatu yang akan dibicarakan oleh Auristella karena tak biasanya anak itu mau menemaninya makan, bahkan dnegan hangat, dnegan manis menyapanya. Auristella yang suka ketus dengan kedua kakaknya, suka menyebalkan, tentu akan membuat bingung ketika dia tiba-tiba berubah.
“Aku tidak mengabaikan kuliah, aku akan tetap mencari ilmu, akan tetap mengerjakan tugas kalau memang selama liburan aku diberikan tugas,”
“Mana bisa seperti itu, Ris? Yang namanya liburan, sebisa mungkin benar-benar lepas dari semua kesibukan barulah liburan bisa dinikmati,”
“Ya aky tidak mungkin meninggalkan kewajibanku ‘kan? Maka dari itu aku akan tetap kiliahw alaupun sedang berlibur. Sekarang semuanya dipermudah, Ean,”
“Ya aku tau, tapi akan lebih nyaman kalau belajar dengan semestinya, jangan inisiatif mengambil libur sendiri disaat teman-temanmu yang lain belajar di kampus. Kamu juga seharusnya seperti itu, bukan malah sihuk berlibur. Waktu kamu ulang tahun, kebetulan kamu sedang rehat. Ya kalau kamu rehat jyga sejarang, aku tidak keberatan mengizinkan kamu unntuk berlibur bahkan aku persiapkan semuanya,”
Raut wajah Auristella langsung berseri. Ia menepuk-nepuk lengan kakaknya yang saat ini sedang menikmati makanannya.
“Iya-iya aku mau seperti itu,”
“Memangnya sejarang sedang rehat kuliah? Huh?”
“Ya memang tidak tapi aku kan bisa mengambil waktu libur paling tidak satu minggu,”
Andrean menatap adik terakhirnya itu dengan kedua alis yang menyatu lalu bertanya “Apa kamu seingin itu berlibur, Ris?”
“Iyalah, kenaoa harus bertanya lagi? Aku yakin kamu sudah tau jawabannya,”
“Ada alasan?”
“Aku sedang jenuh dengan pembelajaran, Ean,” jawab Auristella menggunakan suara pelannya. Ia takut jawabannya itu membuatnya jadi salah di mata Andrean. Jenuh wajar saja bukan? Seharusnya Nadrean memahami, tapi mengingat Andrean itu tipe anak yang rajin belajar, ambisinya besar untuk menggapai cita-cita, barangkali jenuh yang dirasakan adiknya itu tak dianggap wajar olehnya.
“Apa? Kamu jenuh belajar makanya ingin berlibur?”
“Iya,”
__ADS_1
“Jenuhnya kenapa? Ada hal yang tidak bisa kamu selesaikan dalam pembelajaran? Sudah dibicarakan dnegan pengajarmu belum? Dicarikan solusinya, karena biasnaya jenuh itu ada sebabnya. Entah itu kamu kesulitan menerima pembelajaran, ada suatu permasalahan, atau justru kamu memang sedang butuh penyegaran pikiran saja,”
“Iya yang aku rasakan adalah nonor tiga yang kamu aebutkan tadi. Aku tidak punya masalah, smeua berjalan baik-baik saja tapi aku ingin sekali menyegarkan pikiranku ini, entah kenapa aku jenuh padahal tidak ada alasan aku rasa,”
“Hanya karena ingin menyegarkan pikiran? Bukan jarena ada suatu masalah yang memhuat lamu jenuh belajar, atau meneutmu materinya sulit untuk kamu terima, atau justru ada yang salah dari pengajarnya mungkin?”
“Tidak-tidak, semuanya berjalan baik-baik saja, Ean. Tapi memang aku sedang ingin liburan,”
“Atau jangan-jangan kamu sedang sedih masalah percintaan? Hmm? Katakan padaku, Ris,”
“Tidak, Ean,”
“Barangkali kamu perlu liburan karena suasana hatimu sedang berantakan. Makanya untuk menghindari itu janganlah kenal cinta dulu, akhirnya jadi seperti itu ‘kan,”
“Astaga kamu salah paham! Aku tidak sedih karena cinta! Kenapa kamu berpikir seperti itu sih, Ean?!”
“Jujur?”
“Iya aku jujur,”
“Tidak ada masalah dengan Revano?”
“Bertengkar dengan dia?”
“Tidak! Sekali lagi kamu cerewet, aku marah ya?”
“Hmm aku pikir lagi ada masalah dnegan laki-laki itu makanya kamu sedih dan kamu ingin liburan,”
“Tidak, Ean. Aku memang hanya ingin liburan saja, bukan jarena masalah apapun,”
Andrean menganggukkan kepalanya. Auristella diam menunggu jawaban Andrean. Sudah dua menit Ia tunggu tak ada jawaban juga yang keluar dari mulut Andrean. Entah kakaknya itu mau memberikannya liburan atau tidak.
“Jadi bagaimana? Kamu mau memberikan tiket liburan untukku? Hmm?”
“Bisa, asal tidak meninggalkan kewajiban belajar,”
“Serius?”
__ADS_1
“Ya, apa kamu bisa memastikan itu?”
“Bisa-bisa! Aku akan tetap belajar walaupun liburan,”
“Tapi apakah bisa? Apakah nyaman? Karena liburan itu seharusnya dinikmati tanpa beban. Lagipula teman-temanmu belajar di kampus, kamu belajar di tempat liburan, apa itu adil?”
“Astaga, kalau bicara soal adil, mereka juga sering liburan tanpa aku ‘kan dan itu tidak menjadi masalah, kenapa kamu harus memikirkan mereka?”
“Ya sudah, akan aku persiapkan,”
“Yeayy, untukku sendiri?”
“Ya, memang kamu ingin liburan bersama siapa? Revano? Jangan harap!”
Andrean pergi meninggalkan meja makan karena makannya memang sudah habis. Auristella terperangah menatap kepergian kakaknya.
“Dia seram sekali. Padahal aku tidak membahas siapapun, kenapa dia malah membawa-bawa Revano coba?” Gumam Auristella.
Auristella menyusul kakaknya yang saat ini ke dapur untuk meletakkan piring kotornya. “Ean, aku tidak minta berlibur dnegan dia ya! Kenapa kamu malah berpikir kalau aku akan liburan dengan dia?”
“Ya barangkali saja terbesit di pikiranmu kalau kamu mau liburan dnegan Revano. Tidak akan aku berikan. Kalau mau berlibur ya sendiri-sendiri,”
“Ya memang! Siapa juga yang mau liburan bersama?”
“Lalu kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu ingin mengajak temanmu yang lain?”
“Hmm rencananya, aku ingin mengajak Angel,”
“Hah? Kamu mau mengajak Angel?”
Andrean menoleh ke belakang sambil berjalan meninggalkan dapur. Auristella masih menjadi ekornya.
“Iya kalau boleh,”
“Hmm sebebarnya aku ragu,”
“Ragu kenapa? Kamu takut aku tidak bisa menjaga Angel?”
__ADS_1
“Bukan, bukan begitu maksudku, Ris. Anl kan sudah dewasa dia juga bisa menjaga dirinya sendiri, kamu pun begitu, tapi walaupun begitu kalian kan harus saling menjaga satu sama lain, itu yang selalu diajarkan Mommy Daddy. Tapi aku ragu apa Angel bersedia? Lagipula dia lagi hamil, barangkali yang dia suka sekarang adalah istirahat saja di rumah,”
“Aku akan coba dulu bicara dengan Angel, kalau seandainya dia mau bagaimana? Apa kamu memberikan izin?”