
Memiliki anak pendiam tidak mudah untuk memahami isi hati dan pemikirannya. Punya anak yang suka banyak omong tantangannya adalah harus siap-siap pening apalagi kalau punya anak yang karakter seperti itu sebanyak dua orang. Harus siap menjadi penengah ketika beradu pendapat.
Andrean datang dari instalasi farmasi dan langsung mengajak tiga perempuan berharga dalam hidupnya itu untuk bergegas pulang.
“Ini kita langsung pulang?”
“Iya, Sayang. Memang mau kemana lagi?”
“Makan siang dulu boleh?”
“Boleh-boleh, ayo kita makan siang dulu, Ean,”
Auristella yang langsung menjawab. Tentu saja Ia ikut mendukung makan siang terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah, walaupun sekarang masih jam sepuluh, dan mereka sudah sarapan pukul tujuh tadi.
“Ya aku tau namanya bukan makan siang, karena ini belum waktunya makan siang tapi aku ingin makan lagi karena sudah lapar,”
“Iya kita makan dulu ya sebelum pulang,”
Angel tersenyum sumringah mendengar jawaban Andrean. Ia sudah merasa lapar padahal belum lama makan.
“Kenapa aku sudah lapar ya?”
“Ya tidak apa, Sayang. Lapar bisa datang kapan saja,”
“Angel, kamu ‘kan sekarang lagi mengandung, kalau cepat lapar, itu wajar. Kamu berbagi nutrisi dengan anak kamu. Makan jarang terlambat, jangan kurang, harus benar-benar diperhatikan,”
“Iya, Mom,”
“Ean juga harus memperhatikan itu, Ean. Dan harus sabar-sabar menghadapi wanita hamil. Karena terjadang tidak terduga, beda dnegan sebelum hamil. Jangan mengeluh, karena kalau mengeluh, tandanya kamu tidak berayukur diberkati atuhan dnegan anugrah yang luar biasa,”
“Iya, Mom,”
Andrean mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah sakit. Ia tidak akan melajukan mobil ke rumah dulu sebelum memenuhi pernintaan ustrinya.
“Kamu mau makan apa, Angel?”
“Apa saja yang penting makan,”
“Restoran seafood mau?”
“Iya apa saja boleh. Terserah padamu, Ean,”
“Tapi kamu mual tidak kalau makan seafood?”
__ADS_1
“Ya semoga saja tidak,”
“Turuti saja, Ean,”
“Okay, Mom,”
“Jangan dibicarakan mualnya, asal Angel mau ke sana ya mudah-mudahan sampai makan selesai aman. Wajar mual-mual itu, selagi tidak berlebihan. Jangan khawatir, fase itu akan terleati kalau memang sudah waktunya,”
“Iya, Mom,”
“Aku jadi ikut belajar karena Mommy terus saja memberikan ilmu soal kehamilan. Dan aku senang mendengarkannya,”
“Belajar di awal itu baik, jadi nanti setelah kamu dihadapkan dengan keadaan seperti yang kamu pelajari, kamu tidak terlalu bingung lagi,”
“Mommy benar,”
“Ean, aku boleh tanya sesuatu tidak?”
“Soal apa, Ris?”
“Kamu sendiri pasti ‘kan berharapnya anak kamu lahir dengan sehat selamat apapun jenisnkelaminnya, benar tidak?”
“Iya benar,”
“Nah, di hati kecil kamu, ingin anak laki-laki atau perempuan?”
“Ahahaha sudah kuduga,”
“Tapi apapun aku terima dnegan senang hati tentunya. Jenis kelamin nomor sekian yang terpenting bagiku benar apa yang kamu sebutkan tadi. Dia sehat, Angel sehat, dia berhasil ke dunia dnegan keadaan baik-baik saja sudah lebih dari cukup untkku,”
“Iya sama, aku juga akan menerima apapun jenis kelamin keponakanku. Aku akan tetap menyayanginya,”
“Terimakasih, Auris,” ujar Andrean seraya tersenyum tipis.
“Tapi di hati kecilku, ingin anak perempuan,”
“Alasannya apa?”
“Ya karena biar aku punya teman untuk diajak perawatan atau belanja. Biar aku punya pasukan melawan Ian. Di rumah terlalu banyak laki-laki,”
“Oh ya? Maid tidak kamu hitubg sebatai perempuan?”
“Ya—maksudku, keluarga kita, Ean. Cuma aju, Mommy, dan Angel saja,”
__ADS_1
“Ya sama sebenarnya. Yang laki-laki hanya aku, Ian, dan Daddy,”
“Iya benar kata Ean. Sama saja sebenarnya, Ris. Tiga sama tiga,”
“Tapi aku berharapnya permepyan supaya bisa punya teman pergi, teman cerita, ya intinya aku ingin melakukan banyak kegiatan bersama yang identiknya dnegan perempuan. Seperti yang aku bilang tadi. Perawatan, belanja, dan lain-lain,”
“Iya-iya, kita lihat nanti. Sipakah yang akan menjadi pemenangnya? Laki-laki atau perempuan?”
“Bisa jadi laki-laki dan perempuan sekaligus,”
Angel membelalakkan kedua matanya. Bisakah seperti itu? Jujur Ia tidak pernah terbesit di benaknya akan punya anak kembar.
“Memang bisa ya, Mom aku hamil kembar?”
“Ya bisa, Sayang. Apalagi duami kamu sendiri punya kembaran. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini,”
“Tapi aku bis atidak ya, Mom? Maksudku, mengurus satu anak saja aku velum tentu bisa, apalagi—“
“Sst kamu tidak boleh bicara seperti itu. Kamu harus yakin. Kalau kamu sudah ditakdirkan jadi ibu, kamu dianugrahi anak berarti menurut Tuhan, kamu sudah siap menjadi Ibu. Semua ibu juga awalnya tida bisa nengurus anak, Sayang. Tapi ‘kan ada yang namanya belajar. Semua ibu akan melewati fase itu, setiap harinya sellau belajar menjadi ibu yang baik jadi kamu tidak pelru khawatir,”
“Iya, Angel. Jangan pernah berpikir seperti itu. Semua ibu di dunia ini hebat. Mommy ku saja bisa mengurus dua bayi sekaligus sebelum ada aku, dan aku yakin kamu juga bisa. Kamu bisa jadi ibu yang baik,”
“Kalau seandainya kamu hamil kembar, wah benar-bebar tidak menyangka sekaligus dapat dua. Rumah akan semakin ramai, tapi ramainya bukan karena Ian dan Auris daja tapi karena twins juga,” ujar Lovi yang seketika langsung membayangka Ia memiliki cucu kembar. Suasana akan sangat hangat dan ramai ketika mereka sudah besar nanti. Tidak sabar ada di momen itu.
“Aku aminkan ya, Ean, Angel,”
“Kalau boleh request aku mau kembar laki- laki dan perempuan kalau begitu,” ujar Andrean seraya terkekeh.
“Iya apapun, kita syukuri ya. Yang penting sehat, sudah itu saja,”
“Mommy mau bicara pada kalian berdua, tidak usah dulu lah memikirkan pindah ke rumah kalian. Nanti-nanti saja ya? Semoga kalian tidak keberatan bertahan di rumah kita bersama,” ujar Lovi yang belum siap merasakan perousahan, apalagi sekarang Angel sedang mengandung cucunya. Ia ingin turut menjaga cucunya, tahu secara langsung perkembangan kehamilan Angel.
“Iya, Mom,” jawab Angel.
“Tenang saja, Mommy,” ditambah dengan jawaban Andrean.
“Ah jangan tenan(-tenang, nanti tiba-tiba sudah angkut koper,”
Angel tertawa mendnegar itu. Mana mungkin Ia dan Andrean tiba-tiba mengangkut koper. Pastis ebelumnya sudah bicara dulu. Terlalu kejam kalau tjba-tiba pergi.
“Tidak mungkin, Mom. Kalau mau pergi pasti bilang dulu,”
“Iya tapi jangan dalamw aktu dekat ya, minimal sampai cucu Mommy lahir lah. Itupun jangan langsung dibawa kabur cucu Mommy. Ini cucu pertama, pastilah euforia nya benar-benar ada. Mommy ingin ikut mengurusnya, menjaganya,”
__ADS_1
“Dengar, Ean, Angel? Aku juga setuju dengan Mommy. Aku ingin melihat Angel hamils ehari-hari, kalau kalian pindah otomatis aku tidak mepihatnya. Ya walaupun kalian berkali-kali mengatakan aku boleh kalan saja datang ke rumah kalian tapi ‘kan tentu tidak bisa setiap hari aku bertemu kalian, bertemu keponakanku,”
“Iya, Auris berisik. Setelah melahirkan baru pindah. Karena jujur aku dan Angel juga masih samgat membutuhkan kalian. Peran keluarga sangat penting sekali dalam kehamilan. Ditambah lagi aku juga belum bisa tenang membiarkan Angel sendiri di rumah kalau aku bekerja. Tidak ada yang bisa aku percaya selain keluarga,”